Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
Suamiku pulang


__ADS_3

"Baiklah, kalian lanjutkan saja, aku akan segera kembali ke kantor." Kata Jonatan mengusap kepala Arkan lalu mencubit hidungnya.


"Sakit tau !." Anak kecil itu memegang hidungnya yang merah.


"Hati-hati dijalan." Ucap Farel.


"Kau juga hati-hati menjaga anak dan istri bos mu, ingat ya sekali saja kau lalai, entah apa yang akan dilakukan oleh Satria nanti." Jonatan mengingatkan.


"Jangan khawatir, saya pasti menjaga Nona dan Arkan dengan baik."


Kemudian setelah Jonatan pergi, mereka bertiga melanjutkan bermain.


Arkan dan Farel sibuk meniup balon sabun sampai-sampai banyak sekali balon yang berterbangan disana.


"Nona, apa anda tidak ingin mencoba untuk meniupnya ?." Tanya Farel menawarkan.


"Tidak, kalian bermain lah dulu, aku akan duduk di sana." Adinda berbalik menghampiri kursi dibelakangnya.


Saat sore tiba, mereka bergegas pulang. Arkan sangat berterimakasih pada Tuan Farel karena sudah mengajaknya ke tempat yang indah hari ini.


"Jangan sungkan padaku, jika kau ingin pergi ke suatu tempat disaat Ayah mu sedang sibuk, maka hubungi aku saja." Farel tersenyum.


"Oke Tuan ! aku pegang ucapan mu itu."


.


.


Di kediaman Anggara,


"Farel, masuklah dulu, kau pasti lelah karena sudah mengantar anak dan cucuku pergi." Ucap Tania.


"Tidak usah Nyonya besar, saya akan segera pulang, terimakasih banyak atas tawaran nya." Pria itu menunduk sopan dan hendak pergi, sebelum itu tak lupa dirinya menghampiri Arkan dan Adinda.


"Anak kecil, aku akan pulang, jangan membuat kegaduhan pada Bunda mu ya." Kata Farel.


"Baik Tuan ! aku akan baik-baik saja dengan Bunda, karena nanti malam Ayahku akan kembali." Arkan tersenyum senang.


"Nona, saya pergi dulu, selamat beristirahat." Adinda mengangguk dan mempersilahkan Farel pergi.


"Sayang, apa Jonatan sudah memberikan ponselmu ?." Tanya Tania.


"Sudah Ma, terimakasih." Ia mencium Tania dan mengajaknya duduk di ruang santai.


"Bunda, Nenek, aku akan pergi ke kamar karena sangat mengantuk." Arkan berlari kecil meninggalkan keduanya.


"Bagaimana perasaan mu ? sudah jauh lebih baik ? Mama berharap, Farel bisa mengajakmu menenangkan diri diluar sana." Ucap Tania memegang tangan Adinda.


"Aku merasa lebih baik, tapi hatiku tetap saja merasa gelisah, entahlah." Adinda menyandarkan diri di sofa, kemudian menghela nafas panjang.


"Jangan khawatir, Satria akan segera kembali dan menghilangkan rasa cemas mu."


"Aku harap begitu."


"Pergilah ke kamar dan temui Agatha disana, dia sedang bersama Desi." Perintah Tania.


"Baik Ma, aku ke kamar dulu ya." Adinda pergi ke kamarnya dan menemukan Agatha juga Desi.


"Nona, anda sudah pulang." Ucap Desi memundurkan diri dari tempat tidur Agatha.


"Sudah, terimakasih ya sudah menjaga putriku, sekarang pergilah dan beristirahat, aku akan menjaga anakku disini." Pinta Adinda yang segera disetujui oleh Desi.


"Sayang, bagaimana hari ini ? apa kau merasa nyaman ?." Ia berusaha mengajak putrinya berkomunikasi, lalu menggendongnya dan mencium pipi bayi tersebut.


"Bunda tahu kau pasti sangat merindukan Ayah, jangan khawatir, malam ini dia akan pulang dan menemui mu."


Namun ditengah malam, Satria belum kunjung kembali, entah berapa jam sudah Adinda menunggu, kini kantung matanya terlihat membesar, ia sesekali menjatuhkan kepalanya karena mengantuk.


"Adinda, belum tidur ?." Tanya Jonatan yang sengaja keluar dari kamar untuk mengambil segelas air.


"Hemm ya ? aku sedang menunggu suamiku." Jawabnya, Jonatan menatap wajah wanita dihadapan nya tersebut, ia menyadari bahwa Adinda sudah sangat kelelahan menunggu.


"Jika kau mengantuk, pergilah tidur, dia akan segera tiba, jangan memaksakan diri." Ucap Jonatan sedikit khawatir.


"Ya, terimakasih karena sudah menjadi pengingat yang baik, tapi aku akan tetap disini, jadi silahkan pergi, jangan ganggu aku untuk mangatakan hal itu lagi." Adinda memalingkan wajah karena malas.


Hingga akhirnya beberapa jam terus berlalu, suara ketukan sepatu pun terdengar, namun begitu masuk justru ada pemandangan indah yang mungkin akan terus teringat.

__ADS_1


"Sayang, kau bahkan sampai ketiduran disini demi menungguku datang." Satria membelai rambut panjang sang istri dan mencium keningnya.


Pria tersebut segera membawa Adinda masuk ke dalam kamar dan membaringkan nya diatas ranjang, ia juga melepaskan dasinya kemudian pergi tidur disebelah Adinda.


Besoknya, Desi mengetuk kamar Adinda dan Satria untuk membawakan segelas susu dan sepiring makanan.


Krekk.. suara pintu terbuka.


"Oh ! Tuan, anda sudah tiba ?." Ucap Desi terkejut.


"Baru saja tiba semalam pukul tiga." Jawab Satria.


"Maaf Tuan, saya tidak tahu anda pulang, kalau begitu biar saya ambilkan lagi makanan dan minuman nya." Desi berbalik untuk pergi.


"Des, tunggu !." Satria memanggil.


"Ada apa Tuan ?."


"Tolong siapkan air hangat dalam bathtub." Perintah sang Tuan.


"Baik Tuan." Wanita itu pergi ke dalam kamar mandi lalu kembali keluar.


"Adinda, sangat lelah ya ?." Satria tertawa kecil sambil memandang wajah cantik istrinya itu.


"Satria, kau sudah pulang ? Desi baru saja mengatakan hal ini pada Mama." Ucap Tania.


"Ya Ma, bagaimana ? Mama baik-baik saja kan ?." Tanya Satria memeluk Tania Anggara.


"Tentu saja, ada yang ingin Mama bicarakan." Satria sedikit terkejut karena sangat tiba-tiba.


"Apa ada sesuatu ?." Pria itu berkerut.


"Kita bicara diluar saja." Tania pergi mendahului sang anak.


"Ada apa Ma ?." Satria berkata seraya menutup pintu kamar dengan pelan.


"Sejak kamu pergi, Adinda sangat cemas, setiap waktu dia terlihat gelisah, Mama khawatir ada banyak sekali hal-hal yang dia pikirkan, kau tahu bukan kalau dia sangat lemah." Kata Tania sedih.


"Benarkah ? apa dia sampai seperti itu ?." Tanya Satria serius.


Satria segera kembali ke kamar, dan menatap wajah Adinda.


"Apa kau terlalu cemas karena aku pergi ?."


"Apa kau ketakutan hal buruk terjadi padaku ?."


"Kau tak ingin aku meninggalkanmu ?."


Saat dirinya sedang berbicara, tiba-tiba saja wanita itu bergerak dan terbangun.


"Hemm." Adinda megucak kedua matanya, betapa ia terkejut melihat Satria ada disebelahnya.


"Sayang !!!!." Wanita itu melompat.


"Kenapa kau tidak membangunkan ku saat pulang ?." Wajahnya sedih, tapi senang karena bisa melihat Satria lagi.


"Apa yang kau pikirkan ketika aku pergi ?." Satria bertanya lembut, namun wanita dihadapan nya menggeleng.


"Tidak ada."


"Kau yakin ? tidak ada yang kau pikirkan ?." Adinda mengangguk.


"Bagaimana kalau hari ini aku tidak pulang sesuai janjiku ?." Satria memasang wajah datar, sementara Adinda mengerutkan alisnya.


"Mas bicara apa ? kan sudah janji akan pulang hari ini." Adinda memeluk suaminya erat, sangat erat.


"Sayang, Mas tanya sama kamu, apa yang kamu pikirkan saat Mas pergi." Ia membelai rambut Adinda dan mengusap wajah itu selembut mungkin.


"Tapi Mas, aku benar-benar...."


"Sssttt." Satria menempelkan satu telunjuknya dibibir Adinda.


"Kau takut aku tak akan pernah kembali ?." Kata Satria.


"Mas, kamu bicara apa sih ? kenapa bilang begitu." Wajah Adinda mendadak cemberut.


"Kamu takut Mas dalam bahaya ?." Adinda diam.

__ADS_1


"Jawab, kenapa diam ?." Ucap Satria.


"Mas.." Adinda menunduk takut.


"Kamu takut Mas celaka ?." Timpal Satria lagi.


"Mas cukup !." Satria terkejut mendengar emosi istrinya yang meledak seketika.


"A-aku gabisa mas, aku gabisa.." Air mata nya jatuh perlahan-lahan.


"Kenapa harus dipaksa dulu agar mulutmu bicara ?." Satria melepas pelukan nya.


"Nggak ! nggak mau lepas." Adinda memegang Satria kuat-kuat.


"Mas serius Dinda." Satria berdiri lalu keluar menuju balkon kamar.


"Mas tunggu ! jangan tinggalin aku." Adinda memeluk suaminya lagi dari arah belakang.


"Sekarang aku tanya sama kamu, kamu takut ?." Adinda mengangguk.


"Iya ! aku takut ! aku takut semuanya ! aku takut Mas sakit ! aku takut Mas kenapa-kenapa ! bahkan aku juga takut nggak bisa ketemu Mas lagi." Adinda berteriak kesal.


"Sekarang Mas disini, jadi kamu percaya kan kalau Mas baik-baik aja ?." Sahut Satria.


"Hem, boleh gak Mas kalau aku ikut kemanapun kamu pergi ?." Adinda bertanya dengan gugup, ia takut suaminya tak menyetujui keinginan nya.


"Akan Mas pikirkan."


"Boleh ya ? aku mohon." Lagi-lagi ia ingin menangis.


"Belum dijawab kenapa nangis ? istri Mas dilarang cengeng !." Satria mengusap air mata itu dan mencium bibirnya.


mereka terus mencium satu sama lain, akhirnya rindu mereka terbayar sudah.


Tok..tok, kreeeekkkk..


Desi membuka pintu kamar Satria kemudian meletakkan makanan nya dimeja, lalu ia pergi ke kamar mandi untuk memastikan air hangat nya telah siap dipakai.


"Tuan, airnya sudah...." tak sengaja ia melihat Satria sedang berciuman dibalkon, cepat-cepat dia pergi sambil menutup sebelah wajahnya karena malu dan takut dimarahi.


"Baiklah, kali ini aku mengerti kalau kalian berdua saling merindukan, tapi sungguh membosankan setiap kali melihat semua orang bersikap romantis, walaupun Tuan Satria terbiasa melakukan itu pada istrinya, aku jadi kesal mengingat perkataan calon suamiku !." Desi terus bergumam sepanjang jalan sampai ia bertemu Tania Anggara didepan kamar Satria.


"Sedang apa kamu ?." Tanya Selin.


"Ah itu, s-saya habis membawakan makanan dan minuman untuk Nona dan Tuan." Desi bergegas pergi.


"Dia kenapa gugup sekali, seperti lihat hantu saja." Selin masuk ke dalam.


Ia mencari Satria untuk menanyakan hadiah, lalu penglihatan nya mendadak terpesona oleh kemesraan suami istri tersebut.


"Astaga ! apakah pantas pagi-pagi begini sudah berciuman, Jonatan saja belum tentu melakukan itu padaku ketika pulang dari tugasnya !." Selin sengaja berdeham.


"Emmh !." Satria dan Adinda sama-sama terkejut, matanya saling menatap namun bibir mereka masih menyatu.


ketika sadar bahwa dikamar nya ada orang lain, dengan cepat melepaskan ciuman itu.


"Mau apa kau ?!." Tanya Satria kesal.


"Setahuku melakukan hubungan suami istri itu lebih layak pada malam hari, kenapa kalian melakukan nya pagi-pagi ? bahkan sampai dibalkon ?! bagaimana jika ada yang melihat." Selin menyilang kan tangan nya didepan dada.


"Kau iri ? seharusnya aku mengunci pintu agar tikus kecil ini tidak dapat masuk ke kamarku." Ucap Satria.


"Sepupu kurang ajar ! mana ?." Selin menyodorkan tangan.


"Mana ? apa maksud mu ?." Satria mengerutkan alis.


"Hadiah ? kau kan baru saja pulang dari luar negri, jadi seharusnya membawakan aku hadiah kan ?." Kata Selin percaya diri.


"Hahahaha, hadiah hanya untuk istriku, memang kau siapa ?." Satria mengambil kalung berlian dari sakunya dan memakaikan ke leher Adinda didepan Selin.


"Ini hadiah untukmu sayang, kau suka ?." Adinda mengangguk senang.


"Untuk ku mana ?! tega sekali hanya membelikan istrimu saja." Selin kesal.


"Pergilah, atau kau ingin lihat ya betapa aku mencintai wanita ini." Satria melanjutkan kehebohan nya dengan cara mencium bibir Adinda lagi dan lagi.


"Cih ! Mamaaaaaaaaaaaa !!!!!!!!!!." Selin pergi keluar kamar sambil berteriak.

__ADS_1


__ADS_2