
Yayan menyetir fortuner putih, melintas di jalan tol trans Jawa. Berangkat dari Jakarta sekitar jam tiga sore, melaju menuju Jogja. Di sampingnya, ada istrinya yang setia memberi petunjuk jalan, dan selalu mengingatkan suaminya jika nyetirnya terlalu ngebut. Sedangkan di jok tengah, ibunya duduk sendiri yang tentu ditemani oleh berbagai makanan. Ya, itulah cara orang paham bepergian, setidaknya di dalam mobil ada jajan atau makanan yang bisa membantu sebagai PPPK, pertolongan pertama pada kelaparan.
Meski menyetir secara santai, Yayan tetap berhati-hati. Maklum, hari Jumat banyak kendaraan yang melintas, akan ber-weekand. Mobil dari Jakarta menuju arah timur sangat padat. Apalagi ini adalah tanggal muda. Tentu banyak yang akan berwisata, refresing, alias piknik. Silvy, istrinya, yang duduk di sampingnya, tidak henti-hentinya mengingatkan suaminya agar berhati-hati.
Jam sepuluh malam, mobil fortuner yang disetir Yayan, yang ditumpangi Silvy dan ibunya, masuk ke gerbang Nirwana Homestay. Gerbang sudah berbeda dengan saat sekitar tiga minggu yang lalu, ketika mereka datang untuk reuni para sahabat Rini. Yah, gerbang itu sudah sempurna. Dengan pilar gerbang yang besar, arsiteknya berupa bata super berpilin. Memutar dari bawah ke atas, dengan lebar sekitar satu meter, serta ketinggian empat meter. jarak pilar yang satu dengan yang lain sekitar lima meter. Bus maupun truk bisa masuk. Di bagian atasnya terdapat plang melengkung terbuat dari galvalum silver yang membentang dari pilar sisi selatan ke pilar sisi utara, dengan tulisan 'NIRWANA HOMESTAY'. Sedangkan bagian tengah gerbang terdapat pintu geser, yang juga terbuat dari galvalum silver setinggi tiga meter. Pintu gerbang ini bisa digeser ke sisi kanan separo dan ke sisi kiri separo. Dan aspal jalan masuk, sudah sangat halus.
Ada penjaga yang bersiap membuka pintu setiap ada tamu yang keluar atau mau masuk. Seperti saat mobil Yayan sampai di depan gerbang Nirwana Homestay tersebut. Yayan berhenti, karena pintu gerbang tertutup, hampir rapat.
"Selamat malam, Bapak .... Ada yang bisa kami bantu?" ada seorang penjaga yang keluar dari pos satpam yang berada di balik gerbang, datang menghampiri Yayan.
"Iya, Bapak .... Kami dari keluarga Pak Hamdan Jakarta, yang punya penginapan Unit 3 dan Unit 4. Besok mau penandatanganan akad kepemilikan." jawab Yayan yang sudah turun dari balik setir mobilnya.
"Oh injih, Bapak .... Silakan masuk. Bapak mau menempati penginapan yang mana? Unit 3 apa Unit 4? Akan kami ambilkan kuncinya." kata sang petugas keamanan tersebut sambil menggeser pintu gerbang.
"Unit 4, Mas ...." kata Silvy, pada suaminya.
"Unit 4, Pak ...." kata Yayan pada penjaga gerbang tersebut.
"Siap ...." sahut sang penjaga.
Lantas sang penjaga tersebut masuk ke pos jaga, mengambil kunci dalam laci meja kecil.Kemudian berlari kecil menuju penginapan Unit 4, untuk membukakan pintu bagi pemiliknya yang akan menginap di situ.
Yayan masuk perlahan, sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Sudah berubah semua. Terutama pagar-pagar dan taman serta tempat parkir dari setiap unit penginapan. Di halaman parkir Unit 1, sudah ada dua buah mobil parkir. Berarti penginapan Unit 1 sudah ada yang menyewa. Demikian juga saat ia menoleh ke penginapan Unit 2 yang berhadapan dengan Unit 1, malah terdapat tiga mobil yang parkir. Mungkin kamar di penginapan Unit 2 penuh.
Lantas perlahan Yayan membelokkan mobilnya ke penginapan Unit 4, yaitu homestay milik Silvy.
"Mah ..., Mamah .... Bangun, Mah .... Kita sudah sampai." kata Silvy membangunkan ibunya yang masih tertidur nyenyak dalam mobil.
"Hah ..., sudah sampai?! Kok gak kerasa?" sahut Rini yang tergagap dibangunkan anaknya.
"Monggo, Den .... Ini kamarnya, sudah saya buka. Mau pakai yang mana, silakan. Kuncinya masih ada di selot pintu." kata sang penjaga tadi yang sudah membuka pintu.
"Terima kasih, Pak .... Kalau boleh tahu, Bapak ini siapa namanya?" tanya Rini yang baru saja turun dari mobil.
"Saya Tugimin, Ibu ..., biasa dipanggil Pak Min." kata si penjaga tadi memberitahukan namanya.
"Pak Min .... Oh ya, Pak Min ..., malam-malam begini apakah masih ada yang jualan makanan di sekitar sini?" tanya Rini yang tentu kelaparan.
"Ada, Bu .... Bakmi tek-tek, itu orang jualan bakmi yang didorong, sambil membunyikan tanda 'tek-tek'. Biasanya mi tek-tek sering lewat jalan di depan. Ibu mau?" tanya Pak Min.
"Mau, Pak .... Nati kalau ada yang lewat minta tolong dipanggilkan ya ...." sahut Rini.
"Injih, Ibu .... Kalau begitu saya akan ke pos, untuk mencegat bakul bakmi tek-tek. Pareng, Ibu ..., Den ...." kata Pak Min yang langsung melangkah menuju pos jaga.
__ADS_1
Yayan langsung mengambil koper pakaian yang ada di bagasi belakang. Demikian juga Silvy, mengambil jajanan yang pada tergeletak di jok belakang. Rini mengambil tas tangan dan tas pakaian untuk ganti. Lantas mereka melangkah masuk memilih kamar. Kamar yang di pilih bersebelahan. Rini di bagian depan, sedangkan Yayan dan istrinya di belakang, yang dekat dengan dapur.
Silvy langsung melangkah ke dapur untuk menaruh sisa jajanan yang dibawa dari Jakarta. Lantas membuka kulkas. Masih kosong. Jajanan yang riskan dimasukkan ke dalam kulkas. Selanjutnya memasukkan beberapa botol air mineral ke dalam kulkas. Biar dingin, segar saat di minum.
"Tek ..., tek ..., tek ...."
Benar. Terdengar suara tek-tek. Orang jualan mi tek-tek.
"Mah, itu terdengar suara tek-tek .... Pasti itu penjual bakminya." kata Silvy pada ibunya.
"Ya, pesan ...."
"Den ..., Ibu .... Ini yang jualan mi sudah sampai. Monggo silakan pesan sendiri." kata Pak Min yang sudah mengantarkan penjual mi tek-tek ke depan penginapan Rini dan anak-anaknya. Penjual bakmi itu sudah masuk ke halaman penginapan.
"O ya, Pak Min .... Terima kasih." bergegas Silvy dan Yayan keluar menghampiri penjual mi tek-tek tersebut.
"Pak Min ...! Pak Min pesan dulu, buat penghangat perut." teriak Rini yang masih berada di teras.
"Injih, Ibu .... Maturnuwun ...." sahut Pak Min si penjaga pos tersebut.
"Bener ...! Ayo pesan dulu!" kata Rini yang memaksa Pak Min.
"Injih, Ibu .... Mas, aku digawekke bakmi nyemek pedes. Tak tinggal ning pos, yo ...." kata Pak Min pesan kepada penjualnya. Lantas melangkah menuju pos jaga lagi.
"Mas, ini ada makanan apa saja yang dijual?" tanya Rini pada penjual mi tek-tek tersebut.
"Aku nasi goreng." kata Yayan memesan.
"Pakai telor, ayam, babat ...?" tanya sang penjual.
"Komplit." sahut Yayan.
"Saya bakmi goreng campur bihun bisa nggak?" tanya Silvy.
"Bisa .... Pakai telor sama ayam?" kata si penjual.
"Ya, Mas .... Kasih kecap yang banyak." jawab Silvy.
"Saya bakmi goreng, Mas ...." pesan Rini pada si penjual.
Malam itu, sang penjual bakmi mulai menyalakan api dalam angklo. Api menyala ditiup angin dari kipas angin mini yang dihubungkan dengan aki. Cukup kreatif. Wajan berada di atas arang yang membara, lantas racikan bumbu masak menyebar bau harum menggugah selera. Berkali-kali si penjual yang sedang memasak itu memukulkan susruk ke wajannya. Terdengar suara 'tek ...! tek ...!' khas penjual mi tek-tek. Suara itu punya makna melepaskan bakmi yang lengket pada penggorengan, bisa jadi membangunkan orang yang tidur tetapi masih lapar, atau juga memberi tanda bahwa mi tek-tek siap melayani orang yang mau beli. Pokoknya, jika terdengar suara tek-tek, berarti ada penjual mi dan nasi goreng.
Masakan tradisional yang enak tentunya. Nasi goreng, bakmi goreng, bakmi goreng campur bihun .... Sudah tersaji. Rini, Silvy dan Yayan, menikmati makanan khas itu di teras ruang terbuka, yang memang sudah disediakan meja dan kursi taman sebagai ruang bersantai keluarga. Nikmat sekali.
__ADS_1
"Eh, enak rasanya, Mah ...." kata Silvy pada ibunya.
"Iya, enak banget .... Rasanya khas, terasa sampai ke tenggorokan." sahut Rini.
"Nasi gorengnya juga enak. Bumbunya merasuk ke setiap butir nasi. Nih, enak banget." kata Yayan.
Tentu Rini dan Silvy yang penasaran langsung mengulurkan sendoknya mengambil nasi goreng di piring Yayan.
"Hmmm .... Betul ..., enak banget." kata mertuanya yang mencicipi nasi goreng.
Mereka pun menikmati makanan itu sampai butir yang terakhir. Piringnya bersih tidak ada sisa.
"Sudah, Mas. Berapa, Mas ...?" tanya Rini setelah selesai menghabiskan bakmi gorengnya.
"Jadinya dengan Pak Min empat piring, njih .... Semua empat puluh ribu." kata si penjual.
"Hah ...?! Empat puluh ribu?" Rini kaget dengan harga yang murah tersebut.
"Injih, Ibu .... per porsi sepuluh ribu." sahut si penjual.
Lantas Rini mengambil uang dari dompetnya. Membayar makanan yang enak dan murah tersebut, tetapi bikin kenyang perut.
"Mas, besok malam ke sini lagi, ya ...." pesan Silvy pada penjualnya.
Tentu dengan makanan yang enak tersebut, dan harga yang sangat murah itu, membuat mereka menjadi tuman, ketagihan untuk membeli lagi.
"Eh, Mah ..., kenapa tadi kita tidak mengundang Papah Yudi?" kata Silvy yang tiba-tiba teringat Yudi, laki-laki yang diam-diam ia kagumi.
"Jangan, Sayang .... Ini sudah larut malam. Tidak baik mengganggu orang yang sedang istirahat." sahut Rini melarang anaknya.
"Tapi kita kemari juga belum kasih tahu Papah Yudi, Mah ...." kata Silvy lagi.
"Besok pagi, Sayang .... Ini sudah malam." kata Rini yang tetap melarang anaknya.
"Ih, Mamah .... Siapa tahu Papah Yudi masih terjaga ...." Silvy masih tetap ingin menghubungi Yudi.
"Jangan, Sayang .... Mending kita tidur dulu, besok pagi-pagi kita telepon Papah Yudi, kita ajak sarapan bareng. Kasihan suamimu yang capek nyetir dari Jakarta sampai Jogja. Biar suamimu juga istirahat." Rini masih tetap melarang anaknya untuk menghubungi Yudi.
Akhirnya, Silvy menurut kata ibunya. Lantas mengajak suaminya untuk masuk ke kamar, beristirahat. Demikian juga Rini, ia pun masuk ke kamar, merebahkan tubuhnya di atas kasur, untuk kembali beristirahat.
Tetapi saat masuk ke kamar, ia teringat dengan Yudi. Anaknya sudah mengusik rindu yang ingin dihapus, dan seketika muncul kembali. Yudi .... Yah, nama itu kembali muncul dalam hatinya. Apalagi saat ini, ia berada di kamar seorang diri, sepi dan sunyi. Kamar yang mirip dengan kamar di rumah Yudi. Kamar yang mirip dengan tempat tidur yang pernah ia singgahi. Kamar yang mirip dengan kamar saat ia memanja kepada seseorang yang bukan suaminya. Dan rasa itu semakin terasa, rindu itu semakin membesar, saat ia melihat tatanan perabotan kamar yang benar-benar sama seperti kamar tempat ia pernah pingsan di dalamnya. Mungkinkah yang menata kamar ini Yudi? Apakah Yudi sengaja mendesain kamar ini untuk dirinya?
Mungkin tadi benar anaknya. Benar Silvy untuk menelepon Yudi. Seandainya ada Yudi, mungkin kamar ini tidak lagi sepi. Jika ada Yudi, mungkin kamar ini tidak lagi sunyi. Jika ada Yudi, pasti hati ini akan bahagia, gembira dan bisa tertawa. Kenapa tadi saya melarang Silvy untuk menelepon Yudi? Ah, tidak mungkin. Saya tidak setolol itu, main belakang di depan anak-anakku. Apa jadinya aku ini. Begitu kecamuk pikiran Rini.
__ADS_1
Namun kini, Rini yang sendiri, di kamar ini terasa sepi, hampa tanpa ada siapa-siapa. Hanya dirinya sendiri dalam keheningan malam yang semakin dingin. Rini di kamar sendiri berteman sunyi.
"Ah .... Semalam saja aku hidup sendiri, rasanya sepi dan tersiksa. Tetapi Yudi ...?! Dia sudah hidup sendiri tiga puluh tahun lamanya, sepi tanpa siapa-siapa. Tega nian diriku sudah menyiksa Yudi selama ini." begitu gumam Rini yang merasakan tersiksanya hidup sendirian.