
Mobilnya melaju dengan lambat, perlahan-lahan kemudian mobil itu menghilang ditengah kegelapan.
"Sayang, ayo masuk." Ajak Tania.
"Mah, kenapa rasanya aku tidak mau berpisah dari suamiku walaupun hanya sebentar saja ? ini sakit sekali." Tania menyadari air mata Adinda yang menetes.
"Karena kalian saling mencintai, Mama juga tidak pernah ingin jauh dari Papa, namun apalah dayaku sebagai seorang istri hanya bisa mendukung apa yang Papa lakukan, itu semua demi kita sayang." Tania segera mengusap bahu Adinda dan mengajaknya masuk ke dalam.
"Malam ini aku tidur sendirian, bisakah Mama tidur di kamarku ?." Tanya Adinda.
"Bisa nak, Mama akan menemanimu tidur, kau istirahatlah." Adinda mengangguk, lalu tertidur di atas ranjang.
Besok nya, Adinda terbangun pagi hari, ia melihat Tania Anggara yang masih tertidur lelap, sedikit senyuman melengkung di sana, ia berdiri dan pergi mencuci muka.
"Apakah anakku sudah bangun ?." Adinda bergegas ke kamar putra dan putrinya, namun ternyata mereka juga masih tertidur ditemani oleh Desi.
"Nona, kau sudah bangun." Ucap Desi.
"Ya, aku sudah bangun, apakah istirahat mu cukup Des ? jika masih lelah tidurlah, tak apa." Kata Adinda.
"Tidak Nona, istirahatku sudah cukup, semalam Tuan Satria bilang kalau anda akan pergi membawa anak-anak, izinkan aku menemanimu." Pinta Desi.
"Iya, nanti akan aku beritahu jika kita jadi pergi, aku keluar dulu ya, mau memasak." Desi mengangguk.
Adinda pergi ke dapur, lalu memotong sayuran, ia juga mengiris cabai dan bawang untuk dijadikan sebagai bumbu masak.
"Nona, sebaiknya anda beristirahat saja, aku akan mengerjakan masakan ini." Kata pelayan yang biasa memasak.
"Tidak apa-apa kok." Adinda tersenyum sambil mengiris semua sayuran.
"Tidak Nona, Tuan memberi saya perintah agar anda tidak melakukan apapun di dapur selama beliau pergi, tolong mengertilah, atau aku akan dimarahi jika dia pulang dan mengecek cctv." Ucapnya lagi.
"Baiklah, tolong masak semua ini, untuk Arkan biar aku saja yang mengurusnya." Pelayan itu mengangguk kemudian mengambil alih pekerjaan Adinda.
"Tanpa suamiku, aku jadi sedikit kebingungan tentang apa yang harus aku lakukan." Adinda duduk di sofa ruang santai dan memijit sedikit keningnya.
"Bunda, kau sedang apa ?." Suara Arkan mengejutkan Adinda, ia melihat anaknya baru saja terbangun lalu bocah itu duduk bersandar ke ibunya.
"Bunda hanya sedang duduk biasa saja, ada apa nak ? bagaimana tidurmu tadi malam ? nyenyak ?." Tanya Adinda.
"Ya Bunda, tidurku sangat nyenyak, apakah Ayah sudah berangkat ?." Pria kecil itu menoleh ke kanan dan kiri.
"Sudah, kenapa ? apa kau sangat menunggu hadiah itu sampai tiba ?." Adinda tertawa kecil.
"He-he tidak kok, aku hanya takut Ayah pergi nya lama." Ucap Arkan.
"Pagi ini kau mau makan apa sayang ?." Adinda memangku putranya dan bertanya lembut, anak itupun menggelengkan kepala.
"Aku tidak mau makan pagi ini." Adinda terkejut, lalu memberi nasihat.
"Kalau kau tidak makan, perutmu akan sakit, sebutkan saja apa yang anak Bunda inginkan, Bunda akan berikan makanan apapun yang kamu mau, asalkan kamu makan." Kata Adinda.
"Adinda.." Tania Anggara datang tiba-tiba, kemudian bertanya pada sang cucu.
"Sayang, kenapa dirimu tak mau makan pagi ini ?." Ucap Tania.
"Tidak lapar."
"Adinda, Mama dengar dari Selin kalau kau akan pergi bersamanya dan Desi, lebih baik kau hanya membawa Arkan saja, biar Desi di rumah bersama Mama menjaga Agatha, Mama khawatir karena Agatha masih terlalu kecil." Kata Tania.
__ADS_1
"Bunda mau pergi ? sama Mama Selin ? kemana ? aku ikut ya ! kita bisa kan makan di luar ?." Mendengar anaknya begitu semangat untuk pergi dan ingin makan diluar, akhirnya Adinda pun setuju, ia juga menghubungi Monic untuk menentukan waktunya.
"Nona, makanan sudah siap." Ucap Pelayan menghampiri Adinda.
"Oh iya, nanti Mama yang akan makan bersama Desi, aku akan makan diluar dengan putraku." Balas Adinda.
"Baik Nona, saya permisi."
...
Ketika sudah waktunya, Adinda pun bersiap dan mengurus pakaian Arkan.
"Din ? kau sudah siap ?." Tanya Selin dibalik pintu kamar.
"Sebentar lagi Kak, tunggu ya." Adinda keluar dengan Arkan disampingnya.
"Oh ya ampun ! kau sangat tampan hari ini, mau kemana kita ?." Selin mengajak Arkan bicara dengan riang.
"Jalan-jalan ! yeay ! kita akan makan diluar." Sahut anak kecil itu.
"Ha-ha, kau terlihat sangat senang." Adinda menggendong putranya menuju mobil.
"Aku yang akan menyetir." Selin memutar kunci mobil tersebut di jari telunjuknya lalu masuk ke dalam.
"Dimana tempatnya ?." Tanya Selin lagi.
"Ini, dia sudah memberikan lokasinya, sampai di sana kita akan cari tempat makan dulu, anakku belum makan." Kata Adinda.
"Lho sayang, kenapa tidak makan ? bukankah kau tahu kalau kita akan pergi ? mengapa kau membiarkan perutmu kosong tanpa terisi ?." Ucap Selin menoleh pada Arkan sambil menyetir.
"Karena kita akan pergi, makanya aku tidak makan ! kita kan akan makan diluar." Sahutnya.
Setibanya ditempat tujuan, mereka pun keluar dari dalam mobil, lalu masuk ke dalam.
"Ah itu dia !." ia mengajak putra nya dan Selin berjalan menuju Monic di ujung sana.
"Bagaimana kabarmu ?." Tanya Monic.
"Baik, kau sendiri bagaimana ? apa program mu berhasil ?." Ucap Adinda.
"Kita bahas nanti saja, Halo Selin ! senang bertemu denganmu, Arkan bagaimana rasanya datang kesini ?." Monic berlutut dan memegang wajah Arkan.
"Tante, aku senang ! kita akan makan kan ?." Anak kecil itu menatap Monic penuh harap.
"Ya ! kita akan makan, ayo pegang tanganku." Monic menggandeng tangan Arkan dan berjalan mendahului Adinda juga Selin.
"Rasanya sangat canggung, tapi demi dirimu aku datang kesini." Kata Selin bergumam pada Adinda.
"Maaf ya Kak jadi membuatmu repot." Ucap Adinda memegang bahu Selin.
"Tidak apa-apa sih, lagi pula aku sudah berjanji pada Satria, ayo susul mereka." Selin, Adinda, Arkan dan juga Monic masuk ke dalam sebuah restoran dan mencari meja.
"Pesan saja apapun yang kalian inginkan, aku akan membayarnya." Kata Monic gembira.
"Wah, ada apa nih ? apa ada kabar baik ?." Kata Adinda penasaran.
"Padahal tanpa kamu bayarin pun, kita bisa bayar sendiri kok, kamu tau kan kartuku lebih maju dari pada punyamu." Sahut Selin.
"Ya, ya. aku tahu kalian orang terpandang, jadi jelas traktiran kali ini tidak ada apa-apanya, tapi jangan khawatir, ini hanya untuk bersenang-senang saja, bukan merendahkan." Ucap Monic tersenyum kecil.
__ADS_1
"Iya Kak, mungkin Monic sedang berbahagia, karena itu dia membayar makanan kita, jangan mudah tersinggung." Bisik Adinda, Selin hanya memutar bola matanya dengan malas.
"Tante, aku mau ini !." Monic mengangguk, ia juga menawarkan makanan lebih banyak lagi untuk Arkan.
"Jangan berlebihan Monic, anakku bisa muntah kalau makan sebanyak itu." Adinda menepuk keningnya sendiri.
"Maaf Adinda, aku terlalu senang, anakmu sangat menggemaskan, bolehkah dia menginap di rumah ku satu hari saja ?." Tanya Monic.
"Apa ? kau ingin mengajak anakku menginap di rumah mu ? t-tapi kan apa anakku mau." Adinda bingung dan gusar.
"Mau Bunda ! boleh ya aku ikut Tante Monic sekali saja, kita sudah lama tidak bertemu, lagi pula aku belum pernah melihat rumah nya." Kata Arkan.
"Sayang, kau yakin ingin tinggal satu hari di sana ? bagaimana kalau kamu tidak betah ? Bunda khawatir nak." Adinda mengelus wajah Arkan.
"Kalau aku tidak betah, aku akan menangis sepanjang waktu sampai Tante Monic mengantarku pulang, bagaimana ?." Arkan menampakkan wajah imut untuk mengambil kepercayaan sang ibu, Adinda sampai tak kuasa untuk menahan nya.
"Baiklah, tapi janji jangan nakal ? Bunda tidak bisa tinggal denganmu karena ada Adik Agatha yang harus Bunda jaga." Balas Adinda.
Setelah sibuk mengobrol akhirnya makanan itu datang, mereka segera melahap makanan tersebut perlahan-lahan.
"Sudah selesai !." Arkan meletakkan sendok makan nya dan mengambil selembar tissue.
"Bunda, habis ini mau kemana ?." Tanya nya.
"Anak manis, kita akan pergi mencari beberapa barang untuk Tante, mau kan bantu Tante ?." Ucap Monic.
"Oke ! aku akan bantu Tante." Adinda senang melihat putranya merasa nyaman.
"Kenapa kau meminta Adinda yang memilihkan barangnya ? apa kau tidak paham model ya ?." Ucap Selin.
"Selin, aku ini bukan tidak paham model, tapi menurutku selera Adinda memang bagus ! percaya atau tidak, kau pasti juga menyadari itu kan." Kata Monic tertawa ringan.
"Aku juga memiliki selera yang bagus, bukan hanya Adinda." Selin memalingkan wajah.
"Ah sudahlah, semuanya pasti punya selera masing-masing, ayo kita pergi, jangan membuang waktu." Adinda menggendong putranya lalu berjalan keluar restoran.
Mereka berjalan mengarah ke butik disebelah restoran tersebut, kemudian melihat semua pakaian yang menggantung rapih di sana.
"Din lihat deh, bagus ya !." Kata Selin memegang pakaian itu.
"Iya Kak bagus, pasti cocok deh kalau Kak Selin yang pakai, Jonatan bisa makin cinta padamu." Adinda menutup mulutnya karena menahan sedikit tawa.
"Kau meledekku ya ?." Selin bercermin sambil mencocokkan pakaian tersebut ditubuhnya sendiri.
"Monic, lihat ! seleraku bagus kan." Selin memanggil Monic dengan percaya diri.
"Tidak, selera mu buruk, ayo ikuti aku." Monic memegang tangan Selin dan mencarikan pakaian yang cocok untuk Selin.
"Ini bagus ! aku yakin Jonatan akan menyukainya." Kata Monic gembira.
"Bunda, kepalaku pusing, rasanya sangat mual." Adinda segera mengecek kondisi putranya, dia sangat khawatir karena anak itu mengeluh.
"Sayang ? apa yang terjadi ? bagaimana bisa ? kita pulang ya !." Adinda segera memanggil Selin dan Monic, memberitahu keadaan Arkan yang tak memungkinkan lagi untuk dibawa lebih jauh.
"Adinda ! langsung saja bawa ke rumah sakit." Monic membantu Adinda membawa Arkan, sementara Selin membukakan pintu mobil.
"Ayo cepat naik." Ucap Monic.
"Nak tenang dulu ya, kita akan ke rumah sakit sekarang ! kau akan baik-baik saja." Adinda menenangkan putranya yang kesakitan.
__ADS_1
"Aku ikut mobilmu, Arkan lebih penting." Monic masuk ke dalam mobil dan mereka bergegas pergi.
"Bunda perutku sakit ! kepalaku juga !." Arkan menangis.