
"kau sudah kembali?." tanya Satria tersenyum
"sudah mas, bagaimana keadaanmu? sudah enakan? atau masih banyak yang sakit?." ucap Adinda bertanya-tanya
"sudah tidak ada yang sakit, kau sudah bilang pada mama kalau kita akan tinggal di villa selama beberapa saat?." ucap Satria
"sudah, jangan khawatir, oh ya kau kan belum makan mas, jadi bagaimana kalau aku membelikan mu makanan?." kata Adinda
"hubungi Farel, pinta dia untuk datang kesini sekalian membawakan aku makanan." ucap Satria di anggukan istrinya
beberapa menit kemudian Farel pun datang dengan membawa banyak sekali makanan.
"kau membawa semua ini untuk suamiku?." tanya Adinda mengerutkan alis
"ya Nona, tentunya juga untuk anda, saya dengar dari penjaga loby kalau anda pingsan? benarkah?." ucap Farel, Adinda lupa untuk meminta nya diam karena tidak ingin suaminya tahu tentang itu
"pingsan?! istriku pingsan?!." tanya Satria bergegas duduk di ranjang
"mas! jangan bangun terburu-buru!." kata Adinda memegang suaminya
"jawab jujur, benar kamu pingsan?!." kata Satria marah, lalu Adinda mengangguk dengan wajah gelisah
"lalu kenapa kamu diam saja? kamu sedang hamil Adinda, hamil anakku, aku tidak mau kalian berdua kenapa-napa." kata Satria lagi
"turunin emosi kamu mas, aku minta maaf, aku hanya keram perut ko." jawab Adinda
"Farel, cepat katakan, kenapa kamu bisa melihat istri saya pingsan?!." ucap Satria memelototi Farel dengan marah
"a-anu Tuan, Nona Adinda datang ke kantor tapi tiba-tiba dia bertemu dengan sekretaris baru anda yaitu Emily, Nona sangat marah besar sampai ia tak mampu mengendalikan emosi nya, Nona bilang bahwa Emily adalah orang yang sudah melukai nya di mall saat sedang berbelanja bersama anda." jelas Farel
"apa?!!! Emily?! apa kamu sudah periksa tentang tato di lengan tangan nya?!." kata Satria
"saya sudah memeriksanya, tetapi tidak ada tato di sana tuan, hanya ada bekas luka di lengan itu." kata Farel
"sayang, mungkinkah kamu salah mengira orang? tidak mungkin kan Emily yang menyakitimu saat itu?." kata Satria
"a-apa?? jadi mas tidak percaya padaku?." tanya Adinda kecewa
"bukan begitu, tapi dengan bukti yang ada, wanita itu memiliki tato mawar hitam di lengan nya, jika di lengan Emily tato itu tidak ada, artinya dia bukan orang yang kita cari." kata Satria
"tapi mas aku sama sekali yakin kalau dia orangnya, mataku tidak buta, aku lihat dia menyemprot tubuhku di toilet itu!." kata Adinda
"tolong cari tahu tentang Emily, jika benar dia adalah orang yang sama, maka aku tak segan segan menyiksanya tanpa ampun." kata Satria pada Farel
"sayang, sini, ceritakan pada mas kenapa kamu bisa mengalami keram perut? lalu siapa yang membawamu kemari saat perutmu sakit?." tanya Satria
"mungkin karena aku marah berlebihan, a-aku..." ucap Adinda gugup
"aku apa? siapa yang membawamu?." kata Satria lagi dengan wajah bertanya-tanya
"Bryan mas, dia yang membawaku kemari." jawab Adinda
"Bryan?!." sahut Satria langsung emosi
"mas, kau harus berterima kasih padanya." kata Adinda mencoba menenangkan suaminya
__ADS_1
"kau memintaku berterima kasih padanya atas dasar apa?!." tanya Satria marah
"kalau dia tidak menolongku, mungkin aku dan bayi kita akan terluka." balas Adinda
"tapi tetap saja! aku tidak terima dengan hal itu! apa dia sengaja melakukan nya agar bisa menyentuh tubuhmu?!." kata Satria
"aku minta maaf mas, tapi semua itu dia lakukan karena benar-benar ingin menolongku." kata Adinda mencoba menjelaskan
"saat aku keluar dari rumah sakit ini, aku akan mencarinya bahkan sampai ke ujung neraka sekalipun!." kata Satria
"aaah! perutku.." gumam Adinda, sepertinya ia merasa kesakitan lagi setelah mendengar suara-suara keras yang dilontarkan suaminya
"Nona?! saya akan panggilkan dokter." kata Farel
"sayang!." Satria melepas infusan ditangan nya, kemudian darah itu mengalir dan menetes di lantai, ia menggendong Adinda ke atas ranjangnya
"sayang kau baik-baik saja? apa nya yang sakit? biar aku meminta dokter untuk memeriksanya." kata Satria
"sakit mas! sakit sekali, huhuhu..." Adinda menjerit kesakitan seraya menangis, ia mencengkram tangan Satria seperti dia mencengkram tangan Bryan tadi.
"mas! sakit." kata Adinda lagi
"sabar ya sayang, dokter akan segera datang untuk menolong mu." kata Satria, lalu dokter pun datang dan memeriksa tubuh Adinda
"Tuan, bukan kah anda masih sakit? lalu kenapa anda turun dari ranjang tidurmu?." tanya dokter
"aku baik-baik saja, hidup istriku jauh lebih penting dari apapun." jawab Satria
..
"terimakasih, saya akan menyuruh Adinda untuk menghentikan seluruh aktivitas nya diluar." kata Satria
"sayang, kau dengar kan apa yang dikatakan dokter? kau tidak boleh melakukan aktivitas apapun, semuanya terlalu berbahaya untuk bayi kita." kata Satria lagi
"aku mendengarnya." jawab Adinda
"kalau begitu aku minta kamu berhenti melakukan segala hal yang bisa menyakiti dirimu dan bayi kita." ucap Satria, lalu Adinda mengangguk dan mengelus perutnya
"maafkan bunda ya sayang, bunda sangat ceroboh." gumam Adinda
"Farel, kau boleh pergi, dan jangan lupa untuk terus mencari tahu tentang tato itu!." ujar Satria
"baik tuan, saya permisi, semoga Tuan dan Nona lekas membaik." kata Farel bergegas pergi.
Adinda segera menuruni ranjang dan meminta suaminya untuk kembali menaiki ranjang tersebut.
"kenapa kau turun? kau harus banyak beristirahat." ucap Satria
"aku sudah baik-baik saja, dan sekarang kamu lah yang harus beristirahat." ucap Adinda
disisi lain,
"sial! wanita itu benar-benar kurang ajar! aku harus cepat-cepat menghabisinya, jangan sampai dia mengganggu rencana ku untuk menghancurkan keluarga Anggara!!." gumam Emily mengepalkan tangan
"itu alasan mengapa aku selalu memintamu untuk berhati-hati! walaupun wanita itu terlihat lembut dan gampang dibodohi nyatanya tak semudah yang kamu kira! dia justru bisa jauh lebih pintar dari pada kamu!." ucap laki-laki yang sedang mengobrol dengan Emily
__ADS_1
"tapi jack aku sudah muak dengan semua ini! bisakah kita bergerak lebih cepat untuk menghancurkan mereka?! aku harus memastikan hidup Satria akan sama tersiksanya seperti hidupku! aku mau tahu bagaimana kalau Adinda mati, pasti hal itu akan membuat Satria gila seumur hidup!." kata Emily
"jangan bodoh! kita harus bertindak secara halus! kalau kita bermain kasar mungkin mereka akan tahu siapa dirimu sebenarnya." ucap Jack
"aku akan membunuh Adinda! lihat saja!." kata Emily
...
"entah dengan cara apa lagi aku bisa mendapatkan hatimu meski hanya sedikit saja, kalau kau mau menjadi milikku bahkan aku siap melindungi mu sampai kapanpun! rasanya tidak rela kalau aku terus kehilangan cinta ku, dulu dia sudah meninggal, dan sekarang kau justru milik orang lain." kata Bryan frustasi
"apalagi yang kamu pikirkan?! apakah kau masih memikirkan wanita itu?." tanya Tari
"aku sama sekali tidak bisa melupakan nya, aku sangat jatuh cinta dengan wanita itu." gumam Bryan
"aku sangat kasihan dengan mu, kau selalu saja mendapatkan cinta yang tak bisa selamanya kamu miliki." balas Tari
"apa kau tahu bagaimana aku bisa mendapatkan cintanya?." tanya Bryan
"tentu saja, kau harus selalu bersikap lembut dan manis terhadapnya, wanita itu selalu ingin disayang, bahkan apapun yang dia inginkan kau harus siap untuk memberikan nya." ucap Tari
"baiklah, aku akan memberikan apapun yang dia minta." jawab Bryan
3hari sudah berlalu, keadaan Satria juga sudah jauh lebih baik, hari ini dia akan segera pulang karena dokter sudah mengizinkan nya.
"kau senang aku sudah bisa pulang?." tanya Satria
"tentu saja sayang, aku senang kau bisa pulang, ayo kita ke mobil." ucap Adinda, mereka keluar dari rumah sakit untuk menuju loby, lalu mereka menaiki mobil itu dan bergegas pulang ke rumah. sesampainya di rumah, Tania menyambut mereka dengan hangat dan penuh kerinduan
"bagaimana sayang? apa kau bahagia menginap di villa dengan suamimu?." tanya Tania
"aku sangat bahagia ma, gimana keadaan mama? baik-baik saja kan?." tanya Adinda
"mama sangat baik, oh ya Arkan sudah menunggu kalian di kamar." gumam Tania, lalu Adinda menuju kamar Arkan bersama suaminya
"anak bunda, sini sayang." ucap Adinda mengulurkan tangan untuk menggendong putranya
"bunda..ayah." ucap Arkan berlari kecil menuju kedua orang tuanya
"kami sangat merindukan mu, kau baik-baik saja kan nak?." kata Adinda menciumi wajah putranya
"ya bunda." Arkan segera beralih kepada ayahnya dan meminta gendong
"sini sama ayah, bagaimana menulis mu? sudah lancar belum?." tanya Satria
"sedikit lagi aku bisa." kata Arkan
"pintar! kalau kamu sudah besar, kamu yang akan mengurus perusahaan ayah." ucap Satria
"bunda, aku akan punya dede bayi." ucap Arkan menoleh ke arah Adinda
"iya sayang, kau akan memiliki adik bayi." jawabnya tersenyum hangat
"nak, sama bunda dulu yuk? ayah mau pergi ke kamar untuk beristirahat." kata Adinda, tetapi Arkan menggeleng
"tidak usah, mas baik-baik saja, biarkan Arkan bersama mas sebentar." kata Satria, lalu Adinda menghela nafas dan mengangguk.
__ADS_1