
sesampai nya di rumah, Satria mencari Adinda ke setiap ruangan.
"terakhir kau melihat Adinda kemana?!." Satria sangat marah, dirinya sangat khawatir jika sesuatu terjadi pada Adinda.
"a-anu Tuan, Nona ha..." sebelum Desi melanjutkan kata-kata nya, ponsel Satria berdering.
Tring..tringg
"halo ma, ada apa?." ucap Satria
"halo nak, istrimu ada di sini, dia bilang kalau kau harus menjemputnya sekarang." kata Tania, Satria tercengang, namun ia langsung kembali sadar dan menjemput istrinya
"Nona Adinda berada di rumah? bagaimana bisa? bukan kah tadi dia pergi mengambil betadine?." Desi bertanya-tanya, tetapi ia langsung mengobati Arkan yang terluka
di kediaman Anggara, Satria berlari ke dalam dan menemukan Adinda sedang duduk sambil memakan buah apel ditangan nya.
"sayang?! dari mana saja kamu? kenapa kau datang kesini tanpa mengatakan apapun padaku?!." Satria cemas pada istrinya, matanya segera tertuju pada buah apel yang berada digenggaman Emily.
"bukan kah kau tidak suka memakan buah seperti ini? biarkan aku memotong apel nya." Satria ingin mengambil apel itu tetapi Emily menariknya.
"aku lebih suka seperti ini, aku ingin pulang, tubuhku lelah sekali, bisakah kau mengantarku?." tanya Emily menatap Satria
"mungkin ini bawaan hamil, bawalah istrimu pulang, ingat? kau harus terus memperhatikan nya." ucap Tania Anggara
"ma, aku pulang dulu." Emily pamit kepada Tania kemudian pergi.
"sayang, harusnya kau bilang padaku kalau kau mau kesini, aku tidak mau kau dalam bahaya." kata Satria cemas, ia memegangi tangan istrinya dengan lembut
"aku baik-baik saja, jangan terlalu memperlakukan aku seperti anak kecil." Emily berkata demikian, hal itu membuat Satria kembali berpikir, kenapa tiba-tiba istrinya menjadi aneh dan cuek
setiba nya di apartemen, Desi tersenyum lembut kepada Adinda, namun Emily sama sekali tak menganggap nya.
"dimana Arkan?." tanya Satria
"dia sudah tidur tuan, mungkin kelelahan karena habis bermain, saya juga sudah mengobati luka dikakinya." jawab Desi, ia melirik Adinda dengan sedikit heran, karena pakaian yang dipakainya sangat berbeda, bahkan rambutnya seketika menjadi lurus.
Adinda yang dilihat oleh Desi tadi sore memiliki rambut ikal diujung bawah nya, serta pakaian dress berwarna coklat susu.
"apakah Nona habis pergi ke salon?." Desi bertanya dengan ramah
"apa kau tidak ada pekerjaan yang lebih penting selain menanyai kesibukan ku?!." sorot mata Emily tajam, keduanya sama-sama terkejut namun Satria mengerti, mungkin saja karena Adinda sedang hamil jadi terlalu sensitif begini, sementara Desi tidak, dia tahu ada yang aneh dengan wanita dihadapan nya, ia bahkan sama sekali tak perduli pada luka di kaki Arkan.
di kamar, Satria melihat Adinda yang sibuk bermain ponsel.
"dari mana ponsel itu? bukan kah aku belum sempat membelikan nya?." tanya Satria, Emily meletakkan ponsel nya dan menatap Satria
"aku membelinya tadi sore, jelas saja kau belum sempat membelikan ku, kau terlalu sibuk dengan pekerjaan!." wajah Emily kesal, ia memalingkan wajah untuk melihat jendela kamar.
Satria segera mencium bibir wanita itu dengan gemas, ia pikir istrinya marah karena ia memang terlalu sibuk dengan pekerjaan, padahal yang saat ini ia cium bukan lah istrinya.
"Satria lepaskan!." Emily mendorong Satria agar menjauh kemudian berkata canggung
"a-aku lelah." gumam Adinda, Satria sejenak melamun, ia sangat bingung kenapa istrinya memanggil dia tanpa sebutan Mas.
"baik, tidur lah jika kau lelah." Satria menyelimuti tubuh Emily kemudian mencium kening nya
besok pagi, Satria memilih untuk menemani Adinda di rumah dari pada ke kantor, ia melihat wanita itu masih tidur dengan nyenyak.
__ADS_1
"mungkin sebaiknya aku menemani dia sampai hatinya benar-benar terasa membaik, pasti dia sangat bosan karena aku bekerja sepanjang hari." gumam Satria
ditempat lain, seseorang menemukan Adinda yang tergeletak dipinggiran sungai.
"Astaga! Mom! Dad!."
"ada apa sayang?! kenapa kamu?." tanya nya
"Mom, lihat! ada mayat!." kata wanita tersebut, namanya Angeline, dan ibunya Rose.
"Angeline jangan mendekat! Dad akan memeriksa nya." Ayah Angeline mencoba memeriksa Adinda dan ternyata wanita itu masih hidup! segera saja ia membawa Adinda pergi ke rumah sakit.
"dokter tolong dia, cepat!." pinta William
berjam-jam dokter memeriksa wanita itu, ia hampir saja berpikir bahwa nyawa nya tak dapat diselamatkan namun sebuah keajaiban datang, wanita itu masih dapat hidup! bayi nya juga selamat!
"Tuan, wanita itu sempat mengalami kondisi yang paling buruk, namun sekarang semuanya sudah kembali membaik, kandungan nya pun sehat." dokter tersenyum, kemudian Angeline terkejut
"Dad! wanita itu sedang hamil.." gumam Angeline, ia segera menerobos masuk untuk melihat keberadaan Adinda
"ku harap kau baik-baik saja." ucap Angeline memandang wajah cantik Adinda
"siapa keluarga nya? mengapa dia bisa hanyut di sungai itu?." ucap Rose
"Mom, bagaimana kalau kalian merawat dia? aku ingin sekali memiliki teman." kata Angeline, Rose dan William seketika saling memandang, mereka mengangguk setuju untuk merawat Adinda
hampir sepuluh jam Adinda belum juga sadarkan diri, namun saat ini dia sudah bangun.
ia melihat sekeliling namun tak merasa kenal pada orang-orang itu,
"siapa namamu? umur mu berapa? aku Angeline." ucap Angeline mengulurkan tangan
"kau mau kan tinggal bersama kami?." mata Angeline berbinar, ia menatap Adinda penuh harap, Adinda mencoba mengingat kembali kejadian sebelum nya, ia yakin bahwa Emily ada dibalik semua ini.
"bisa kah kalian memberitahuku sekarang ini di mana?." tanya Adinda
"kau berada di kota kami, tepatnya kota X, dimana keluarga mu? kau sedang hamil, untung nya dokter berkata bayi kau baik-baik saja." kata Rose, lalu Adinda memegang perutnya dan menghela nafas lega
"aku tidak punya keluarga.." ucap Adinda, Angeline menatap mata Rose penuh harap
"kalau begitu mau kah kau tinggal bersama kami? kami akan merawat mu sampai kau pulih." ucap Rose
"aku tidak mau merepotkan kalian." kata Adinda
"jangan khawatir, kami tidak akan merasa direpotkan, aku ingin sekali memiliki saudara perempuan, mau kah kamu menerima permintaan kami?." ucap Angeline, Adinda berpikir sejenak sebelum mengangguk setuju
"bolehkah aku meminjam ponsel mu?." tanya Adinda kepada Angeline
"ini, pakailah." Adinda mengetik nomor ponsel suaminya dan menelepon pria itu, namun tiga kali berusaha tetap tak diangkat.
"jangan cemas, anggap saja kami keluargamu, rumah aku tidak jauh dari sini, setiap hari aku akan menjenguk mu dan membawakan makanan mu." ucap Angeline, Adinda tersenyum lembut sebelum ia merasa hatinya sakit.
ia memikirkan suaminya, ingin menangis tetapi tertahan karena malu.
"perkenalkan ini Mommy! dan ini Daddy!." Angeline memperkenalkan kedua orang tua nya, umur wanita itu baru saja menginjak 20 tahun.
"panggil aku Mom, lalu panggil suamiku Dad." ucap Rose tersenyum hangat
__ADS_1
"terimakasih kalian sudah membantuku, aku tak akan melupakan kebaikan kalian." ucap Adinda
...
"Satria, kamu dimana?." tanya Emily, kemudian Satria datang dan melihat istrinya memanggil
"ada apa sayang?." tanya Satria
"aku lapar, bisa kah kau membawakan makanan untuk ku?." ucap Emily, lalu Satria bergegas mengambil makanan itu
"mengapa kau tidak ke kantor?." tanya Emily menatap mata pria itu
"aku sengaja tidak pergi hari ini, aku akan menemanimu, sepanjang hari aku bekerja, pasti itu sangat membuatmu bosan." ucap Satria, Emily tersenyum canggung, ia merasa ternyata sangat menyenangkan berperan sebagai Adinda, dirinya sangat dimanja oleh pria kaya ini.
"hmm, aku ingin shoping, kau harus menemaniku." ucap Emily lagi
"apapun, asal kau senang pasti aku akan melakukan nya." Satria bersiap untuk pergi ke mall bersama Adinda.
setiba nya di mall, Adinda mengambil banyak sekali barang sampai-sampai Satria merasa dirinya seperti bodyguard yang setia membawakan barang belanjaan bos nya.
"Adinda? apa kau tidak salah belanja sebanyak ini?." tanya Satria bingung, ia merasa ada yang aneh
"kenapa? kau tidak sanggup untuk membayarnya? bukan kah uang mu sangat banyak?." kata Emily, hal itu sangat mengejutkan Satria sekali lagi.
ketika selesai menemani Adinda berbelanja, mereka mampir ke restoran bintang lima untuk pergi makan.
"aku mau salmon steak." gumam Emily
"bukan nya kau alergi pada salmon?." Satria semakin bingung
"memangnya kenapa? ini untuk bayiku kok, bagaimana kalau dia lahir tidak sempurna karena kau selalu bertanya tentang hal aneh seperti itu?." Emily sinis sebelum akhirnya memesan makanan yang dia mau
sesampai nya mereka di rumah, Desi sangat kaget, ia merasa tidak biasanya Adinda belanja sebanyak ini, lalu ia yakin kalau wanita itu bukan Adinda.
"sebenarnya siapa kamu?." tanya Desi pada Emily yang sedang melihat-lihat kuku indah nya
"hei! apa maksudmu?! aku adalah bos mu! jangan berani kurang ajar!." kata Emily, Satria sedang berada di toilet jadi ia tak mendengar ucapan itu
"bukan! kau bukan Nona Adinda! aku akan mengatakan hal ini kepada Tuan!." Desi bergegas menyusul Satria namun Emily menahan nya
"kalau kau berani macam-macam, aku pastikan bocah kecil itu mati ditangan ku!." Desi membeku, ia tak berani berbuat apapun, ia khawatir Arkan dalam bahaya.
"bunda!." Arkan berlari ke arah Emily kemudian memeluknya
"halo anak kecil, kau lumayan lucu." gumam Emily mengelus pipi Arkan
ketika hari-hari telah berlalu, Satria mendapat telepon untuk pergi keluar kota karena harus bertemu dengan seseorang.
"sayang, maafkan aku tapi kali ini aku harus pergi." ucap Satria
"pergi saja, oh ya, aku mau baju, tas, dan sepatu yang bagus, bawa semua itu ketika kau pulang." kata Emily, Satria tersenyum santai dan mengangguk
Satria menuju kota X untuk bertemu pada pembisnis terkaya dalam kota tersebut.
"selamat siang Tuan Satria, senang anda dapat datang kemari, bagaimana dengan bisnis kita?." ucap seorang laki-laki yang tak lain adalah William, ia adalah keluarga paling kaya di kota X itu.
"siang juga Tuan William, sudah dua tahun kita tak bertemu, dulu ayahku yang selalu menemui mu dan sekarang akulah yang menggantikan nya." ucap Satria tersenyum
__ADS_1
"kau mau kemana kak?." ucap Angeline kepada Adinda, lalu Adinda menoleh ke arahnya
"aku ingin mengambil sesuatu di bawah, tunggu sebentar ya." ucap Adinda meninggalkan Angeline yang sedang melukis