Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
Kedatangan tamu


__ADS_3

Arkan mengambil ponsel dan meminta orang-orangnya untuk mencari tahu kejadian barusan.


"Dapatkan hasil rekaman CCTV nya." Perintah Arkan.


Setelah mereka menemukan bukti, dengan cepat dikirimkan ke Arkan.


"Pria itu benar, dia menyelamatkan Adikku." Ucap Arkan.


Besoknya, pagi-pagi sekali Agatha terbangun, lalu terkejut melihat sekelilingnya.


"Kamar ?? ini kamarku kan ?." Ucap nya kebingungan.


"Siapa yang membawaku kemari." Agatha membuka selimut ditubuhnya kemudian mencium aroma parfum yang sama sekali tidak pernah dia kenali.


"Wanginya berbeda dengan parfum Kakak." Agatha mengendus badan nya sendiri seperti kucing.


"Tapi aku tak ingat apapun, aku cuma ingat mereka terus memaksaku untuk minum." Ia tak mau pusing lagi, dan segera mandi.


Diluar, Agatha mencari Kakaknya karena ingin bertanya.


"Sudah bangun ? bagaimana mabuknya semalam ?." Kata Arkan, Agatha segera menghilangkan pertanyaan tersebut karena alasan tak berani.


"A-aku hanya dipaksa." Ucap Agatha.


"Lalu kenapa kau mau ? kukira Adikku tidak sebodoh itu." Arkan menuangkan segelas susu untuk Agatha.


"Jadi Kakak bilang aku bodoh ?." Ia mendangak, menatap Kakaknya.


"Kalau bukan, lalu apa ?." Arkan menyodorkan susu.


"Jahat." Agatha mengambil susu dari tangan Arkan lalu meminumnya dengan malas.


"Lebih baik jadi jahat demi menyadarkanmu, sejak kapan Adikku menjadi pemabuk, aku benci hal itu." Arkan pergi meninggalkan Agatha yang mematung.


"Tak boleh ! Kakak tidak boleh berubah menjadi dingin karena ulahku semalam, aku harus meminta maaf padanya." Agatha berlari memeluk Arkan.


"Tak perlu merayuku, kali ini tidak ada artinya." Arkan melepaskan tangan Agatha.


"Tidak, tidak ! ini bukan rayuan, aku benar-benar bersalah, dan aku janji tidak akan mengulanginya." Kata Agatha memohon.


"Minta maaflah pada diri sendiri, jika tidak ada yang menolongmu semalam, kau mungkin masih tergeletak diranjang bersama bajingan itu." Perkataan Arkan membuat Adiknya berpikir lagi. Pria didepan nya pun pergi.


"Siapa yang disebut bajingan ? dan siapa yang menolongku ?." Agatha menerima pesan berupa video dari sang Kakak.


"Video apa ini ?." Ia membuka video tersebut, dan betapa terkejutnya kalau ternyata semalam dia dilecehkan oleh William.


"Aaaargh !!!!!! brengsek !!!!." Agatha berteriak seraya melempar ponsel miliknya ke sembarang arah.


Suara keras yang keluar dari mulut Agatha membuat semuanya terkejut, Adinda dan Satria bahkan sampai mendatangi putrinya.


sementara Arkan hanya memperhatikan dari kejauhan.


"Sayang, kau baik-baik saja ? kenapa kau marah dan melempar ponselmu ?." Tanya Adinda memegang tangan Agatha.


"Kau membuat semua orang terkejut, apa yang terjadi ?." Kata Satria.


"Iya Agatha, kau kenapa ? Nenek sangat khawatir." Ucap Tania mendekati cucunya.


"Tinggalkan dia, biarkan anak itu menyelesaikan masalahnya sendiri, kalian tidak perlu merasa khawatir." Sahut Arkan dikejauhan.


"Ada apa dengan Adikmu ?." Adinda menghampiri putranya.


"Hanya masalah kecil, Bunda tidak usah khawatir, biarkan dia sendiri, terkadang kita perlu merenungkan apa yang telah kita perbuat agar menyadari seberapa besar kesalahannya." Arkan menemani Adinda ke kamar.


Agatha pergi berlari ke kamar, ia berusaha menghubungi William.


"Ada yang bisa kubantu ?." Tanya William.

__ADS_1


"Temui aku." Agatha mengirimkan pesan berupa lokasi untuk mereka bertemu.


Setibanya disana, William mendekati Agatha dan bertanya begitu lembut.


"Untuk apa mengajak bertemu ? kita baru saja.." Belum sempat menyelesaikan kalimat itu, sebuah tamparan keras lebih dulu mendarat diwajahnya.


PLAKKKK !


"Agatha ! apa yang kau lakukan ?!." William kaget.


"Apa yang aku lakukan ? kau bertanya seperti itu padaku William ??!!!." Agatha menyodorkan ponsel digenggaman nya dengan kasar, lalu William melihat isi video tersebut.


"A-aku sama sekali tidak sadar ! aku tidak bermaksud melakukan itu, kau tahu kita teman kan ?." William sangat panik.


"Harusnya semalam aku tidak datang ! dari awal sudah ku katakan bahwa aku tidak pandai minum alkohol, kau semua justru memaksaku, atau kau sengaja meminta Jess untuk membuat aku mabuk ?! katakan William !." Agatha mendorong pria itu terus menerus.


"Agatha hentikan ! kita sedang mabuk semalam, aku sama sekali tidak tahu kalau aku berbuat seperti ini !." William memegang bahu Agatha.


"Jangan sentuh aku ! setelah ini jangan harap kita akan bertemu lagi." Agatha hendak pergi kemudian William menahan nya.


"Kau berkata apa ?! ini hanya salah paham, kau tidak bisa bicara begitu." Kata William.


"Lepaskan tanganku." Agatha menarik tangan nya secara paksa.


"Agatha, kita bisa bicarakan ini baik-baik." Ucap William, ia takut apa yang Agatha katakan menjadi kenyataan.


Selama ini William memang menyimpan rasa pada Agatha, namun mulutnya tak punya keberanian untuk berkata jujur.


Tanpa mendengar perkataan William lagi, Agatha segera pergi dan masuk kedalam mobilnya.


Ia menginjak pedal gas dalam keadaan emosional.


"Dasar bajingan ! aku bahkan tak bisa percaya lagi dengan kata-katanya." Ucap Agatha, ia semakin mempercepat laju mobil tersebut, namun tiba-tiba didepan ada seorang wanita muncul.


Agatha berteriak dan mengerem sambil memejamkan mata.


"Kau tidak waras ya ?! mau apa berdiri ditengah jalan seperti ini !." Kata Agatha.


"Kenapa berhenti ? seharusnya kau tabrak saja aku." Ucap wanita tersebut.


"Kau ingin mati ? sayang sekali, diluar sana masih banyak orang yang kesulitan untuk bertahan hidup, namun disini ada seorang wanita yang menyia-nyiakan hidupnya." Agatha memutar kunci mobil dijari tangan nya lalu meminta wanita itu pergi.


"Aku tidak akan pergi, aku akan tetap disini dan memohon kepadamu." Jawabnya lagi.


"Kau gila ! bagaimana jika aku yang mati karena kebodohanmu ?!." Agatha berteriak.


"Tabrak aku ! tabrak !." Si wanita menangis, lalu menjatuhkan badan nya dijalanan.


"Hei ! kalau kau tidak bangun, aku akan menghubungi rumah sakit jiwa." Kata Agatha menekankan.


"Kau tidak tahu rasanya seperti aku." Mendengar ucapan itu, Agatha memijit kepalanya sedikit dan menarik wanita tersebut masuk kedalam mobilnya.


"Ayo pergi." Mereka berdua menuju kediaman Anggara.


Setibanya disana Agatha mengajak wanita itu keluar kemudian masuk kedalam rumahnya.


"Agatha, siapa yang kau bawa ?." Tanya Nenek.


"Dia temanku, sebaiknya kau tunggu disini, aku akan berganti pakaian." Ucap Agatha.


Arkan sedang menuruni tangga kemudian melihat adiknya sudah pulang, lalu menoleh ke wanita yang duduk disebelah Nenek, kakinya terhenti.


"Pria itu.." Gumam si wanita.


"Arkan ? kenapa diam disitu, ayo kemari." Nenek mengajaknya duduk bersama.


"Mau apa kau ?." Tanya Arkan dingin.

__ADS_1


"Hei, jangan dingin begitu pada wanita, dia ini teman adikmu." Balas Tania.


"Teman ? sejak kapan ?." Tak lama Agatha pun keluar, lalu Arkan segera menyorot matanya dengan tajam.


"Kakak, kenapa ?." Tanya Agatha.


"Aku perlu bicara." Arkan membalikkan badan lalu pergi, diikuti oleh Adiknya, Agatha.


"Kenapa sih Kak ?." Tanya Agatha.


"Nenek bilang kalau wanita itu temanmu ? sejak kapan ? aku hampir mengenal seluruh teman-temanmu tapi tidak pernah melihatnya." Kata Arkan.


"Ah itu, tadi aku hampir menabraknya." Mendengar perkataan Agatha, sontak Arkan pun terkejut.


"Menabrak ?! lalu apa kau baik-baik saja ?." Ucap Arkan.


"Aku sangat baik-baik saja, tapi kurasa wanita itu..." Belum selesai bicara, Arkan sudah memegang tangan Agatha dengan kuat, wajahnya terlihat tegang dan khawatir.


"Kau tidak perlu berteman dengannya." Kata Arkan.


"Lho ? kenapa tiba-tiba begitu ? Kakak mengetahui sesuatu ya ?." Kata Agatha lagi.


"Aku yakin ada yang tidak beres pada wanita itu, dan aku minta padamu setelah ini jangan pernah bertemu lagi olehnya." Agatha mematung, ia sama sekali tak mengerti apa yang Arkan katakan.


"Kakak berhutang penjelasan padaku." Ucap sang Adik.


"Sekarang temui dia dan minta dia pergi." Perintah Arkan.


"Kakak tega sekali kalau menyuruhku melakukan itu." Agatha marah.


"Pakai cara lain, apapun !." Arkan pergi meninggalkan Agatha. Wanita itu segera pergi menemui orang yang baru saja dia bawa.


"Siapa namamu ?." Tanya Agatha.


"Namaku Rain." Sahutnya.


"Rain ? nama yang bagus." Agatha meminta pelayan untuk membawakan segelas teh hangat.


"Rumahmu besar, seperti istana." Kata Rain.


"Terimakasih, lebih tepatnya ini rumah keluargaku, kau menyukainya ?." Rain mengangguk sambil tersenyum.


"Rain, dari mana kau berasal ? Dan sebelum itu kau harus menjelaskan kenapa nekat berdiri ditengah jalan seperti tadi, kau berjanji akan menceritakannya padaku kan ?." Kata Agatha yang melihat Rain sudah jauh lebih tenang.


"Aku tidak pernah mengingkari janjiku, jadi akan aku ceritakan sebabnya." Rain membuka suara, menceritakan semua yang terjadi, sampai-sampai hal itu membuat Agatha merinding dan takut.


"Ceritamu sangat menakutkan, Nenek harus istirahat, semoga ada jalan keluarnya." Tania pun pergi.


Dibalik ruang tamu, ada Arkan yang diam-diam mendengarkan percakapan mereka berdua.


wajahnya mengernyit, tak disangka Rain hanyalah korban dari semua yang terjadi.


"Lalu, apa rencanamu selanjutnya ?." Tanya Agatha.


"Aku sangat lelah, rasanya ingin mati." Kata Rain mengeluarkan air mata.


"Tidak boleh bicara begitu, sekarang anggap saja aku ini teman dekatmu, kapanpun kau butuh bantuan, aku pasti akan datang." Agatha tersenyum.


"Tidak semudah itu Agatha, aku tidak akan membiarkan siapapun ikut campur dalam urusanku, aku hanya takut kalian semua terluka." Rain.


"Bisakah kau memberitahuku dimana kau tinggal ? atau aku bisa menjamin hidupmu agar kau terhindar dari pria brengsek itu." Ucapan Agatha membuat Rain sedikit terharu.


"Aku memang hidup seorang diri, tapi aku tidak ingin bergantung pada siapapun, aku senang kau mau membantuku, aku juga senang bisa bertemu denganmu Agatha, tapi maaf aku tidak bisa." Agatha menghela nafas panjang.


"Wanita sebaik kamu saja masih bisa disakiti, kalau kau butuh bantuan katakan saja padaku, ini kartu namaku, kau bisa hubungi nomor itu kapanpun." Arkan segera datang dan menarik kartu nama Adiknya.


"Jangan mengambil keputusan sendiri Agatha ! kau ini siapa ? tidak perlu ikut campur pada urusan orang lain, kau Adikku satu-satunya, aku tak akan rela jika kau dalam bahaya." Kata Arkan merobek kartu tersebut.

__ADS_1


__ADS_2