
setelah menduduki meja makan, Adinda pun mengambilkan suami nya sepiring nasi dan juga berbagai lauk.
"nih mas, nanti kalau mau nambah biar aku ambilkan lagi." kata Adinda
"nambah nambah, kamu pikir mas serakus itu makan nya?." kata Satria
"hihihi enggak sih, kan aku bilang kalau." balas Adinda tertawa kecil
Mereka berdua segera menyantap makanan nya sampai habis, lalu setelah selesai mereka kembali ke kamar untuk menunggu sejenak dan bersiap.
"mas, perut aku ko sakit ya." kata Adinda
"apa?! sakit perut kamu sayang? yang mana?! kasih tau aku." kata Satria segera menghampiri istri nya
"ini mas, sakitt." ucap Adinda meringis kesakitan dengan kedua mata nya yang terpejam
"mas elus elus ya, siapa tau hilang sakitnya." kata Satria mengusap lembut perut istri nya, ia berusaha menenangkan Adinda agar tidak terlalu merasakan sakit
beberapa menit kemudian,
"gimana? masih sakit banget? mau ke dokter aja?." kata Satria
"enggak mas, udah gapapa ko." sahut Adinda menarik nafas
"yakin gapapa?." tanya Satria
"gapapa, kita jalan sekarang ya mas." pinta Adinda yang langsung dituruti suami nya
Satria turun ke bawah dan menyuruh Desi untuk bersiap, ia menggendong putra kecilnya menuju kamar atas untuk bertemu sang bunda
"ndaaa daaa." kata Arkan terlihat senang
"halo sayang, bunda kangen banget sama kamu." kata Adinda mengambil alih putra nya dari sang suami
"hati hati, awas perut mu sakit lagi." kata Satria khawatir
"anak bunda belum bobo nih, mau pergi ya? Arkan mau pergi sama ayah sama bunda?." kata Adinda
"gii, gi yayah nda." ucap Arkan lagi
"cepat besar ya nak, bunda sayaaaaang banget sama kamu." kata Adinda mencium putra nya lalu menggendong nya untuk turun ke bawah
"ayo mas, Desi pasti sudah selesai." kata Adinda
"sini Arkan biar sama aku aja, kamu nanti sakit lagi gimana?." ucap Satria
"ssstttt, aku ingin dekat dengan putra ku." ucap Adinda, Satria hanya bisa menurut dan membantu Adinda menuruni anak tangga
__ADS_1
"pelan pelan ya sayang, jangan terburu buru turun nya." kata Satria
tak lama pun mereka semua segera memasuki mobil dan berangkat menuju kota D.
karena perjalanan yang sangat jauh, Adinda mengoper Arkan kepada Desi yang duduk dibelakang, ia tak kuat karena mendekap putra nya terlalu lama, apalagi takut jika ia mendadak ketiduran lalu putra nya terbentur pintu mobil atau lain lain.
"Des tolong pangku anak ku." kata Adinda
"sayang kamu tidur aja, nanti kalau sudah sampai aku pasti bangunin kamu." ucap Satria dianggukan oleh istri nya
"aku tidur ya mas, kamu hati hati bawa mobil nya." ucap Adinda lalu mengecup pipi suami nya dan menyandarkan dirinya ke kursi mobil lalu tertidur
saat baru saja setengah jam perjalanan, mobil Satria mendadak berhenti, hal itu membuat Desi dan Adinda sangat terkejut, Arkan yang tidur pulas untung nya tidak terbangun.
"mas?! ada apa sih?." kata Adinda
"sayang maaf, aku minta maaf udah ganggu kamu tidur, lihat di depan, ada beberapa preman sedang menggoda wanita itu." kata Satria
"astaga mas! kamu harus bantu dia." kata Adinda
"apa?! kenapa harus aku yang membantu nya?!." kata Satria kaget
"lho mas, kamu takut sama preman itu?." kata Adinda
"aku tidak takut sayang, tapi aku tidak mengenal wanita itu sama sekali." ucap Satria lagi
"kamu kalau bicara jangan sembarangan! mas tidak mau kamu ada di posisi wanita itu!." kata Satria marah
"gaada waktu untuk marah, cepat!!." ucap Adinda meminta suaminya keluar, lalu Satria pun keluar dari mobil tersebut
"hei!!!! jangan cuma berani sama wanita!." kata Satria meneriaki preman itu
"lindungi suami ku ya tuhan." ucap Adinda
"jangan ikut campur!! ini bukan urusan mu!!!." kata preman itu ingin memukul Satria namun Satria menghindar, mereka kini saling tinju tinjuan, sementara wanita tersebut hanya menyingkir dengan rasa ketakutan
BUGHHH!!! BUGHHH!!! beberapa kali tinjuan itu terlempar dari tangan Satria, bahkan tendangan nya pun keluar dan membuat preman preman itu terjatuh, Satria segera menghampiri wanita yang sedang sial itu.
"kamu baik baik saja?." ucap Satria, saat ia melihat wajah nya ternyata ia kenal siapa wanita itu
"tuan Satria?." kata wanita tersebut yang ternyata adalah Sofie
"kamu lagi?!." ucap Satria menatap wajah dan pakaian Sofie yang sangat berantakan
ketika mereka berdua sedang beradu tatap, lalu preman itu bangun dan ingin memukul Satria dengan kayu yang ia pegang, tetapi Sofie melihat nya dan berusaha menyelamatkan Satria
"tuan awas!!!!!." teriak Sofie memajukan tubuhnya dan menghadapkan tubuh ke arah preman itu
__ADS_1
"mas Satria!!!!!!!." ucap Adinda keluar dari dalam mobil dan segera berlari, namun Sofie sudah lebih dulu menolong Satria
"aaaagh." lenguhan suara Sofie yang terkena pukulan di bagian bahu, lalu ia jatuh pingsan di pelukan Satria, saat Satria sedang fokus berusaha membangunkan Sofie justru para preman melihat ke arah Adinda yang ternyata jauh lebih cantik dan seksi dari pada wanita yang baru saja pingsan
"whahaha, ternyata ada untung nya juga melepas sebuah lalat dan mendapatkan kupu kupu." kata preman itu, mereka segera mendekati Adinda dan menarik tubuh nya
"aaahhh lepaskan!!!! masss!!!!! tolong aku!!!." teriak Adinda, Satria segera menoleh karena mendengar istri nya menjerit, lalu ia lepaskan wanita yang pingsan itu dengan kasar dan langsung beralih pada Adinda
"LEPASKAN ISTRI KU!!!! BRENGSEK!." kata Satria dengan murka, tatapan mata nya benar benar menakutkan
preman itu segera mengeluarkan sebilah pisau dari saku nya dan di arah kan ke Adinda
"diam disitu atau aku akan habisi wanita ini!!!!." kata preman tersebut, Adinda hanya menangis seraya menggelengkan kepala nya, ia benar benar takut dan merasa terancam
"BAJINGAN!!!! AKU AKAN MEMBUAT MU MENYESAL KARENA BERANI MENYENTUH ISTRI SATRIA ANGGARA!!!!!." balas Satria kembali ke mobil lalu mengambil sebuah pistol dari mobil tersebut, ia langsung mengarahkan pistol itu ke para preman
"hei!! turunkan pistol mu!!!!." kata preman
"mas jangan mas!!." teriak Adinda menangis
"sayang?! kamu harus bertahan, aku akan menyelamatkan kamu!." kata Satria, ia segera menembakkan pistol itu ke preman satunya, hingga preman tersebut jatuh tak berdaya.
karena merasa panik, preman yang sedang membekap tubuh Adinda tidak sengaja menjatuhkan pistol nya sampai mental lumayan jauh dari tempat ia berdiri.
perlahan Satria mendekati preman itu dengan pistol yang masih terarah, namun preman itu menyikut bahu Adinda sampai Adinda pingsan, lalu ia menggendong wanita yang ia sikut itu dengan kokoh dan berbalik arah untuk lari
"Adinda!!!!!!!." teriak Satria dengan penuh amarah, segera saja ia tembakkan peluru itu ke kaki sang preman, dengan keahlian yang ia miliki, tembakkan tersebut sangat tepat pada sasaran.
preman itu pun jatuh dan tak mampu berdiri lagi.
Satria berlari menuju arah istri nya, dan menggendong Adinda lalu masuk ke dalam mobil
"sayang?!!!! sayang bangun!!!." kata Satria penuh keringat yang mulai membasahi seluruh tubuhnya, padahal ac mobil yang ia miliki menyala, tapi karena rasa khawatir yang sangat besar justru membuat nya panik sampai keringetan
"Desi, cepat hubungi nomor ini!." kata Satria kepada Desi yang syok
"ayo Desi cepat!!!!!!!!." teriak Satria, Arkan pun terbangun dan menangis karena mendengar suara bentakkan, Desi yang tersadar segera menenangkan Arkan lalu menghubungi nomor yang tuan Satria minta
"halo? ada tuan menghubungi saya?." kata Farel
"sini biar aku yang ngomong!." kata Satria merebut hp itu
"cepat datang kemari! adik mu di sakiti preman! sekarang ia pingsan! aku segera kirim lokasi nya." kata Satria mengirimi lokasi tersebut, dengan cepat Farel pun bergegas untuk datang ke tempat Satria
"sayang, kamu tunggu dulu disini, aku janji akan kembali." kata Satria berlari keluar untuk meletakkan tubuh Sofie disebuah kursi pinggir jalan, ia tak mau membawa wanita itu ke dalam mobilnya karena Satria pikir dia benar benar wanita pembawa sial, selalu membuat istri nya celaka.
"maafkan aku Farel, aku tidak bisa membawa adik mu, semoga kau datang dengan cepat dan menolong nya, aku harus utamakan keselamatan istri ku." kata Satria memasuki mobil, lalu ia menancapkan gas untuk menuju rumah sakit terdekat
__ADS_1