Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
Lalat pengganggu


__ADS_3

"Ha-ha, bagaimana kalau kita keluar? aku mau lihat betapa indahnya pemandangan diluar sana." Ajak Adinda.


"Apapun untukmu, yuk." Satria menggandeng tangan halus tersebut dan segera menuju depan.


"Adinda, jangan lari!." Teriak Satria, sepertinya Adinda begitu senang menikmati angin yang berhembus kencang, belum lagi semuanya benar-benar terlihat indah.



"Mas!!! ayo sini cepat!." Kata Adinda, dengan cepat suaminya berlari dan memeluk tubuh itu dari belakang.


"Lain kali tidak boleh lari, mengerti?." Suara yang sangat halus memperingati.


"Maafkan aku Mas, ini terlalu membuatku senang." Jawab Adinda, saat mereka sedang tertawa gembira sambil memeluk satu sama lain, tiba-tiba telepon Satria berdering.


Tringg..tring


"Halo?."


"Satria! kamu itu benar-benar ya keterlaluan! Masa liburan sama Adinda tidak mengajak kami sih!." Adinda menyadari suara yang terasa familiar, siapa lagi kalau bukan Selin.


"Hei! aku tidak mau mengajakmu, aku hanya ingin membawa istriku saja." Kata Satria.


"Alihkan video call! angkat Satria!." Ucap Selin kesal.


"Hai." Adinda menampakkan wajahnya tepat di samping sang suami.


"Adinda?! kenapa kamu tidak bilang padaku kalau mau pergi ke laut?." Selin sedih.


"Maaf ya Kak, aku sama sekali tidak tahu kalau Satria ingin membawaku kemari, kalau aku tahu pasti aku akan mengajak kalian semua." Balasnya.


"Dasar jahat memang si Satria itu! bisakah kau membalikkan kapal? lalu menjemput kami?." Tanya Selin.


"Apa?! memangnya kau siapa? ratu?." Satria mendecak sebal.


"Tapi kan Mas kapal nya juga belum terlalu jauh, kasihan Kak Selin, dia sedang hamil lho." Ucap Adinda.


"Diam, kau juga sama sedang hamil, dan aku hanya ingin ada kita di sini, Selin biar saja pergi bersama Jonatan." Sahut Satria.


"Awas kamu ya Satria! kalau kau pulang kesini, akan aku habisi kau! pelit!." Selin marah dan memelototi sepupunya.


"Hei aku sama sekali tidak perduli, ajaklah suamimu kalau kau mau berlibur, masih ada kapal lain jika kau mau menyusul kami." Ucap Satria.


"Baiklah! kami akan segera menyusul! sayang? bisakah kita pergi ke laut sekarang? aku ingin sekali naik kapal?." Teriak Selin kepada Jonatan.


"Sudah-sudah! jangan mengganggu, teriakan mu itu membuat telingaku ingin pecah!." Satria mematikan ponsel.

__ADS_1


"Semoga Jonatan mau ya menyusul, kasihan Kak Selin kalau keinginan nya tak terwujud, bagaimana kalau bayinya menjadi ileran saat lahir nanti? hua! aku tidak bisa membayangkan nya." Adinda memejamkan mata sambil berteriak histeris.


"Aku melarang kamu membayangkan orang lain selain aku." Kata Satria menegaskan.


"Hah?." Adinda tercengang lalu tertawa geli.


"Sudah ah Mas, aku mau melihat pelayan di dapur." Wanita itu beranjak pergi, diikuti oleh Satria dari belakang.


"Halo, kau sedang masak apa?." Tanyanya.


"Halo Nyonya, saya sedang memasak udang asam manis seperti yang anda sukai." Jawab Pelayan.


"Wah, kau tahu kalau aku menyukainya? hmm, tapi-" Adinda memegang perutnya dan memperhatikan dengan cemas.


"Tapi apa sayang?." Kata Satria.


"Bisakah kamu membuat beberapa kue Muffin coklat? aku ingin sekali." Jawab Adinda.


"Tentu saja bisa Nyonya! apa ada lagi yang anda inginkan? jangan khawatir, disini ada empat pelayan untuk melayani anda." Ucap Pelayan tersebut.


"Empat? wow banyak sekali, padahal satu saja cukup." Adinda tersenyum manis.


"Kami ingin melakukan yang terbaik untuk anda, baiklah ditunggu Muffin nya, saya akan segera membuatkan kue itu." Pelayan segera menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan.


"Terimakasih ya, antar saja ke kamarku kalau sudah selesai." Adinda menggandeng tangan Satria lalu kembali menuju kamar.


"Jelas saja kami berdua tau!." Mereka segera saling berdekatan, kemudian Satria menyentuh perut Adinda sambil bergumam.


"Kamu pasti senang ya makan kue coklat? Ayah tidak mengerti kenapa Bunda mu suka sekali dengan kue coklat, sama seperti anak pertama kami, Arkan, dia akan menjadi kakakmu nanti." Ucapnya.


Pria itu sibuk berbicara dengan perut istrinya, sementara Adinda hanya menikmati pemandangan saat Satria sangat perhatian pada sang bayi.


"Aku harap kita dikaruniai anak perempuan, agar lengkap." Kata Adinda.


"Mas juga berharap begitu sayang, tapi apapun nanti aku tetap menyayangi mereka semua." Balasnya.


"Oh ya Mas, sepulang dari sini kita USG ya? aku sangat ingin mengetahui jenis kelamin nya." Kata Adinda.


"Iya, Mas juga sudah menjadwalkan itu, jadi kamu tidak perlu khawatir." Satria mengusap kepala Adinda dengan lembut, lalu mencium keningnya.


Sekitar setengah jam kemudian, pelayan itu datang sambil membawa beberapa kue.


"Permisi Tuan dan Nyonya, Muffin coklat sudah siap." Ucap Pelayan.


"Ah! Terimakasih! harum sekali kuenya! pasti enak." Adinda segera berdiri dan mengambil alih kue itu.

__ADS_1


"Kau mau? kalau iya ambil saja, aku hanya butuh sedikit untuk menenangkan perutku." Ucap Adinda tersenyum.


"Tidak perlu Nyonya, terimakasih banyak tawaran nya, makanlah kuenya agar bayi Nyonya senang." Sahut Pelayan.


"Terimakasih ya, kau boleh pergi." Pinta Satria, tak lama kemudian ia menerima panggilan telepon lagi dari seseorang.


"Selin menganggu saja!." Saat ponsel itu dikeluarkan dari saku, jelas bukan nama Selin yang terpajang, tetapi Adi.


"Halo?." Ucap Adi.


"Ada apa menghubungiku?." Kata Satria.


"Aku tahu, kau kan yang menyelamatkan Sheira kemarin, kenapa kau bertindak seperti itu? dia itu istriku, jadi jangan ikut campur." Adi memperingatkan.


"Hei, aku hanya berniat baik untuk menolong istrimu, lagi pula suami macam apa tega menyakiti istri dengan tangan nya sendiri?." Sahut Satria.


"Jangan berkata seolah-olah kau sudah paling benar melakukan tugasmu, apa kau tidak pernah menyakiti Adinda? aku dengar berita dari sana sini bahwa kau mengejar Sheira tanpa perduli kan istrimu sendiri." Ucap Adi.


"Apa?! itu masa lalu! aku juga sudah tidak mencintai Sheira! sebodoh-bodohnya aku, aku tak akan pernah kembali dengan wanita yang sudah meninggalkan aku selama tiga tahun tanpa kabar!." Satria menegaskan.


"Ha-ha, sekali lagi aku melihat kau bertemu dengan Sheira, jangan harap bisa melihat istrimu lagi!." Kata Adi menyeringai.


"Jangan pernah bawa-bawa istriku dalam hal apapun! seujung kuku saja kau menyentuhnya, akan ku bunuh kau!." Satria emosi, Adinda yang tadinya anteng memakan kue tiba-tiba meletakkan kuenya dan mengambil ponsel itu tanpa izin.


"Kau dengar ya?! sampai kapanpun Satria tidak akan pernah menemui Sheira lagi! aku yang akan menjamin nya! paham kau?!." Ucap Adinda.


"Oh, maaf, aku rasa kau wanita yang mampu dipercaya, jadi jagalah suamimu, kalau bisa rantai saja kakinya agar tidak menemui wanita lain lagi." Ucap Adi.


"Rantai? kau pikir aku adalah wanita yang tega memperlakukan seorang suami seperti binatang peliharaan? tentu saja aku berbeda denganmu." Sahut Adinda, kemudian ia mematikan telepon.


"Dasar lalat pengganggu!." Gumamnya.


"Sayang, apa kau baik-baik saja saat bicara setinggi itu?." Tanya Satria.


"Tentu saja, aku sangat baik, kau tak perlu kemakan celotehan bodohnya itu, aku percaya padamu kalau kau benar-benar hanya cinta pada satu wanita saja yaitu aku." Kata Adinda.


"Maafkan Mas ya sayang, disaat santai begini malah mendapat gangguan dari Adi." Ucap Satria.


"Tidak apa-apa kok Mas, ayo makan kue nya! aku akan menyuapi mu." Adinda mengambil sepotong Muffin dan diulurkan ke arah mulut sang suami.


"Aaaaaa." Satria menganga, lalu mengunyah kue tersebut.


"Bagaimana? enak kan Mas? tidak salah dong kalau aku menyukai kue coklat." Adinda tersenyum geli.


"Ya, ya, tapi kau harus ingat satu hal, tidak boleh terlalu banyak! kau bisa mual nanti." Ucap Satria.

__ADS_1


"Ha-ha, iya Mas iya! hanya sedikit, ayo makan lagi!."


__ADS_2