KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 154: PASIANGAN


__ADS_3

    Sore itu, suasana di Kampung Nirwana sudah sangat ramai. Tentu karena akan dilangsungkan acara pernikahan Yudi. Meski belum ada hiburan yang mulai manggung, tetapi para turis sudah berdatangan. Tentu ingin menyaksikan keunikan pernikahan dua budaya dari dua negara itu. Dan yang jelas, para turis ingin menonton kesenian tradisional yang selama ini sulit untuk ditemukan, tentu secara gratis.


    Para pemuda kampung masih banyak yang berada di tempat rencana pesta, yang ada di lapangan, tentu untuk menata segala perlengkapan dan hiasan-hiasan yang di pajang di tempat pesta. Demikian juga tukang lampu, yang masih sibuk menata lampu-lampu penerangan, yang nanti malam akan dinyalakan untuk menerangi orang-orang atau warga masyarakat yang ingin melek-melek. Ya, tradisi di Bantul, malam sebelum acara pernikahan, ada acara yang disebut dengan istilah malam pasiangan, yaitu malam tasyakuran atau selamatan untuk memohon kepada Sang Yang Maha Kuasa, agar acara pernikahan esok hari diberi kelancaran tanpa ada aral melintang.


    Biasanya, pada malam pasiangan ini warga kampung khususnya laki-laki, pada melek-melek, tidak tidur semalaman, untuk menjaga kampung dan tempat yang akan digunakan pesta. Demikian juga kaum ibu, mereka sibuk memasak, menyiapkan hidangan dan jajanan yang akan disuguhkan kepada para tamu.


    Suasana di rumah Yudi penuh sesak dengan kaum wanita yang membantu menyiapkan makanan. Ada yang membuat jenang, jadah dan wajik. Ada pula yang menggoreng brambang, bawang, kerupuk dan berbagai makanan lain. Ada yang membuat lemper, mendut, pistuban, hawuk-hawuk serta berbagai makanan camilan lainnya. Berbagai makanan kecil dan jajanan sudah dimasak. Suasana di dapur Yudi benar-benar terlihat ribut.


    Beberapa ibu, di bagian depan, di pendopo, sudah menata besek. Besek itu dus tradisional yang terbuat dari bambu yang dianyam. Dalam besek tersebut diisi berbagai makanan, ada nasi dengan berbagai jenis sayur, ada telur, ada ayam dan bandeng goreng, serta kerupuk udang yang dibungkus plastik. Di atas nasi dengan lauk pauk itu ditutup kertas minyak, kemudian di atasnya diberi makanan lain, yaitu jadah, wajik, jenang, kue manten serta pisang. Besek yang sudah penuh dengan berbagai jenis makanan itu ditutup dengan besek penutupnya, kemudian diikat dengan tali rafia.


    Di pendopo itu sudah digelari tikar. Nanti malam, setelah maghrib, bapak-bapak akan selamatan di situ.


*******


    Di Nirwana Homestay, Rini bersama anak-anaknya sudah makan bakmi godok dan nasi goreng langganannya. Walau di rumah Yudi banyak makanan, tetapi Rini, Silvy dan Yayan kurang berselera dengan berbagai makanan, yang rata-rata bersantan. Rasanya kurang segar. Makanya, begitu mereka sampai di rumah penginapannya, dan melihat mi tek-tek lewat, mereka langsung membeli untuk mengisi perutnya.


    “Tuliliiing tuloliliiiing …. Tuliliiing tuloliliiiing …!” HP Rini berdering. Alex, sahabatnya menelepon.


    "Halo, Alex .... Sudah sampai mana?" sapa Rini pada Alex yang menelepon tersebut.


    "Iya, Rini .... Ini saya sudah sampai di gerbang Nirwana Homestay, di bagian office stay .... Apa kamar di tempat Rini masih ada?" kata Alex yang menanyakan kamar penginapan pada Rini.


    "Alex, tolong kamu bilang ke office stay, Alex menginap bersama Ibu Rini, di Unit 3. Tidak usah bayar, bilang keluarga Ibu Rini .... Gitu, ya .... Saya sudah ada di kamar. Nanti Alex langsung masuk saja." jelas Rini pada Alex.


    "Oke, siap Rini .... Terima kasih." jawab Alex, yang tentu langsung disampaikan bagian administrasi yang ada di office stay.


    Dan benar, tidak lama kemudian mobil alphard warna hitam berbelok masuk ke penginapan Unit 3. Masuk ke tempat penginapan milik Rini. Alex dan istrinya turun dari mobil mewah itu, dan melangkah menuju penginapan yang sudah disambut oleh Rini.


    "Hai ..., hai ..., hai .... Ayo ..., ayo kemari." sambut Rini yang sudah berdiri di teras depan bersama anak dan menantunya.


    "Halo, Rini ..., bagaimana kabarnya ...? Hai, Mas, Mbak ...." Alex balas menyambut.


    "Baik, Alex ...." jawab Rini yang langsung menyalami Alex dan istrinya. Begitu juga Silvy dan Yayan, yang ikut menyalami.


    "Eh, Lex ..., makan bakmi tek-tek, ya .... Enak .... Rasa khas tradisional." kata Rini yang langsung menawarkan makanan khas penginapan Nirwana Homestay.


    "Iya, boleh .... Terima kasih." sahut Alex.


    "Mau bakmi goreng, bakmi godok, kwetio, atau nasi goreng?" tanya Rini yang menawarkan.


    "Nasi goreng satu, bakmi godok satu ...." jawab Alex.


    "Pak ...! Nasi goreng satu, bakmi satu ...." kata Rini memesan kepada penjual mi tek-tek, yang masih mangkal di halaman parkir penginapan Unit 3.


    "Nanti kamar kamu yang ini, ya, Lex ...." kata Rini yang membukakan pintu penginapan untuk sahabatnya itu.


    "Iya, Rin .... Terima kasih." jawab Alex, yang langsung memasukkan koper pakaian gantinya.

__ADS_1


    Sambil makan di meja taman yang ada ruang keluarga terbuka itu, mereka saling mengobrol. Tentu saling cerita macam-macam.


    "Eh, Lex ..., istrinya dokter Handoyo bagaimana?" tanya Rini pada Alex.


    "Berangkat besok pagi, penerbangan pertama. Jam tujuh pagi sudah sampai di YIA. Besok saya jemput." jawab Alex.


    "Berarti tidak menginap?" tanya Rini.


    "Tidak. Habis acara langsung pulang. Penerbangan jam tiga sore. Besok saya antar, bersama dengan saya pulang. Rencana saya mau pulang lewat jalur selatan." jelas Alex.


    "Syukurlah ..., yang penting Yudi tidak kecewa. Tadi siang sudah ditanyakan." kata Rini.


    "Iya ..., besok kita bersama-sama, biar terlihat meriah." kata Alex.


    "Waduh, kalau Alex harus menjemput istrinya Handoyo ke bandara, bisa terlambat. Tadi Yudi minta, kita ikut mengiring manten, dari rumah ke tempat pesta. Rencananya ada arak-arakan. Acaranya mulai jam delapan pagi. Bagaimana. Lex?" jelas Rini terkait acara esok hari.


    "Seperti itu ...?!" tanya Alex.


    "Iya .... Bahkan, besok itu acara arak-arakan sangat ramai, karena diarak orang sekampung dengan berbagai hiburan. Bahkan Yudi dan Yuna saja naik kereta kuda. Terus, itu ada kembang manggar, yang setiap helai hiasannya diberi doorprize. Pasti ramai sekali, Lex ...." jelas Rini.


    "Wao .... benar-benar meriah .... Tapi saya sudah janji mau menjemput istrinya dokter Handoyo .... Terus bagaimana?" sahut Alex, yang tentu juga bingung.


    "Begini saja, malam ini ada acara midodareni, dan malam pasiangan. Kita ke rumah Yudi, mengikuti upacara adatnya. Nanti Alex sampaikan rencana besok. Jadi kalau pun misalnya agak terlambat sedikit, pasti Yudi maklum." kata Rini menjelaskan.


    "Lhah ..., malam ini sudah ada acara?" tanya Alex.


    Alex dan istrinya pun cepat-cepat mandi dan berganti pakaian. Demikian pula Rini, Silvy dan Yayan. Mereka akan berangkat mengikuti acara midodareni dan pasiangan, di rumah Yudi.


    "Pakai mobil saya, Yayan sudah hafal dengan jalannya." kata Rini.


    Sementara Yayan sudah menyiapkan mobilnya. Untuk berangkat menuju rumah Yudi, tentu lewat pintu belakang.


    "Alex duduk depan .... Kami perempuan bertiga duduk tengah, jadi satu." kata Rini mengatur duduk.


    "Lhah, suami kamu mana, Rin ...?" tanya Alex, yang tentu bingung tidak melihat Hamdan.


    "Tidak ikut ...." jawab Rini santai, walau sebenarnya juga kecewa karena Hamdan tidak ikut.


    Hanya sebentar saja, Yayan menjalankan mobilnya. Mereka sudah sampai di lapangan, yang tentu kaget menyaksikan tenda sangat luas dengan tatanan kursi yang sangat banyak, dengan lampu yang sangat terang benderang, dan di situ sudah banyak orang yang duduk-duduk.


    "Tempat acaranya di sini apa di rumah, Mah ...?" tanya Yayan yang tentu bingung.


    "Di rumah, ini yang untuk pesta besok." sahut ibunya.


    Yayan terus melajukan mobilnya, dari lapangan berbelok ke kiri, lantas ke kanan. Dan sampailah di belakang rumah Yudi.


    "Kok parkir di sini?" tanya Alex.

__ADS_1


    "Iya, ini bagian belakang rumah Yudi. Ini garasinya. Lhah, kalau lapangan yang besok untuk pesta, itu juga tanah Yudi yang dipinjamkan untuk mobil-mobil wisata mangkal. Terus, yang untuk homestay itu, ternyata juga milik Yudi." jelas Rini pada Alex dan istrinya.


    "Wao .... Ternyata Yudi masuk dalam radar orang terkaya di dunia ...." sahut Alex yang terkagum.


    "Tapi kok terlihat sangat sederhana dan bersahaja ya, Pi .... Tidak terlihat kaya." kata istri Alex.


    "HP hilang saja tidak mau beli lagi ...." sahut Alex.


    "Sudah, ayo masuk. Lewat sini ...." ajak Rini.


    Mereka berlima pun langsung masuk ke rumah Yudi. Disambut beberapa ibu-ibu yang sedang membantu masak di dapur, kemudian diantar menuju pendopo depan.


    Di pendopo, sudah ramai, penuh dengan tamu. Terutama para tetangga Yudi. Yang jelas ada Pak Lurah. Rini bersama anaknya dan Alex bersama istrinya, duduk di bagian belakang.


    Di depan agak ke tengah,Yudi yang mengenakan setelan jas, duduk bersila. didampingi oleh ibu dan bapaknya. Di sisi kiri Yudi, juga duduk bersimpuh, Yuna yang mengenakan pakaian adat Jawa. Didampingi oleh keluarga dari Jepang, terutama ayah dan ibu Yuna.


    Yudi menoleh ke belakang, saat melihat sahabatnya datang. Lantas melambaikan tangan kepada Alex. Tentu sambil tersenyum. Alex membalas lambaian tangan Yudi.


    Tiba-tiba ada laki-laki yang berjalan sambil membungkuk, mendekati Alex dan Rini.


    "Hehehe ...." laki-laki itu langsung nyengenges, dan menyalami Alex beserta istrinya, Rini beserta anak-anaknya.


    "Lhoh, kok kamu sudah sampai sini?" tanya Alex kepada laki-laki itu, yang tidak lain adalah Jojon, teman SMA.


    "Iya, tadi sore, bersama teman-teman. Barengan ramai-ramai." jawab Jojon.


    "Lha, mana teman-teman?" tanya Alex.


    "Itu ..., mereka ada di sana ...." kata Jojon sambil menunjuk ke tempat duduk teman-temannya, yang lantas teman-temannya melambaikan tangan.


    "Syukurlah, Yudi pasti senang teman-teman bisa datang." kata Rini.


    "Kalian menginap di mana?" tanya Alex.


    "Di Nirwana Homestay ...." jawab Jojon.


    "Hah ..., yang benar ...?! Kami juga di sana .... Menginap di Unit berapa?" tanya Rini.


    "Di Unit 1 dan 2 .... Sudah dibooking oleh teman-teman." kata Jojon.


    "Kami di Unit 3. Nanti barengan." sahut Alex.


    "Malam ini kita ndak tidur .... Ada acara pasiangan ..., artinya lek-lekan atau melek-melek. Kita nonton wayang orang di lapangan." jelas Jojon yang tahu arti pasiangan.


    "Oo ..., begitu, ya .... Berarti nanti kalau acara di sini selesai, langsung ke lapangan?" tanya Alex.


    "Iya ..., malam pasiangan ..., di sana sudah disediakan makanan .... Tidak usah khawatir kalau kelaparan. Sambil nonton wayang orang, sambil makan .... Hehehe ...." kata Jojon yang dasar bocah lucu.

__ADS_1


    Malam itu, yang disebut dengan pasiangan, warga Kampung Nirwana, teman-teman Yudi, dan tentu orang-orang dari kampung sebelah, menyaksikan tontonan wayang orang. Semua yang datang, disuguh berbagai makanan. Tentu mereka senang. Bisa menyaksikan tontonan gratis, masih diberi makan.


__ADS_2