
"Tidur saja, aku lelah." Jeremy hendak meninggalkan Agatha, namun wanita itu menahannya. Ia bangkit, kemudian memeluk Jeremy dari belakang.
"Maaf." Jeremy melepas pelukan istrinya sendiri, kelihatannya dia benar-benar marah.
"Aku tidak butuh permintaan maaf, malam ini aku melihatnya sendiri kalau kau masih sangat mencintai Greg." Agatha tak tahu harus bicara apa.
"Aku tidak sengaja melihat mobilnya didepan bar dan aku..."
"Dan kau nekat masuk kedalam sehingga menciumnya dengan bebas didepan mataku." Ucap Jeremy.
"A-aku, aku tidak tahu kau disana." Mendengar jawaban Agatha, suaminya hanya terkekeh.
"Ada atau tidak, aku tetap takan terlihat dimatamu." Jeremy pergi.
Agatha menggaruk kepalanya yang tak gatal dan bergegas ganti pakaian.
'Malam ini, aku akan menyerahkan diriku, mungkin hanya ini cara satu-satunya agar bisa melupakan Greg dan mencintai Jeremy.'
Berjalan keluar menuju kamar Jeremy.
Mengetuknya dengan tenang, tapi lagi-lagi tak mendapati jawaban.
"Aku datang." Kata Agatha.
"Mau apa ?." Jeremy menatapnya malas.
"Mau tidur disini." Agatha sangat gugup.
"Tidur lah disini, aku akan tidur di sofa." Jeremy mengambil bantal serta selimutnya untuk tidur.
"B-bukan gitu, k-kita bisa tidur berdua dikasur." Sepertinya Jeremy benar-benar marah sampai tak menggubris apapun yang dikatakan istrinya.
"Jeremy, apa kau akan terus mengabaikan aku seperti ini ?." Ucap Agatha.
"Sudah ku katakan, aku ini lelah." Pria itu langsung meniduri sofa tanpa suara lagi.
'Bagaimana aku mengembalikan mood nya ? mengajak tidur bersama pun tidak berguna.'
Agatha keluar dari kamar menuju lantai bawah. Disana ia hanya duduk diam, merenungkan perbuatannya.
"Nona, kenapa anda belum tidur ?." Tanya pelayan.
"Aku belum ngantuk." Jawab Agatha.
"Tugas kami sudah selesai, jadi ini waktunya untuk istirahat, maaf tidak bisa menemani anda disini. Tapi kalau Nona membutuhkan sesuatu bisa tekan tombol seperti biasa ya." Kata Pelayan mengingatkan.
"Iya, terimakasih."
Dua jam berlalu, Jeremy membuka mata dan menyadari kalau istrinya pergi keluar sejak tadi.
Akhirnya ia menuju kamar Agatha tetapi tak melihat keberadaan nya disana.
"Dimana anak itu ?." Pria tersebut mencari ke lantai bawah, kemudian menemukan Agatha sedang duduk melamun.
"Kenapa belum tidur ? kamarnya kurang nyaman ?." Mendengar suara suaminya ia menoleh, lalu menggeleng.
"Lingkar matamu hitam, kalau dibiarkan begadang pasti akan mirip seperti panda nantinya, ayo tidur." Jeremy memegang tangan Agatha begitu lembut.
"Buat apa melamun malam-malam, memikirkan masalalu tidak ada habisnya." Jeremy mendapati cengkraman kuat dari Agatha sampai pria itu meringis.
"Aaagrhhh."
"Aku memikirkanmu ! bukan masalalu atau semacamnya." Melihat Agatha hampir menangis, Jeremy dengan sigap memeluk dan membelainya.
"Baik, aku minta maaf karena sudah mengabaikan mu. Mau tidur dimana ? kamarku atau kamarmu ?." Kata Jeremy.
"Kamarmu." Mereka berdua masuk kedalam satu kamar yang sama lalu masing-masing membaringkan tubuhnya.
"Kau pasti lelah karena tidak tidur, sekarang sudah jam satu malam jadi ayo tutup matamu." Jeremy merapihkan rambut Agatha dan meletakkan bantal guling ditengah tengah mereka untuk menjaga jarak.
"Aku menepati janjiku, tidak akan menyentuhmu meski kita tidur dikasur yang sama sekalipun." Ucap Jeremy, sementara Agatha terus memandangi suaminya seolah meminta sesuatu sebelum menenggelamkan mata.
"Kenapa melihatku begitu ?." Kata Jeremy, Agatha melirik keningnya sendiri agar Jeremy memahami maksudnya.
Cup !
"Selamat tidur." Karena merasa sudah diperlakukan dengan manis, kini Agatha ingin membalas sebagai bentuk permintaan maafnya atas kejadian tadi malam.
Anak itu dengan percaya diri menggeser bantal guling agar tidak menutupi jarak diantara mereka, Jeremy sendiri merasa bingung apa yang akan dilakukan Agatha.
Tiba-tiba saja Agatha memeluk Jeremy kemudian mencium bibirnya.
__ADS_1
Jeremy sama sekali tak mempunyai keberanian untuk membalas. Ia takut tidak sanggup menahan rasa cintanya pada anak ini.
'Ayo Jeremy, aku mengizinkanmu melakukan apa saja.'
Agatha mulai mencium tengkuk leher suaminya detik demi detik, dan Jeremy mendadak gila dibuatnya.
"K-kau, kau harus tahu apa yang saat ini kau lakukan." Ia berusaha memperingati istrinya secara perlahan.
Jeremy betul-betul tidak tahan lagi dengan godaan didepannya, dia langsung membalikkan tubuh Agatha seraya mencium penuh kehangatan.
Saat Jeremy menyentuh bagian perut wanita itu, terlihat betapa hebat ketakutan Agatha.
'Agatha, tenanglah. Dia suamimu, dia layak mendapatkannya.'
Sedikit menghela nafas, sebelum akhirnya kembali bicara.
"Seharusnya aku tak percaya kau melakukan ini, aku tahu kau belum siap. Kita lakukan setelah kau benar-benar berhasil mencintaiku, agar pengorbananmu menjadi istriku tidak akan sia-sia." Jeremy melepas Agatha, dan langsung membelakangi wajahnya.
Keduanya tidur dalam diam.
.
.
.
.
Keesokan hari, saat Jeremy sedang bekerja dikantor tiba-tiba Marry datang kerumah menemui Agatha.
"Kau mengambil hak yang seharusnya menjadi milikku." Kata Marry.
"Aku sama sekali tidak bermaksud mengambil Jeremy darimu, bahkan dari awal Jeremy tidak mengatakan apa-apa tentang hubungan kalian." Jawab Agatha.
"Kalau kau memang bukan mengincar harta Jeremy, lalu apa yang kau inginkan disini ?! aku yakin kau pasti punya rencana jahat." Marry menekan Agatha terus menerus.
"Apa ? kamu bilang apa barusan ? aku, punya rencana jahat ? sangat tidak menyangka ternyata aktingmu bagus ! jangan kau pikir aku tidak tahu apapun tentang masalalu mu bersama Jeremy, kau mengkhianatinya, bahkan menyombongkan diri seakan akan kau penguasa disini." Agatha tertawa.
"Tutup mulutmu, jangan macam-macam. Aku bisa mengandalkan..."
"Mengandalkan wajahmu untuk meluluhkan hati Jeremy ? kau yakin itu masih berlaku hari ini ?." Ucap Agatha lagi.
"Kau benar-benar tidak tahu malu ! beraninya menjawab ucapanku." Marry memegang tangan Agatha kuat-kuat.
"Aaaaghk." Para pelayan mengehentikan kerusuhan tersebut.
"Nona Marry, jika anda hanya ingin membuat kekacauan maka pergilah. Tuan memerintahkan saya penuh untuk menjaga Nona Agatha. Jangan macam-macam." Kata Diandra.
"Sudah berani melawanku ya ? kau lupa siapa aku disini ?." Marry memperingati kembali tentang siapa dirinya.
"Kau bukan siapa-siapa disini, lebih baik kamu pergi." Ucap Agatha menunjuk pintu dengan tangannya.
"Kau tidak ada hak mengusirku, aku akan berada disini sampai calon suamiku pulang." Marry segera menduduki sofa ruang tamu.
"Aku berhak menentukan siapa saja yang boleh masuk kedalam rumah Jeremy, kau tidak ingat sekarang statusmu apa ? mantan kekasih ! sementara aku istri sah nya." Diandra terkejut mendengar ucapan Agatha saat ini, dia menutup mulutnya sebagai bentuk rasa tak percaya.
"Tidak berlaku untukmu, meskipun kau istrinya, dia sama sekali tak mencintaimu. Dia hanya terobsesi karena kau mirip dengan mendiang ibunya !." Perkataan itu pun membuat Agatha terdiam.
"Nona, sebaiknya kita obati dulu luka diwajahmu." Kinan membantu Agatha menuju kamar untuk membersihkan luka cakarnya, sebab walau hanya satu goresan tetap mengeluarkan darah.
"Saya akan menghubungi Tuan..."
"Kinan, tidak perlu. Biarkan saja wanita itu bertingkah semaunya. Tapi jangan biarkan dia masuk ke dalam kamar Jeremy." Kata Agatha sambil memegang wajahnya.
"Tapi Nona, selain itu juga saya perlu memberitahu wajah anda." Agatha menggeleng lagi.
"Tidak usah Kinan, lagi pula sudah diobati." Ucap Agatha, Kinan pun setuju.
"Saya akan meminta yang lain untuk mengawasi Nona Marry." Kata Kinan.
"Benar, terimakasih ya."
Dikantor, Jeremy benar-benar pusing karena begitu banyak pekerjaan hari ini.
Sampai dia melupakan makan siangnya.
"Kau terlalu sibuk." Kata Zheng.
"Biar semuanya cepat selesai, aku perlu istirahat setelah ini." Jeremy menyandarkan kepala dikursi, lalu melihat ke arah jam tangan yang dia pakai.
"Hampir sore, apa aku akan lembur sampai malam ? jam segini saja belum menyelesaikan separuhnya." Zheng menertawai Tuannya sendiri.
__ADS_1
"Pulang lah, aku akan membereskan semua ini. Bagaimana mungkin pengantin baru jarang menghabiskan waktu bersama ? tidak baik Jeremy." Ucap Zheng.
"Halah, tau apa kau ? menikah saja belum." Jeremy sinis.
"Tenang saja, kalau sudah dapat akan aku kenalkan." Zheng mengusir Jeremy dari kursinya, mereka memang sudah sangat dekat seperti saudara.
"Cepat pulang, istrimu menunggu." Jeremy segera menuruti permintaan bawahannya itu.
Selama perjalanan, ia melihat bunga indah terpajang disuatu toko.
Langsung saja berinisiatif membelinya.
Setelah membeli bunga tersebut, ia mengendarai mobilnya secepat kilat.
Ketika sampai, wanita pertama yang dia jumpai justru adalah Marry.
"Sayang !." Marry memeluk Jeremy serta mencium pipinya.
"Mau apa kau kemari ?." Tanya Jeremy.
"Kau membelinya untukku ?! ya ampun benar-benar cantik." Marry berusaha mengambil buket itu dari tangan Jeremy.
"Punya istriku."
Di kejauhan Agatha terlihat sedang keluar dari dalam lift, ia tahu melalui jendela kamarnya kalau mobil Jeremy sampai dibawah.
'Aku tidak akan membalasmu melalui tangan ini, tapi goresan yang kau buat harus dibayar.'
Agatha menuju suaminya, memeluk dengan manja sambil menampung banyak sekali air mata.
"Kenapa lama ? dia menggangguku." Kata Agatha sambil menyandarkan kepalanya dalam pelukan tersebut.
"Agatha, wajahmu kenapa ?." Jeremy memegang wajah Agatha seraya memperhatikan luka goresan disana.
"Tanyakan saja pada mantan kekasihmu, dia sengaja melakukannya karena marah." Marry mengernyit, kemudian memegang tangan Jeremy.
"Sayang dia bohong ! mana mungkin aku menyakiti seseorang." Marry takut pria didepannya marah.
"Kau yakin ? istriku tidak mungkin bohong, kejujurannya bahkan tidak sebanding punyamu." Ucapan Jeremy membuat Agatha tersenyum sinis.
"Lihat ! dia merendahkan aku, dia sengaja mencari perhatian agar kau membenciku ! dia bukan orang baik Jeremy." Kata Marry, Jeremy segera memandang wajah Agatha, memastikan luka dipipinya parah atau tidak.
"Sudah diobati ?." Tanya Jeremy.
"Kinan yang mengobatinya, dia juga melihat kejadian ini, jadi aku tidak mungkin berbohong padamu." Agatha memeluk Jeremy lagi, membuat Marry panas.
"Aku tidak pernah tahu kalau kau tega melukai orang lain, apa ini wajah aslimu Marry ?." Kata Jeremy membuat bulu kuduk Marry merinding.
"Kau tak percaya aku lagi Jeremy ? kita mengenal satu sama lain dengan begitu baik, apa kau saat ini lebih memilihnya ?." Marry memasang wajah sedih, ia pikir itu akan membuat Jeremy luluh. Namun kenyataannya tidak.
"Aku memilihnya karena dia istriku, sebaiknya kau pergi sebelum aku me..."
Marry mendorong Agatha menjauh dari pelukan Jeremy, kemudian berganti dengan dirinya.
"Marry ! apa-apaan kau !." Melepas Marry penuh paksa.
"Ayo ke kamar, biarkan saja dia disini." Jeremy menggenggam tangan istrinya lalu pergi.
"Jeremy, kita lihat saja tanggal mainnya." Gumam Marry.
Dikamar, Pria itu menyodorkan sebuket bunga pada Agatha.
"Untukku ?." Ia mengangguk.
"Aku ganti pakaian dulu, setelah itu kita ke rumah sakit." Kata Jeremy.
"Untuk apa ?." Agatha bingung.
"Memeriksa wajahmu, kau membutuhkan penanganan dokter." Pria itu menatapnya serius.
"Tidak usah, beberapa waktu lagi lukanya pasti akan kering." Jeremy berlutut dan mencium tangan Agatha.
"Aku benar-benar minta maaf, seharusnya aku jujur dari awal tentang Marry, sekarang dia menyakitimu." Ia sangat merasa bersalah dan tak mau istrinya terluka lagi.
"Selama kau disisiku, dia tidak akan berani macam-macam." Kata Agatha.
"Aku mencintaimu."
"Aku punya satu pertanyaan dan kau harus jawab dengan jujur." Wajah Agatha membuat Jeremy tidak tenang.
__ADS_1
"Apa ? kau mau menanyakan apa ?." Tanya Jeremy.
"Benarkah kau cinta padaku ? atau semua ini semata-mata hanya obsesi karena aku begitu mirip dengan ibumu ?."