
"halo Farel." ucap Adinda
"ya nona, ada yang bisa saya bantu?." tanya Farel di sebrang telepon
"aku dengar besok ada meeting penting bersama klien besar, tolong kamu gantikan suamiku dan pelajari segala materi nya." kata Adinda
"baik nona, bagaimana keadaan anda sekarang? apakah sudah membaik? tadi tuan Satria memintaku untuk membereskan beberapa pekerjaan, dia berkata bahwa anda mengalami kecelakaan." ucap Farel, mendengar hal itu Adinda sungguh terkejut
"saya kecelakaan? dari mana dia mendapatkan berita itu? aku bahkan baik-baik saja, dan justru saat ini suamiku yang mengalami kecelakaan." balas Adinda membuat alis Farel berkerut
"tidak mungkin! tuan mengatakan nya sendiri kepadaku, aku tidak bohong." kata Farel
"mungkinkah seseorang mencoba mencelakai suamiku? tolong cari tahu hal ini, aku akan segera datang ke kantor nanti sore." ucap Adinda kemudian menutup telepon
...
"kau sudah mengatakan nya pada Farel?." tanya Satria dengan nada pelan
"sudah, jangan mengkhawatirkan hal itu lagi, saat ini yang paling terpenting adalah kondisi kamu, oh ya nanti sore aku akan pulang sebentar untuk mengambil beberapa pakaianmu serta memberitahu mama kalau kita akan tinggal di villa beberapa hari ini." ucap Adinda
"baiklah, dengan siapa kau pulang?." tanya Satria
"aku datang bersama Pak Rahman, jadi tentunya aku akan pulang bersama dia lagi." sahut Adinda membuat suaminya merasa lega, dia takut Adinda pulang sendirian dan berada dalam bahaya
"selalu berhati-hati saat kamu berada diluar ya Din, Mas tidak mau hal buruk terjadi sama kamu, saat ini aku sedang tidak bisa menjaga kamu diluar." kata Satria, Adinda menghela nafas dan beralih pada wajah suaminya yang sedikit menampakkan kesedihan
"aku tahu kamu sangat khawatir padaku, tapi aku janji sama Mas kalau aku akan baik-baik saja bersama bayi kita." sahut Adinda, merasa tenang Satria mencium punggung tangan istrinya lalu memilih untuk beristirahat kembali
saat hari sudah sore, Adinda bergegas menuju kantor, ketika sampai ia mendapati para pekerja yang belum kembali pulang.
"selamat sore Nona Adinda." gumam para karyawan
"sore, kenapa kalian belum kembali?." tanya Adinda
"pekerjaan kami masih banyak nona, jadi mungkin sedikit terlambat untuk pulang." sahut karyawan
"ya sudah, kerjakan semampu kalian saja jika sudah boleh langsung pulang dan kembali bekerja besok." kata Adinda segera menuju ruangan suaminya di atas
"sore Nona, kau benar-benar kelihatan sangat baik, bagaimana bisa seseorang mengatakan kalau kau kecelakaan?." tanya Farel
"aku merasa ada yang aneh, bisa saja orang itu sengaja membuat suamiku menjadi gila karena khawatir lalu ia memanfaatkan untuk mencelakainya." kata Adinda
"tapi siapa yang melakukan hal itu pada Tuan Satria?." tanya Farel lagi
"kau tunggu disini sebentar." Adinda memasuki ruang sekretaris dan tidak melihat siapapun di sana, ia pikir mungkin saja sekretaris tersebut sudah pulang lebih dulu, tetapi dia mendengar sesuatu dari arah kamar mandi, seketika Adinda mendekat dan menguping di sana.
"kau berhasil melakukannya? wow sangat bagus! aku tidak menyangka kau bisa secerdas ini dalam menyusun rencana." kata Emily
"baiklah, kalau begitu kita harus menutup rapat masalah ini dan jangan sampai ada satu pun orang yang mencurigai kita." ucap Emily menutup telepon, ia pergi keluar dan terkejut setengah mati melihat Adinda berdiri dihadapan nya
__ADS_1
"kau?!." kata Adinda, ia membelalakkan matanya karena kaget, Emily yang sebelumnya terlihat ganas tiba-tiba segera membeku
"berani-berani nya kau ada disini?!!!!!." kata Adinda lagi, saat Adinda ingin menampar Emily, Farel segera datang untuk mencegahnya
"Nona jangan! dia adalah sekretaris baru di sini, jika dia membuat suatu masalah tolong dimaafkan." pinta Farel
"diam! siapa kamu berani mengatur saya?!." Adinda menunjuk wajah Farel dan meluapkan segala emosinya, Farel yang tak percaya melihat kemarahan Adinda segera menunduk takut
"sekarang katakan padaku, apa yang telah kamu rencanakan?! aku mendengarnya sendiri barusan kalau kau bergembira dengan keberhasilan seseorang?!!!! kau penyusup!." kata Adinda
"m-maafkan saya Nona, tapi saya benar-benar tidak melakukan apapun." kata Emily berpura-pura bodoh, ia berharap Farel bisa membelanya
"Nona, sebaiknya...."
"kalau kau terus membela penyusup ini, maka saya akan mengusir kamu bersama dengan dia." ucap Adinda, kata-kata nya saat ini terdengar begitu dingin sampai Farel tak berani lagi mengeluarkan sepatah katapun
"asal kamu tahu Farel, dia adalah wanita penjahat yang berani melukai ku di mall saat aku sedang berbelanja bersama Mas Satria! dia wanita gila!." kata Adinda kejam
"m-maaf Nona, saya tidak tahu, kalau begitu saya akan membawanya pergi dari sini." kata Farel menarik Emily keluar ruangan, lalu Adinda bersandar ke dinding dan memegang kepala nya
"dia benar-benar membuatku mual." gumam Adinda, perlahan ia turun dari ruangan itu dan pergi ke lantai bawah
"kalian semua! dengarkan aku!." pinta Adinda, dengan cepat semua pekerja menimbrung untuk mendengarkan kata bos nya
"jika salah satu dari kalian ada yang berani bermain api pada perusahaan ini, saya akan pastikan kalian tidak akan hidup dengan tenang selamanya!." kata Adinda membuat semua karyawan kaget sejadi-jadinya, baru kali ini mereka mendengar kemarahan Adinda yang begitu besar, serta membuat semua orang di ruangan itu merasa takut akan ancaman nya.
kepala Adinda sudah terasa sangat berat, matanya buram dan kali ini ia benar-benar merasa ingin pingsan, dari kejauhan seseorang berlari dan mencoba menolongnya, Adinda berpikir bahwa dia akan jatuh di jalanan itu, namun sayang pikiran nya salah, ia justru jatuh pada pelukan yang terasa hangat, sebelum akhirnya dia menutup mata karena tak sadarkan diri.
"Adinda! Adinda bangun!." teriak seseorang itu
satu jam berlalu, Adinda pun sadar, ia berada di dalam mobil yang tak asing lagi menurutnya.
"Bryan.." gumam Adinda
"akhirnya kau bangun juga, bagaimana keadaan mu sekarang? apakah sudah mendingan? kenapa kau bisa pingsan begitu hmm." ucap Bryan
"aku baik-baik saja, kenapa kau malah membawaku ke dalam mobilmu?." tanya Adinda
"aku tidak tahu harus membawamu kemana, aku sudah berusaha mencari Satria namun dia tak ada, sepertinya dia bukan suami yang baik." kata Bryan mengimpori Adinda
"jaga ucapan mu! dia adalah suami yang baik, dan kau tidak tahu sama sekali tentang itu!." kata Adinda marah
"kalau dia baik kenapa dia tidak ada disaat istrinya pingsan tadi." jawab Bryan
"dia berada di rumah sakit, ketika siang dirinya mengalami kecelakaan, jadi wajar saja dia tidak bersama ku sekarang." sahut Adinda
"benarkah?! mengapa bisa terjadi seperti itu?!." tanya Bryan
"aku tidak suka basa-basi, aku harus segera kembali ke rumah sakit." kata Adinda membuka pintu mobil tersebut namun ditahan oleh Bryan
__ADS_1
"jangan buru-buru, kau masih sakit." ucap Bryan
"aku tidak sakit Bryan! aku hanya mual dan pusing! kau tidak usah menambah-nambah kan rasa mual ku dengan sikap konyol mu itu!." kata Adinda membuat Bryan mengerutkan alis
"kau mual? pusing?." ucap Bryan
"aku sedang hamil, sudah! jangan menggangguku!." pinta Adinda keluar dari dalam mobil, lalu Bryan mengejarnya
"hei, bagaimana mungkin perempuan hamil berjalan sendirian di bawah langit sore ini, sebentar lagi akan malam, berbahaya untukmu." kata Bryan
"hentikan omong kosong mu! aku datang kemari tidak sendiri! melainkan bersama supir pribadi!." ucap Adinda
"kalau begitu izinkan aku mengantarmu sampai mobil?." kata Bryan
"dasar tuli, aku sudah bilang jangan menggangguku." jawab Adinda berjalan meninggalkan Bryan, tetapi Bryan tetap mengejarnya dan menemani Adinda berjalan
"beruntung sekali ya Satria itu mendapati wanita seperti mu, cantik, baik, dan juga pintar." ucap Bryan
"jangan coba-coba memujiku, aku tidak akan terpesona dengan kata-kata mu barusan!." jawab Adinda
"aku bicara apa ada...."
"aaaah." Adinda tiba-tiba merasakan sakit diperutnya
"ada apa?! apa ada yang sakit?! dimana?! aku antar kan kamu ke rumah sakit sekarang." Bryan menggendong Adinda yang kesakitan menuju mobilnya lagi, ia melaju dengan kencang untuk menuju rumah sakit.
"Bryan! lebih cepat sedikit! aaaaah sakit!." gumam Adinda
"sedikit lagi sampai, kau harus tenang." Bryan memegang tangan Adinda untuk meyakinkan kalau semuanya akan baik-baik saja, sementara Adinda mulai meremas tangan Bryan dengan kencang akibat rasa sakit di perutnya
setibanya di rumah sakit, Bryan menggendong Adinda keluar dari dalam mobil.
"dokter cepat tolong!." pinta Bryan, di dalam ruangan Adinda sedang diperiksa oleh dokter kandungan, setelah beberapa menit dokter itupun keluar dan mengobrol bersama Bryan
"keadaan istri anda baik-baik saja, dia hanya mengalami keram pada bagian perutnya, sebaiknya dia beristirahat dan jangan sampai kelelahan karena itu bisa mengganggu kesehatan janin." ucap dokter
"baik dok, saya akan memintanya untuk beristirahat." jawab Bryan, setelah dokter itu pergi ia segera masuk ke dalam ruangan dan melihat Adinda menutup wajahnya dengan satu tangan
"Adinda, kau harus banyak beristirahat." pinta Bryan
"aku akan segera menemui suamiku, apakah wajahku terlihat pucat?." tanya Adinda
"wajahmu sangat pucat, aku akan menebuskan resep obat yang diberikan oleh dokter." kata Bryan
"tidak! aku bisa menebusnya sendiri, tolong, kali ini saja ikuti permintaanku, aku sedang hamil, apa kau tega terus menerus membuatku lelah dengan sikap aneh mu itu?." tanya Adinda lagi kemudian Bryan menunduk dan menghela nafas
"aku sangat mencintaimu, tapi aku akan menuruti perkataan mu kali ini, aku juga tidak mau membahayakan kehamilan mu, jika suamimu berada di rumah sakit ini pergilah, aku akan menjagamu dari belakang walaupun harus berjauhan, tapi kalau suamimu ada di rumah sakit lain, aku bersedia mengantarkan mu menuju ke sana." ucap Bryan
"terimakasih kau mau mengerti, suamiku ada di rumah sakit ini, jadi kau tidak perlu repot-repot untuk mengantarkan ku lagi." ucap Adinda mengambil resep obat ditangan Bryan dan beranjak pergi, karena khawatir yang begitu dalam, Bryan mengikuti Adinda dari belakang untuk memastikan dia akan baik-baik saja
__ADS_1