Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
Greg Wilson


__ADS_3

"Besok Ayah akan memperkenalkan mu pada semua karyawan di kantor, bahwasanya kamu lah yang akan menggantikan posisi Ayah sebagai direktur utama di perusahaan Anggara." Ucap Satria ketika Arkan pulang.


"Tidakkah terlalu cepat ?." Tanya si anak.


"Lebih cepat lebih baik Arkan, kamu harus belajar mengendalikan perusahaan." Sahut Adinda.


"Aku tahu, kalau begitu besok aku akan bersiap untuk pergi kesana bersama Ayah." Arkan menepuk pundak Satria sambil tersenyum tenang.


...


"Akhirnya sampai juga !." Agatha segera mengunci pintu lalu melepas bajunya untuk pergi mandi.


Ia menuangkan satu botol wewangian kedalam bathtub, aroma nya yang unik membuat Agatha tak bisa lepas dari air hangat tersebut.


Tring..


Suara pesan masuk.


"Siapa ?." Agatha mengambil ponselnya, lalu melihat isi pesan.


"Masih ingat aku ?." Tulisnya.


"Hah ? apa ?! siapa dia ?." Agatha kebingungan, ia berusaha mengingat siapa orang itu.


"Kau siapa ?." Tulis Agatha, tidak menunggu waktu lama, pesan yang baru saja dia kirim sudah langsung dibaca bahkan dibalas dengan cepat.


"Lupa ya ? bagaimana agar kau mengingat wajahku kita bertemu di cafe favoritmu besok ? pukul empat sore." Kata nomor tak dikenal tersebut.


"Sebutkan dulu siapa namamu, baru kita bertemu." Pinta Agatha.


"Siapa sih ? perempuan atau bukan ? oh atau jangan-jangan dia penguntit ya ?!!!." Agatha mengacak rambutnya sendiri sambil meletakkan ponselnya.


"Greg Wilson." Pesan tak terbaca.


Agatha memejamkan mata sampai tak sadar dirinya tertidur didalam bathtub.


"Agatha ! buka !." Diluar Arkan hendak mendobrak pintu kamar Adiknya, karena sudah setengah jam menunggu jawaban tapi tak kunjung terdengar.


Arkan sudah mengancang-ancangkan kaki dan tangan nya, lalu teringat bayangan sangh Adik.


"Kakak, jangan pernah dobrak pintu kamarku ya, kau tak akan bisa membayar betapa berharga nya poster artis favoritku dibalik pintu yang akan kau rusak." Agatha.


Cepat-cepat Arkan berlari ke bawah, mencari kunci cadangan. Lima menit, menurutnya terlalu lama hanya untuk sekedar kunci.


Ia kembali menghampiri kamar Adiknya dan membuka pintu itu dengan kunci cadangan.


"Agatha ! dimana kamu ?." Arkan mencari ke setiap ruangan dalam kamar Agatha, tapi tak menemukan nya dimana pun, hanya pintu kamar mandi yang tersisa.


"Aku yakin kau disana." Arkan membuka pintu kamar mandi, lalu melihat Adiknya tertidur sangat pulas.

__ADS_1


"Astaga, aku mengkhawatirkannya setengah mati namun dia dengan tenang tidur disini." Arkan berlutut, membangunkan nya perlahan.


"Agatha, bangun.." Mendengar suara yang familiar, wanita didepan nya kini membuka mata.


"Kakak !!!!! kau sedang apa !!! mengintip ya ?!." Teriakan sang Adik terlalu kencang sampai membuat Arkan sakit telinga.


"Kau gila ? untuk apa aku mengintip ? lihat ?! sabun didalam bathtub mu terlalu banyak, sehingga aku tak mungkin melihatnya." Arkan menjawab dengan malas, kemudian pergi sambil membanting pintu kamar mandi.


"Kak ! yah, kok pergi sih." Agatha berdiri lalu memakai handuk.


"Kak ! Kak Arkan ! jangan marah, aku akan menyusul mu setelah pakai baju." Agatha cepat-cepat memakai baju, lalu memoles lipstik dengan tipis dibibir nya, mungkin akibat terlalu terburu-buru, dia tak menyadari bahwa ada coretan lipstik ditepi bibir.


"Em hei ! kemari." Agatha memanggil pelayan.


"Ada apa Nona ?." Tanya Ririn, pelayan ketiga.


"Lihat Kakakku tidak ?." Ririn menunjuk dengan sopan ke arah taman belakang, kemudian Agatha berlari.


"Pelan-pelan Nona." Ririn mengingatkan.


"Kakak ! kau tidak bisa pergi begitu saja." Ucap Agatha, sementara Arkan hanya diam.


"Jangan marah padaku, maaf kalau perkataan ku tadi membuatmu kesal, lagi pula untuk apa curiga pada Kakakku sendiri, iyakan ?." Arkan menoleh, mendadak tertawa.


"Ih ! kenapa tertawa ? kau meledek ya ?." Agatha memelototi Arkan.


"Lucu." Jawabnya singkat.


"Kau sendiri yang membuatnya, lihat itu !." Arkan menunjuk tepi bibir Agatha, tak lupa ia mengeluarkan ponsel dari sakunya agar wanita yang berdiri didepan nya sekarang bisa berkaca.


"O-oh, aku terlalu cepat memakainya, akan ku betulkan." Agatha hendak berbalik, segera saja Arkan menariknya dan mengusap coretan lipstik itu dengan jari tangan nya.


"Mau kau memakai lipstik berantakan seperti inipun tetap cantik kok." Adiknya tersenyum sambil memeluk Arkan.


"Jangan marah padaku ya Kak, aku tak bisa hidup tanpa ocehan mu." Arkan mencium kening Agatha, sambil mengelus kepalanya.


"Adikku yang paling manis."


Keesokan hari, Arkan tiba di perusahaan bersama Satria, Ayahnya.


"Mohon perhatian semua, perkenalkan ini putraku Arkan Dika Anggara, penerus perusahaan ini. Seperti yang saya katakan kemarin, bahwa hari ini saya akan memberikan jabatan saya sebagai direktur utama kepada Arkan." Semua orang bertepuk tangan.


"Baik, untuk semua, saya mohon kerja samanya, semoga dengan adanya saya disini, bisa membuat perusahaan jauh lebih maju lagi." Arkan menunduk sopan sambil tersenyum.


"Tampan ya." Bisik para pekerja.


"Wajahnya tidak jauh berbeda dari Tuan Satria sewaktu muda." Gumam orang-orang.


"Arkan, ikut Ayah ke dalam ruangan." Ajak Satria.

__ADS_1


"Baik." Arkan mengikuti Satria dari belakang, setelah itu masuk ke dalam ruangan.


"Ini akan menjadi ruang kerjamu, ditambah kalau ada yang tidak kamu mengerti bisa tanya dengan Tuan Farel, atau langsung pada Ayah." Pintanya.


"Saya disini Tuan." Farel membungkuk sopan.


"Senang sekali bertemu denganmu, Tuan Farel." Arkan tersenyum senang.


"Saya pun merasa seperti itu Tuan Arkan, selamat atas jabatan baru anda." Farel mengajak Arkan bersalaman, namun siapa sangka Arkan membalasnya dengan sebuah pelukan.


"Sudah lama sekali tidak bertemu, Tuan Farel sama sekali tidak menua, sama seperti Ayahku." Ucap Arkan.


"Hahaha, benarkah ? apa wajahku tidak menua ?." Satria tertawa dan bertanya pada Farel.


"Tidak sama sekali Tuan, hanya beda sedikit saja." Seketika mereka bertiga tertawa bersama.


"Kau bebas memilih siapa saja untuk menjadi orang kepercayaan mu, tapi ingat ? carilah dengan benar, dan jangan gantikan Farel dengan siapapun, dia akan menjagamu bahkan sekaligus perusahaan ini." Kata Satria mengingatkan.


"Aku mengerti."


*


*


*


*


"Greg Wilson ?." Agatha membaca pesan yang terkirim sejak kemarin.


"Siapa dia ? aku sama sekali tak punya teman bernama Greg." Ia terus berpikir.


Agatha bersiap hendak pergi ke supermarket, ia juga meminta supir untuk menemaninya belanja.


"Rio, tolong temani aku ke supermarket." Pinta Agatha.


"Baik Nona." Rio menyiapkan mobil, kemudian menunggu didepan pintu.


Setibanya di supermarket sang supir hanya menunggu didalam mobil, Agatha mencari semua yang dia butuhkan sendiri.


"Aku harus beli roti dan keju." Ia menghampiri rak yang berisi banyak macam roti.


Setelah sibuk memilih, kini saatnya Agatha membayar di kasir.


"Apa ada tambahan lagi Nona ?." Tanya pelayan kasir.


"Ini saja cukup." Agatha mengeluarkan uang cash dari dompetnya lalu menuju pintu keluar.


Baru saja membuka pintu supermarket tiba-tiba tangan nya ditarik oleh seseorang.

__ADS_1


Rio sama sekali tidak melihat, karena dia memarkirkan mobil yang lumayan jauh.


"Lepaskan ! siapa kau ?!." Agatha menarik tangan dari genggaman orang tersebut.


__ADS_2