
"Halo, Rini .... Ini nomor baruku. HP baru, nomor baru. Rini bisa menghubungi saya lewat apa saja. Ini HP dari Jepang, tapi nomor Indonesia, Rini gak perlu khawatir kena roaming .... Aplikasinya cukup lengkap. Bisa untuk telepon seluler, Whatshapp, facebook, masanger,, instagram maupun email. Masih banyak aplikasi yang lain. Untuk video dan foto, tidak khawatir, ram dan memorinya cukup besar. Tolong disimpan nomorku, ya ..., itu jika Rini tidak keberatan. TTD Yudi ...." begitu chat di WA Rini yang baru saja dikirim oleh Yudi.
Rini yang sedang sarapan bersama suaminya di ruang makan, menyeret layar HP dan mengetik chat, berusaha membalas WA dari Yudi.
"Sombong, loh .... Haha ...." balas Rini.
"Siapa, Mah?" tanya Hamdan suaminya.
"Dari Yudi, ngasih tahu nomor baru sama kirim kabar kalau sudah balik Jogja." jawab Rini, yang tentu merasa khawatir dengan privasi suaminya.
"Tolong ditelepon, Mah, tanyakan, kita masih bisa berinvestasi gak?" kata Hamdan pada Rini.
Bagai mendapat siraman air di musim kemarau, hati Rini langsung mekar. Ternyata suaminya tidak marah, malah menyuruh telepon kepada lelaki yang menjadi saingan suaminya di hati Rini.
"Iya, Pah, sebentar." kata Rini.
Rini langsung menyeret layar HP. Selanjutnya memanggil nomor WA Yudi yang baru saja masuk.
"Selamat pagi, Rini .... Bagaimana kabarmu?" suara Yudi dalam HP.
"Pagi, Yudi. Kami baik-baik semua. Yud, ini Mas Hamdan mau menanyakan, apakah Mas Hamdan masih bisa berinvestasi di Kampung Nirwana?" tanya Rini melalui HP.
"Maksudnya, investasi yang seperti apa, ya?" tanya Yudi yang menebak Rini pasti dekat dengan suaminya. Dari tutur katanya sudah bisa di tembak, tidak memanja.
"Pah, maksudnya Papah investasi yang seperti apa? Yudi tanya, nih." kata Rini pada Hamdan.
"Ya ..., yang mau dikembangkan oleh Yudi yang seperti apa." jawab Hamdan.
"Nih, Papah telepon sendiri saja sama Yudi .... Saya gak paham urusan laki-laki." kata Rini yang menyerahkan HP-nya pada suaminya.
Tentu Yudi mendengar suara Rini, Yudi harus berhati-hati dalam bicara, jangan seperti saat hanya berduaan dengan Rini.
"Halo, Mas Yudi ...." kata Hamdan di telepon.
"Iya, Bapak, selamat pagi, Pak Hamdan .... Semoga sehat selalu." balas Yudi.
"Terimakasih, Mas Yudi. Mohon maaf peristiwa minggu lalu, tidak bisa membantu Mas Yudi." lanjut Hamdan.
"Tidak apa-apa, Pak Hamdan, saya senang keterus-terangan tim evaluator. Terimakasih sudah memberi wawasan kepada saya." balas Yudi.
"O, ya ..., katanya kemarin ke Jepang, ya? Bagaimana hasilnya?" tanya Hamdan.
"Iya, Bapak .... Doakan rancangan kami sukses." jawab Yudi.
Rini memandangi suaminya yang sedang telepon Yudi, dengan senyum yang lega. Dua orang kekasih, antara suami dan mantan teman spesial saling bertelepon. "Ach, keterlaluan sekali diriku ini." kata hati Rini yang tertawa geli.
"O, iya, Bapak Hamdan ingin investasi di Kampung Nirwana yang bagaimana, ya?" tanya Yudi pada Hamdan.
"Lha, itu yang ingin saya tahu dari Mas Yudi. Kira-kira saya pantas yang bagaimana?" tanya Hamdan balik.
__ADS_1
"Terus terang untuk Taman Awang-awang sudah saya serahkan pada teman saya dari Jepang. Tapi kalau Pak Hamdan mau membangun hotel, motel dengan konsep joglo, atau homestay dengan arsitek Majapahit, masih bisa. Kawasannya masih cukup luas, Pak. Bapak bisa berinvestasi full maupun sebagai penanam modal." jelas Yudi.
"Kalau saya ingin rumah tinggal, bisa Gak? Ya, semacam tempat peristirahatan ...." kata Hamdan.
"Kalau rumah pribadi, Pak Hamdan beli tanah sendiri. Soal arsiteknya nanti mau bagaimana, tinggal Bapak yang membuat rancangannya." jawab Yudi.
"Maksud saya, kami punya tempat peristirahatan di Kampung Nirwana. Buat persiapan pensiun, Mas Yudi. Bangunannya sama seperti rumah-rumah penduduk Kampung Nirwana." jelas Hamdan.
"Kalau seperti itu yang dikehendaki Pak Hamdan, coba nanti saya cari informasi dulu. Semoga ada tanah yang akan di jual. Tapi kalau mau membangun di luar Kampung Nirwana, ada banyak, Pak Hamdan," jawab Yudi.
"Baik, Mas Yudi, saya minta tolong diusahakan. Nanti kalau sudah ada info, kami akan ke Jogja. Terimakasih, Mas Yudi. Maaf saya tidak bisa telepon terlalu lama, harus berangkat ke kantor dulu. Nanti jika sudah ada kabar, Mas Yudi langsung hubungi istri saya, Sampai ketemu lain waktu." kata Hamdan mengakhiri teleponnya, karena tergesa berangkat kerja.
"Sama-sama, Pak Hamdan. Terimakasih." sahut Yudi.
*******
Jam sembilan malam Hamdan baru sampai di rumah. Seperti biasa, saat suaminya pulang kerja, Rini menyambut kedatangan suaminya. Mulai dari membawakan tas kerja, menyiapkan teh hangat serta menemani makan malam jika suaminya ingin makan.
"Gimana, Mah? Sudah ada berita dari teman Mamah?" tanya Hamdan kepada Rini di meja makan sambil menikmati teh hangat.
"Belum, Pah." jawab Rini.
"Coba telepon, Mah .... Siapa tahu sudah ada informasi." kata Hamdan menggebu.
"Ih, Papah .... Kalau ada maunya, gak bisa ditunda sebentar saja." olok Rini.
"Ya, ya ...." sahut Rini yang kemudian beranjak mengambil HP-nya di kamar.
Rini langsung menelepon Yudi, menuruti kemauan suaminya.
"Halo, Rini .... Ada apa, ya?" Yudi menjawab panggilan, yang tentunya tidak berani mengumbar kata-kata, takut diketahui suaminya.
"Iya, Yudi. Ini lho, Mas Hamdan mau menanyakan pesanannya. Itu, mau buat tempat peristirahatan di dekat rumahmu. Gimana?" kata Rini di HP.
"Iya, ada beberapa pilihan. Silakan nanti Mas Hamdan yang menentukan." jawab Yudi.
"Coba Yudi, kamu bicara sendiri dengan suamiku, ya." sahut Rini yang kemudian memberikan HP pada suaminya.
"Halo, Mas Yudi ...." kata Hamdan.
"Iya, Bapak. Selamat malam, maaf mengganggu." suara Yudi dari telepon.
"Iya, Mas, malam .... Bagaimana, Mas Yudi? Apa sudah ada informasi?" tanya Hamdan.
"Ada, Bapak .... Tetapi Bapak Hamdan harus lihat dulu untuk menentukan pilihan, sesuai dengan yang Bapak inginkan. Karena ini ada beberapa pilihan." jawab Yudi.
"Ala ..., saya pasrah sama Mas Yudi saja. Saya percaya, deh." kata Hamdan.
"Maaf, Pak Hamdan, saya tidak berani memutuskan. Ini yang saya infentarisir ada tiga lokasi, tetapi saya tetap minta persetujuan Bapak lebih dulu. Biar puas, Pak." jawab Yudi.
__ADS_1
"Baiklah, Mas Yudi. Akan kami usahakan untuk melihat. Terimakasih ya, Mas." kata Hamdan yang mengakhiri percakapannya, lantas menyerahkan HP pada istrinya.
"Halo, Yudi .... Maaf, ya ..., kalau suamiku mengebu napsunya ..., hehe ...." kata Rini mengucap di HP.
"Iya, gak papa. Memang harus begitu kalau mau sukses. Terimakasih, selamat malam Rini." jawab Yudi yang mengakhiri teleponnya.
"Gimana, Pah?" tanya Rini setelah pada suaminya.
"Mah, kita harus segera ke Jogja lagi. Kita harus survei. Untuk menentukan pilihan tempat calon vila kita." kata Hamdan pada istrinya.
"Kapan? Apa Papah ada waktu? Katanya harus mengurusi berkas yang akan dibawa ke Jerman?" tanya Rini.
"Lah, itu, Mah .... Papah gak ada waktu. Kalau Mamah yang ke Jogja, bagaimana?" Hamdan balik bertanya.
"Kapan?" tanya Rini.
"Ya, secepatnya." jawab suaminya.
"Tapi .... Apa saya bisa menentukan pilihan, Pah?" tanya Rini yang jadi bingung.
"Bisa .... Toh nanti dibantu Yudi. Besok kalau sudah sampai lokasi bisa video call." jawab Hamdan.
"Apa gak besok-besok saja, kalau urusan Papah dengan proyek dari Jerman sudah selesai?" sanggah Rini.
"Mah, kalau ada info begitu, kita harus cepat menanggapi. Kalau nggak, nanti bisa diambil orang. Kesempatan itu tidak datang dua kali, Mah .... Makanya kita harus selalu bergerak cepat." jelas suaminya.
"Ah, dasar Papah .... Kalau punya mau gak bisa dicegah. Ya udah, besok Sabtu saya berangkat Jogja." jawab Rini.
Meski berkata seakan suaminya yang selalu menggebu-gebu setiap punya kemauan, padahal hati Rini girang tidak karuan saat disuruh pergi ke Jogja. Apalagi kepergiannya adalah menemui Yudi, laki-laki yang saat ini sedang digandrungi. Tentu Rini merasa bahagia sekali. Tentunya, karena akan bersama kembali dengan si jantung hati.
"Okey, Mah ..., besok biar dipesankan tikat Mbak Sarah. Mamah mau pulang kapan?" kata suaminya.
"Ya, kalau survei begitu kan harus sampai tuntas. Dua hari cukup, nggak?" tanya Rini.
"Mamah jangan repot-repot suvei, pasrahkan kepada Yudi, teman Mamah itu. Pokoknya, yang menurut dia baik, Mamah ngikut saja .... Bilang aja ya ..., ya ..., ya .... Begitu, Mah." kata Hamdan.
"Yah ..., saya nurut saja. Saya pulang senin sore ya, Pah." kata Rini.
"Gak kurang, waktunya?" sahut suaminya.
"Ya udah, gak usah pulang sekalian ....! Hiih ..., Papah itu lho!" Rini memukul lengan suaminya.
"Hahaha .... Habis, Mamah orangnya bingungan." sahut Hamdan.
"Papah, sih. Nyuruh orang yang gak paham kok maksa." sahut Rini.
"Dah .... Pokoknya jalan semua. Mamah mau pulang kapan, gak usah repot. Tinggal hubungi Mbah Sarah, biar dicarikan tiket pulangnya. Dah, tidur dulu. Dah ngantuk nih." kata Hamdan yang langsung merebahkan dirinya di kasur. Lantas mendengkur. Tertidur pulas.
Sebaliknya dengan Rini. Ia tidak bisa tidur. Angannya membayangkan kepergiannya ke Jogja. Membayangkan kebersamaannya dengan Yudi. Membayangkan kembali tidur di rumah Yudi. Membayangkan rambutnya dibelai orang yang tulus mencintainya, membayangkan keningnya dikecup dengan penuh kasih sayang. Walau mata itu terpejam di samping suaminya yang sudah mendengkur, tetapi angan Rini sudah berpindah di istana Kampung Nirwana. "Ayo hari ..., bergulirlah dengan cepat, agar aku bisa segera berangkat ke Jogja." begitu kecamuk pikiran Rini, yang menggebu untuk segera bertemu sang seniman pujaan hati.
__ADS_1