Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
sakit


__ADS_3

"Sayang, nanti malam kita temui Arkan ya, karena Desi akan pergi dalam beberapa waktu jadi biarlah Arkan tinggal di sana, kamu tetap disini dengan Mas." Ucap Satria.


"Lho Mas? kenapa tidak di sana saja?." Tanya Adinda menatap kedua mata suaminya.


"Istri Mas yang cantik, bisakah kali ini kau menurut padaku? kita tetap tinggal disini, kapanpun kau mau bertemu dengan Arkan, aku pasti akan mewujudkan nya." Balas Satria.


"Baiklah, Mas mau makan? aku buatin ya." Adinda melepas tangan Satria dan pergi ke dapur, tetapi Satria malah mengikutinya.


"Kamu mau apa ikut kesini?." Kata Adinda.


"Aku ingin memperhatikan istriku masak, memang nya tidak boleh ya? lagi pula istriku ini kan wanita yang ceroboh, jadi aku tidak akan membiarkan hal buruk itu terjadi padamu." Mendengar perkataan itu, Adinda segera mengedip-ngedipkan mata.


"Sayang! matamu kenapa? perih ya?! sini! sini! Mas bantu!." Satria memegang wajah Adinda dan meniup matanya dengan lembut.


Ketika Satria sedang sibuk meniupkan mata istrinya, Adinda tersenyum kecil sambil melingkarkan tangan mungilnya dileher Satria.


"Hei! kamu bohong ya?! gadis nakal!!." Satria menggendong Adinda ke kamar sambil memberi perintah pada Desi.


"Des! lanjutkan masaknya!." Pinta Satria.


"Mas! turunkan aku Mas! hei! aku sedang masak!." Satria sama sekali tidak menghiraukan ucapan istrinya.


Satria mengunci pintu kamar dan meletakkan Adinda perlahan-lahan di atas ranjang, kemudian ingin melepaskan kancing pakaian wanita itu satu persatu.


"Mas jangan dong, aku kan lagi hamil." Adinda menahan Satria yang ingin membuka bajunya tersebut.


"Oh ya ampun, kapan kau lahir nak?! Ayah ini sangat merindukan bunda mu." Satria menghela nafas panjang lalu mengurungkan niatnya dan langsung membanting tubuh dirinya sendiri di samping Adinda.


"Sabar ya Mas, lima bulan lagi kok." Adinda tersenyum sambil mengelus wajah suaminya.


Mereka asik mengobrol seraya menonton televisi sehingga keduanya tak sengaja tertidur.


setelah beberapa jam kemudian, Adinda terbangun dan melihat jam.


"Ya ampun, sudah jam dua, Mas kan belum makan." Adinda berusaha membangunkan Satria hingga pria itu terbangun.


"Sudah sore ya sayang?." Suara nya terdengar berat, ia berdiri dan merasa sempoyongan.


"Mas! Mas!!! kamu kenapa?!." Adinda panik sambil memegang bahu Satria.

__ADS_1


"Mas baik-baik saja kok sayang, ayo kita makan, kamu belum makan dari tadi pagi." Ajak Satria, lagi-lagi ia hampir terjatuh.


"Mas! kamu sakit?!." Kata Adinda sambil membantu suaminya kembali berbaring, lalu memegang keningnya.


"Badan mu panas! aku sudah bilang kau ini lemah kalau terguyur hujan, aku akan telepon dokter!." Satria menhan Adinda untuk memanggil dokter.


"Tidak sayang, tidak perlu." Ucapan itu membuat Adinda diam dan menatap suaminya sinis.


"Mas, aku takut, aku tidak ingin kamu sakit Mas." Adinda mendekati Satria dengan mata berlinang.


"Aku akan baik-baik saja, kamu makan ya? kamu belum makan." Kata Satria.


"A-aku ambilkan makanan untukmu." Adinda pergi meninggalkan suaminya untuk mengambil makanan.


"Nih Mas, aku akan menyuapi mu." Kata Adinda mengulurkan sendok tersebut ke arah mulut Satria.


"Kamu juga makan ya sayang, jangan sampai telat, aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi sama kamu dan bayi kita." Kata Satria.


"Aku pasti makan kok Mas, sekarang kamu makan dulu ya, biar cepat sehat." beberapa menit kemudian makanan itu pun habis, lalu Adinda juga makan untuk mengisi perutnya.


di dapur Adinda merasa mual dan pusing, Desi segera menghampiri Adinda dan menanyai keadaan nya.


"Nona, anda baik-baik saja?." Desi menatap wanita dihadapan nya yang masih mual-mual tersebut.


"Apa sebaiknya saya beritahukan ini kepada Tuan?." Tanya Desi.


"Jangan Des! jangan! suamiku sedang sakit, aku tidak mau dia semakin khawatir." Ucap Adinda, Desi pun mengerti dengan keinginan bos nya.


"Kamu tolong rapihkan dapur saja ya." Desi setuju dan segera pergi merapihkan dapur, tak lama terdengar suara ketukan pintu lalu Adinda berusaha membukanya.


"Adinda, kami dat..." belum sempat melanjutkan perkataan nya tiba-tiba Adinda pingsan, segera saja Jonatan menangkap tubuh wanita itu.


"Adinda?! Adinda bangun!." Kata Jonatan.


"Des, dimana Satria?." Tanya Selin.


"Tuan Satria berada di kamarnya Nona, beliau sedang sakit." Ucap Desi.


"Apa?! Satria sakit?! bagaimana bisa! Jonatan, tolong bawa Adinda ke kamar sebelah sana biar aku menemui Satria." Kata Selin.

__ADS_1


Jonatan pun segera menggendong Adinda untuk dibawa ke kamar lain agar Satria tak dapat melihat keadaan istrinya.


"Satria, aku dengar kau sakit?." Selin memegang kening Satria.


"Selin? kau datang?." Tanya Satria.


"Aku datang bersama Jonatan, kami hanya mampir kesini karena habis pergi." Ucap Selin.


"Adinda dimana?." Satria berusaha bangun dari tidurnya tetapi Selin menahan Satria.


"Adinda sedang berada di ruang tamu, sudah jangan pikirkan dia dulu ya, yang penting kamu sembuh." Ucap Selin.


"Tolong beritahu istriku, kalau aku ingin dia ada disini." Pinta Satria lagi.


"B-baik, aku akan memintanya datang, sabar ya." Selin pergi meninggalkan Satria kemudian mengecek Adinda yang masih pingsan.


"Hubungi Dokter sekarang juga Jonatan! aku khawatir dengan Adinda dan kandungan nya." Kata Selin.


"Baik, aku akan menghubungi Dokter."


..


Sudah dua jam Satria menunggu Adinda di kamarnya, tetapi wanita itu tak kunjung datang, akhirnya Satria memaksakan diri untuk mencari Adinda keluar kamar.


"Satria, kamu mau apa?!." Selin terkejut melihat pria itu keluar dengan tubuh lemas.


"Aku mau Adinda, aku mau istriku." Kata Satria.


"Hei, Adinda sedang istirahat sebentar." Selin menahan Satria agar tidak lebih jauh mencari keberadaan istrinya.


"Diam Selin! Adinda tidak mungkin membiarkan aku menunggu dalam waktu dua jam! aku mau tahu dia dimana! hanya itu!." Satria marah, hal itu membuat Selin terdiam dan mengikuti Satria perlahan-lahan.


ketika Satria membuka pintu kamar lain, dia melihat Adinda sedang terbaring di atas kasur tersebut.


"Sayang?!." Satria mendekati istrinya kemudian duduk disebelah Adinda.


"Kamu kenapa?! katakan! apa yang terjadi dengan istriku!." Sesaat Jonatan diam, lalu mejelaskan apa yang terjadi.


"Kau pasti sangat kelelahan ya sayang, maafkan Mas ya." Ucap Satria mencium punggung tangan Adinda dengan lembut.

__ADS_1


"Biarkan istrimu istirahat, dan kau juga harus melakukan hal yang sama agar salah satu dari kalian bisa cepat pulih." Kata Jonatan.


"Keluar dari sini, aku ingin tidur bersama istriku." Pinta Satria.


__ADS_2