
"Dasar bocah ! semua yang dilakukannya saat ini sangat tidak masuk akal !." Arkan menggerutu.
Setibanya dirumah, Arkan menggendong Adiknya masuk ke dalam kamar, disusul dengan Adinda dan Selina.
"Arkan, Adikmu kenapa ?? kenapa dia tidak pulang semalam." Ucap Adinda khawatir.
"Bunda, Bunda tenang dulu ya." Selina mengusap bahu Adinda untuk menenangkannya.
"Jelaskan Arkan." Ucap Adinda lagi.
"Agatha baik-baik saja, jangan terlalu dipikirkan. Selina, lebih baik antar Bunda istirahat dikamar nya." Pinta Arkan.
"Tapi jawaban kamu tidak membuat Bunda puas, sebenarnya kenapa ?." Selina langsung mengajak Adinda pergi dari kamar Agatha.
"Selina, Bunda harus tau ada apa dengan anak Bunda." Kata Adinda.
"Iya Bunda, sekarang lebih baik Bunda beristirahat dikamar, dan Selina yang akan memantau Agatha, jika ada hal yang serius pasti Selina akan memberitahu Bunda." Balas Selina.
"Makasih ya Selina, tolong beritahu Bunda." Adinda mengelus bahu Selina dan memasuki kamarnya.
"Aku akan membuat perhitungan lebih dari ini." Arkan mengepalkan tinju kemudian hendak pergi menemui Greg lagi.
"Arkan, Arkan ! tunggu." Selina menahan lengan pria itu.
"Ada apa ? kau jangan menghalangiku." Arkan menepis tangan Selina.
"Kau harus bisa melawan rasa emosimu, semuanya bisa diselesaikan dengan baik, kau tidak bisa melakukan semuanya atas dasar keinginanmu." Selina mengusap punggung Arkan dan memintanya duduk.
"Kau tahu seberapa besar cintaku pada Agatha ?? bahkan rasa itu melebih dari cinta pada diriku sendiri." Arkan sangat frustasi, dia mengacak rambutnya dan memasang wajah kekecewaan.
"Aku mengerti kau sangat menyayangi Adikmu, sekarang ceritakan padaku apa yang terjadi sebenarnya ? kenapa kau pulang dalam keadaan marah ? ditambah Agatha terlihat mabuk." Ucap Selina.
"Adikku dilecehkan." Selina terkejut, menutup mulutnya tak percaya.
"M-maksudmu ? Agatha dilecehkan ?! oleh siapa ?!." Katanya.
"Oleh pria yang sering mengunjunginya akhir-akhir ini, aku tidak bisa tinggal diam Selina." Arkan berdiri dan bergegas pergi menuju mobil.
"Arkan ! Arkan tunggu." Selina mengejar Arkan dengan mengendarai mobilnya sendiri.
Didalam mobil, Selina merasa khawatir karena Arkan melajukan mobilnya begitu cepat.
"Kau sama sekali tidak mendengarkan aku Arkan, kita hidup bersama selama bertahun-tahun, tapi kau tidak mengerti maksudku." Selina memijat keningnya dan terus mengejar Arkan.
"Itu kan mobilnya Arkan." Rain yang sedang menaiki taksi tak sengaja berpapasan dengan mobil Arkan.
"Kencang sekali jalannya." Rain merasa khawatir, lalu meminta supir taksi untuk mengikuti mobil tersebut.
"Tolong pak, ikuti kemanapun mobil itu pergi." Pinta Rain.
"Baik Nona."
Ketiga mobil tersebut melaju cepat, dibaris pertama ada mobil Arkan yang diikuti oleh mobil Selina dan taksi.
"Pak, lebih cepat. Jangan sampai tertinggal jejaknya." Kata Rain.
Perjalanan yang mereka tuju memang lumayan jauh, namun ketika sampai pada tempatnya, Rain merasa tak asing lagi dengan rumah besar itu.
"Kenapa Arkan pergi kesini ? ada apa ?." Gumam nya.
"Arkan stop !." Selina menarik Arkan.
"Lepaskan tanganku, kau ini seorang wanita, sama sekali tidak mengerti bagaimana hancurnya perasaanku." Arkan berjalan masuk kedalam, melihat pintu kamar dimana Greg melecehkan Adiknya belum juga tertutup.
"Arkan please." Selina memeluknya dari belakang.
"Aku sangat khawatir padamu, aku tak ingin kau melukai atau dilukai oleh orang lain." Arkan berhenti dan berbalik melihat wajah Selina.
"Selina, sebaiknya kau tunggu diluar." Katanya.
Arkan segera masuk dan melihat Greg yang baru saja tersadar dari pingsannya.
__ADS_1
"Untuk apa kau datang lagi ?." Kata Greg.
"Untuk memberimu pelajaran yang lebih kejam dari perlakuanmu pada Adikku." Arkan mengepalkan tangan nya lagi dan lagi.
"Sudah kubilang, bukan aku pelakunya." Greg menahan sakit di seluruh bagian tubuhnya.
"Hanya kau yang terlihat disini ! tidak ada orang lain." Arkan menarik kerah Greg, lalu Greg mendorongnya dan meninju wajah Arkan.
"Kakak macam apa kau ?! tidak becus mencari mana orang yang benar-benar melukai Adikmu dan mana orang yang bukan pelakunya !." Ucap Greg.
"Kurang ajar !." Arkan meninju Greg, pria didepan nya sama sekali tak punya banyak tenaga untuk melawan, wajahnya sudah penuh lebam akibat serangan dari Arkan tadi.
"Arkan hentikan !." Ia menoleh dan melihat sosok wanita yang anggun didepannya sekarang.
"Rain ?." Ucapnya.
"Greg ! kau baik-baik saja ? semua wajahmu lebam, apa ini karena Arkan memukulmu ?." Rain memegang wajah Greg.
"Benar." Suaranya berat membuat Rain tak tega melihat Greg.
"Apa kau setega ini memukuli orang yang tak bersalah Arkan ?!." Rain memarahinya sementara Arkan hanya diam karena tidak percaya kalau Rain mengenal Greg.
"Aku antar kerumah sakit, kau bawa mobil ?." Tanya Rain.
"Bawa, ini kuncinya." Greg memberikan kunci pada Rain, sehingga wanita itu membantu Greg berjalan ke mobil dan membawanya kerumah sakit.
Selina menyadari kalau ekspresi Arkan saat ini benar-benar berubah, sebelumnya dia merasakan aura kebencian, lalu mendadak takluk dan kecewa.
"Arkan ? ayo pulang." Ajak Selina.
"Pulanglah duluan, aku harus mengejar wanita itu." Arkan berlari kedalam mobil dan menyusul Rain.
Dirumah sakit, suster membantu Rain untuk membawa Greg kedalam ruang pemeriksaan.
tetapi Rain hanya bisa tunggu diluar.
"Rain ?!." Arkan datang menatap wajahnya.
"Kau ini bicara apa ? kau membela orang yang salah." Ucap Arkan.
"Kau yang salah ! aku tahu betul siapa Greg !." Lebih terkejut lagi saat mendengar kalau Rain sepertinya sangat dekat dengan Greg.
"Rain, kenapa kau mengenalnya ? dan kenapa kau terus membela pria itu ?." Tanya Arkan.
"Aku mengenalnya jauh sebelum aku tahu siapa kamu." Rain terlihat kesal, namun ditahan karena dia sebenarnya tidak mau bertengkar dengan Arkan.
"Tapi dia melecehkan Adikku." Ucap Arkan menekankan.
"Melecehkan ? apa kau punya bukti saat Greg melecehkan Adikkmu ?." Kata Rain.
"Aku melihatnya sendiri, dia berada tepat didepan Agatha saat Agatha mabuk, bahkan baju yang dipakai oleh Adikku sudah hampir terbuka lebar, aku sama sekali tidak buta Rain." Arkan menjelaskan dengan detail.
"Tapi bukan dia yang kau cari Arkan." Rain bicara sambil gemetar.
"Maksudmu ?." Arkan melihat kalau Rain seperti sedang keceplosan.
"Siapa ? siapa yang kau maksud ? apa ada orang lain yang kau ketahui tentang hal ini ?." Tanya Arkan lagi.
"Jawab Rain !."
Rain diam, lalu tak lama Dokter pun keluar dari ruangan.
"Keluarga pasien ?." Ucapnya.
"Saya Dok, saya keluarganya." Arkan melihat betapa khawatirnya Rain pada Greg, semua itu membuat hatinya sakit.
"Baik Nona, kami sudah memeriksakan pasien, untungnya tidak ada luka yang terlalu serius, hanya saja dibagian pelipis mata pasien hampir pecah." Jelas Dokter, setelah banyak bicara Rain pun diperbolehkan masuk.
"Greg, jangan lemah. Kau kan pria yang hebat !." Kata Rain.
"Terimakasih sudah mengantarku kemari, kau sangat membantuku." Kata Greg.
__ADS_1
"Aku senang membantumu, karena kau juga sangat baik padaku." Rain tersenyum, Arkan segera menarik tangan Rain keluar dari dalam ruangan.
"Ikut aku." Ucap Arkan.
"Lepaskan, jangan tarik tanganku." Rain dibawa oleh Arkan ke ujung koridor.
"Sebenarnya dia itu siapa ?!." Arkan kesal.
"Kau masih bertanya siapa dia ?." Rain menunjuk ke arah ruangan Greg.
"Aku perlu tahu, karena kau sekarang milikku Rain." Rain terdiam, dia benar-benar merasa bersalah karena lebih memihak Greg, namun dia tetap kesal dengan apa yang dilakukan oleh Arkan.
"Kau akan tahu nanti." Jawab Rain.
"Apa sangat sulit menjawab pertanyaanku ? atau jangan-jangan dia pacarmu ?!." Rain reflek menampar Arkan.
PLAKKK !
"Apa kau pikir aku semurah itu ?." Tanya Rain.
"M-maaf Rain, aku sama sekali tidak bermaksud begitu, aku hanya cemburu." Arkan menunduk takut.
"Arkan dengar ? aku bukan wanita murah yang dengan mudahnya mengumbar hati untuk semua laki-laki, jika aku sudah memilihmu itu artinya hanya kamu yang mendapatkannya !." Rain hendak pergi lalu ditahan oleh Arkan.
Ia memeluknya, sangat erat.
"Aku minta maaf Rain." Rain menghela nafas lalu memeluk prianya.
"Kau harus menjaga kata-katamu, tidak lupa kan semalam kau berjanji apa ?." Arkan mengangguk dalam pelukan Rain.
"Sekarang ikut aku, kau harus meminta maaf pada Greg." Rain menggandeng tangan Arkan, pria itu segera menurut. Seperti dihipnotis.
"Greg, kau harus mendengar sesuatu dari mulutnya." Ucap Rain.
"Apa ?." Tanya Greg.
"Maaf." Arkan mengatakannya dengan malas.
"Arkan, katakan lagi sambungannya." Pinta Rain yang terus memegangi tangan Arkan, ia berharap genggaman nya dapat membuat pria itu tenang.
"Maaf aku sudah memukulmu." Greg tertawa.
"Rain, bagaimana bisa kau mengendalikannya seperti ini ??." Ucap Greg terbahak-bahak.
"Itu karena kami sekarang berpasangan." Arkan menatap sinis ke arah Greg.
"Benarkah ?? kau sungguh sudah melupakan Adikku ?." Tanya Greg.
"Greg, dia hanya masalalu bagiku, tak perlu lagi mengingat apapun yang terjadi kemarin." Ucap Rain.
"Dia pasti sangat syok mendengar ini." Greg khawatir, sebagai Kakak pun dia tidak tahu apa-apa tentang Leonard yang terus meneror dan menyakiti Rain.
Arkan melepas genggamannya lalu keluar.
Rain kaget dan segera mengejar pria itu.
"Kenapa ? kenapa keluar ?." Tanya Rain.
"Tidak, kau bicara saja padanya, aku masih banyak urusan lain." Rain tersenyum, menyadari kecemburuan Arkan yang ditunjukkan nya saat ini.
"Kalau begitu ajak aku untuk menyelesaikan urusanmu." Diparkiran, Arkan membukakan pintu mobil untuk Rain, lalu dia masuk juga kedalamnya.
"Kenapa mukanya masih ditekuk begitu ? aku sudah selesai bicara pada Greg." Kata Rain.
"Aku tidak suka." Ucap Arkan.
"Lalu apa yang kau suka ?." Arkan menoleh, menatap wajah Rain dengan pandangan datar.
Cup !
Rain mengecup bibir Arkan sampai pria itu memalingkan wajah.
__ADS_1