KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 198: RINDU YANG TERTAHAN


__ADS_3

    Rini kini mempunyai kesibukan baru, yaitu menggeser layar HP mencari informasi tentang berbagai macam anggrek. Mulai dari cara merawat anggrek, mengenal berbagai macam jenis anggrek, bahkan sudah mulai mempelajari bagaimana cara mengembangkan anggrek. Dan yang paling sangat diperhatikan oleh Rini adalah harga-harga anggrek.


    Begitu mengamati jenis anggrek dari internet, Rini langsung mencocokkan dengan anggrek-anggrek yang ada di kebunnya. Ada jenis anggrek bulan, yang dalam bahasa kerennya dinamakan phalaenopsis. Anggrek bulan saja jenisnya bermacam-macam. Rini punya banyak jenis. Tetapi jika dibandingkan dengan yang ia lihat dari internet, tentu jenis-jenis yang dimiliki oleh Rini masih terlalu sedikit. Padahal dari gambar yang ia lihat, masih banyak jenis anggrek bulan yang menarik dan indah. Tentu Rini ingin memiliki jenis-jenis yang belum ada di kebunnya.


    Demikian juga dengan anggrek vanda. Ternyata jenis anggrek vanda juga banyak macamnya. Ada yang mini, ada juga yang raksasa. Jika melihat bunga-bunga yang mekar dari anggrek vanda ini, rasanya Rini ingin memiliki semuanya. Ada yang merah, oranye, kuning, biru maupun ungu. Semuanya indah dan menawan.


    Paling banyak jenis bentuk bunganya adalah anggrek dendrobium. Ada jenis nobile dengan warna ungu yang menawan, ada jenis densiflorum warna kuning dengan bunganya yang banyak menjuntai, ada anggrek kelinci yang punya pilin melintir ke atas seperti telinga kelinci, dan tentu yang tidak kalah indah adalah jenis-jenis anggrek hibrida yang beraneka ragam.


    Rini terkesima saat melihat harga sebuah anggrek. Memang anggrek merupakan bunga yang memiliki harga lumayan. Namun jika menyaksikan jenis anggrek tertentu, pasti orang akan geleng-geleng kepala jika tahu harganya. Misalnya saja, yang disaksikan oleh Rini, anggrek Shenzhen Nongke Orchid, merupakan anggrek termahal di dunia yang harganya mencapai tiga setengah miliar rupiah. Anggrek ini merupakan hasil budidaya yang dikembangkan oleh perusahaan agrikultur Shenzhen Nongke, yang terletak di kota Guangdong, Tiongkok.


    "Ya ampun .... Anggrek harganya sampai miliaran ...?! Siapa yang sanggup membeli ...?!" gumam Rini yang tercengan menyaksikan harga bunga anggrek.


    Di Indonesia, banyak jenis anggrek alam yang harganya sangat mahal. Misalnya anggrek hitam dari Papua. Anggrek ini harganya mencapai seratus juta rupiah. Spesies anggrek ini memiliki harga yang mahal karena populasinya yang langka dan sulit ditemukan, karena hidup di pedalaman hutan Papua. Rini bangga punya anggrek hitam Papua ini, walau hanya dua pot. Itu oleh-oleh suaminya waktu bertugas ke Papua. Maka begitu tahu kalau anggrek itu harganya mahal, Rini langsung menempatkan anggrek hitam itu secara khusus.


    Demikian juga dengan anggrek emas Kinabalu atau yang lebih dikenal dengan sebutan Rotschild’s Orchid. Rini mencocokkan gambar dari internet dengan anggrek yang ada di kebunnya. Ia amati secara saksama. Dan ternyata memang sama, antara bunga yang ada di kebunnya dengan yang ada di HP-nya.


    "Aach .... Ternyata saya juga punya anggrek emas Kinabalu." gumam Rini yang tersenyum senang.


    Anggrek emas Kinabalu ini juga oleh-oleh suaminya saat bertugas ke Sabah. Tanaman ini sangat langka dan cukup sulit untuk dibudidayakan, karena membutuhkan waktu delapan tahun untuk tumbuh. Spesies anggrek ini memiliki harga jual mencapai dua puluh juta rupiah. Rini pun menempatkan anggrek emas Kinabalu itu di dekat anggrek hitam Papua dan anggrek hitam Kalimantan.


    Tentu Rini sangat senang memiliki koleksi anggrek dengan harga yang mahal-mahal. Pasti nanti akan menjadi daya tarik di kebun anggreknya. Rini berencana akan membuat green house khusus untuk anggrek yang harganya mahal, dengan tujuan agar setiap orang yang masuk tidak bisa sembarangan menyentuh anggrek-anggrek istimewa tersebut. Tentu nantinya pada pot anggrek itu akan digantungi tulisan harga yang fantastis. Biar orang-orang yang melihat heran dan takjub. Pasti akan geleng-geleng kepala.


*******


    Memenuhi permintaan ibunya, Silvy dan Yayan pergi ke Jogja. Hari jumat malam, sepulang dari kerja, mereka berdua langsung berangkat. Tentu menaiki mobil fortuner putih milih papahnya yang disuruh memakai oleh ibunya. Ya, beruntung Yayan mau memakai mobil itu. Setidaknya kalau ke Jogja bisa menyetir mabil yang bagus dan nyaman.


    Rini sudah memesan anak-anaknya, untuk tidak tidur di Nirwana Homestay. Bahkan penginapan milik Silvy seluruh kamarnya sudah diserahkan kepada bagian administrasi untuk disewakan. Weekend biasanya sangat ramai, pasti penginapan penuh. Tentu Silvy dan Yayan tidak lagi punya kamar khusus di homestay miliknya. Tempat Rini saja tiga kamar sudah terbooking semua. Makanya Rini menghendaki anak-anaknya akan diajak tidur di Taman Anggrek Nirwana. Sekalian menyaksikan usaha ibunya yang baru.


    Rini sudah berada di Taman Anggrek Nirwana sejak pagi, bersama Mas Trimo merawat anggrek. Tentu kalau sudah masuk dalam kebun anggrek, mereka lupa waktu. Kadang hingga sore, bahkan sampai lupa makan. Apalagi di akhir pekan, jika ada para pembeli yang datang, mereka bertambah sibuk. Biasanya hari Sabtu dan Minggu. Pembeli berdatangan dari berbagai kota. Umumnya mereka adalah pengunjung Kampung Nirwana yang berwisata ke Taman Awang-awang dan obyek-obyek yang lain di kampung wisata. Apalagi Taman Anggrek Nirwana sudah masuk dalam rute wisata mobil antik. VW klasik ketemu dengan bunga legendaris, klop. Perpaduan yang sangat serasi.


    Malam itu, Rini menunggu anak-anaknya datang dari Jakarta. Berkali-kali Silvy telepon ibunya. Tentu untuk menjaga kantuk saat menemani suaminya yang menyetir. Sehingga melalui ngobrol dengan ibunya, pasti ada yang menemani bercanda. Pasti saat telepon, HP di handsfree, agar suaminya yang menyetir juga ikut tertawa jika ada yang lucu-lucu.


    Hingga jam dua belas malam, mobil fortuner warna putih, menerobos masuk ke jalan yang belum beraspal, menuju lokasi Taman Anggrek Nirwana. Meski belum diaspal, jalan itu nyaman untuk dilewati, karena setiap hari dilewati mobil-mobil yang menuju Taman Anggrek Nirwana. Namun di malam hari, tentu jalannya gelap, karena belum ada lampu penerangan. Yayan agak was-was, karena melewati tempat gelap yang belum ia kenal. Hanya ada pohon pisang dan semak belukar di kanan kirinya.


    "Halo, Mah .... Benar jalan masuknya yang gelap ini?" tanya Silvy pada ibunya.


    "Hehe .... Iya, betul .... Maklum belum ada penerangan. Besok saya akan suruh Mas Wawan untuk memasang lampu penerangan jalan. Tidak usah khawatir, Kampung Nirwana sangat aman." jawab Rini yang menenangkan anak-anaknya agar tidak takut.


    Hanya sebentar saja, sekitar seratus meter, mobil yang disopiri Yayan sudah sampai di jalan cor, lantas masuk ke halaman luas dengan tatanan mozaik dari batu alam. Sorot lampu mobilnya mengenai dindik bata super, persis pada tulisan "Taman Anggrek Nirwana". Yayan menghentikan mobilnya.


    "Wao .... Indah sekali ...." gumam Silvy yang langsung turun dari mobil.


    Lampu pendopo tiba-tiba menyala terang. Rini yang keluar dari pintu pendopo itu sambil menyalakan lampu.


    "Hai ..., sayang ...." sambut Rini yang berjalan menuju anak-anaknya.


    "Mamah ...!" Silvy berteriak dan langsung memeluk ibunya.


    "Apa kabar, Mah ...?" Yayan ikut menyalami mertuanya, sambil menanyakan kabar ibu mertuanya.


    "Baik dan senang .... Bagaimana kabar kalian?" kata Rini yang langsung berbalik bertanya.


    "Baik, Mah ...." Jawab Yayan.


    "Di sini udaranya dingin banget, Mah .... Segar sekali ...." kata Silvy yang justru merentangkan tangannya menghirup udara malam Kampung Nirwana.


    "Yah ..., ayo masuk, biar tidak kedinginan .... Eh, iya ..., Yayan, mobilnya diparkir di sebelah sana, memepet kiri pendopo. Biar besok kalau ada tamu tidak mengganggu." kata Rini yang meminta menantunya untuk memindah mobil.


    "Iya, Mah .... Kan belum saya matikan. Itu, lampunya masih menyala. Tadi langsung turun saking senangnya melihat halaman parkir yang bagus." kata Yayan yang langsung memindah mobilnya.


    Silvy membantu suaminya mengangkat tas yang berisi pakaian ganti. Termasuk tas kerja yang masih dibawa, karena memang langsung dari kantor.


    "Ayo, sini masuk. Mamah bantu bawa tas kamu." kata Rini yang langsung membawa tas kerja Silvy.


    Rini jalan di depan, menunjukkan kamar untuk anaknya. Hanya ada dua kamar di bangunan itu, Rini sengaja meminta dibangunkan dua kamar kepada Mas Wawan yang memborong bangunannya. Satu kamar untuk Rini, dan satu kamar lagi untu anak-anaknya.

__ADS_1


    "Ini kamar kamu. Kasurnya baru datang dua hari yang lalu. Mamah beli kasur sama meja kursi kecil untuk kamar. Yang penting ada dulu. Kalau ingin yang lebih bagus, besok bisa beli lagi. Yang ini kamar Mamah. Sama persis. Hanya saja meja kerja Papah, saya bawa kemari."


    "Wao .... Bagus banget, Mah .... Luas sekali .... Pasti Mamah lebih betah tinggal di sini." kata Silvy yang menggoda ibunya.


    "Saya juga yakin, pasti kalian nanti, juga akan betah tinggal di sini .... Hehe ...." sahut Rini membalas anak-anaknya.


    "Lhah, ini Mamah sepi-sepi begini, tinggal di sini sendirian?" tanya Yayan yang agak khawatir dengan keadaan ibu mertuanya.


    "Mamah baru kali ini mau tidur malam di sini. Ya, ingin bermalam sama kalian di tempat sepi ini .... Tapi jangan khawatir ..., ada Mas Trimo yang menemani. Mas Trimo tidur di pondok ujung sana, tuh .... Sama anak dan istrinya." jawab Rini sambil menunjukkan bangunan kecil yang ada lampunya menyala.


    "Oo .... Saya kira Mamah pemberani .... Hehehe ...." ejek anaknya.


    "Ini sudah larut malam. Kalian sudah capek, lelah dan ngantuk. Masuk kamar, mandi terus tidur. Besok pagi saya ajak menyaksikan keindahan Taman Anggrek Nirwana." kata Rini yang menyuruh anak-anaknya untuk istirahat.


    "Iya, Mah .... Eh ..., Mah, ada makanan, gak?" tanya Silvy yang tentu lapar.


    "Saya kira kalian sudah makan .... Kalau begitu buat mi rebus dahulu. Sini kemari, ini dapurnya, ada mi instan dan telor di lemari. Silakan buat sendiri." kata Rini yang menyalakan lampu dapur, menunjukkan persediaan makanan kepada anak-anaknya.


*******


    Pagi hari, Mas Trimo sudah mulai bersih-bersih. Dibantu oleh istrinya. Anaknya ikut berlari ke sana kemari, bermain sambil mengikuti ibu dan bapaknya. Mereka menyapu mulai halaman depan. Tentu kaget melihat ada mobil bagus yang terparkir di halaman. Maka Mas Trimo langsung lari menemui bosnya yang sudah ada di dapur.


    "Ibu Rini .... Ibu Rini .... Kok ada mobil di depan, tapi tidak ada orangnya?" kata Mas Trimo yang bingung itu.


    "Oalah, Mas Trimo .... Itu mobil anak saya yang tadi malam datang dari Jakarta .... Apa Mas Trimo tidak dengar?" jawab Rini menjelaskan kepada Mas Trimo.


    "Hehe .... Maaf, Ibu Rini .... Semalam saya tidur pulas." jawab Trimo yang agak malu.


    "Ya sudah, sana lanjutkan bersih-bersih dahulu. Saya mau masak." kata Rini.


    "Eh, Bu ..., biar masaknya dibantu istri saya saja .... Ya ..., ya ...." kata Mas Trimo yang sudah keluar memanggil istrinya.


    Akhirnya, pagi itu Rini dibantu oleh istri Mas Trimo, memasak di dapur. Pertama yang dilakukan adalah membuat minuman teh hangat. Lumayan banyak, untuk Rini, Silvy, Yayan dan Mas Trimo serta istri dan anaknya. Selanjutnya membuat bakmi goreng dan telur dadar, untuk sarapan. Tentu Bu Trimo senang membantu Rini. Setidaknya Bu Trimo bisa diterima seperti keluarga oleh Rini. Yah, Rini memang orang yang baik. Kepada siapa saja ia tidak pernah memandang rendah orang lain. Termasuk kepada para pembantunya.


    Pintu kamar Silvy terbuka. Silvy keluar. Tentu langsung menengok ke dapur. Silvy pun langsung menuju dapur. Setidaknya mengintip makanan yang sedang dimasak oleh ibunya.


    "Ee ..., Silvy .... Bu Trimo, ini anak saya yang dari Jakarta. Anak saya satu-satunya, namanya Silvy." kata Rini yang mengenalkan Silvy pada Bu Trimo.


    "Cantik sekali, Ibu Rini .... Mirip sama ibunya ...." kata istri Mas Trimo, yang tentu terpesona dengan kecantikan Silvy.


    "Mana Yayan? Kita sarapan bersama. Nanti keburu ada pengunjung malah repot tidak kober makan." kata Rini mengajak anaknya untuk sarapan.


    "Iya, Mah .... Saya panggil dahulu. Tadi baru mandi, kok." sahut Silvy yang langsung menuju kamarnya lagi.


    "Bu Trimo ..., Mas Trimo dan si kecil diajak sarapan sekalian, bareng-bareng biar nikmat." kata Rini menyuruh istrinya Mas Trimo untuk memanggil suami dan anaknya.


    Pagi itu, mereka berlima ditambah si kecil, duduk bersama di ruang makan, untuk sarapan bersama-sama. Menikmati teh hangat, bakmi goreng dan telor ceplok. Walau sederhana, dan mungkin bagi Mas Trimo itu tidak kenyang, tetapi kebersamaan itu sungguh sangat berarti dalam hidup Mas Trimo dan istrinya. Baru kali ini mereka diajak makan bersama oleh orang kaya. Ya, tentu Mas Trimo merasa kurang nyaman saat duduk bersama dengan majikannya. Tetapi Rini tetap memaksa agar Mas Trimo mau makan bersama mereka.


    "Sungguh orang kaya yang baik hati ...." begitu batin Mas Trimo.


    Tentu Rini juga mengenalkan anak-anaknya kepada Mas Trimo maupun istrinya. Setidaknya, ini adalah cara untuk mempererat keakraban. Bukan sekadar hubungan antara karyawan dan bos, tetapi juga rasa kekeluargaan. Sehingga nanti, jika ada apa-apa akan mudah dan nyaman untuk meminta tolong maupun bantuan.


    "Din ..., din ...." suara klakson mobil.


    Mas Trimo berlari keluar, meninggalkan piring dan gelas yang sudah kosong. Pasti akan melihat siapa yang membunyikan klakson mobil itu. Ternyata di luar sudah ada tiga unit mobil wisata, VW antik yang membawa rombongan wisatawan.


    "Ibu Rini ..., ada tamu mau beli anggrek ...." kata Mas Trimo memberi tahu kepada Rini.


    "Walah, kok gasikmen to lehe piknik ...." kata Bu Trimo yang tentu heran, jam sepagi ini sudah ada yang berkunjung wisata.


    "Ya sudah, minta tolong ya, Bu Trimo, untuk dibereskan meja makannya." kata Rini yang langsung berjalan cepat menuju kamar. Pasti akan ganti pakaian. Menemui pengunjung harus pakai pakaian yang baik, jangan hanya mengenakan daster kamar, nanti malah dilirik sama pengunjungnya.


    Demikian juga Silvy, yang langsung ke kamar untuk mandi dan berganti pakaian. Beruntung Yayan sudah mandi dan mengenakan pakaian rapi. Walau hanya celana jean dan kaos t-sirt bergambar Taman Awang-awang. Wah, sekalian promosi.


    Tamu-tamu itu sudah masuk di pendopo. Kebanyakan perempuan. Dari sepuluh orang, laki-lakinya hanya tiga. Sudah berumur, setidaknya lima puluhan tahun. Sebanding dengan Rini. Tapi dari penampilannya yang bersih dan rapi, pasti mereka orang kaya. Pas kalau masuk ke kebun anggrek. Nanti pasti akan memborong.

__ADS_1


    "Monggo, Bapak-bapak ..., Ibu-ibu .... Rahayu wilujeng, sugeng rawuh, selamat datang di Taman Anggrek Nirwana." kata salah seorang sopir mobil wisata yang mengantarkan.


    Para tamu itu langsung menuju pendopo, melihat-lihat bangunan dari batu itu. Ada yang duduk di bangku besar. Ada juga yang memegang-pegang pintu pendopo.


    "Monggo, silakan masuk. Silakan melihat-lihat keindahan anggrek yang ada di Taman Anggrek Nirwana." kata Rini yang sudah berdiri di balik pintu pendopo. Rini sudah terlihat cantik, walau hanya mengenakan baju kurung dan bawahan kain jarit yang dibuat model rok. Rambutnya yang hanya disisir ke belakang, lantas ditekuk dan diikat dengan karet pita, justru terlihat lebih anggun. Lehernya kelihatan putih mulus. Dasar wanita cantik.


    Yayan ikut mendampingi ibu mertuanya. Berjalan beriring mendampingi para tamu.


    "Kolamnya ada ikannya?" tanya salah satu pengunjung wanita.


    "Ini kolam terapi ikan. Silakan kalau mau mencoba terapi ikan, masukkan saja telapak kaki tante, nanti akan kerubuti ikan-ikan." kata Rini yang meminta pengunjungnya untuk mencoba terapi ikan.


    "Bayar ...?" tanya si pengunjung.


    "Kalau terapi ikannya gratis. Anggreknya yang bayar." kata Rini sambil tersenyum.


    "Saya mau cari anggrek hutan yang masih species ada?" tanya salah satu calon pembeli.


    "Ada, banyak .... Di tempat yang paling ujung sana. Sebaiknya lihat semua saja dahulu, sambil jalan dari sini." jelas Rini kepada para pembeli, tentunya agar melihat semua tanaman yang ada.


    "O, ya .... Bolehlah sambil lewat." jawab si tamu laki-laki yang tanya anggrek alam tadi.


    Lantas para tamu itu berjalan menyaksikan tanaman anggrek. Mas Trimo sudah memisah antara anggrek yang sudah berbunga, anggrek dewasa, dan anggrek bibit. Tentu atas saran tukang anggrek dari Malang yang mengantar tanaman ke situ. Bahkan yang anggrek bulan sendiri, dendrobium sendiri, serta vanda sendiri. Sehingga terlihat rapi dan indah. Tentu para tamu itu senang menyaksikan keindahan bunga-bunga anggrek yang bermekaran penuh warna warni. Dan tentu para tamu pada tertarik untuk beli. Memilih bunga yang indah.


    Mas Trimo yang ikut di belakang, sudah membawa keranjang troli. Setiap ada yang dipilih, langsung dimasukkan ke troli. Nanti pengemasannya ada di ruang pendopo. Dikemas dalam kardus khusus, sehingga bunganya tidak rusak. Rini sudah belajar pengemasan dari pemilik anggrek di Malang yang memasok kebunnya.


    Hanya dalam sekejap, troli yang dibawa Mas Trimo sudah penuh. Lantas di bawa ke pendopo, ditaruh di atas meja besar. Lantas Mas Trimo kembali lagi untuk membawakan pilihan para pembeli. Begitu terus. Beruntung Rini sudah memberi label harga pada setiap potnya.


    "Maaf, Mas .... Itu kok ada anggrek yang dipisah tempatnya?" tanya salah seorang pengunjung kepada Yayan.


    Yayan yang tidak tahu maksudnya, tentu tidak bisa menjawab. Lantas menyampaikan kepada ibu mertuanya.


    "Mah ..., ada yang tanya anggrek yang ada di green house itu." kata Yayan pada mertuanya.


    "Oh, ya ...." lantas Rini melangkah menuju green house yang terpisah, diikuti oleh para pembeli. Lantas katanya, "Maaf Bapak-bapak dan Ibu-ibu .... Ini anggrek mahal. Saya tidak campur dengan yang lain, karena takut rusak. Hanya yang mau beli saja yang boleh mendekat. Tapi kalau hanya menyaksikan bisa dari luar." kata Rini menjelaskan.


    "Anggrek mahal ...?!" para pengunjung itu melongo.


    Demikian juga Yayan yang tentu masih belum mengerti dengan yang diucapkan oleh mertuanya. Maka Yayan benar-benar ingin tahu yang disampaikan oleh ibunya tersebut. Bersamaan dengan itu, istrinya datang menyusul. Langsung menggandeng lengan Yayan. Juga ikut menyaksikan ibunya yang sedang beraksi menjadi pedagang anggrek.


    "Harganya berapa, Buk ...? Nanti saya beli ...!" kata laki-laki tamu yang kelihatan paling tua, tapi juga terlihat paling kaya.


    "Itu ada beberapa jenis, Pak. Yang anggrek hitam Papua itu saya jual seratus juta." kata Rini.


    "Hah ...?! Seratus Juta ...?!" para tamu itu semakin melenggong. Kaget mendengar harga anggrek hitam sari hutan Papua.


    "Tidak boleh kurang, Bu ...? tanya si laki-laki tadi.


    "Itu harga pasaran internasional. Maklum barang langka. Kalau Bapak berminat, saya hanya menjual satu pot saja. Selebihnya tidak boleh." jelas Rini.


    Tentu mendengar harga anggrek seratus juta dari mulut ibunya, Silvy tidak bisa berfikir. Kali ini ia harus mengakui kalah dengan ibunya. Demikian juga Yayan, yang terkesima dengan harga anggrek yang sangat fantastis tersebut.


    Akhirnya, para pembeli itu tidak berani mengeluarkan dompetnya. Pasti mereka belum kelas untuk membeli anggrek dengan harga ratusan juta. Mereka baru sanggup membeli anggrek yang taripnya sekelas lima puluh ribu. Bahkan ada yang cuma beli satu, anggrek hutan species ekor tupai, yang oleh Rini hanya dibandrol harga dua puluh lima ribu rupiah saja. Ya, itulah pembeli anggrek. Inginnya yang bagus, tetapi cari yang harganya murah.


    Sepulang para pembeli, Rini menggenggam uang banyak. Dari sepuluh pengunjung pagi itu, Rini sudah mendapat uang dua setengah juta. Lumayan untuk seorang janda pengangguran.


    "Lumayan, Mah ...." kata Silvy.


    "Ini baru permulaan, sayang ...." sahut ibunya.


    "Mah, kenapa anggrek yang di green huse khusus itu tidak ditawarkan secara umum? Bahkan tidak ada harganya di sana. Tadi Mamah tawarkan dengan harga yang mahal-mahal." kata Yayan yang tentu penasaran. Demikian juga Silvy yang mendengar harga anggrek sampai seratus juga, hingga membuat jantung pembeli hampir copot.


    "Itu anggrek pengobat rindu. Rindu yang tertahan dalam hati. Ternyata rindu itu mahal harganya." kata Rini pada anak-anaknya.


    "Rindu, Mah ...?! Rindu sama siapa?" tanya Silvy.

__ADS_1


    "Rindu sama Papah kamu. Anggrek-anggrek itu dibawa oleh Papah kamu sebagai oleh-oleh untuk Mamah. Setiap kali Papah kamu pergi jauh dan lama. Oleh-olehnya, ya anggrek itu. Awalnya saya tidak tahu tentang anggrek. Ternyata setelah saya tahu, oleh-oleh Papah kamu itu anggrek yang harganya mahal-mahal. Kini saya baru tahu setelah yang membawa oleh-oleh itu tiada. Yah, hanya itu obat rindu Mamah pada Papah kamu." jelas Rini yang tentu sudah meneteskan air mata. Rindunya yang tertahan, tidak mungkin akan tersampaikan.


__ADS_2