KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 10: PERGUMULAN MALAM


__ADS_3

    RINI sangat tega harus menyekap Yudi di dalam kamarnya. Tetapi menurutnya, inilah saat yang tepat untuk bicara dengan Yudi, laki-laki yang mengganggu pikirannya. Maka hal terbaik menurut Rini adalah menyelesaikan masalah secepatnya.


    "Yudi, AC di kamar ini udah gue maksimalin dinginnya. Udah pol paling dingin. Tapi bagiku masih terlalu panas. Elo tahu kenapa?" kata Rini pada Yudi.


    Yudi yang duduk di sofa kamar hanya diam saja. Meski ia mendengar kata-kata Rini, tapi seolah tidak paham yang dikatakan Rini.


    "Ya ampun ..., Yudi .... Elo jangan gitu dong, Yud! Ayo ngomong ...!" Rini terlihat jengkel. Tangannya mulai memegang kedua pundak Yudi dan menggoyangkan kedua pundaknya.


    "Lah, Rin, aku jadi orang pendiam kan sejak SMA, saat aku jadi temanmu dulu. Masa kamu gak kenal aku, Rin?" Yudi menjawab setelah tahu Rini jengkel padanya.


    "Tapi kali ini diam kamu itu lain, Yud ...! Hati gue ngrasain, Yud .... Gue wanita, perasaanku peka .... Gue tahu itu, diem kamu itu karena aku, kan ...?!" kata Rini menepuk dadanya, menunjukkan perasaannya.


    "Rini, aku minta maaf, jika aku telah mengusik pikiran dan perasaanmu. Mohon dengarkan penjelasanku lebih dulu. Terus terang saja, sebenarnya aku sudah tidak ingin datang ke reuni ini. Aku takut ketemu dirimu. Tapi teman-teman membujuk dan memaksa aku harus datang. Bahkan teman-teman meminta diriku untuk terlibat membantu penyelenggaraannya, karena tempatnya di Jogja. Rumahku di sini, mau tidak mau mereka pasti mencariku. Untuk apa aku sembunyi. Akhirnya aku pun bersedia membantu teman-teman panitia. Aku pikir kamu akan datang bersama suamimu, tapi ternyata dirimu sendirian. Terus terang saja begitu aku melihat kamu, pikiranku kacau, tidak tahu mengapa. Sekali lagi aku mohon maaf." begitu kata Yudi menjelaskan pada Rini.


    "Heehftz ...." Rini menghela nafas sedalam-dalamnya, melepaskan penat hatinya.


    "Maafkan aku, ya ...." pinta Yudi pada Rini dengan wajah memelas. Kedua tangan Yudi sudah memegang jemari tangan Rini.


    Rini menunduk. Sekarang ganti Rini yang diam. Tidak bisa mengatakan sesuatu untuk Yudi.


    "Maafkan aku ya, Rin ..." kali ini kata-kata Yudi membisik di telinga Rini. Bibir Yudi sudah hampir menempel di telinga Rini.


    "Iya .... Gue juga minta maaf." jawa Rini lirih.


    "Kalau begitu, sekarang aku boleh keluar?" kata Yudi selanjutnya, meminta untuk kembali ke kamarnya.


    "Eit .... Tidak boleh!" sergah Rini.


    "Lah, kenapa?!" sahut Yudi.


    "Gue mau tanya, benar kamu belum nikah?" tanya Rini menyelidik.


    "Heeehhh ...." Yudi hanya menghela nafas.


    "Bener, Yud?" desak Rini.


    "Yah .... Itu urusan pribadiku, kamu gak usah mikirin." jawab Yudi.


    "Kenapa nggak nikah? Karena aku, kan ...?!" Rini masih penasaran.


    "Enggak ...?!" jawab Yudi ringan, seakan tidak punya persoalan.


    "Lantas kenapa?" desak Rini.

__ADS_1


    "Rin, boleh aku cerita?" tanya Yudi sambil memegang lengan Rini.


    Mata Rini menatap tajam laki-laki yang ada dalam kamarnya. Antara ingin tahu dan tidak ingin mendengar, jika itu menyakitkan. Lantas Rini menjatuhkan pantatnya di tempat tidur. Ia duduk sambil memegang erat kedua tangan Yudi. Ia memejamkan mata, takut dengan apa yang akan diceritakan Yudi. Karena perasaan Rini sudah yakin, bahwa dirinya yang jadi penyebabnya.


    "Ceritakan saja, biar aku mendengarkan ucapan isi hatimu." begitu kata Rini yang kini sudah menyandarkan kepalanya di tubuh Yudi.


    "Mungkin aku laki-laki yang tidak jantan." kata Yudi mengawali ceritanya. Lantas lanjutnya, "Itulah kenapa aku jadi pendiam. Karena aku tidak berani cerita, tidak berani mengungkapkan perasaan, tidak berani mendekati wanita, tidak berani mengatakan cinta. Tapi mungkin juga karena aku terlanjur mengukir kata-kata cinta itu di lubuk hatiku, sementara goresan kata cinta itu tidak bisa tergantikan oleh siapapun juga. Tetapi sayang, gambar hati yang tertusuk panah itu hanya terpahat dalam hatiku, tidak terpahat pada wanita yang pernah mengajariku untuk menulis kata-kata cinta. Mungkin aku yang keliru. Mungkin aku yang salah menafsirkan. Mungkin aku yang bodoh tentang PR-PR pelajaran cinta dari wanita itu."


    Rini dan Yudi terdiam. Angannya melayang ke masa yang sudah lebih dari tiga puluh tahun silam. Saat itu mereka masih kelas dua SMA. Masa pubertas bagi keduanya. Masa remaja yang sedang ingin-inginnya mengenal cinta. Ya, saat itu Yudi memang murid yang baik, cerdas dan tidak nakal. Terlebih, Yudi adalah anak yang pendiam. Rini senang berteman dengan Yudi, alasannya tentu Yudi bisa mengajari membuat PR. Penyelesaian tugas-tugas pun Yudi bisa diandalkan. Jika ada PR, entah itu PR matematika, fisika, kimia, bahkan bahasa Inggris, Rini langsung mengajak Yudi ke rumahnya, untuk mengerjakan PR, tentu karena Rini ingi diajari oleh Yudi. Mereka hanya berdua. Kebiasaan itulah yang menyebabkan munculnya rasa senang, tumbuhnya benih-benih cinta. Bagi Yudi yang pendiam, tentu dia tidak akan mengungkapkan atau mengatakannya kepada Rini. Demikian juga Rini, sebagai wanita takut untuk menyampaikan kata cinta. Paling hanya mengatakan suka. Namun gerak-gerik mereka berdua tidak bisa disembunyikan.


    "Stop!" kata Rini tiba-tiba.


    "Kenapa?" tanya Yudi.


    "Gue nggak ingin cerita ini terdengar oleh orang lain. Apalagi diketahui teman-teman kita." sahut Rini.


    "Rin, kamu tahu kan, aku ini pendiam. Aku gak pernah cerita ke siapapun. Aku takut, kalau ini hanya perasaanku, betapa malunya aku." sahut Yudi.


    "Oke. Kamu gak salah. Tapi gue juga gak mau disalahkan. Jodoh yang ngatur Allah." timpa Rini.


    "Ya, aku tahu. Tapi ketika goresan cinta itu hanya sebuah fatamorgana, jiwa ini hampa, Rin." tukas Yudi.


    Rini mendongak, memandangi wajah Yudi. "Masih tetap cakep orang ini," pikir Rini. Ia tersenyum memandangi laki-laki yang dulu pernah selalu bersamanya saat mengerjakan tugas-tugas sekolah. Lantas tangan Rini mengusap wajah Yudi. Masih halus, sama seperti waktu SMA. Lantas Rini menarik tangan Yudi. Tubuh Rini meroboh ke tempat tidur. Demikian juga Yudi yang ditarik tangannya, tubuhnya roboh ke tempat tidur. Hampir saja menimpa Rini. Dua orang itu telentang di tempat tidur.


    "Hehehe .... Aku minta maaf, ya ...." kata Rini yang sudah tengkurap di tempat tidur, kepalanya mendongak dan memandangi Yudi. Rini heran, kenapa cowok ini masih saja terlihat genteng.


    "Maaf apaan ...?!" sergah Yudi.


    "Gue juga masih ingat kenangan masa lalu itu. Gak cuman kamu yang memahat gambar daun waru tertusuk panah dalam hatimu. Hatiku mungkin lebih banyak goresan-goresan cinta darimu. Kalau kamu masih ingat, mengapa waktu itu, saat di rumahku, saat kamu mengerjakan PR matematika, dengan cara curi-curi, aku mencium pipi kamu. Itu bukti cintaku, karena aku tidak sabar menunggu kata-kata cinta darimu, dan aku pun yakin kalau kamu tidak akan mengatakan cinta padaku. Ciuman itulah kata-kata cintaku." kata Rini, dengan jemari tangannya mulai menyentuh hidung Yudi.


    "Begitukah?" tanya Yudi yang mulai merasa bersalah.


    "Yah, bener! Kamunya saja yang kuper." sergah Rini.


    "Kalau begitu aku yang salah, ya ...." sahut Yudi.


    "Makanya, jadi orang itu jangan diem, tertutup, gak mau kenal orang, kuper .... Begitu jadinya." jelas Rini yang sudah mulai bebas bicara, bisa memarahi Yudi.


    "Ya, maafkan diriku." Yudi pun mulai leluasa bicara.


    "Gak usah disesali, semua itu sudah ada yang ngatur. Jodoh pun diatur oleh yang kuasa." kata Rini.


    "Iya .... Mungkin belum jodohku." kata Yudi perlahan.

__ADS_1


    "Berarti, kamu gak mau nikah karena aku?" tanya Rini.


    "Sudahlah, gak usah dibahas. Jalan orang beda-beda." jawab Yudi pasrah.


    Mereka berdua lega, sudah menceritakan isi hatinya masing-masing. Yudi maupun Rini mulai enjoi dalam bicara. Bebannya sudah terlepas. Walau kini mereka bisa bercerita saat usia sudah menua, tetapi rasa lega itu membuat hatinya plong. Tidak ada ganjalan, tidak ada rasa yang terpendam. Masing-masing sudah mengungkapkan. Mereka berdua diam, memandangi atap kamar. Angannya melayang, mungkin ke angan yang sama, yaitu seandainya ..., seandainya ..., dan seandainya. Ah, itu hanya seandainya.


    "Yah, semua memang sudah ditakdirkan." kata mereka bersamaan.


    Yudi menengok jam tangan. Sudah pukul 02.45.


    "Eh, sudah hampir pagi .... Aku balik dulu." kata Yudi yang kaget, dan langsung beranjak dari tempat tidur.


    "Jangaaan ...." larang Rini yang memegang tangannya sambil memelas.


    "Kita harus tidur, besok jalannya jauh." jelas Yudi.


    "Nggak boleh. Aku ingin malam ini kita habiskan berdua." sergah Rini.


    "Nggak baik, Rin ...." sahut Yudi.


    "Nggak papa .... Pokoknya malam ini untuk kita berdua." Rini tetap menyeret Yudi.


    "Rini, aku takut ketahuan teman-teman ...." kata Yudi mencoba berdalih.


    "Biarin. Pokoknya malam ini kamu bersamaku. Temani aku!" pinta Rini yang sudah memegang erat tangan Yudi.


    Yudi pasrah. Ingat kata-kata Rini, perbuatan itulah tanda cintanya. Bukan sekedar dipendam dalam hati, tetapi dilakukan. Dulu waktu SMA, mungkin Yudi belum paham. Tapi malam ini, setelah Rini menceritakan semuanya, ia paham untuk membuktikan ketulusan cintanya.


*******


    "Kriiiiing .... Kriiiiing .... Kriiiiing ...!" suara alarm jam, pukul 07.00.


    Yudi terhentak kaget, jatuh dari sofa. Ia bergegas bangun. Hari sudah siang, pasti terlambat.


    "Rini ...! Rini ...! Bangun, cepat mandi. Kita terlambat." kata Yudi membangunkan Rini.


    "Hah ...?!" Rini juga kaget. Ia langsung meloncat dari tempat tidur, lari ke kamar mandi.


    "Cepat, kita sudah terlambat! Cuci muka saja, masih cantik kok!" kata Yudi sambil meledek.


    "Iya ..., iya ...!" sahut Rini dari dalam kamar mandi.


    Semalaman Yudi dan Rini melepas cerita. Tentu cerita tentang cintanya. Hampir semalaman mereka tidak tidur, pergumulan malam yang melelahkan. Maka ketika rasa kantuk itu sudah tidak dapat dibendung lagi, mereka langsung terlelap, tertidur seakan tidak bisa diganggu lagi. Beruntung masih ada alarm yang membangunkannya.

__ADS_1


__ADS_2