
Pembangunan Taman Awang-awang sudah dimulai. Banyak orang yang terlibat. Mulai dari Pak Lurah hingga ibu-ibu tukang masak. Ya, tentu semua itu demi terwujudnya sebuah obyek wisata yang didambakan bisa memberikan kemakmuran bagi masyarakat Kampung Nirwana. Memberi rezeki kepada semua rakyatnya, mulai dari anak-anak yang ikut membantu membuat souvenir, para remaja yang berlatih bahasa Inggris untuk bersiap menjadi pemandu wisata dari manca negara, para sopir mobil antik untuk keliling kampung, maupun para pedagang yang menjajakan makanan tradisional. Semua kebagian rezeki. Pembangunan itu membutuhkan banyak pekerja. Hampir seluruh orang muda dan dewasa di Kampung Nirwana, yang tidak menjadi pegawai, yang tidak menjadi karyawan di pabrik, ikut membantu bekerja di Taman Awang-awang. Pak Lurah menyebut pekerjaan ini sebagai pekerjaan padat karya, yaitu kegiatan pembangunan proyek yang lebih banyak menggunakan tenaga manusia jika dibandingkan dengan tenaga mesin. Ya, tentunya demi menyejahterakan rakyatnya sendiri.
Yuna pun berpikir sama seperti yang disampaikan Pak Lurah, yaitu lebih banyak memanfaatkan rakyat untuk bekerja. Walau sebenarnya, pada awal perencanaan, Yuna ingin menyewa peralatan berat. Tetapi itu justru akan merusak rasa persatuan dan kebersamaan masyarakat paguyuban, yaitu paguyuban warga masyarakat yang bersifat kekeluargaan. Yuna sudah tertarik dengan rasa kekeluargaan Kampung Nirwana, ia tidak ingin menghilangkan itu semua, hanya gara-gara teknologi modern. Hanya mesin molen pengaduk pasir semen yang disewa, untuk memudahkan para kuli.
Setiap pagi, setelah para pekerja sarapan pagi, Pak Carik keliling ke proyek. Untuk meyakinkan ketersediaan material serta mengontrol para pekerja. Demikian juga Pak Haryadi yang mendapat tugas untuk mengabsen para pekerja, sewaktu-waktu datang mengontrol kehadiran pekerja. Tentu hal ini terkait dengan hitung-hitungan pembayaran atau upah kerja.
Pak Lurah yang diberi tugas sebagai penanggung jawab penuh dari pembangunan proyek ini, kerjanya seperti mandor. Datang mengontrol secara tiba-tiba. Jika ada pekerja yang hanya duduk-duduk, pasti kena marah dari Pak Lurah. Dengan adanya Pak Lurah yang selalu mengecek setiap pekerjaan, tentu para pekerja menjadi tertib dan rajin.
Bagas sibuk belanja barang-barang kebutuhan bangunan. Belanja batu, pasir, semen dan berbagai kebutuhan bangunan. Bagas menjadi pelanggan setia toko bangunan, karena hampir setiap hari datang ke toko bangunan untuk membelanjakan barang-barang kebutuhan para tukang.
Yang tidak kalah sibuk adalah Bu Marno. Dapur di rumah Bu Marno mengepul setiap hari, menyiapkan konsumsi untuk para pekerja. Dengan dibantu oleh empat ibu-ibu, mereka sibuk memasak. Bahkan mulai sebelum fajar menyingsing, kesibukan di dapur Bu Marno sudah heboh. Tentu saja sibuk, karena harus menyiapkan masakan pagi dan siang, untuk memenuhi kebutuhan makan pekerja sekitar lima puluh orang.
Bukit Taman Awang-awang untuk sementara ditutup bagi wisatawan. Kini baru dibangun dengan berbagai fasilitas yang lengkap. Mulai dari permainan-permainan tradisional yang akan dikemas secara modern, hingga arena bermain anak-anak dan orang tua. Di taman ini, nantinya ada permainan sodamanda digital, dakon digital serta berbagai permainan tradisional yang lainnya. Dan yang tidak boleh ketinggalan adalah pembangunan spot-spot foto yang menarik. Spot pagi, siang, sore dan malam. Semuanya akan disajikan secara menarik.
Tidak hanya obyek wisata saja yang akan dibangun, tetapi area perdagangan, pasar rakyat dan pasar seni juga dibangun. Di area ini para pedagang souvenir hasil kerajinan, pedagang oleh-oleh khas daerah Jogja, serta pedagang hasil karya seni, semuanya bisa menjajakan barang dagangannya. Dan tentu akan didukung dengan pasar kuliner.
Hari pertama dimulainya pembangunan, pagi hari sebelum dimulai, semua pekerja berkumpul di puncak bukit. Pak Lurah, Pak Carik, Yudi dan Yuna juga hadir di puncak bukit itu. Bahkan Yudi mengundang pimpinannya, yaitu Kepala Dinas Pariwisata. Sebelum memulai bekerja, Mbah Modin memimpin doa, memohon keselamatan seluruh pekerjaan. Tentu, di situ sudah tersedia lima buah tumpeng, untuk acara selamatan, sekaligus untuk sarapan para pekerja.
Yuna mengenakan celana jean, baju kotak-kotak lengan panjang warna biru yang dirangkapi dengan rompi warna oranye, kakinya mengenakan sepatu boot, serta mengenakan helm pelindung kepala warna kuning. Ya, itu merupakan standar keselamatan pekerja di Jepang, yang ingin dibuat contoh untuk pekerja di Kampung Nirwana. Oleh karena itu, Yuna minta seluruh pekerja dibelikan sepatu boot dan helm keselamatan.
"Bagas .... Tolong semua pekerja dibelikan sepatu boot dan helm keselamatan kerja, seperti yang saya pakai." kata Yuna memerintah Bagas.
"Siap, Mbak Yuna ...." sahut Bagas yang langsung pergi ke toko bangunan untuk beli helm dan sepatu boot.
Yudi sudah mengenakan helm seperti yang dipakai Yuna. Bahkan pakaiannya hampir sama, yaitu celana jean, baju kotak-kotak lengan panjang. Hanya tidak mengenakan rompi. Sedangkan sepatu yang dipakai bukan sepatu boot, tetapi sepatu khusus dari kulit. Mirip seperti sepatu tentara.
Yudi menjadi orang paling sibuk. Karena ia harus mendampingi Yuna, untuk mengatur para pekerja dalam menentukan lokasi, membuat patok-patok serta rencana pondasi dan sistem kerja, semua perintah dari Yuna. Para pekerja terkadang tidak paham dengan bahasa yang disampaikan oleh Yuna, maka Yudi sekaligus merangkap menjadi penerjemah dan mengatur para pekerja untuk melaksanakan pekerjaannya.
Pak Lurah tidak ke kantor. Ia kasihan pada Yudi yang kewalahan. Harus mengikuti Yuna, tetapi juga harus mengatur pekerja. Oleh sebab itu, Pak Lurah langsung membantu Yudi, ikut mengatur para pekerja sesuai instruksi yang disampaikan oleh Yuna. Mulai dari pengukuran, pemasangan patok-patok bambu sebagai batas, kemudian pemasangan kayu balok dan papan untuk bekisting. Penarikan benang batas, serta penggalian tempat pondasi.
Sementara itu di jalan masuk ke puncak bukit, mobil truk dan colt bukaan pengangkut bahan bangunan keluar masuk lokasi proyek. Mulai dari truk pengangkut batu belah, pengangkut pasir, pengangkut bata merah, serta kendaraan pengangkut material lainnya. Anak buah Mas No, sopir wisata, terlihat sibuk mengatur lalu lintas. Tentu yang paling bahaya adalah di jalan tanjakan menuju puncak bukit. Jalannya hanya satu dan sempit, tanjakannya cukup terjal, tidak bisa untuk bersimpangan mobil. Maka harus ada yang mengatur pergantian keluar masuk.
Ya, hari pertama dimulainya pekerjaan betul-betul sangat ramai. Setidaknya semua sibuk. Hingga sore, bodeman, suri-suri dan papan tembereng untuk bekisting sudah terlihat tertata. Demikian juga benang bangunan yang ditarik untuk menentukan lurusnya rencana pondasi, sudah tertata. Terlihat jelas lokasi yang akan dibangun. Bahkan di beberapa bagian, sudah digali untuk batu pondasi. Demikian juga barak untuk menyimpan peralatan pekerja, material kecil-kecil serta semen, sudah berdiri kokoh. Bahkan barak itu bisa digunakan untuk istirahat.
__ADS_1
Seharian penuh, Yuna dan Yudi sibuk mengatur pekerjaan. Hingga para pekerja sudah pulang pada jam empat sore, Yudi dan Yuna masih berada di puncak bukit. Masih mengamati semua yang sudah dikerjakan. Terutama Yuna, masih membuka gambar denah, untuk menentukan kebenarannya.
Meskipun pengecekan ukuran bangunan adalah keahlian Yuna, namun Yudi tetap mendampingi. Setidaknya menemani melangkah. Memastikan bahwa apa yang sudah dipatok adalah benar, tidak ada yang keliru. Dari tiap titik, dari tiap patok. Yuna mengukur secara teliti dengan menggunakan waterpass digital dan laser. Satu persatu dicek. Yuna melakukannya tanpa lelah, hingga tanpa terasa hari sudah berganti gelap.
"Yudi, hari ini kita cukup. Mari kita pulang." kata Yuna menyudahi pekerjaannya.
"Okey ..., Yuna. Besok kita lanjutkan lagi." sahut Yudi yang langsung menuntun tangan Yuna menuju mobil.
"Oh, Yudi .... I'm tired." kata Yuna setelah duduk di jok mobil yang sudah ditarik ke belakang, langsung menyandarkan tubuhnya. Yuna kelelahan.
"Pekerjaan yang benar-benar melelahkan, Yuna. Seharian penuh, Yuna bekerja tanpa istirahat. Pasti capai." kata Yudi yang memijit tengkuk dan pundak Yuna, sebelum melajukan mobilnya untuk pulang.
"Ooh, Yudi .... Enaak sekali, Yud ...." Yuna yang dipijat langsung pasrah karena merasakan kenikmatan pijatan Yudi.
*******
Jam tujuh malam, mobil Yudi baru masuk garasi. Yudi turun membawakan tas rangsel milik Yuna. Yuna sendiri berjalan gontai karena kelelahan.
"Iya, Mbok .... Harus meneliti ulang, memastikan agar tidak ada yang keliru." jawab Yudi.
"Oalah .... Apa tidak capai?" tanya Simbok lagi.
"Capai semua, Mbok ...." jawab Yuna.
"Ya sudah, sana mandi dulu pakai air hangat. Setelah itu kita makan malam. Ini sudah dibuatkan jamu pegel linu dan beras kencur sama simbokmu." kata Bapak.
"Nggih, Pak ...." jawab Yudi yang langsung menuju ruangannya.
Tidak lama kemudian, Yuna sudah keluar menuju ruang makan, yang sudah ditunggu oleh Simbok dan Bapak. Yuna langsung duduk di samping Simbok.
"Non Yuna ..., ini ada jamu tradisional bikinan Simbok. Bisa untuk menghilangkan rasa capai dan pegal-pegal. Ayo diminum." kata Simbok sambil menyodorkan segelas kecil jamu kepada Yuna.
"Iya, Simbok .... Terima kasih." jawab Yuna yang langsung meminum jamu itu.
__ADS_1
"Bagaimana rasanya?" Yudi yang baru datang langsung menanyai komentar Yuna setelah minum jamu.
"Aahh .... Ada pahit, ada manis .... Enak ...." jawab Yuna.
"Ini untuk Yudi." kata Simbok sambil memberikan segelas jamu untuk anaknya.
"Terima kasih, Mbok." sahut Yudi yang langsung menenggak jamu itu.
"Kalian itu, lho .... Kerja bangunan kok pulangnya sampai malam." kata Simbok.
"Yudi dan Non Yuna ini kan pimpinan to, Mbok .... Ya pulangnya harus ngecek dulu segala sesuatunya. Ya wajar kalau pulangnya sampai malam. Itu tanggung jawab." sahut Bapak.
"Iya, Mbok .... Yuna harus memastikan semuanya benar. Tidak ada yang keliru." timpal Yudi.
"Maaf, Simbok .... Saya kalau pekerjaan belum beres, biasanya tidak mau pulang." timpal Yuna.
"Wealah ..., bocah kok rajinnya nggak karuan. Yo wis ..., yang penting jangan dipaksa terlalu capai, bisa sakit." kata Simbok menasehati.
"Nggih, Mbok ...." jawab Yudi.
"Yo wis, ayo makan .... Ini ada sop ceker, kesukaan Yudi. Ini pepes ikan nila, untuk Non Yuna .... Makan yang banyak, biar kenyang. Nanti tidurnya bisa nyenyak. Besok pagi bangun tidur, badan sudah terasa segar." kata Simbok menyuruh anak-anaknya makan.
"Iya, Mbok .... Lha Bapak sama Simbok tidak makan?" tanya Yudi.
"Saya sudah makan duluan, sudah kelaparan dari tadi sore. Nunggu kalian kelamaan, makanya Bapak sama Simbok makan duluan." kata Bapak.
"Oo, ya sudah .... Kalau begitu, ini jatah kami berdua?" tanya Yudi.
"Ya, habiskan saja." sahut Simbok.
Yuna dan Yudi langsung makan dengan lahap. Wajar karena seharian di lapangan, keliling ke seluruh proyek. Tentu menguras tenaga yang banyak. Maka makan malam mereka habis banyak. Terutama Yuna, pepes ikan nila besar langsung habis. Bahkan Yuna masih mencoba makan dengan sop ceker, masakan Simbok yang tentu enak rasanya. Setelah sibuk bekerja seharian, kini harus disuplai gizi yang banyak.
Memang yang namanya kerja itu sibuk. Bagi orang seperti Yuna, kerja lembur, kerja sampai malam, itu sudah biasa. Tapi bagi masyarakat Kampung Nirwana, yang biasa santai, tentu itu sangat berat. Bahkan tidak ada yang sanggup. Itulah etos kerja yang harus diubah. Kerja yang sungguh-sungguh .... Bukan santai, bukan hanya sekadar duduk-duduk bermalasan, atau bahkan ngerumpi buat gosip yang tidak baik. Yudi dan Yuna ingin membangun etos kerja yang sungguh-sungguh, walau secara perlahan. Yudi dan Yuna yakin, pasti nanti akan ada perubahan.
__ADS_1