
Dari luar terdengar suara langkah kaki serta aroma yang familiar.
"Sayang?!." Satria berlari saat melihat Adinda terduduk lemas dilantai.
"Hei, kenapa begini?!." Tanya Satria, ia menggendong Adinda menuju kamar, lalu menelepon dokter.
"Sayang? apa yang terjadi? jawab aku." Kata Satria lagi.
"Ceritanya panjang Mas, kau akan tahu nanti, perutku sakit sekali." Adinda memegangi perutnya yang terasa sakit, Satria segera membantu mengusap lembut perut itu dan memeluk istrinya, dia bahkan belum sempat berganti pakaian karena menomor satukan Adinda.
Ketika dokter datang, Satria langsung mempersilahkan nya untuk mengecek keadaan Adinda.
beberapa menit kemudian dokter itu kembali dan bicara pada Satria.
"Keadaan Nona Adinda baik-baik saja, untungnya benturan keras tersebut tidak berpengaruh ke janin yang dikandungnya, tapi saya mohon kepada Tuan untuk jauh lebih berhati-hati dalam mengawasi Nona Adinda agar hal sedemikian rupa tidak lagi terulang." Jelas Dokter.
"Terimakasih Dok, saya akan menjaga istri saya dengan baik." Kata Satria, setelah Dokter pergi, pria itu masuk ke dalam kamar.
"Adinda, sebenarnya apa yang terjadi? kenapa juga kamu pindah kamar kesini?." Tanya Satria.
"Jadi beberapa jam yang lalu adik nya Mommy datang, sepertinya dia tidak menyukai keberadaan ku, sehingga Tante Rosa memintaku untuk membawa kopernya, lalu memijit tubuhnya, dan memindahkan barang-barang aku ke kamar ini, dia bilang kalau kamar yang aku tempati adalah kamar favorit nya, setiap dia datang kemari, dia selalu tidur di sana." Ucap Adinda.
"Keterlaluan! beraninya dia memperlakukan istriku seperti budak! lalu kenapa kau bisa terjatuh?." Kata Satria.
"Tante Rosa yang membuatku jatuh." Adinda berkata dengan gugup karena khawatir suaminya akan marah, dan benar saja, Satria marah besar, pria itu pergi mengelilingi rumah untuk mencari Rosa.
"Hei!!!!." Ucap Satria.
"Siapa kau?! maling ya?!." Sahut Rosa, dia memegang tangan Angeline kuat-kuat.
"Berani nya kau melukai istriku?! dengar ya! jangan mentang-mentang kau termasuk dari bagian keluarga William, lalu kau bisa berbuat seenaknya pada Adinda!." Satria membentak wanita itu dengan wajah penuh emosi.
"Oh? jadi kau suaminya? aku bingung dengan Rose dan William, bisa-bisa nya mereka membawa rakyat jelata seperti kalian!." Rosa tertawa mengejek.
"Rakyat jelata kau bilang? kau salah menilai kami, rakyat jelata yang kamu maksud ini juga mampu membeli mulut menjijikan itu." Rosa tercengang, baru kali ini ada pria yang berani merendahkan nya.
"Kurang ajar kamu!." Rosa hendak menampar Satria tetapi Adinda dan datang dan menahan tangan itu.
"Jangan sentuh suamiku, kalau Tante merasa tidak nyaman dengan keberadaan kami maka bicaralah baik-baik, bukan malah bermain kasar! kami akan pergi." Kata Adinda.
"Sayang, perutmu masih sakit? tinggalkan saja semua barang-barang mu disini, kita pergi sekarang, aku tidak mau bayi kita dalam bahaya jika harus tinggal bersama wanita tidak waras seperti dia." Satria membantu Adinda ke kamar untuk mengambil tas dan ponsel lalu pergi.
"Kakak!!!!!." Angeline berlari keluar mengejar keduanya.
"Angeline, Kakak harus pergi, kalau Kakak tinggal di sini, itu bisa membahayakan bayi Kakak." Kata Adinda lembut.
"Kak, jangan pergi, aku tidak mau sendirian." Ucap Angeline.
__ADS_1
"Angeline, ini hadiah yang aku janjikan padamu, tapi tolong jangan cegah Adinda untuk pergi dari sini, aku tidak bisa membiarkan istriku tersiksa, baru beberapa jam saja Tante mu sudah berani melakukan hal-hal konyol, apa lagi kalau lebih lama." Jelas Satria, Angeline segera memeluk Adinda dan mencium pipinya.
"Kakak janji ya sama aku, kalau Kakak akan berkunjung kesini lain kali." Adinda mengangguk dan pergi meninggalkan Angeline.
"Sebenarnya aku tidak tega Mas meninggalkan Angeline, terlebih Mommy kan sedang sakit, bagaimana kalo Tante Rosa berbuat jahat padanya?." Gumam Adinda.
"Sayang, Mas minta sama kamu untuk berhenti memperdulikan orang lain, kamu sedang hamil anak Mas, Mas tidak mau kamu dalam bahaya lagi." Kata Satria.
"Maaf ya Mas aku selalu membantah, aku tahu kok kamu selalu ingin yang terbaik buat aku." Adinda menyandarkan kepalanya di bahu Satria.
berjam-jam mereka mengendarai mobil untuk menuju Apartemen, ketika sampai Satria segera membukakan pintu mobil dan menggendong istrinya.
"Ih Mas, aku tidak perlu digendong begini." Kata Adinda tertawa kecil.
"Sudah menurut saja, Mas mau memanjakan mu sekarang." Adinda terpana melihat kepedulian Satria terhadapnya, lalu mencium pipi itu.
ditempat lain, Jonatan dan Selin telah membatalkan keberangkatan nya lalu kembali ke kediaman Anggara.
"Jadi begitu ceritanya, Mama juga sebenarnya tidak habis pikir sama kamu Selin, kenapa kamu mabuk-mabukan seperti itu, dan kenapa kamu tidak cerita kalau kalian sedang bertengkar? semua bisa dibicarakan baik-baik." Ucap Tania.
"Maafkan aku Ma, aku benar-benar bingung harus apa, jika begini aku hanya bisa menyesal." Selin menunduk, Jonatan mulai menyentuh bahunya dan mengelus lembut kepala Selin.
"Aku juga minta maaf sama kamu, kalau saja waktu itu aku bisa lebih sabar, pasti semuanya tidak akan terjadi, jangan khawatir Selin, aku pasti berusaha untuk selalu mencintai bayi yang kamu kandung." Kata Jonatan.
"Syukurlah kalau Jonatan bisa menerima Selin kembali, lain kali kalau kalian ada masalah cepat ceritakan pada Mama, jangan diam terus lalu akhirnya muncul hal-hal negatif seperti sekarang." Tania memegang tangan Selin dan tersenyum kepadanya.
"Sayang, jangan berlari-lari, nanti kau bisa terjatuh." Tania menangkap tubuh Arkan yang kecil.
"Nenek, Arkan nakal, dia duluan yang mengambil bando aku." Kata Selina.
"Oh jadi anaknya Ayah Satria ini ingin memakai bando ya?." Jonatan meledek dan memakaikan bando Selina ke kepalanya.
"tidak! lepaskan! nenek tolong!." Arkan menjerit-jerit seperti jijik jika memakai barang milik perempuan.
"Kembalikan bando ku!." Selina mengambil nya dari tangan Arkan kemudian memegangi tangan Tania.
"Hei, lepaskan tangan nenek ku!." Arkan menepis tangan Selina.
"Ini nenek ku Arkan!." Selina menjawab sambil menyorotkan mata tajam.
"Sudah, sudah. kalian tidak boleh bertengkar, aku ini nenek kalian berdua, mengerti?." Kata Tania.
"Kalian berdua lebih baik tidur ya, ini sudah malam, jangan bercanda terus." Selin mengajak Arkan dan Selina pergi tidur.
"Tante, bisakah kau membacakan aku sebuah dongeng?." Selin mengangguk, ketika hendak membuka buku dongeng itu dirinya merasakan mual yang hebat.
"Hooeeeekk..hoeeek." Jonatan segera berlari menghampiri Selin dan memegang wajahnya.
__ADS_1
"Sayang? ada apa denganmu?." Pria itu terlihat sangat khawatir dan melepas buku dari tangan istrinya.
"Mama? ada apa? kok muntah-muntah?." Tanya Selina.
"Bunda juga suka muntah, tapi Ayah bilang kalau Bunda sedang menyimpan adik bayi di dalam perutnya." Ucapan Arkan membuat Selin tersenyum kecil.
"Sayang, maafkan Tante ya, kali ini Tante tidak bisa membacakan dongeng untukmu, tapi besok Tante janji akan membacakan nya, kalau Bunda ada disini, dia pasti akan mewujudkan keinginanmu, tapi sayang sekali orang tua Bunda sedang sakit sehingga dia tidak bisa datang." Selin mengelus kepala Arkan dan Selina, kemudian mereka berdua tidur bersamaan.
"Aku buatkan kamu teh ya?." Jonatan menyibakkan rambut Selin.
"Tidak usah. Jonatan, sekali lagi aku minta maaf padamu, karena sudah mengotori pernikahan kita." Selin memegang tangan suaminya.
"Selin, aku sangat mencintaimu, walaupun ada sedikit rasa kecewa karena kau hamil dengan orang lain tetapi tidak apa-apa, ini adalah sebuah kecelakaan, ini salahku." Jonatan memeluk istrinya dengan selembut mungkin kemudian menggendongnya menuju ranjang lain.
...
Malam-malam Adinda pergi keluar kamar untuk mengambil minum, lalu kakinya menginjak lantai yang basah dan hampir menyebabkan dirinya jatuh.
untung saja Satria dengan cepat menangkap Adinda dan memelototi nya karena marah.
"Bagaimana sih?! jalan itu hati-hati dong sayang!." Kata Satria.
"M-maaf Mas, aku haus." Satria menatap wajah istrinya yang polos, lalu mengambil alih gelas dari tangan mungil tersebut.
"Diam disini, biar Mas yang ambil." Satria meminta Adinda duduk di kursi depan kamar dan pergi mengambil minum.
Satria bertemu Desi yang sedang melamun di ruang depan.
"Desi?! sedang apa kamu?!." Suara Satria membuyarkan lamunan nya.
"T-tuan, saya se..." Belum sempat melanjutkan perkataan nya, Desi sudah lebih dulu mendapat ocehan dari Satria.
"Kamu ini bagaimana sih Des, kenapa bisa ada air di depan pintu kamar saya?! kamu tahu kan Adinda sedang hamil?! dia hampir terjatuh!." Kata Satria.
"Maafkan saya Tuan, saya kurang memperhatikan lantai nya." Balas Desi.
"Cepat bersihkan air itu! kalau saya masih lihat lantai basah di sana awas saja kamu!." Desi merasa takut karena baru kali ini dia dimarahi oleh Satria.
"Permisi Tuan." Desi bergegas pergi.
Satria pun kembali dengan segelas air ditangan nya, setelah Adinda menenggak minum tersebut, pria itu segera menggendong Adinda ke kamar.
"Sudah, sekarang kamu tidur, kalau mau sesuatu bangunkan aku, dengar?." Kata Satria seraya menarik selimut tebal untuk menutupi setengah badan Adinda.
"Iya Mas, aku akan bangunkan kamu kalau aku butuh sesuatu." Satria tersenyum lalu mencium kening istrinya.
"Selamat tidur sayang."
__ADS_1