Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
kehamilan yang berbeda


__ADS_3

"baiklah, temui aku besok sore tepat di depan kantor." Satria mengatakan hal itu kemudian duduk di sofa.


"tumben sekali kamu tidak mau duduk denganku." Emily melirik tajam sebelum akhirnya ia menonton televisi


"kau bilang perut mu sakit ya?." Satria mendengus kesal, ia tetap berusaha menampakkan wajah lembut agar Emily tidak curiga kalau dia tahu wanita dihadapan nya palsu.


"hmm ya, perutku sangat sakit tadi, tapi untung nya kau pulang dengan cepat." jawab Emily, ia berdiri dari kasur itu kemudian berjalan ke arah pintu, entah apa yang terjadi tiba-tiba Emily jatuh dan membentur ujung meja.


"Ahhh! perutku!." Emily berteriak kesakitan, Satria terkejut, ia pikir Emily hanya berpura-pura sakit, tetapi ketika dilihat ada darah yang mengalir di kaki Emily.


"k-kau pendarahan?!." Satria membelalakkan mata, dirinya tak tahu kalau istri palsu nya ternyata juga sedang hamil sungguhan.


"ayo kita ke rumah sakit." Satria menggendong Emily dan langsung membawa nya ke rumah sakit.


di dalam ruangan, dokter memeriksa wanita itu dengan waktu yang cukup lama, sehingga Satria merasa sedikit bosan menunggu nya.


namun saat dokter keluar, ia langsung menemui Satria.


"Tuan, saya merasa ada yang aneh dengan Nona Adinda, kehamilan nya sangat berbeda dengan kemarin, oh ya tapi ada yang jauh lebih penting untuk saya sampaikan, karena benturan itu sangat keras mengenai bagian perut istri anda, jadi bayi nya tak dapat kami tolong." dokter mengatakan hal itu dengan wajah cemas, sementara Satria diam dan menatap dokter serius, ia tidak merasa aneh karena memang yang ada didalam ruangan itu bukanlah Adinda yang sebenarnya.


"apa maksudmu dia telah keguguran?." tanya Satria


"benar Tuan, istri anda mengalami keguguran." sahut Dokter kemudian ia pergi meninggalkan Satria.


Satria langsung masuk menemui Emily yang sedang terbaring di atas ranjang rumah sakit.


"apa yang dokter katakan?." tanya Emily memegang lengan Satria kencang


"kau mengalami keguguran." Satria mengatakan nya acuh tak acuh, Emily marah, ia berteriak seperti orang gila.


"tidak! tidak mungkin!! aku tidak mungkin keguguran! dokter?!!! kemari kau! kau benar-benar mencari mati!." Emily mengamuk sambil membanting semua barang-barang yang ada di dekatnya, lalu ia jatuh terkulai lemas di lantai.


"aku tidak mungkin kehilangan bayiku." Emily memegangi perutnya dengan wajah lesu, air matanya terus mengalir lalu melihat ke arah Satria yang ternyata pria itu hanya diam tanpa berkutik


"apa kau tidak sedih kehilangan anak kita?." Emily bertanya dengan mata berkaca-kaca, kemudian Satria menghela nafas dan mendekati wanita itu


"mungkin sudah takdirnya kau dipisahkan dengan anakmu." ucap Satria, Emily kembali menunduk dan mengepalkan tinjunya


"tapi dialah satu-satunya yang aku miliki sekarang." gumam Emily, secara tidak langsung ia mengakui bahwa dia hanya bersama dengan bayi itu, padahal Adinda yang asli memiliki banyak keluarga.


"bukan kah kau masih mempunyai aku? mama? dan Arkan di rumah?." ucapan Satria sontak membuat Emily tertegun


"t-tapi.." sebelum Emily melanjutkan, Satria sudah lebih dulu mengulurkan tangan nya untuk membantu Emily berdiri, namum tampaknya Emily masih merasa lemas sehingga hal itu membuat Satria menggendong wanita yang wajah nya sama persis seperti istri sah nya.


"Anderson.. aku telah kehilangan segalanya, aku kehilangan kamu, bahkan anak itu juga, tidak ada yang tersisa lagi saat ini selain dendam ku kepada keluarga Anggara." gumam Emily di dalam hati


Satria membawa Emily ke dalam mobil dan melaju ke arah apartemen.

__ADS_1


"Satria, bagaimana kalau Arkan dan Desi itu dipulangkan saja ke rumah mama, aku mau bersama dengan mu saja tanpa mereka, itu akan lebih nyaman untuk ku." ucap Emily menatap Satria memohon


"tidak, itu bukan ide yang bagus, karena kau baru saja kehilangan anak mu, itu artinya Arkan berperan sangat penting di waktu-waktu sekarang ini." ucap Satria, lalu Emily mengerutkan alis sambil memandang ke luar jendela


"apa kau tidak sayang padaku? malam ini saja, aku mohon." kata Emily


"cih, untuk apa aku sayang padamu, istriku hanya satu, dan itu Adinda, bukan kamu. sebenarnya siapa dirimu?." ucap Satria dalam hati


"kenapa kau diam saja? ayo jawab aku." kata Emily lagi


"apa kau tidak mendengar? bahwa aku tidak mau memulangkan Arkan dan Desi ke rumah mama." sahut Satria dingin, seketika Emily terdiam.


"kenapa kau berubah? bukan nya kemarin kau selalu baik hati padaku? kau selalu menuruti apa mau ku? kau sangat menyayangiku kan?." Emily bertanya dengan bingung


"cukup! harusnya aku yang bertanya padamu, kenapa kamu sangat berubah?! aku seperti tidak mengenalmu sebagai istriku!." mata Satria memelototi wajah wanita di samping nya, kemudian Emily merasa bahwa Satria sudah mulai curiga, akhirnya ia melembutkan diri dan mendekati lengan pria itu.


"s-sayang maafkan aku." Emily memeluk lengan Satria yang sedang menyetir, sementara Satria merasa risih dan jijik dengan perlakuan itu


"berhenti memelukku seperti ini." ucap Satria menepis tangan Emily


"a-apa maksudnya? kau membenciku saat aku telah membuat anak kita meninggal?." Emily bertanya dengan sedih


"tidak, lebih baik kau duduk diam." Satria kembali mengendarai dengan fokus.


sesampainya di apartemen Arkan berlari ke arah Satria dengan ceria, namun ia tak berani mendekati Emily meskipun wajah itu cukup meyakinkan bahwa dia adalah ibunya.


"ayah habis mencari angin segar diluar sayang, kau sudah makan?." Satria bertanya dengan lembut dan membelai pipi putra kecilnya


"sudah, ayah aku ingin bertanya.." kata Arkan menatap ayahnya polos, Satria menganggukkan kepala tanda menyetujui pertanyaan Arkan


"mengapa beberapa hari ini bunda sangat berbeda? apakah aku memiliki salah terhadap bunda sampai dia tak ingin melihatku?." ucap Arkan, hal itu membuat Satria sedih dan bersalah, kemudian ia memeluk anak nya dan berkata


"dia bukan bunda mu, dia hanya berpura-pura sebagai bunda Adinda." kata Satria, terlalu sulit dijelaskan kepada putra nya, sehingga dia meminta Arkan untuk bersabar.


"ayah janji, ayah akan membawa bunda pulang, tak akan ada yang berubah sedikitpun dengan bunda mu." jawaban Satria membuat mata Arkan berbinar, ia senang sekali akan bertemu bunda nya yang asli, walaupun ia tetap bingung mengapa wajah mereka sangat mirip


di tempat lain, Adinda berdiam diri di kamar, ia hanya melamun dan terus melamun.


"kak, kenapa kamu melamun? Mommy sudah menyiapkan makanan untukmu, kau belum makan dari tadi." kata Angeline khawatir


"Angeline, aku sama sekali tidak lapar, kau mengerti kan?." Adinda menatap Angeline yang sedang memperhatikan nya sedari tadi


"aku akan beritahu Mom kalau kau tidak mau makan." Angeline pergi dari kamar itu dan memberitahu Rose tentang Adinda


"kenapa dia tak mau makan? ya sudah, kamu tunggu disini, Mom yang akan bicara padanya." Rose menuju kamar Adinda dengan buru-buru dan langsung menghampiri gadis cantik itu.


"sayang, ada apa? kenapa kau belum makan juga? apa kau tidak kasihan pada bayimu yang kelaparan di dalam sana?." Rose mengusap wajah Adinda dengan lembut, kemudian Adinda menangis dan memeluk Rose

__ADS_1


"Mom, aku sangat merindukan anakku." Rose mengerti posisi Adinda saat ini, lalu ia memberitahu kepada William bahwa Adinda sangat ingin bertemu putra nya.


"William, putri kita sangat ingin bertemu pada anaknya, bisa kah kau memberitahu Satria agar dia datang membawa anak kecil itu?." Rose bertanya, William khawatir dan langsung mengangguk


"aku akan segera menghubungi Satria untuk datang kemari dengan putra nya." William mengambil ponsel di sakunya lalu menelepon Satria, tetapi tiba-tiba yang muncul adalah suara seorang wanita.


"halo Tuan, suami saya sedang sibuk, jangan ganggu dia dengan alasan apapun! kami baru saja kehilangan anak kami yang berharga." Satria baru saja kembali dari kamar mandi dan mendengar ucapan Emily barusan, saat hendak merebut ponsel itu, Emily sudah lebih dulu mematikan nya.


"apa-apaan kamu? kenapa kamu mengatakan hal tidak sopan begitu?!." Satria marah, Emily terkejut dan segera meletakkan ponsel Satria ke tempat semula.


"bagaimana William?." tanya Rose


"aku sudah menelepon nya, tetapi sepertinya wanita palsu itu yang menjawab, dia bilang bahwa Satria sedang sibuk karena mereka baru saja kehilangan anak berharga nya." ucap William, Adinda yang sedang menuruni tangga segera terkejut mendengar berita itu


"apa?! siapa yang hilang?! apakah anak ku hilang?! Arkan hilang?!." Satria berjalan sambil tergesa-gesa, ia memegang tangan William dan terus bertanya


"sayang, sabar, kita akan tahu kebenaran nya setelah Satria datang kemari." ucap Rose berusaha menenangkan Adinda


"aku tidak bisa bersabar lebih lama lagi, aku harus pergi sekarang." Adinda mengambil kunci mobil yang telah diberikan oleh Rose untuk nya, namun William menahan gadis itu.


"jangan Adinda, Dad tidak akan mengizinkan kamu pergi." William bersikeras untuk melarang Adinda keluar dari dalam rumah


ketika Adinda ingin memaksa keluar, ponsel William kembali berdering, lalu ia mengangkat nya


"Satria, syukurlah kau menghubungiku." ucap William merasa lega


"maafkan aku, tapi tadi wanita itu benar-benar menyebalkan, sekarang aku sudah berada di ruang kerja, pintu itu terkunci jadi dia tak dapat melihat atau mendengar apapun." ucap Satria


"Satria, Adinda saat ini sedang mengkhawatirkan putra nya, dia melamun dari tadi sampai-sampai tidak mau makan, dia merindukan Arkan." ucap William, wajah Satria seketika berubah, dia sangat panik dan khawatir kepada istrinya


"berikan ponsel ini pada istriku." William memberikan nya kepada Adinda lalu Adinda segera berbicara


"Mas?! dimana Arkan? apakah dia hilang?! katakan padaku dimana dia?." tanya Adinda, ia berkata hal itu sambil menangis, Satria patah hati, ia menenangkan istrinya


"sayang, Arkan baik-baik saja, aku janji akan mengunjungimu besok lalu membawa Arkan ke hadapanmu." sahut Satria, Adinda menghela nafas lega kemudian menghapus tangisnya


"tolong tepati janjimu, aku akan menunggu anak ku disini." ucap Adinda, Satria kembali meneruskan "anak kita sayang."


"a-apakah kau tidur dengan wanita itu sepanjang malam?." wajah Adinda muram


"aku hanya tidur dengan nya saat aku belum tahu siapa dia, kemudian saat aku tahu dia bukan dirimu, aku sama sekali tak tidur sebelahan dengan nya." ucap Satria menjelaskan


"jangan kecewakan aku Mas, aku tidak mau kau mengulangi kesalahan itu lagi, kalau kau berani mengulanginya, aku pastikan kau tak akan pernah bertemu denganku dan Arkan seumur hidup kamu." Adinda bersumpah, entah kenapa hatinya saat ini menjadi khawatir, ia tak mau suaminya menyentuh tubuh wanita itu walaupun hanya sedikit saja.


sementara Satria diam membeku, ia tahu kali ini Adinda serius mengatakan nya, ia tak mau kehilangan istri dan anaknya, Satria sangat mencintai mereka!


"aku tidak akan mengecewakan mu, aku berjanji, setelah aku selesai memberinya pelajaran, aku akan membuangnya." kata Satria, lalu Adinda tak berkata apapun lagi selain memberikan ponselnya ke William

__ADS_1


Adinda pergi menuju kamar dan langsung mengunci pintu.


__ADS_2