
Sudah tiga minggu Yuna kembali ke Jepang. Belum ada kabar berita yang dikirim oleh Yuna. Yudi pun tidak berani menghubungi. Dalam istilah komunikasi, tidak etis. Seolah-olah mengejar bantuan dengan tergesa-gesa. Setidaknya, memberi kesempatan lebih dulu kepada penyandang dana untuk mempelajari dan mempertimbangkan proposalnya. Yuna sendiri pernah menyampaikan kepada Yudi, setidaknya sekitar satu bulan untuk mendapatkan rekomendasi. Selanjutnya menunggu survei tim visitasi, untuk kelayakan proyek. Baru setelah selesai semuanya, mulai dilaksanakan pencairan dana. Jadi setidaknya butuh waktu dua bulan untuk merealisasikan pembangunan Taman Awang-awang tersebut.
Setiap kali bertemu dengan Pak Lurah, tentu yang dipertanyakan pertama oleh Pak Lurah adalah kapan proyeknya akan mulai dibangun. Yudi pun selalu sama dalam memberikan jawaban, yaitu, "Doakan saja, Pak, Biar segera terealisasi." Bahkan tidak hanya Pak Lurah. Beberapa kali di kantor, saat ketemu secara pribadi dengan Kepala Dinas tempat Yudi bekerja, Pak Kadis selalu menyinggung pembangunan Taman Awang-awang. Tentu, kalau proyek itu jadi, Pak Kadis juga akan merasakan manfaatnya. Dan yang lebih ditunggu adalah, namanya menjadi terkenal dan dikatakan sukses menjadi kepala dinas, karena bisa menghasilkan proyek yang megah dan fenomenal..
Hari itu, Sabtu sore. Ada dua wanita setengah baya mengendarai jeep Willys kuno terbuka tanpa atap, mencari rumah Yudi. Wanita itu sangat nyentrik. Pakaiannya tidak karuan. Mulai dari topi laken yang dikenakan, kacamata hitam, asesoris antingnya besar menggandul di telinga, hidungnya juga diberi anting, kalung manik-manik yang jumlahnya tidak terhitung, bajunya kowor-kowor kebesaran, celana jean yang robek-robek, tetapi pada bagian sepatunya sangat keren. Meski dia itu wanita, dua orang ini mengenakan sepatu ala tentara mau perang. Pokoknya dua wanita itu sangat bergaya. Layaknya seniman yang suka pamer penampilan. Rambutnya yang sebahu diurai, dibiarkan tertiup angin.
Saat menanyakan rumah Yudi di lapangan parkiran wisata, tidak mau turun. Bahkan hanya berteriak dari atas jeepnya.
"Heh, Mas ..., kenal sama orang yang namanya Yudi, gak? Di mana rumahnya?" tanya wanita yang tinggi besar. Sedangkan wanita yang kurus, cuek. Kakinya diangkat di atas jok.
Digertak dengan pertanyaan seperti itu, para sopir wisata tidak ada yang berani membantah.
"Di sana, Tante .... Maju saja terus belok kanan. Rumah yang ada gapura bentarnya." jawab sang sopir wisata.
"Tante ..., tante ...! Sejak kapan dapat om kamu!" sahut wanita itu judes.
"Iya, maaf ...." sahut sang sopir yang menjawab.
Lantas dua wanita tomboy itu melajukan jeep brondolnya menuju rumah Yudi.
"Wah, Mas Yudi bakal ketamuan orang gila-gila .... Hehehe ...." kata si sopir wisata yang jengkel sudah dibentak.
Tidak berapa lama, dua wanita tomboy itu sudah sampai di rumah Yudi. Seperti yang ditunjukkan sopir wisata yang ditanyai di lapangan, mereka berhenti di depan gerbang pintu yang seperti gapura Majapahit.
"Yudi ...! Yudi ...!" dua orang wanita yang baru turun itu berteriak memanggil Yudi.
Tidak lama kemudian, Yudi membuka pintu gerbang. Yudi terkejut, kaget melihat dua wanita yang ada di depannya, dengan pakaian yang tidak karu-karuan.
"Hehehe .... Kenapa, Yud? Kaget melihat kami?" tanya wanita itu yang mengamati keheranan Yudi.
"Ya ampun, Ana ..., Imah .... Kalian ini seniman model dari mana?" tanya Yudi yang tahu presis tamu yang barusan datang.
Ya, Yudi tentu tidak pangling dengan dua wanita itu. Temannya waktu kuliah di Akademi Seni Rupa. Dan mereka sering bertemu, karena dua wanita itu sering nongkrong di Taman Budaya. Sedangkan Yudi, jika ada perlu untuk menawarkan lukisannya, juga mampir di Taman Budaya. Bahkan juga, para pelukis Yogya, tidak hanya Yudi dan teman-temannya, para seniman dari berbagai unsur, sering ngumpul di Taman Budaya maupun Kridosono.
__ADS_1
"Hahaha .... Kaget ya kami datang kemari?" kata wanita yang tinggi besar.
"Ayo ..., ayo, masuk .... Duduk sini." kata Yudi yang mempersilakan temannya duduk di pendopo.
"Wah, pendopomu nyaman banget, Yud. Pantesan lukisanmu bagus-bagus. Sangat inspiratif rumahmu ini." kata si Ana yang blak-blakan.
"Ada berita apa sampai ke rumahku? Harus yang menggembirakan .... Haha ...." kata Yudi.
"Tentu berita baik. Mana pernah teman-teman kamu membawa berita jelek?" jawab wanita yang kurus, yang bernama Imah.
"Berita apa?" tanya Yudi duduk menami dua wanita itu.
"Minum dulu, Yud .... Mana minumnya? Aku haus, nih ...." kata wanita tinggi besar, si Ana.
"Sabar .... Sudah disiapkan." sahut Yudi.
Dan ternyata memang benar. Dua anak gadis remaja keluar membawa minuman kelapa muda. Lantas menyuguhkan minuman itu pada tamu wanita yang aneh.
"Nah, ini minumnya. Silakan." kata Yudi.
"Saya sudah tidak beralkohol. Jaga kesehatan, sudah tua. Di sini juga banyak anak, tidak baik kalau dilihat anak-anak." sahut Yudi.
"Yudi ..., kami bersama teman-teman dari seniman lukis jalanan, kemarin mengadakan pertemuan. Intinya, mau minta tolong sama Yudi untuk membantu mewadahi karya anak-anak. Kamu tahu sendiri, Yud, anak-anak jalanan hanya mengandalkan dari lukisan yang terjual. Kalau tidak dapat pemasukan, mereka tidak makan. Kasihan mereka." kata waninta seniman yang bernama Ana itu.
"Aah .... Saya kira kalian mau memberi proyek. Ternyata sama seperti diriku." sahut Yudi yang sudah paham maksud kedatangan mereka berdua.
"Iya, saya dengar Yudi sudah mengembangkan Kampung Nirwana. Yudi sanggup memberi kemajuan di sini, bisa mengembangkan perekonomian masyarakat di sini. Saya minta masukanmu, Yud." lanjut mereka.
"Ah, kalian terlalu memuji diriku. Bukan saya yang memajukan masyarakat sini, tetapi mereka yang ingin maju." sahut Yudi.
"Setidaknya ada campur tanganmu." bantah dua seniman wanita itu.
"Lantas, mau kalian bagaimana? Kalau uang jangan meminta saya. Saya tidak sanggup untuk masalah keuangan. Masyarakat di sini tidak pernah meminta uang ke saya." kata Yudi yang mulai pasang kuda-kuda.
__ADS_1
"Bukan uang, Yudi .... Kami hanya mau minta kerja sama dengan pengelola wisata di kampungmu ini untuk memberi wadah bagi para pelukis yang belum punya tempat." sambung temannya.
"Ana, Imah .... Saya bisa memberi wadah, tetapi apa ada pembeli yang datang kemari? Pasaran seni itu di Kota Jogja, setidaknya di Malioboro atau di Tugu. Kalau di Bantul, selain di ISI tidak bakal ada pembeli, mereka semakin terpuruk, justru lebih kasihan. Mestinya kalian bisa mewadahi anak-anak berkesenian di Taman Budaya. Tapi selama ini justru saya merasa, Taman Budaya Yogyakarta itu belum menyatu dengan turis .... Monggo, teman-teman mendobrak keberadaan Taman Budaya sebagai pusat wisata. Jangan hanya untuk nongkrong saja." Yudi menjelaskan keberadaan Taman Budaya yang belum menjadi ikon bagi para wisatawan.
"Betul juga kata-katamu, Yud .... Memang selama ini yang saya rasakan juga begitu. Padahal yang membeli lukisan anak-anak itu kan para wisatawan. Kenapa itu tidak pernah terpikirkan sebelumnya, ya?" Ana mulai merasakan kebenaran ucapan Yudi.
"Ana, Imah .... Terus terang, saya sudah merancang wadah anak-anak seni di Kampung Nirwana ini, yaitu dengan akan dibangunnya pasar seni. Tetapi itu nanti tidak hanya mewadahi lukisan. Seperti kalau kalian lihat di Sukowati Bali, itu yang saya rencanakan akan saya bangun di sini." kata Yudi mulai membuka rahasia proyeknya.
"Waahh .... Keren, Yudi .... Aku mendukung rencanamu. Setidaknya nanti karya-karyaku bisa dipasarkan di pasar seni milikmu." kata Imah si kurus.
"Ya, itu nanti .... Setidaknya nanti ada manajemen yang mengelola." kata Yudi.
"Hah ...?! Manajemen?! Manajemen apaan, Yud?" tanya temannya.
"Nah, itu yang menjadi masalah bagi seniman. Jangankan mengatur keuangan rumah tangga, mengatur hidupnya sendiri saja tidak bisa. Sekarang kita harus mulai mengembangkan manajemen seniman. Jadi berkesenian itu harus dikelola secara profesional. Jangan sekadar mengatakan dirinya seniman, tetapi saat mau makan ngemis-ngemis. Itu salah. Harus dirubah cara hidup seperti itu. Setidaknya, jika kita menyebut diri kita seniman, kita harus bisa menjaga image, bahwa esensi seni adalah keindahan. Bukan amburadul. Termasuk dalam menata kehidupannya." kata Yudi yang tidak sependapat kalau seniman itu identik dengan kumuh.
"iya, Yud .... Saya juga sering kasihan dengan anak-anak yang jual seni hanya sekadar untuk makan. Tapi mereka sudah terlanjur memilih jalan begitu, Yud ...." kata Ana.
"Selama mereka masih hidup, selama mereka masih bernapas, belum ada kata terlambat. Hanya mereka mau atau malas. Itu saja kuncinya. Di negara-negara maju yang pernah saya kunjungi, contohnya Perancis, yang namanya seniman itu menghasilkan karya. Karya merek itulah yang menjadi penentu kualitas hidup. Kualitas hidup mereka pula yang menentukan penghasilan mereka. Sekarang kalian berdua yang punya PR, apakah berkesenian itu hanya sekadar tampak nyentrik? Atau berkesenian itu menghasilkan karya? Ada pepatah kuno yang berbunyi "Cogito er Gosum" jika kita menggunakan otak kita untuk berpikir, berarti kita ini tergolong sebagai manusia, yang bisa dikatakan ada diri kita ini. Jadi .... Ajak teman-teman kita semua, dalam berkesenian agar menggunakan otak. Karena yang namanya kesenian itu merupakan salah satu unsur budaya. Budaya itu berasal dari kata budi dan daya. Akal pikiran yang terwujud dalam sebuah karya." kata Yudi menjelaskan kepada dua teman perempuannya.
"Wah ..., wah ..., wah .... Saya kuliah lagi ini, Yud." sahut mereka berdua.
"Bukan .... Kita berkewajiban untuk saling mengingatkan." sahut Yudi.
"Kalau penampilan kami seperti ini, pantas nggak disebut seniman?" tanya Imah sambil menunjukkan pakaian yang dikenakan mereka berdua.
"Maksud kalian nyentrik?! Seniman itu tidak dilihat dari nyentriknya penampilan, tetapi mana karyanya." jawab Yudi.
"Ih, nyindir .... Hahaha .... Iya, Yud, kami harus lebih kreatif lagi." sahut Imah.
"Tapi, dirimu sendiri tidak pernah pakai pakaian atau asesoris yang nyentrik-nyentrik, Yud?" tanya Ana.
"Lhah, saya kan bukan seniman. Jadi ya tidak perlu nyentrik seperti kalian. Hahaha ...." sahut Yudi yang kemudian tertawa.
__ADS_1
Diskusi tentang berkesenian terus berlanjut. Hingga malam. Bahkan dua teman Yudi yang nyentrik itu tidak pulang. Tidur di rumah Yudi.
Yudi senang teman-temannya mengajak berdiskusi. Setidaknya wawasan mereka bertambah. Harapannya, semoga anak-anak seniman jalanan yang ada di Jogja, bisa mendapatkan wadah untuk mencari rejekinya.