KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 176: ADA DUKA


__ADS_3

    Rumah Rini penuh sesak oleh pelayat. Kursi yang tertata di halaman rumah, teras serta depan jalan rumahnya, semua sudah diduduki pelayat. Bahkan masih banyak pelayat yang berdiri karena tidak kebagian kursi. Ada juga yang ndompleng di rumah tetangga. Ya, sangat banyak pelayat yang datang, untuk mengantarkan saat-saat terakhir jenazah almarhum Bapak Hamdan.


    Di luar rumah berjajar karangan bunga, ada banyak sekali. Bahkan hingga sampai di depan rumah para tetangga. Karangan bunga ucapan bela sungkawa itu datang dari berbagai instansi, terutama relasi atau mitra dari perusahaan di mana Hamdan dulu bekerja. Tentu banyak sekali perusahaan dan instansi mitra yang mengirim karangan bunga. Bahkan ada juga karangan bunga dari perusahaannya. Ada yang bertuliskan dari direksi, ada juga yang dari staf. Maklum, dahulu jabatan Hamdan adalah direktur. Persis di depan rumah Rini, ada karangan bunga yang sangat besar dan bagus. Karangan bunga tersebut dikirim oleh perusahaan mitra dari Jerman.


    Di ruang tamu yang sudah disingkirkan semua kursinya, tepat di depan pintu masuk, terbujur tubuh Hamdan yang sudah meninggal, sudah dimasukkan ke dalam peti jenazah, yang ditopang dengan meja penyangga. Peti itu belum ditutup, sehingga para pelayat yang ingin menengok jenazahnya, masih bisa melihat, untuk yang terakhir kali.


    Rini mengenakan pakaian duduk bersimpuh di ruang tamu yang digelari karpet. Ditemani oleh anak perempuannya, Silvy. Mereka berada di sisi dalam, menghadap ke peti jenazah. Tentu sambil mengais, walau hanya sekadar mengisak saja. Di ruang itu banyak perempuan dan ibu-ibu yang menemani. Ada beberapa karyawati yang dahulu pernah menjadi anak buah Hamdan, ada juga teman Silvy. Sedangkan yang ibu-ibu kebanyakan dari para tetangga. Pasti mereka memberikan penghiburan kepada Rini dan Silvy. Setidaknya ikut menemani menerima tamu. Ya, para tamu yang ingin bersalaman dengan Rini, pasti langsung masuk ke ruangan dalam dan menemui Rini. Demikian juga yang akan melihat jasad Hamdan terakhir kalinya, maka mereka juga masuk ke ruangan itu, untuk menengok Hamdan yang sudah terbujur di peti mati.


    Di luar, di jalan depan rumah Rini, didirikan tenda. Kursi tertata sangat banyak, untuk duduk para tamu. Ujung jalan ditutup. Jalan di depan rumah Rini, hingga sampai ke beberapa tetangga, penuh dengan pelayat.


    Yayan, suami Silvy, berdiri di depan pintu pagar masuk. Mengenakan baju hitam dan celana hitam. Tanda duka. Di tempat Yayan berdiri, ada saudara-saudara, baik dari keluarga Hamdan maupun keluarga Rini. Mereka mendampingi Yayan, menyalami orang-orang yang takziah, yang terus berdatangan. Tentu Yayan sangat bersedih dan terpukul dengan kematian mertuanya itu. Tidak hanya Yayan, tetapi juga keluarga dan saudara-saudara dari Hamdan maupun Rini.


    Duduk di deretan kursi paling depan, para pimpinan dari perusahaan tempat dimana dahulu Hamdan bekerja. Termasuk ada beberapa pejabat yang tentu kenal Hamdan saat ia bekerja dan bermitra dengan mereka. Sedangkan para staf dari tempat perusahaan Hamdan, duduk di belakangnya. Sebagian besar karyawan di tempat perusahaan dahulu Hamdan bekerja, datang melayat, ikut berkabung.


    Seperti biasa, setiap ada orang berkumpul, pasti ada perbincangan. Termasuk di tempat takziah, para pelayat mengobrol berbagai macam bahan pembicaraan. Terutama obrolan para pelayat dari kelompok karyawan dan masyarakat sekitar. Dan tidak ketinggalan, pasti membicarakan masalah meninggalnya Hamdan. Awalnya sederhana, hanya ada yang bertanya, "Pak Hamdan meninggal kenapa?"


    "Wah ..., kalau itu ceritanya panjang ...." sahut yang lain.


    "Dengar-dengar, katanya dibunuh oleh selingkuhannya, ya ...?" tanya yang lain.


    "Hah ...?! Dibunuh selingkuhannya?" yang lain kaget.


    "Masak, sih ...?!" yang lain tidak percaya.


    "Memang Pak Hamdan punya selingkuhan? Siapa selingkuhannya?" tanya yang lain ingin tahu.

__ADS_1


    "Halah ..., kamu ketinggalan kereta. Itu ..., tuh ..., wanita pelakor yang sudah ditangkap polisi. Masak belum dengar ...." kata yang lain.


    "Lha terus ..., kenapa harus dibunuh?" tanya orang itu lagi.


    "Karena pelakor itu minta rumah, tapi tidak diberi. Makanya terus menusuk perut Pak Hamdan." jelas orang yang satu lagi.


    "Lhah, kan Mbak Lina sudah punya apartemen ...?" sahut yang lain.


    "Itu bukan miliknya ..., tapi milik om-om selingkuhannya yang satu lagi ...." sahut yang lain lagi.


    "Walah .... Selingkuhan kok banyak sekali." kata yang lain heran.


    "Buat serep .... Biar dapat sana sini ...." sahut temannya.


    "Nggak nyaka, ya ...." sahut yang lain.


    "Eh, katanya Pak Hamdan juga dipecat oleh perusahaan, ya ...?!" tanya karyawan yang lain.


    "Baru dengar? Ya, gara-gara pelakor itu, makanya Pak Hamdan dipecat." jawab temannya.


    "Kasihan Pak Hamdan .... Sungguh malang nasibnya .... Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya." kata salah seorang yang ada di situ.


    "Sudah ..., kita jangan membicarakan orang yang meninggal, nanti dosanya menimpa kita, lho ...." kata yang lain mencoba menghentikan pembicaraan.


    "Eh, iya .... Maaf ...." sahut yang lainnya.

__ADS_1


    Mereka pun terdiam. Tidak lagi membicarakan aib orang yang dilayatinya.


    Tentu pembicaraan seperti itu tidak hanya dipergunjingkan oleh karyawan-karyawan biasa. Tetapi dikalangan para pimpinan, bahkan jajaran komisaris, juga membicarakan, walau hanya sekadar bisik-bisik. Ya, memang ini masalah aib. Tetapi ketika aib itu sudah terbongkar, dan bahkan menimbulkan kerugian banyak orang, tentu itu akan menjadi bahan pembicaraan umum. Apalagi sudah masuk ke ranah hukum, sudah ditangani polisi, dan pelakunya sudah ditangkap.


    Paling dikhawatirkan oleh perusahaan adalah jika kasus ini didengar oleh wartawan. Pasti akan membawa nama perusahaan. Sedikit banyak, tentu akan mencemarkan nama perusahaan. Oleh sebab itulah, saat peristiwa itu diketahui oleh perusahaan, pihak komisaris langsung memecat Hamdan serta karyawatinya yang diajak selingkuh. Sehingga, jika nanti ada wartawan yang menanyakan masalah ini, pihak perusahaan bisa berdalih, bahwa pegawai yang bersangkutan sudah tidak bekerja di tempat itu. Atau tepatnya hanya sebagai mantan pegawai. Peristiwa yang dialami itu terjadi, yang bersangkutan sudah bukan pegawai, sudah tidak bekerja di perusahaan itu lagi.


    Mas Jo berada di teras belakang, dekat pintu dapur. Ia duduk bersanding dengan Mang Udel yang kali ini tidak mengenakan pakaian kebun, tetapi memakai baju koko warna hitam serta berpeci. Dua orang ini memang sudah sangat kenal. Makanya Mas Jo dan Mang Udel duduk bersama. Tidak di halaman depan, tetapi di dekat dapur. Ada kesedihan di wajah dua laki-laki yang setiap hari berada di tempat yang kini ia duduki. Ya, tempat yang sering dipakai oleh Mak Mun untuk menaruh secangkir kopi serta sarapan pagi.


    Bagi Mas Jo, meninggalnya Hamdan tidak ada pengaruhnya apa-apa, karena Mas Jo adalah sopir perusahaan. Mas Jo masih tetap kerja seperti biasa. Tetapi bagi Mang Udel, kematian Pak Hamdan pastinya sangat berpengaruh terhadap kelanjutan pekerjaannya. Jika majikan laki-lakinya tidak ada, mungkinkah Ibu Rini akan tetap meminta Mang Udel bekerja di rumahnya. Tentu kaitannya adalah sumber keuangan. Dengan meninggalnya Pak Hamdan, pasti keuangan Bu Rini tidak sanggup membiayai semua kebutuhannya.


    "Saya sedih, Mas Jo .... Khawatir ...." kata Mang Udel pada Mas Jo.


    "Memang sedih kenapa? Khawatir ada apa?" tanya Mas Jo, yang mungkin tahu perasaan Mang Udel.


    "Nanti kalau saya diberhentikan oleh Ibu Rini, bagaimana? Saya mau kerja apa?" sahut Mang Udel.


    "Tidak usah risau ..., jangan dipikir ...." sahut Mas Jo enteng saja.


    Mang Udel langsung diam. Tentu karena takut untuk bicara lagi. Khawatir Mas Jo lapor ke Ibu Rini. Mang Udel tahu, Ibu Rini sangat baik dengan Mas Jo.


    Mak Mun mengenakan kerudung hitam, berada di ruang tamu, menemani Rini dan Silvy. Tentu Mak Mun juga sangat sedih. Mak Mun sudah sangat lama ikut keluarga Hamdan, sejak bayinya Silvy. Yang mengurusi Silvy sejak bayi, yang momong, adalah Mak Mun. Hingga kini, Silvy yang saat bayi sering digendong Mak Mun itu sudah menikah dan berumah tangga sendiri, kalau ada apa-apa, Silvy masih minta tolong kepada Mak Mun. Terutama untuk urusan makanan.


    Dengan Rini, Mak Mun sudah dianggap sebagai keluarga sendiri. Kalau ada apa-apa, Rini selalu meminta Mak Mun untuk membantu. Jika Rini masuk angin, Mak Mun yang ngeroki. Bahkan Mak Mun juga sebagai tempat untuk berkeluh kesah.


    Demikian juga dengan majikan laki-lakinya. Hamdan sudah menganggap Mak Mun sebagai saudara, bukan pembantu. Hamdan tidak membedakan antara Mak Mun dengan saudara Hamdan sendiri. Bagi Mak Mun, Pak Hamdan itu orangnya baik, murah hati, tidak pelit, tidak sombong meski kaya raya.

__ADS_1


    Tetapi, mengapa di akhir masa tuanya, majikan laki-lakinya itu justru berubah. Mak Mun sangat sedih. Sangat kecewa. Dan tentu sangat menyesal, karena peristiwa yang menimpa majikannya itu, terjadi di depan Mak Mun, diketahui oleh Mak Mun, namun Mak Mun tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak sanggup mencegah, dan tidak bisa membantu. Mak Mun kecewa dengan semua itu.


    Tidak cuma Mang Udel, tidak cuma Mak Mun yang bersedih, soal memikirkan kelanjutan pekerjaannya. Tentu Rini lebih bingung. Ia sudah kehilangan suami, dan tentunya kehilangan segala-galanya.


__ADS_2