
"Mas, tenanglah." Adinda memeluk pria yang sangat dia cintai dengan begitu lembut.
Tak lama setelah itu Satria pun terbangun, kemudian menatap wajah istrinya.
"Sayang a-apa kau keberatan? maaf." Kata Satria menjauhkan dirinya dari pelukan itu.
"Tidak, tidak apa-apa kok, sudah nyenyak tidurnya? aku siapkan air hangat ya untuk kamu mandi." Kata Adinda.
"Jangan! nanti Mas saja yang menyiapkan nya sendiri." Satria menarik tangan Adinda kemudian menatap perut yang sedikit kelihatan membesar tersebut.
"Sehat-sehat ya sayang, Ayah akan selalu menjaga kamu dan Bunda." Gumam Satria sambil mengelusnya.
"Bunda!." Panggil Arkan.
"Maaf ya nak, kami mengganggu kalian, tapi Arkan sangat ingin menemui Ayahnya." Kata Tania.
"Tidak apa-apa Ma, jangan meminta maaf begitu." Jawab Adinda tersenyum kemudian ia mengalihkan pandangan nya ke arah bocah kecil yang melompat ke pangkuan Satria.
"Sayang, ada apa?." Tanya Adinda.
"Bunda, apa kau dengar kalau Ayah sudah bilang akan membelikan ku robot baru?." Ucap Arkan.
"Ha-ha, anak ini, bahkan baru beberapa jam saja sudah menagihnya." Satria mengusap kepala putranya.
"Ayah, aku melihat sebuah robot baru di televisi! dia sangat keren! bisakah kau membelikan ku sekarang? ayo kita pergi bersama Bunda! ayo Ayah!." Ajak Arkan.
"Iya nak, sabar ya, Ayah baru saja terbangun dari tidurnya, jika mau membeli robot baru, kau harus membiarkan Ayahmu mandi." Kata Adinda.
"Iya sayang, Ayah mandi dulu ya? kau dan Bunda tunggu saja di sini." Satria melepaskan pangkuan bocah kecil tersebut dan langsung pergi menuju kamar mandi.
"Bunda, apa aku terlihat tampan?." Adinda tercengang mendengar pertanyaan itu sebelum akhirnya tertawa geli.
"Sayang, kau sangat tampan." Sahut Adinda mencium kening putranya.
"Benarkah? apa mungkin aku bisa setampan Ayah suatu hari nanti?." Ucap Arkan, Adinda mengangguk sambil meyakinkan.
"Kelak kau akan setampan Ayahmu nak, tapi ingat Bunda ya, kau tidak boleh menjadi laki-laki yang jahat, dan pastinya harus bertanggung jawab, oke?." Kata Adinda.
"Oke Bunda!." Arkan menaiki kasur lalu menyalakan televisi dengan remot yang tak jauh dari tempatnya.
"Kalau setiap hari aku menonton disini, pasti sangat menyenangkan, di ruang bawah, Selina selalu meminta film-film aneh, seperti barbie. Film macam apa itu? sangat buruk! aku tidak menyukainya, dia kan ada televisi dikamar Tante, tapi malah mengganggu aku." Arkan mengoceh sepanjang waktu, Adinda hanya tertawa kecil karena gemas melihat tingkah laku anaknya.
"Datanglah kesini kapanpun yang kamu mau, Ayah dan Bunda jarang sekali menonton televisi, jadi kalau ada kamu pasti lebih seru." Kata Adinda.
"Bunda, kapan adikku akan lahir?." Tanya Arkan.
"Nanti sayang, kurang lebih empat bulan lagi. kalau dia sudah lahir, kau harus menyayangi nya." Kata Adinda.
"Pasti Bunda, aku akan selalu menyayangi adikku sampai besar nanti." Arkan memajukan tubuhnya dan mengelus perut itu.
__ADS_1
"Halo adik kecil, ini aku Arkan, apa kau mendengar suaraku?." Bocah polos itu menempelkan telinganya diperut Adinda, sampai-sampai ketika Satria keluar dari kamar mandi, dia hanya tersenyum senang melihat pemandangan didepan nya.
"Putra yang baik!." Sebut Satria.
20 menit kemudian, mereka semua menuju parkiran dan menaiki mobil.
"Ayah, kita akan pergi ke toko yang biasa dikunjungi kan?." Tanya Arkan.
"Iya nak, kita ke sana." Sahut Satria.
"Hore! aku tidak sabar melihat robot baru itu!." Arkan terlihat begitu antusias.
Setibanya di toko, Adinda berjalan ke dalam, sementara Satria mengikutinya dari belakang seraya menggendong anak mereka.
"Selamat sore Nyonya dan Tuan, apa ada yang bisa kami bantu?." Kata pelayan toko.
"Sore, tolong berikan saya robot terbaru bulan ini, semuanya ya, anak saya akan memilihnya." Ucap Adinda.
"Baik Nyonya, mohon ditunggu sebentar." Pelayan toko tersebut berbalik untuk mengambil beberapa robot terbaru seperti yang Adinda inginkan.
"Ini dia Nyonya." Katanya.
"Ayo sayang, pilih robotnya." Adinda membantu Arkan terlepas dari gendongan sang Ayah kemudian memilih robot-robot itu.
"Wah! yang ini bagus sekali." Mata Arkan berbinar, ia melirik semua mainan didepan nya.
"Semuanya bagus pangeran kecil." Kata pelayan itu, beberapa saat Arkan terdiam karena bingung mencari-cari modelnya, lalu tiba-tiba
"Ya!!!!! ini dia!." Suara cempreng itu mengejutkan semua orang yang ada di sana.
"Ya ampun." Adinda menutup mulutnya menahan tawa, sementara Satria menutup wajahnya dengan satu tangan.
"Kau pasti habis makan banyak ya pangeran? sampai-sampai suaramu terdengar keras sekali." Pelayan itu tertawa sambil mengusap kepala Arkan.
"Maafkan anak saya ya, dia benar-benar bahagia pastinya." Kata Adinda.
"Tidak apa-apa Nyonya, saya senang bisa membantu pangeran kecil memilih mainan kesukaan nya, sudah lama juga saya tidak melihatnya datang kemari, hanya Tuan Satria yang sering datang sendiri." Balas Pelayan.
"Aku jarang mengajaknya kemari, karena dia akan menyukai semuanya, ha-ha." Sahut Satria.
"Ayah! aku mau ini! ini yang aku cari!." Ucap Arkan mengambil robot itu.
"Oke, bungkus yang itu untuk anak kecil menggemaskan ini." Adinda menunjuk robotnya dan mencubit pipi Arkan pelan.
"Akhirnya aku punya robot baru!." Kata Arkan.
Saat mereka keluar dari toko, Arkan segera menghentikan langkah nya di depan pintu mobil.
"Ada apa nak?." Tanya Adinda.
__ADS_1
"Bunda, bisakah kita membeli kue coklat di tempat kesukaan kalian?." Kata bocah kecil itu.
"Kau menginginkan nya?." Sahut Satria.
"Ya Ayah, aku ingin memakan kue itu di sana, boleh tidak?." Arkan mengedipkan matanya yang jernih.
"Oke, ayo kita pergi ke sana." Satria membantu Arkan masuk ke dalam mobil.
...
"Aku mau ini, ini, ini, dan ini." Pinta Arkan.
"Lho? kamu habis makan sebanyak ini?." Satria bertanya dengan bingung.
"Bukan Ayah, aku itu makan satu, sisanya untuk Ayah dan Bunda." Kata Arkan.
"Ya ampun nak, jadi kamu ceritanya yang mau pilihkan kue untuk kami?." Adinda tersenyum ramah sambil mengelus pipi anak itu.
"Ayo kita duduk disebelah sana." Arkan mengajak Satria dan Adinda duduk dimeja nomor 9.
"Kue ini sangat lezat, aku mencobanya pertama kali saat Bunda membelikan ku waktu itu." Kata Arkan.
"Bunda juga tahu toko kue ini dari Ayah." Jawab Adinda.
"Ayo habiskan setelah ini kita pulang." Kata Satria sambil memakan kue yang dipilihkan putra nya.
"Bunda, ayo dong Bunda harus suapin Ayah, Ayah juga ya? kasihan masa Ayah makan sendiri, nanti adik bayi mau loh." Ucap Arkan melirik Ayahnya.
"Kamu itu kecil-kecil pandai mengatur." Satria membuka kue lain dan menyuapi Adinda dengan mesra.
beberapa menit berlalu,
"Bunda, Arkan lelah." Ucap Arkan meletakkan kepalanya di atas meja.
"Mas, ayo kita pulang, Arkan lelah sekali pasti." Ajak Adinda.
"Iya sayang, ayo nak Ayah gendong." Satria menggendong anaknya untuk menuju mobil di loby.
Mereka langsung menuju pulang, selama diperjalanan semuanya terlihat baik, sehingga mereka sampai dengan selamat.
...
Di rumah sakit,
Sheira mengira bahwa Satria akan datang lagi, tetapi dia tak berharap banyak karena memang seharusnya mereka tak berkaitan hubungan apapun lagi.
"Disini kamu rupanya." Adi masuk kedalam ruang rawat itu dengan suara tegas.
"A-adi?."
__ADS_1