
"Astaga kenapa ?! kau selalu membuatku terkejut." Jeremy memarahi anak kecil didepannya, entah apa yang terjadi Agatha malah melompat kedalam pelukan Jeremy.
"Jeremy kecoak ! itu kecoak !!!." Teriaknya sekali lagi, Jeremy melihat kearah yang ditunjukkan oleh Agatha hingga menemukan kecoak berjalan diatas ranjangnya.
"Sial ! kecoak !!!!!." Mulutnya justru ikut berteriak.
"Kinan tolong !! ada teman alien disini !!!!." Kata Agatha.
"Tekan tombolnya tekan." Mereka berdua berusaha mengusir kecoak tersebut, namun dia tak kunjung pergi.
"Jeremy, kamarmu menjijikan !!!! bagaimana teman alien ini masuk !!!." Agatha hampir gila melihat benda bernyawa itu.
"Dia terbang ! cepat berlindung !." Jeremy menarik selimut dari atas sofa dan bersembunyi dibaliknya bersama Agatha.
"Jeremy aku takut, dia sangat bau !." Agatha menutup hidungnya sendiri.
"Dia diluar, jadi tak perlu menutup hidungmu." Jeremy memeluk Agatha kencang.
"Ayo kita menghilang saja, ini neraka !." Jeremy menutup mulut Agatha dan bicara berbisik.
"Diam, lihat bayangan itu." Jeremy menunjuk salah satu bagian selimut yang terdapat bayangan kecoak.
"D-dia datang ! aaaaaaaaaa Jeremy tolong !." Agatha memukul-mukul selimut itu sampai baju hingga rambutnya berantakan.
"Permisi Tuan ada ap..." Kinan membuka pintu kamar namun melihat Jeremy juga Agatha sedang berada didalam selimut sambil memperlihatkan banyak gaya.
'Apa gunanya memanggilku ditengah percintaan mereka ?.' Kinan menghela nafas, tiba-tiba kepala Jeremy membuat terkejut.
"Hei ! kenapa diam disitu ?! cepat bereskan kekacauan ini." Perintah Jeremy.
"Kekacauan apa Tuan ?." Kinan rupanya belum melihat teman alien yang dimaksud oleh Agatha barusan.
"Kinan ! buang makhluk kecil itu keluar ! sekarang !." Agatha mengeluarkan kepalanya dari dalam selimut lalu menunjuk ke arah sofa.
"Kecoak ?! bagaimana bisa ?!." Kinan berjalan untuk mengambil hewan tersebut.
Agatha melihat sendiri seperti apa Kinan memegang badannya, benar-benar menggelikan.
Setelah Kinan keluar, pintu pun kembali tertutup.
"Kita selamat." Agatha menyandarkan kepalanya ditubuh Jeremy.
"Apa kita harus pindah ?." Tanya Jeremy asal, anak kecil itu hanya bisa mengangguk kelelahan.
"Hewan gila." Si kecoak berhasil membuat nafas Jeremy tersengal-sengal.
"Itu teman alien, dia pembawa bencana." Agatha memperlihatkan reaksi jijiknya terhadap Jeremy.
"Sayang akhirnya kau mengangkat teleponku." Suara familiar muncul dibalik ponsel.
"Agatha ! suara siapa ?!." Ucap Jeremy.
"B-bukan aku !." Agatha melihat ponsel Jeremy dan tertulis nama Marry disana.
"Kau masih menyimpan nomo..."
"Ssstttttt ! jangan bicara dulu." Ia membungkam mulut Agatha.
'Keterlaluan pria ini !.' Agatha memelototi Jeremy karena kesal.
"Sayang bagaimana kabarmu ? aku rindu sekali." Marry sepertinya berusaha menggoda Jeremy.
'Aku tidak akan diam saja.' Agatha geram dan langsung mengambil ponsel tersebut untuk mengalihkannya menjadi panggilan video.
"Hai Marry." Saat wajah Agatha muncul, Marry tercengang.
"Kenapa kau mengganggu pembicaraanku ?!." Marry memelototi Agatha.
"Kau akan menyesal karena sudah mengganggu suamiku." Agatha meletakkan ponsel Jeremy diatas meja, ia sengaja mengarahkan kameranya agar menyorot mereka berdua.
__ADS_1
"Jeremy ! kau sedang apa disitu ?! cepat menjauh !." Ucap Marry.
Agatha langsung duduk dipangkuan suaminya dan mencium bibir Jeremy.
Pria itu awalnya juga terkejut, sampai dia berpikir akan mencuri kesempatan ini untuk membuat Agatha sedikit jatuh cinta.
"Emm." Marry dibuat melongo karena menyaksikan calon suaminya berciuman amat mesra didepan mata sendiri.
"****** ! beraninya kau melakukan itu ?! hei berhenti !." Ucap Marry.
Agatha sama sekali tak terusik akan suara Marry ditelepon, keduanya malah saling mendalami peran mereka masing-masing.
Karena Jeremy begitu antusias, tangannya tak sengaja menyenggol meja tempat dimana mereka meletakkan ponsel.
Tuk.
Ponsel itu terjatuh, kini Marry hanya bisa melihat kegelapan.
"Sialan ! kau benar-benar membuatku murka !." Marry membanting ponselnya.
Tanpa disadari, pasangan suami istri yang sedang bercinta ini sama sekali tak menghentikan aksinya.
Padahal panggilan sudah terputus.
Jeremy menyesap tengkuk leher Agatha untuk menciptakan kesenangan mereka hari ini.
"Uhk, kau terlalu bersemangat." Kata Agatha.
"Aku selalu bersemangat jika dipancing seperti tadi." Jeremy melepaskan pelukannya dan mencubit hidung Agatha.
"Kau tahu Kakak akan marah jika melihat kemerahan dileherku." Agatha melirik kearah dimana Jeremy meninggalkan bekas.
"Jika itu terjadi, aku akan menarik darahku kembali." Balasnya sambil menggoda Agatha.
"Konyol !."
"Ayo pergi tidur sampai sore, memeluk tubuhku akan membuatmu jauh lebih nyaman." Kata Jeremy.
"Jangan menyesal ya." Jeremy memejamkan mata untuk segera tidur.
'Dia benar-benar tidak berniat memelukku ! jahat.' Agatha kesal.
"Aku mendengar suara hatimu, cepat tidur." Jeremy melingkarkan tangannya memeluk Agatha, diam-diam si wanita tersenyum.
"Aku takut teman alien datang lagi." Agatha membalikkan badan lalu memeluk Jeremy juga.
Mereka pun tidur nyenyak hari ini.
3 HARI BERLALU ,
"Jahat ! Kau tidak mau bicara padaku." Rain menangis.
"Sudahlah, yang penting sekarang aku sudah sembuh." Arkan mengusap kepala wanitanya.
"Tetap saja aku seperti diasingkan, padahal aku pasanganmu." Ia menangis semakin kencang.
"Jalan-jalan yuk ?." Ucap Arkan.
"Kemana ?." Rain menoleh.
"Beli boneka yang sama besarnya denganmu." Kata Arkan.
"Mauuuu !." Rain menghapus air matanya lalu berjalan-jalan dengan Arkan.
...
"Besok aku berangkat, kau sungguh tidak mau ikut ?." Kata Jeremy.
"Jeremy, aku akan tetap disini, jangan selalu mengkhawatirkan aku." Agatha memegang tangan suaminya.
__ADS_1
"Mana mungkin, aku meninggalkan wanitaku disini selama tiga hari, bagaimana kamu makan, minum dan tidur tanpaku." Jeremy bermanja-manja pada istrinya itu.
"Hei, ada banyak pelayan disini, sudah jangan pikirkan aneh-aneh begitu." Ucap Agatha.
"Ikut saja ya ?." Jeremy memeluk Agatha.
"Lain kali aku akan ikut bersamamu." Ia mengelus rambut Jeremy yang bersandar kepadanya.
"Aku gagal ya ?." Agatha melihat Jeremy menatap sedih.
"Gagal apa ?." Jawabnya bingung.
"Gagal membuatmu jatuh cinta." Agatha tertawa kecil.
"Pikirkan yang benar-benar saja, menjadi istri sudah pasti mencintai suaminya kan ?." Ucap Agatha seakan-akan memecah kecanggungan diantara mereka.
"Tunggu aku pulang ya ?." Jeremy menatap penuh permohonan.
"Iya Jeremy, aku akan menunggumu pulang."
Semalaman Jeremy memeluk Agatha didalam tidurnya, sampai dipagi hari ia terbangun dan segera menatap wajah cantik disampingnya itu.
"Mungkin takdir punya alasan lain kenapa aku harus menikah denganmu, entahlah selama ini aku terlalu frustasi akan hidup. Tapi semenjak kau hadir, semuanya jauh berbeda. Kau mungkin akan menilaiku jahat karena tega meninggalkan Marry, namun kenyataannya hubungan kami tak sehangat dulu, dia terlalu sering membuatku kecewa, dan berulang kali aku memaafkannya karena berpikir bahwa aku mencintai wanita itu, setelah menenangkan diri akhirnya aku menyadari kalau tidak ada cinta untuknya, melainkan kasihan saja." Jeremy mengusap wajah Agatha sangat lembut.
"Hem, kau bicara apa ?." Agatha sedikit terusik dengan segala bentuk sentuhan suaminya.
"Sayang maaf, kau jadi bangun." Jeremy meletakkan kepalanya diperut Agatha.
"Jam berapa ini ? Kau mau jalan ya ?." Kata Agatha yang segera bangun dari tidurnya.
"Aku baru mau mandi, kau tidur lagi saja." Ucap Jeremy.
"Aku antar kamu ya ke bandara ?." Jeremy menggeleng karena tak mau istrinya ikut mengantar.
"Dirumah saja, aku kan sudah diantar supir." Jeremy mencium kening Agatha dan memeluknya, sementara itu Agatha melingkarkan kedua tangan dipunggung Jeremy.
"Kamu jangan telat makan disana ya ? Walaupun pekerjaan penting, tapi perutmu lebih penting." Agatha menempelkan hidungnya pada hidung Jeremy, pria itu tersenyum manis sekali.
"Kalau begitu ikut saja agar kau bisa menjaga pola makanku dengan baik." Kata Jeremy.
"Kau kenapa sih ingin sekali aku ikut denganmu ?." Agatha sedikit bingung.
"Tidak apa-apa, hanya takut lama membuatmu menunggu." Jeremy membelai rambut panjang Agatha yang terurai.
"Bawakan aku hadiah ya ?." Ucap Agatha.
"Jangan khawatir, aku tidak akan melupakannya."
Setelah Jeremy selesai mandi dan bersiap, ia pun mengambil tas kerjanya untuk segera berangkat.
"Pakai kartu ini untuk beli semua apapun yang kau butuhkan, dan ingat ? Jaga dirimu baik-baik, jangan temui Greg." Pinta Jeremy.
"Aku tidak perlu kartu ini, tapi akan aku pakai jika ingin membeli sesuatu. Aku mendengarkanmu, cepat kembali ya !." Ucap Agatha lembut, sebelum Jeremy masuk kedalam mobil mereka pun berpelukan sangat romantis dihadapan pelayan juga supir.
"Aku baru kali ini melihat Tuan sangat bahagia." Kata pelayan.
"Benar, Tuan Jeremy seperti memiliki semangat baru." Ucap yang lain.
"Jika rindu padaku hubungi saja, tentunya aku tak akan lupa menghubungimu lebih dulu, ada Zheng yang akan menjagamu disini." Kata Jeremy.
"Kau benar-benar mempersiapkan semuanya untukku, terimakasih. Aku pasti merindukanmu." Agatha mencium bibir Jeremy sampai semua pelayan menutup mata mereka.
"Aku mencintaimu, sampai bertemu lagi." Jeremy kembali mengecup kening Agatha dan masuk kedalam mobil.
Rasanya berat melihat istri hanya melambaikan tangan dibalik kaca, ingin turun lagi dan berlari memeluknya.
"Semoga pekerjaanmu cepat selesai !." Teriak Agatha sambil tersenyum.
Saat Jeremy berangkat, tiba-tiba saja Marry datang kerumah mereka.
__ADS_1
Plakkkkk ! Seluruh pelayan tercengang melihat wanita itu menampar tuan rumah.