Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
berkunjung ke makam


__ADS_3

"sayang, kau berat..." kata Adinda pada suami nya, hal itu membuat Satria dengan cepat menggeser tubuh nya ke sebelah Adinda


tak lama setelah itu Adinda langsung bangun dan muntah di lantai.


"hoeeeee." suara muntahan Adinda, sontak Satria pun bangkit dan memegang bahu istri nya


"sayang, kamu kenapa?! kamu mual?." tanya Satria panik


"hoeee.." Adinda masih muntah muntah akibat rasa mual yang baru saja dia rasakan


"aku ambilkan minum dan obat dulu untuk mu." kata Satria mencari obat tersebut di laci dan mengambil segelas air


"sini aku seka dulu mulut mu." ucap Satria mengelap bibir istri nya dan langsung menyodorkan segelas air ke mulut Adinda


"obatnya mas?." tanya Adinda meminta obat tersebut pada suami nya


"ini, minum lah agar mual mu hilang." ucap Satria


setelah minum obat Adinda langsung merebahkan tubuh nya di atas kasur, ia melihat Satria memegangi tangan dan mengecupi punggung tangan nya


"kau jangan cemas begitu, aku hanya mual sedikit." kata Adinda tersenyum geli melihat suami nya sangat khawatir


"maaf ya sayang, karena ulah ku kau jadi begini." kata Satria


"ah tidak usah di pikirkan, aku senang ko mas bercanda seperti tadi." kata Adinda berusaha membuat Satria agar tidak merasa bersalah


"kita makan? aku gendong kamu sampai bawah." ucap Satria, Adinda langsung menahan tawa sampai wajah nya merah, sementara Satria kebingungan dan menampakkan wajah yang terlihat bodoh


"kau kenapa si?." tanya Satria


"ahahaha, lucu, kamu lucu Satriaaa." kata Adinda


"mas sayang bukan Satria." balas Satria mengingatkan


"maaf maaf, maksud ku kau lucu sekali mas, masa ngajak aku makan sampai di gendong segala sih." kata Adinda


"anggap saja itu permintaan maaf ku karena hal tadi." ucap Satria


seketika Adinda mengecup bibir suami tampan nya, dan tersenyum senang

__ADS_1


"aku tidak mau kehilangan mu." gumam Adinda kemudian menarik Satria untuk turun ke bawah


****


di bawah,


"Arkan tidur Des?." tanya Adinda


"iya nona, Arkan sedang tidur baru saja ia pulas." sahut Desi


"kebetulan kalau gitu, kita makan sama sama yuk di meja." ucap Adinda


"oh tidak usah nona, saya tidak pantas makan bersama nyonya besar." kata Desi


"astaga, kau ini seperti baru bekerja saja, kita kan sudah saling mengenal dari lama, bahkan dari jaman aku SMP, ayo makan tidak usah malu malu." kata Adinda


"iya nona, duluan saja, saya akan menyusul nanti." kata Desi tersenyum


"baik lah, nanti jangan lupa isi perut mu itu." kata Adinda kemudian menyantap makanan bersama suami nya di atas meja


"sayang? apa yang kau bicarakan pada Desi barusan?." tanya Satria


"ya sudah biarkan saja, mungkin dia memang tidak enak, kau tau kan Desi memang seperti itu dari dulu, tapi aku senang karena kamu tetap menjadi orang yang paling baik, dari dulu tidak pernah berubah." sahut Satria tersenyum hangat


"kalau dulu mama tidak memungut ku di jalanan yang sepi itu, mungkin sekarang aku tak bisa menyentuh wajah mas." kata Adinda memegang pipi Satria


"sayang, kamu bicara apa sih? kenapa tiba tiba begitu?." kata Satria


"aku kangen sama mama, papa." ucap Adinda menghentikan makan nya dan menjatuhi air mata


"sssst, Dinda, habis kan dulu makan mu ya nanti setelah ini kita berkunjung ke makam mama dan papa." ucap Satria


"iya mas." sahut Adinda


setelah selesai makan, Adinda dan suami nya langsung bersiap untuk menuju makam orang tua Adinda


setiba nya di sana,,


__ADS_1


"ma, aku datang bersama suami ku, Adinda kangen sama mama." ucap Adinda menangis


"iya ma, putri mama yang cantik ini rindu sekali pada mu, kalau mama masih ada pasti mama bangga punya anak sebaik Adinda, aku bahkan merasa beruntung sekali ma memiliki nya." ucap Satria, Adinda pun mengusap air mata nya dan menoleh ke arah suami nya itu


"mas, makasih ya udah antar aku ke sini, aku lega bisa liat makam mama lagi." kata Adinda


"sama sama sayang, aku pasti akan mengantar mu kemana pun." kata Satria memeluk istri nya


setelah Adinda selesai bercerita di depan makam orang tua nya ia segera beranjak pergi, di tengah perjalanan saat mengeluari area makam kaki Adinda sedikit terkilir, Satria pun segera menolong istri nya dan berkata..


"kau harus hati hati, jangan melamun di tempat seperti ini, lihat? kau terluka sekarang." ucap Satria langsung menggendong istri nya ke mobil


"maafkan aku." ucap Adinda


di mobil, Satria menyuruh istri nya tertidur agar lebih tenang, dan Adinda pun menuruti nya.


"aku akan bangunkan mu ketika sudah sampai di rumah." ucap Satria


1jam berlalu,


"mama senang kamu menikah dengan laki laki yang tepat." ucap mama Adinda


"aku juga senang bisa menjadi istri mas Satria ma, dia sangat sayang dan perhatian pada ku." kata Adinda


"bagaimana dengan cucu mama? dia pasti pintar, sama seperti kalian." ucap mama


"dia tumbuh besar, dan juga sangat pintar, aku bahagia di izinkan memiliki nya oleh tuhan." kata Adinda lagi


"jaga mereka semua nak, karena tidak ada yang paling berharga selain keluarga kita sendiri, sampai kan terimakasih pada orang tua suami mu karena sudah merawat putri mama dengan baik, semoga kelak kebaikan selalu ada bersama mereka, dan juga kamu sayang." sahut mama sebelum akhirnya Adinda terbangun dan memanggil orang tua nya


"mama?!!." kata Adinda mengejutkan Satria sampai ia mendadak hentikan mobilnya


"astaga Din, apa yang terjadi?." tanya Satria bingung


"mama, dia berkata kalau dia senang melihat ku menikah dengan laki laki yang tepat." ucap Adinda dengan keringat yang membanjiri dahi nya, padahal AC mobil tersebut tetap menyala mengarah ke diri nya


Satria segera memeluk Adinda dan berusaha menenangkan nya.


"kau bermimpi ya? keringat mu banyak sekali, sini." Satria mengusapkan tisu ke dahi istri nya dan mencium kening itu

__ADS_1


"kalau kau memimpikan nya lagi, beritahu pada mama kalau aku juga senang bisa didampingi oleh putri nya." sahut Satria membuat Adinda tersenyum


__ADS_2