Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
Nasehat Bunda


__ADS_3

"Apa sih Selin ? kok teriak-teriak begitu seperti anak kecil saja." Ucap Tania dari arah luar.


"Kamu jangan suka godain Kak Selin gitu dong Mas, nanti dia marah beneran lho." Kata Adinda.


"Tidak perduli sama sekali, dia saja membuatku kesal, tiba-tiba datang dan mengoceh padaku." Satria melirik arah pintu kamarnya dengan tajam.


"Tapi kamu sudah belikan hadiah untuk nya kan ? kalau belum biar aku berikan dia kalung ini sa..."


"Dinda, Mas selalu cari satu hal berbeda diantara yang lain. Mas sama sekali gak lupa tentang hadiah Selin, tapi bentuk kalung ini Mas sendiri yang meminta pada desainer itu. Jadi jangan pernah berikan barang apapun yang Mas kasih ke kamu untuk orang lain." Satria menjelaskan.


"J-jadi artinya ? cuma aku yang punya kalung ini ?." Adinda tercengang.


"Bukan kah selama ini selalu begitu ? siapa yang memiliki bentuk berlian persis sepertimu ? kalau ada aku akan membayarnya dua ratus kali lipat !." Jawab sang suami.


"Aku bahkan tidak tahu apapun, maaf Mas." Adinda memegang tangan Satria, kemudian laki-laki itu menghela nafas.


"Tak perlu meminta maaf, sekarang ayo makan, biar aku suapi." Satria menggandeng Adinda duduk diatas ranjang seraya mengambil piring yang sudah disiapkan Desi sebelumnya.


"Kalau Mas pulang pagi, apa matamu itu tidak lelah ?." Ia memperhatikan mata suaminya.


"Tidak, melihat wajahmu saat tertidur saja bagiku sudah cukup meringankan kelelahan, sudah jangan banyak bicara, setelah makan selesai kau harus pergi mandi."


"Apa ada acara ? kenapa cepat sekali memintaku mandi ?." Tanya Adinda.


"Tidak ada, hanya saja aku ingin ikut denganmu." Pria itu berbisik pelan, membuat Adinda tertawa geli.


Dibawah, Selin jalan dengan malas menuju kamar tidurnya, lalu tak sengaja berpapasan dengan Jonatan.


"Apa kamu ?! kenapa lihat aku sampai seperti itu !." Kata Selin marah.


"Astaga, kau ini kenapa ? datang-datang langsung memaki sembarangan." Sahut Jonatan.


"Satria tidak memberikan aku hadiah ! terlebih lagi dia mengumbar banyak sekali kemesraan didepan wajahku, sial." Selin mengepalkan tangan.


"Hadiah apa ? kau juga aneh, sepupumu baru saja kembali, sudah langsung ditagih hadiah." Kata Jonatan.


"Dia mencium Adinda dihadapan ku ! dia terus menciumnya dengan sengaja ! kau tahu ? bahkan sampai detik ini kau tidak pernah semesra itu memperlakukan ku ?!." Ucap Selin memelototi suaminya.


"Lalu ? kenapa kau jadi membahas ciuman mereka ? yang aku tanya kenapa kau menagih hadiah pada Satria ? kau bisa memintanya padaku." Jonatan memutar kedua bola matanya dengan malas.


"Kau sama sekali tidak mengerti ! Adinda saja selalu diberikan oleh Satria tanpa dia memintanya, sedangkan aku ?!." Lagi-lagi Selin merasa iri.


"Kau mencintai sepupumu ? kalau kau ingin pria yang serba mengerti maka menikahlah dengan Satria, kau ingin diperlakukan yang sama kan ?." Ucapan Jonatan membuat Selin semakin marah.


"Kau gila ya ! mana mungkin aku mencintai sepupuku sendiri ! kau itu memang t...."

__ADS_1


Tidak ingin mendengar ocehan panjang lagi, Jonatan pun mendekap Selin kemudian mencium bibirnya, ia juga membawa Selin menuju ranjang dan tak lupa mengunci pintu.


"Sudah puas ?." Kata Jonatan melepaskan ciuman nya.


"Kalau hanya sebentar kenapa dikunci ?!." Kata Selin.


"Kau benar-benar menantang ku ya ?." Jonatan tersenyum licik kemudian menarik pakaian Selin sampai sobek.


"Aaah ! kenapa kasar sekali ? kau bisa membukanya perlahan." Jawabnya.


"Wanitaku tidak suka yang lembut, dia lebih suka dikasari, akan aku contohkan."


***


"Bunda, Bunda !." Arkan memanggil.


"Ada apa sayang ? kau menginginkan sesuatu ?." Tanya Adinda berlutut.


"Aku tidak sengaja melihat mobil Ayah di depan, apa Ayah sudah sampai dirumah ?." Tanya anak kecil itu.


"Sudah belum ya..." Adinda meledek putranya, kemudian Arkan melihat ke segala arah hingga matanya tertuju pada satu titik dimana sang Ayah sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Ayah !!!!." Arkan berlari sambil melompat kedalam pelukan Satria.


"Sudah, kapan Ayah pulang ? larut malam ya ? aku sudah menunggu tapi lama." Kata Arkan.


"Iya sayang, maaf ya buat kamu nunggu, gimana ? kemarin kamu pergi sama siapa ? senang ?." Satria menggendong putranya ke atas ranjang, mereka berdua saling bertukar cerita.


"Kalian disini ya, Bunda mau ambil Agatha." Adinda pergi menemui bayi kecilnya.


..


"Hai sayang, anak Bunda yang paling cantik, sudah wangi ya ? yuk sama Bunda, kita jalan-jalan ke taman belakang." Adinda mengambil putrinya lalu berbalik pergi.


"Nona, kalau membutuhkan sesuatu bisa panggil saya lagi." Ucap pelayan.


"Terimakasih." Ia tersenyum, di taman belakang Adinda duduk dengan tenang sambil menggendong Agatha dalam pelukan nya.


"Ayahmu sudah pulang, dan kepulangan nya membuat Bunda merasa sedikit lega, Agatha tau ? akhir-akhir ini Bunda tidak bisa melepaskan pikiran-pikiran buruk, semua itu sangat menyakitkan."


"Kalau Agatha sudah besar, Agatha harus jadi wanita kuat ya, jangan seperti Bunda, Bunda terlalu banyak lemah nya." Adinda mencium Agatha dengan penuh ketulusan, ada air menggenang di pelupuk matanya.


"Disini rupanya, aku kira kau mau membawa Agatha bertemu denganku." Satria datang dengan menggandeng Arkan.


"Iya nih Bunda, aku kira Bunda mau ambil Agatha dan kembali ke kamar." Arkan duduk disebelah Adinda kemudian mencium adik perempuan nya.

__ADS_1


"Iya tadi Bunda mau kembali ke kamar, tapi mampir kesini dulu sebentar, maaf ya sayang." Adinda mengelus rambut Arkan dengan lembut.


"Mata kamu merah, nangis lagi ?." Satria mengecek wajah istrinya.


"Enggak Mas, aku nggak nangis." ia tersenyum.


"Bohong, kamu tuh gaakan bisa bohongin Mas." Satria mengusap mata Adinda, lalu mengacak rambutnya.


"Sayang, bilang sama Bunda untuk jangan jadi wanita yang cengeng." Perintah Satria pada Arkan.


"Bunda, jangan cengeng dong, masa kalah sama aku." Arkan bertolak pinggang penuh rasa bangga.


"Masa sih ? anak Bunda memangnya jagoan ya ?." Wanita itu mendekati wajah Arkan sambil mengerutkan alis.


"Arkan saja jatuh masih menangis." Tania datang secara tiba-tiba dan masuk ke dalam pembicaraan mereka.


"Aku tidak mendengar, aku sama sekali tidak mendengar." Arkan menutup telinga seolah dia tak bisa menerima fakta.


"Hahaha ! nenekmu benar, kau saja jatuh masih menangis." Satria menggoda anak itu.


"Ayah ?! tadi kan Ayah yang memintaku bicara seperti itu pada Bunda." ia memalingkan wajah sebagai tanda marah.


"Sayang, kau menggodanya hingga seperti ini." Adinda tertawa geli sambil memeluk anak itu dengan satu tangan, karena tangan yang satunya lagi masih menggendong Agatha.


"Aku tidak akan pernah menangis lagi ! lihat saja, akan aku buktikan pada kalian agar kalian tidak menghinaku." Arkan bertekad.


"Tidak apa-apa, anak kecil menangis itu hal yang wajar sayang, sebaiknya ucapan kami jangan kau nilai sebagai penghinaan, tetapi katakan bahwa itu sebuah peringatan agar kelak kau bisa berubah menjadi lebih baik." Ucap Adinda.


"Dengarkan Bunda mu, sebenarnya nasehat dialah yang terbaik." Balas sang nenek.


"Ayah, apa kau dulu juga sering dinasehati oleh nenek ? sama seperti aku ?." Tanya Arkan.


"Sangat sering, karena itu lah Ayah bisa hidup seperti sekarang." Jawab Satria.


"Kalau aku ingin sukses, apakah aku harus selalu mendengarkan Bunda ?." Arkan bertanya langsung kepada Adinda.


"Menurutmu ? apakah ada orang sukses yang selalu menentang orang tua nya ?." Satria tersenyum hangat melihat istrinya sangat pintar mengajarkan putra yang paling ia sayang.


"Berikan Agatha padaku, sudah tiga hari aku tidak menggendongnya." Satria mengambil alih bayi kecil itu dari tangan Adinda.


"Gendong dengan benar." Pinta Tania.


"Mana mungkin aku sembarangan menjaga putri kecilku ini, iya kan sayang ? nenekmu aneh sekali." Satria mengajak Agatha mengobrol dengan baik.


BERTAHUN - TAHUN KEMUDIAN..

__ADS_1


__ADS_2