Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
tokcer


__ADS_3

"permisi tuan, dokter sudah datang." ucap Desi, kemudian dokter itupun masuk dan mulai mengecek keadaan Adinda


"tolong pastikan kalau istriku akan baik-baik saja." ucap Satria khawatir, beberapa menit kemudian setelah dokter berhasil mengecek keadaan Adinda, ia pun berbalik menatap Satria yang masih setia menunggu dibelakangnya.


"tuan, saya rasa anda sangat beruntung." kata dokter itu tersenyum


"maksud mu?." Satria menaikan salah satu alisnya karena bingung dengan apa yang dikatakan dokter


"saat ini istri anda sedang hamil tuan, dan usia nya baru saja menginjak 2minggu." kata dokter lagi, kemudian mata Satria mulai berbinar-binar


"benarkah?! istriku hamil? kau tidak bohong kan?." tanya Satria


"benar tuan, apakah anda melihat nona Adinda merasa mual akhir-akhir ini?." tanya dokter serius


"saya tidak pernah melihatnya mual, tapi saat sebelum pingsan tadi, saya baru saja melihatnya." kata Satria, kemudian dokter menuliskan resep obat untuk Adinda dan janin nya, lalu ia pamit pergi


"oh ya tuhan, kenapa kau tidak bilang padaku kalau kau merasa mual.." ucap Satria memegangi tangan istrinya lembut, tak lama Tania dan Selin pun datang karena melihat dokter keluar dari kamar atas


"Satria? apa yang terjadi? apakah Adinda sakit?." tanya Tania khawatir


"tidak ma, Adinda tidak sakit, memang awalnya aku mengira begitu, namun dokter berkata bahwa istriku sedang hamil." kata Satria bersemangat


"benarkah?!! Adinda hamil lagi?." tanya Tania senang


"benar ma, aku betul-betul tidak menyangka kalau semua ini akan terjadi." kata Satria


"wow, istrimu sangat tokcer." kata Selin tertawa kecil, ketika mereka semua sedang membahas kehamilan Adinda, seketika Adinda pun terbangun dan melihat sekeliling nya ramai


"k-kalian sedang apa?." tanya Adinda


"kau baru saja pingsan dan Satria memanggilkan dokter untukmu." ucap Tania Anggara, kemudian Adinda segera memeluk tubuh wanita itu dan mengadu tentang apa yang terjadi sebelumnya


"mama..." ucap Adinda


"iya sayang, ada apa? kau lapar? atau ingin makan sesuatu?." tanya Tania, Adinda hanya menggelengkan kepala dan kembali berbicara


"mas Satria tega ma, dia memeluk wanita lain dibelakang ku." kata Adinda dengan manjanya


"apa itu benar Sat? kau memeluk wanita lain tanpa sepengatahuan Adinda?." tanya Tania mencoba memelototi putra nya, Satria segera menggeleng dengan gugup dan berkata


"aku akan menceritakan semuanya padamu nanti ma." kata Satria, lalu Selin berbisik ke arah Tania dengan sangat pelan


"mama harus marahi Satria, sementara ini biarkan Adinda mengeluh tentang suaminya padamu, karena bisa saja bawaan bayi jadi dia begitu manja dan ingin diperhatikan lebih." kata Selin, segera saja Tania mengangguk dan tersenyum hangat ke arah Adinda

__ADS_1


"sayang, kau mau makan lagi? atau kau ingin berjalan-jalan?." ucap Tania bertanya, ia sengaja menanyakan hal itu karena takut Adinda mengidam diam-diam


"tidak ma, aku ingin disini." jawab Adinda


"Adinda, sini peluk sama mas aja ya, mama kan harus beristirahat." ucap Satria, Adinda segera menatapnya dan menyipitkan mata


"urusanmu denganku belum selesai mas, jadi jangan coba-coba untuk memeluk istrimu hari ini." kata Adinda


"mas kan sudah minta maaf padamu, apa mas harus melakukan sesuatu agar kamu tidak marah lagi?." tanya Satria


"tidak perlu, aku tidak mau suamiku melakukan apapun, aku hanya ingin kau merasakan betapa tersiksanya tidak menyentuh diriku sehari saja." jawab Adinda kemudian dia memeluk Tania lagi


"sudah-sudah, jangan bertengkar, kasihan kan kalau bayimu mendengar keributan ini." kata Selin membuat Adinda terkejut


"bayi?!." ucap Adinda, kemudian mereka bertiga mengangguk secara bersamaan, cepat-cepat Adinda memegang perutnya


"apakah ada bayi di dalam perutku?." kata Adinda lagi, ia memperhatikan perutnya yang masih kecil


"iya sayang, dokter berkata kalau kau sedang hamil, usia kandungan mu baru saja memasuki dua minggu." ucap Satria menjelaskan, lalu Adinda menggeser tubuhnya untuk mendekat ke arah Satria, Selin dan Tania hanya tertawa kecil melihat kelakuan itu


"hmmm, kau sedang berkata jujur kan?." kata Adinda menatap mata suaminya, lalu Satria mengangguk dan memeluk istrinya, Adinda hanya menenggelamkan wajahnya di dada Satria


"aku dengar barusan ada yang bilang kalau dia ingin melihat suaminya tersiksa saat tidak menyentuh istrinya seharian." ucap Selin menggoda Adinda


"aku tidak akan pernah berhenti menyentuhmu, kecuali aku sedang berada di kantor tanpa kehadiranmu sayang." ucap Satria mengelus pipi istrinya


"tapi kau harus janji padaku, jangan pernah berani untuk menggoda wanita lain selain diriku, jangan pernah memeluk wanita lain selain diriku, dan jangan pernah kamu...." belum sempat mengatakan kalimat selanjutnya Satria sudah lebih dulu menyahuti


"aku berjanji tidak akan menyentuh wanita lain, aku berjanji tidak akan menggoda wanita lain, aku berjanji tidak akan memeluk wanita lain, aku juga berjanji tidak akan mencium wanita lain, aku berjanji kalau hanya kamu yang akan mendapat semua perlakuan itu." kata Satria dibalas tawa oleh Selin dan Tania


"kau berdua memang pasangan yang menggemaskan." ucap Selin lagi kemudian mengajak Tania pergi dari kamar itu


"mas..." ucap Adinda tersenyum


"apa? kau mau apa? buah? biar aku ambilkan untukmu." kata Satria


"aku ingin mas menggendongku dari kamar ini menuju taman." ucap Adinda lagi, tanpa menjawab Satria segera menggendong istrinya dan turun kebawah menuju taman belakang


"kau berat sekali ya." kata Satria meledek, mendengar hal tersebut Adinda langsung memelototi suaminya


"tenang, aku hanya bercanda padamu." sahut Satria, sesampainya di taman Satria menurunkan Adinda tepat di kursi, mereka berdua pun duduk dengan mesra.


"sebelum aku menikah denganmu, aku sering duduk di kursi ini sendiri dan berharap kamu bisa menemaniku sesekali." ucap Adinda mengingat masa lalunya

__ADS_1


"aku sering menemukan wanitaku tertidur dengan nyenyak tepat di kursi ini." kata Satria, Adinda menyadari kalau suaminya sedang membicarakan dirinya yang dulu sering tertidur di taman


"aku juga ingat, saat aku bangun dari tidurku, aku sudah berada di dalam kamar dan aku tahu kalau kamu yang menggendongku ke sana." kata Adinda percaya diri, lalu Satria tertawa mengejek


"padahal yang membawamu ke kamar adalah pak Rahman." ucap Satria, karena malu Adinda memukuli suaminya pelan dan menatapnya marah


"ih mas! kau sungguh menjengkelkan!." ucap Adinda


"hahahaha, aku senang melihatmu marah, lucu dan sangat mempesona, jangan khawatir, aku hanya bercanda, mana mungkin aku rela kalah start dengan supir keluargaku sendiri, pastinya aku akan membawamu ke kamar dan diam-diam mencium kening mu." balas Satria


"kau mencium keningku saat aku tertidur?!." tanya Adinda


"ya, sering kali aku merasa bodoh karena aku hanya bisa melakukan nya tanpa sepengetahuan mu, tapi aku tidak memiliki keberanian untuk melakukan nya langsung dihadapan mu." ucap Satria


"dasar, laki-laki tidak gentleman!." kata Adinda


"aku juga sering memandangi wajahmu saat kamu tertidur, satu lagi, waktu kamu tenggelam di kolam renang, dan kau pingsan dengan tubuh yang basah kuyup, kau tau kalau pada hari itu akulah yang menggantikan pakaianmu." ucap Satria mengaku, dulu dia memang benar-benar menggantikan pakaian istrinya, bahkan dia melihat tubuh mulus dan seksi itu dengan penuh kekaguman dibenaknya.


"mas! kau sungguh kurang ajar! bisa-bisanya kamu mengambil kesempatan dalam kesempitan!." kata Adinda memukul-mukuli suaminya lagi, tetapi Satria hanya tertawa


"aku tidak menyangka, kalau aku bisa memiliki tubuh itu sekarang, aku bisa merasakan kehebatan istriku ketika sedang bermain di ranjang." ucap Satria tertawa geli


"awas kamu ya mas! aku akan katakan hal ini pada mama!." sahut Adinda bangkit dari kursi dan ingin bertemu dengan Tania namun Satria menariknya


"hei, percuma saja, kita sudah menikah sekarang, mama tidak akan perduli dengan hal itu." kata Satria


"tapi bagaimana kalau dulu kau bukan menikah denganku?! itu akan menjadi kesalahan besar bagi kita berdua, kau akan terus mengingat tubuhku, dan aku hanyalah orang bodoh yang tidak tahu kalau seorang laki-lak..." Adinda hendak melanjutkan kata-kata itu tetapi Satria segera mencium bibir istrinya dan menahan tangan istrinya yang mencoba memberontak itu.


Satria mengunci tangan Adinda sampai dia tak mampu bergerak, perlahan-lahan Satria melumuti bibir itu, dan menjelajahi dalamnya, Adinda yang awalnya menolak tiba-tiba merespon dan mulai membalas perbuatan suaminya tersebut.


Adinda melepaskan genggaman Satria dan melepas ciuman itu, kini lidahnya menjulur pada tengkuk leher suaminya dan terus beralih pada tiap bagian yang belum disentuhnya saat ini. Satria hanya bisa merasakan nikmat ketika Adinda terus menjelajahi tubuhnya, Adinda juga meninggalkan bekas-bekas tanda merah yang mengartikan rasa cintanya kepada Satria.


nafas Satria terdengar tidak teratur, Adinda tersenyum bangga karena selalu berhasil membuat suaminya gila, dia tak henti-henti mengecup tubuh Satria, sampai akhirnya Satria mendorongnya dan kembali membalas perbuatan cinta itu.


ketika sore menjelang malam, Adinda dan Satria ingin pergi mandi, lalu dia bertemu dengan Jonatan yang baru saja mengambil segelas air dari arah dapur.


Jonatan terkejut melihat sepasang suami istri yang leher nya masing-masing banyak bekas kemerahan.


"hei! apa kau habis bermain ****** selama berjam-jam?." tanya Jonatan


"hahaha, memang dan itu sangat menyenangkan, aku sarankan kau mencobanya bersama Selin." sahut Satria melingkarkan tangan nya di pinggang Adinda, sementara Adinda merasa malu karena jawaban sang suami begitu juga dengan lehernya yang kini banyak bekas cupangan.


Jonatan cepat-cepat ke kamar dan melihat Selin sedang asik dengan ponselnya, ia mendekati Selin dari belakang dan meraba bagian tubuhnya, karena merasa terkejut Selin segera menampar wajah orang itu, dan saat dia tahu bahwa Jonatan yang melakukan nya, jantungnya berdebar dengan cepat.

__ADS_1


"m-maafkan aku, k-kau membuatku kaget." kata Selin memegang tangan Jonatan yang kesakitan


__ADS_2