Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
Pesta ulang tahun


__ADS_3

"Aku antar kamu pulang." Kata Arkan.


"Hati-hati menyetirnya." Rain menyandarkan kepalanya ke bahu Arkan.


"Sudah makan ?." Pria itu bertanya.


"Sudah kok, kau sendiri bagaimana ?." Arkan menggeleng.


"Belum sempat, aku terlalu sibuk mencari Agatha sejak pagi." Ia menghela nafas.


"Mau aku temani makan ?." Tanya Rain.


"Tidak usah, aku hanya perlu satu." Arkan menatap wajah Rain serius.


"Apa itu ?."


"Bantu aku mencari tahu siapa orang dibalik pelecehan Adikku." Kata Arkan, Rain terdiam.


"Aku tahu betul siapa orangnya, tapi aku tidak punya keberanian untuk memberitahu mu." Batin Rain.


"Aku pasti membantumu." Ia tersenyum.


Setibanya dikediaman Laos, Rubby sedang mengobrol dengan sepupunya itu.


Sekilas dia tersenyum karena melihat mobil Arkan berhenti didepan rumahnya. Namun ketika melihat Rain keluar, bahkan dibukakan pintu secara pribadi oleh Arkan, senyuman Rubby pun menghilang.


"Rain ?." Kata Rubby.


"Temanmu kenapa bisa bersama Tuan Arkan ?." Tanya Laos.


"Entah, aku harus menanyakan hal ini padanya nanti."


Rain tersenyum ke arah Rubby dan Laos.


"Senang bertemu denganmu." Arkan menjabat tangan Laos.


"Wah wah, ada apa ini ?." Laos tertawa kecil.


"Aku hanya ingin mengantar Rain pulang." Arkan tersenyum kemudian mengelus rambut Rain.


"Baik-baik ya, hubungi aku jika terjadi sesuatu." Katanya.


"Baik Bos !." Rain tertawa kecil, kemudian menunggu Arkan sampai ia pulang.


"Rain, ikut aku." Rubby menarik tangan Rain.


"Ada apa Rubby ? apa kau memerlukan sesuatu ?." Tanya Rain.


"Kenapa kau bisa pulang bersama Tuan Arkan ? bukankah harusnya kau mendengarkan aku, bahwa mendekatinya bisa menjadi masalah yang besar." Ucap Rubby menekankan.


"Rubby, aku rasa Arkan adalah pria yang baik. Bahkan bersamanya aku merasa aman, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan ku seperti itu." Jawab Rain.


"Rain, dia pasti mempunyai tujuan lain dengan cara mendekatimu." Kata Rubby.


"Aku rasa kau yang mempunyai tujuan lain, menasihati ku berulang kali agar tidak mendekat dengan Arkan, tetapi kau justru mendekatinya." Rain sedikit kesal sehingga tak bisa mengontrol ucapannya.


"A-apa maksudmu ? aku sama sekali tidak punya tujuan lain, aku hanya ingin sahabatku menjalani hidup dengan tenang dan nyaman." Kata Rubby lagi.


"Kalau begitu kau tidak perlu menasihati ku lagi, karena bersama Arkan aku bisa hidup aman dan nyaman." Rain hendak masuk kedalam kamarnya, lalu ditarik kembali oleh Rubby.


"Rain ! jangan lupa, kalau Tuan Arkan pasti sudah memiliki pendamping, kau harus bisa menjaga jarak dengan pria yang bukan sembarangan itu." Rubby semakin kesal.


"Benar, dia memang sudah memiliki pendamping. Kau tahu siapa kekasihnya ?." Tanya Rain.


"Jelas saja wanita kelas atas yang menjadi pendamping Tuan Arkan." Mendengar jawaban Rubby, Rain tertawa.


"Sayang sekali tebakan mu salah, kekasih Arkan yang sesungguhnya adalah aku." Ucap Rain.


Rubby terkejut, matanya membulat.


"Tidak mungkin ! kau benar-benar berbeda dengannya." Ucap Rubby.


"Cinta tidak memandang perbedaan, aku akan buktikan padamu kalau Arkan bukan pria yang sering membawa masalah untuk wanitanya." Rain segera pergi meninggalkan Rubby yang kepanasan.


"Dasar kurang ajar ! aku sudah berbaik hati padanya, tapi dia sama sekali tidak menghargaiku !." Rubby menggertakan gigi.


"Lihat saja, jangan menyesal karena telah mempermalukanku." Rubby pergi menuju kamarnya dan mengingat tentang Arkan.

__ADS_1


"Bagaimana bisa dia jatuh cinta pada wanita seperti Rain ? yang bahkan tidak jelas asal usulnya, hidup sebatang kara, dan tidak punya pekerjaan, benar-benar tidak pantas berada disamping Tuan Arkan." Rubby mengepalkan tangan.


.


.


.


.


.


Sore hari, Agatha terbangun dan melihat sekeliling kamarnya.


"A-apa aku sudah berada dirumah ?." Gumam Agatha.


"Nona, ini susu dan makanannya." Seorang pelayan masuk kedalam kamar untuk mengantarkan makan sore.


"Siapa yang membawaku kemari ?." Tanya Agatha.


"Tuan Arkan, Nona." Agatha terkejut, ia pikir mungkin Greg yang membawanya, namun ternyata Kakaknya sendiri.


"Lalu dimana Greg ?." Pelayan itu mengernyit.


"Maaf Nona, saya tidak mengenal Greg." Pelayan itu pun pergi.


"Mau apa kau mencari Greg lagi ?." Kata Arkan yang datang tiba-tiba.


"Greg harus tahu keberadaanku, aku khawatir dia mencari..."


"Mencari apa ? mulai sekarang putuskan pertemananmu dengan Greg !." Arkan marah.


"A-apa maksudnya ?! kau tidak bisa melarangku untuk tidak berteman lagi dengan Greg !." Agatha terkejut.


"Apa kau sekarang sudah menjadi wanita murahan ? tidak sadarkah saat Greg hendak melecehkanmu pagi tadi ?!." Arkan terus memarahi Agatha.


"Kakak bicara apa ! Greg bukan pria yang seperti itu !." Agatha berdiri dan ingin menghubungi Greg, tetapi ponselnya tidak ada.


"Aku meninggalkan ponselmu dirumah besar itu." Agatha ingin keluar dari kamar untuk menemui Greg.


"Habisi ? kau menyakiti Greg ?!!!." Tanya sang Adik.


"Aku hanya ingin melindungi wanita kesayanganku." Agatha memukuli Arkan sambil menangis.


"Kakak jahat ! Greg sama sekali tidak bersalah ! dia sangat menjagaku !." Ucap Agatha.


"Dua kali kau dilecehkan, apa kurang cukup Agatha ? ingin hal itu terulang kembali sampai tidak ada satu orang pun yang bisa menolongmu ?!." Agatha menangis karena takut Greg sudah mati ditangan Kakaknya.


"Bukan Greg pelakunya ! bukan Greg !." Isak tangis wanita itu terdengar sampai keluar.


"Arkan, ada apa ini ?!." Satria datang menanyakan putranya.


"Tanyakan saja pada putrimu." Arkan meninggalkan kamar, lalu Adinda dan Tania juga datang melihat anak dan cucunya menangis.


"Ayah !." Agatha memeluk Satria.


"Ada apa sayang ? kenapa kau sangat sedih begini ? apa yang Kakakmu lakukan ?." Tanya Satria lembut.


"Kakak menyakiti temanku, Kakak menghabisinya ! aku benci Kakak." Agatha terus menangis, sementara Adinda menyusuli Arkan ditaman belakang.


"Arkan, siapa yang kau habisi ?." Pertanyaan dingin dari sang Bunda membuatnya terdiam.


"Jawab Bunda !." Arkan menoleh ke arah Adinda dan menjawab pertanyaan itu.


"Aku tidak menghabisinya, aku hanya memberi dia sedikit pelajaran agar lebih berhati-hati dalam mengambil tindakan, terlebih wanita yang dimainkannya adalah Adikku." Sahut Arkan.


"Lalu kenapa Agatha sampai menangis tersedu-sedu ? kau harus tau betapa lemahnya dia sebagai perempuan. Tidak bisakah kau sedikit lebih memahami Adikmu ?." Ucap Adinda.


"Aku selalu berusaha memahaminya, tak pernah sekalipun aku berniat untuk membuatnya menangis, tapi kali ini aku benar-benar kecewa pada Agatha." Arkan mengacak rambutnya sendiri.


"Siapa yang Agatha cari ? seberapa penting orang itu sampai membuatnya tak henti menangis ?." Kata Adinda lagi.


"Greg, itu namanya. Saat ini dia berada dirumah sakit karena aku telah memukulinya sampai babak belur. Aku yakin Agatha sudah jatuh hati pada pria itu, dan aku tidak ingin Adikku jatuh ke dalam lubang yang suram." Ucap Arkan.


"Kau tidak bisa menilai seseorang hanya karena apa yang kau lihat. Bunda memang tidak tahu apa yang terjadi diantara kau dan Agatha, tapi Bunda berharap kau bisa lebih dewasa dalam menghadapi setiap masalah. Cari tahu terlebih dahulu kebenarannya, jangan bertindak gegabah Arkan. Kau tidak boleh seperti Ayahmu." Adinda menunjukkan ekspresi kecewa ketika menasihati Putranya.


"Maaf aku membuatmu sedih." Arkan memeluk Adinda dan meminta maaf.

__ADS_1


"Dua hari lagi adalah hari yang paling penting dalam hidup Adikmu, tolong jangan bebani dia." Pinta Adinda.


"Aku mengerti." Arkan mengangguk.


*


*


*


*


*


DUA HARI KEMUDIAN ...


Kediaman Anggara mengadakan pesta ulang tahun pada malam hari.


semua tamu ramai berdatangan, dan Agatha mendapatkan banyak sekali ucapan selamat.


"Agatha, semua orang sudah memberimu hadiah, namun hanya Bunda, Ayah, dan aku yang belum." Ucap Arkan, ia mengeluarkan kotak hadiah dari belakangnya, dan diberikan kepada Agatha.


"Selamat ulang tahun Adikku." Arkan memeluk dan juga mencium keningnya.


"Terimakasih." Agatha tersenyum, jika dilihat wajahnya sama sekali tidak menampakan kegembiraan.


"Sayang, selamat ulang tahun. Bunda berharap kamu bisa lebih dewasa dari sebelumnya." Adinda mencium seluruh wajah putrinya dan memberikan sebuah kunci.


"Ini apa Bun ?." Tanya Agatha.


"Ini adalah usaha kami untuk selalu memberikan apa yang kamu inginkan." Adinda tersenyum.


"Toko ?!." Agatha tertawa kecil, ia mencium Bunda dan Ayahnya.


"Selamat ulang tahun nak, kau sudah semakin besar. Jadilah wanita yang baik, seperti Bundamu." Satria mengusap kepala putrinya dan memeluk wanita itu.


"Aku akan berusaha menjadi wanita yang baik." Agatha sangat senang melihat kunci ditangannya.


"Kalau begitu nikmati pesta ini, Bunda dan Ayah akan menemui tamu yang lain." Kata Adinda.


"Aku juga harus menemui tamuku." Arkan mengusap kepala Agatha dan pergi menemui Rain diujung sana.


"Agatha, Nenek duduk disana ya. Kaki Nenek sudah tidak kuat lama." Agatha segera membantu Neneknya duduk di kursi yang tak jauh dari tempatnya.


"Aku sama sekali tidak bisa menikmati pesta ini." Agatha bergumam.


"Greg, kenapa kamu tidak datang ?." Ia terus melihat ke arah jalan yang dilalui oleh tamu-tamu.


"Kau sudah berjanji padaku kemarin, kenapa bohong ?." Agatha sangat gelisah.


"Hai, perkenalkan namaku Rubby." Agatha terkejut karena didatangi oleh wanita yang tak dikenalnya.


"Iya, halo." Ucap Agatha tersenyum.


"Aku senang bisa bertemu denganmu secara langsung, kau tahu ? pemberian dari Kakakmu tadi adalah hasil usahaku." Rubby tersenyum lembut.


"Maksudmu ?." Agatha kebingungan.


"Iya, maksudku jika kau menyukai hadiahnya, itu artinya aku punya selera yang bagus kan ? aku menemani Kakakmu mencari hadiah tersebut." Kata Rubby.


"Aku belum sempat membuka hadiahnya, tapi aku sangat berterimakasih karena kau telah membantu Kakakku." Jawab Agatha.


"Aku dengar Tuan Arkan sudah punya pasangan loh, sudah tahu belum ?." Rubby berusaha memberitahu Agatha tentang hubungan Rain dan Arkan.


"Kakakku sangat dingin, dia tidak mungkin memiliki pasangan dalam waktu dekat ini." Balas Agatha.


"Kata siapa ? coba lihat wanita disebelah sana." Rubby menunjuk Rain.


"Memang kenapa dengan wanita itu ?." Agatha melihat Rain dan Kakaknya sedang saling menyuapi kue.


"Wanita itu adalah sahabat baikku, dia bercerita kalau dirinya telah berpacaran dengan Tuan Arkan." Agatha syok, dia menatap Rubby setajam pisau.


"Jangan main-main." Agatha memperingati Rubby.


"Percayalah padaku, lebih baik kau hampiri saja mereka." Agatha segera berjalan meninggalkan Rubby, wanita itu hanya terkekeh.


"Rain ?!."

__ADS_1


__ADS_2