KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 129: CEMBURU ITU BERALASAN


__ADS_3

    Siang itu baru jam dua belas. Rini sudah berada di ruang makan, walau belum siap untuk makan siang. Tiba-tiba HP-nya berdering.


    “Tuliliiing tuloliliiiing …. Tuliliiing tuloliliiiing …!”


    Rini melihat yang memanggil, suaminya. Tentu ia bergegas mengangkat telepon itu.


    "Halo, Pah ...." kata Rini saat mngangkat panggilan.


    "Selamat pagi, Mah ...." sahut suaminya yang ada di Jerman.


    "Kok pagi ...? Di sini sudah siang, Pah .... Ini sudah jam dua belas siang." sahut Rini.


    "Lha ini saya baru mau sarapan pagi .... Di sini masih jam tujuh pagi, Mah." kata suaminya.


    "Lhah, saya sudah mau makan siang, Pah .... Ini saya cuman makan gudangan sama lauk ikan asin." kata Rini memamerkan menu makan siangnya.


    "Waah, kalau di sini menu sarapannya komplit, Mah ...." kata Hamdan yang memamerkan kepada istrinya.


    Dipameri menu makanan sarapan pagi yang katanya komplit itu, tentu Rini ingin tahu menu suaminya. Rini ingin melihat seperti apa menunya. Maka Rini langsung memindah panggilannya ke mode video call.


    "Halo, Pah ..., tolong dipindah ke video call .... Tinggal geser video." kata Rini yang meminta untuk video call.


    Sebentar saja, panggilan sudah berubah menjadi video call. Terlihatlah suasana yang sesungguhnya. Rini berada di ruang makan yang masih menghadapi meja makan sendirian. Sementara, Hamdan juga menghadapi meja makan yang penuh dengan menu makanan. Dan yang jelas, Hamdan sedang diapit oleh dua perempuan cantik yang masih muda.


    "Ini, ada macam-macam makanan." kata suaminya yang menunjukkan aneka makanan.


    Rini mengamati aneka makanan yang tersaji di meja restoran hotel. Tetapi Rini lebih mengamati gerak-gerik orang-orang yang masuk dalam video suaminya. Tentu Rini mengamati betul gerak-gerik wanita yang ada di samping suaminya. Itu karena Rini ingin mencari fakta tentang suaminya dan para wanita yang diajaknya.


    Dan, ternyata ....


    "Kok Papah makannya disuapin sama wanita itu ...?!" tegur Rini pada suaminya.


    Ya, dalam video call itu, Rini melihat tangan wanita yang memberikan makanan dalam sendok, disuapkan kepada suaminya.


    Hamdan yang sadar dilihat oleh istrinya, saat wanita yang disampingnya itu menyuapi dirinya, ia langsung mematikan HP-nya.


    "Pah ...! Pah ...! Pah ...!! Kok malah dimatiin?!" kata Rini yang langsung ngambek, kakinya nendang-nendang, jengkel karena panggilannya malah dimatikan oleh suaminya.


    Tentu Rini sangat sok melihat suaminya makan disuapi oleh wanita lain.


    "Kurang ajar .... Ternyata betul kata Silvy, wanita jomblo ini yang pasti akan menggaet suamiku. Wanita in yang jadi pelakor. Dasar ...." gerutu Rini yang tidak jadi sarapan. Perutnya sudah kenyang dengan sendirinya saat melihat suaminya disuapin oleh wanita lain. Bahkan perutnya terasa mual ingin muntah. Jijik menyaksikan wanita pelakor itu mesra bersuapan dengan suaminya.


    Rini berusaha menutupi mulutnya, ia langsung berlari ke kamar, sambil menangis. Sesampai di kamar, Rini melempar tubuhnya di atas kasur, tengkurap di kasur, menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


    Mak Mun yang ada di dapur, terkejut mendengar majikannya menangis. Mak Mun langsung berlari. Melihat ruang makan tidak ada orang, hanya piring kosong yang sudah dibuka di meja, tetapi belum dipakai makan. Berarti majikannya belum jadi makan. Lantas Mak Mun kembali memasang telinga, mencari asal suara tangisan. Di kamar majikannya. Mak Mun langsung berlari, tentu sangat khawatir dengan keadaan Rini. Sudah berkali-kali majikan perempuannya itu jatuh sakit hingga pingsan. Apalagi saat ini, suaminya tidak ada di rumah. Tentu Mak Mun sangat khawatir dan takut.


    "Ibu ...! Ibu ada apa ...?!" tanya Mak Mun yang sudah masuk ke kamar Rini dan menemui majikannya tengkurap di kasur, menangis.


    Meski didatangi Mak Mun, Rini tidak diam, justru tangisnya semakin jadi. Bahkan kedua tangannya memukul-mukul kasur tempat tidurnya. Tentu Mak Mun semakin bingung.


    "Ibu ..., Ibu ada apa ...?! Sabar ibu .... Istighfar ...." Mak Mun yang langsung duduk di kasur dan memijit kaki majikannya.


    Rini yang sudah didekati Mak Mun, tidak berhenti menangis. Tangannya kembali memukuli kasurnya, untuk melampiaskan kejengkelannya.


    "Sabar ibu .... Istighfar, Ibu ...." Mak Mun kembali mencoba melirihkan tangis majikannya.


    Tetapi, lagi-lagi Rini memukuli kasurnya. Kesalnya tidak karuan. Emosinya belum terkendali.


    "Yang sabar, Ibu ..., nanti kalau sakit lagi, lho. Ibu ada apa ...?" Mak Mun mencoba bertanya.


    "Mak Mun .... Huk ..., huk ..., huk ...." Rini mulai memanggil Mak Mun.


    "Iya, Ibu .... Ibu ada apa, kok seperti ini ...?" tanya Mak Mun yang masih memijit kaki majikannya.


    "Saya jengkel, Mak Mun ...." kata Rini yang mulai berusaha menghentikan tangisnya.


    "Jengkel kenapa, Ibu ...? Yang sabar, sareh Ibu .... Istighfar, Ibu ...." Mak Mun kembali menenangkan majikannya.


    "Bapak kenapa, Ibu ...? Bapak kan kerja to, Bu ...?!" sahut Mak Mun, yang masih setia memijit kaki majikannya.


    "Bapak keterlaluan, Mak Mun .... Huhf ...!!" kata Rini sambil membanting bantal.


    "Sabar ibu .... Istighfar, Ibu .... Jangan sampai Ibu sakit lagi .... Istighfar terus .... Semoga Allah melindungi kita semua, menuntun kita ke jalan yang benar, memberi hidayah, melapangkan jalan kita." kata Mak Mun mencoba menasehati majikannya.


    "Iya, Mak Mun .... Terima kasih ...." Rini berusaha duduk di tempat tidurnya.


    "Saya buatkan teh hangat, njih .... Biar segar dan enak." kata Mak Mun menawari majikannya.


    "Iya, Mak Mun ..., jangan terlalu manis, ya ...." sahut Rini.


    "Njih ..., sebentar Ibu ...." kata Mak Mun yang langsung menuju dapur.


    Mak Mun langsung membuat teh hangat untuk Rini. Lantas teh itu dibawa ke kamar majikannya, diberikan kepada Rini.


    Rini menyeruput teh hangat tersebut. Segar ..., dan tentu melegakan pikirannya. Dunia kembali terlihat terang.


    "Ibu Rini tadi belum jadi makan, kan ...? Makan dulu, meski sedikit, untuk mengisi perut biar tidak kosong. Nanti kalau perutnya kosong bisa masuk angin, Ibu ...." kata Mak Mun membujuk majikannya agar mau makan.

__ADS_1


    "Iya, Mak Mun .... Tolong tuntun saya ke ruang makan, Mak ...." kata Rini yang mulai berdiri dari tempat tidurnya.


    "Iya, Ibu .... Monggo ...." jawab Mak Mun yang langsung memegangi tangan majikannya.


    Lantas Rini melangkah menuju ruang makan, mencoba untuk makan.


    "Saya ambilkan nasinya ya, Ibu .... Sedikit apa banyak?" kata Mak Mun yang sudah memegang piring dan centong nasi.


    "Sedikit saja, Mak Mun .... Saya tidak selera makan ...." sahut Rini.


    "Iya, tapi sedikit-sedikit tetap harus diisi." kata Mak Mun yang sudah mengambilkan nasi untuk Rini.


    "Sudah, Mak Mun ..., jangan terlalu banyak, nanti tidak habis." cegah Rini yang melihat Mak Mun mengambil nasi.


    "Lauknya apa?" tanya Mak Mun.


    "Kasih telor ceploknya saja. Atasnya dikasih kecap. Nggak usah pakai sayur." kata Rini.


    "Njih, monggo .... Silakan makan, Ibu ...." kata Mak Mun sambil memberikan sepiring makan untuk Rini. Lantas Mak Mun kembali ke dapur.


    "Mak Mun ...." Rini memanggil pembantunya.


    "Iya Ibu ..., ada apa?" sahut Mak Mun yang segera berlari menemui majikannya.


    "Saya pengin minum yang segar-segar .... Tolong ambilkan es batu di gelas, terus dikasih cola. Jangan terlalu banyak, ya ...."


    "Iya, Ibu .... Siap ...." kata Mak Mun yang langsung membuka kulkas di ruang makan.


    Rini makan nasi putih pakai telor ceplok yang diberi kecap. La Rntas tangannya mengambil stoples berisi ikan asin. Rini mengambil beberapa potong ikan asin, ditambahkan ke piring makannya. Lantas menyendok nasi yang diberi ikan asin. Lumayan, bisa untuk mengisi perut.


    "Ini Ibu ..., es cola yang segar ...." kata Mak Mun sambil memberikan segelas es cola.


    Rini langsung meminum dua teguk.


    "Ceeesss .... Segar, Mak Mun .... Semoga dinginnya es cola ini bisa menyejukkan hatiku." kata Rini yang menyeruput es cola.


    Memang, tadi saat mau makan siang, begitu melihat peristiwa dalam video call dengan suaminya, Rini benar-benar sok. Jantungnya langsung berdegup kencang. Bahkan seakan mau copot. Rini tidak menyangka jika suaminya akan tega pamer suap-suapan dengan wanita lain di video call. Apakah ini sengaja? Ataukah ini sudah biasa dan sering dilakukan? Mungkin saja di kantor, suaminya juga sering melakukan hal yang demikian. Atau bahkan lebih dari sekadar suap-suapan.


    "Uh, dasar ..., laki-laki tua tak tahu malu. Ternyata, ke Jerman hanya sebagai alasan agar bisa jalan-jalan dengan selingkuhannya." begitu yang bergelanyut di pikiran Rini.


    Tentu saja Rini marah, jengkel dan emosi. Tentu saja Rini sangat cemburu. Bahkan tidak sekadar cemburu, tetapi takut kehilangan suaminya, kalau sampai pelakor itu benar-benar menuntut menikah dengan suaminya. Kalau kejadiannya semacam ini, mestinya Rini yang marah, bukan Hamdan. Tetapi kali ini justru kebalikannya, justru Rini yang dimarahi suaminya, justri Rini yang dilarang-larang oleh suaminya, justru Rini yang selalu diberi nasehat. Tetapi kenyataannya .... Suaminya justru yang melakukan hal memalukan.


    "Kalau gue cemburu ..., apa itu juga keliru .... Tapi kalau faktanya seperti itu, apa gue tidak boleh cemburu ...." Rini menggumam sendiri, tentu dengan hati yang diselimuti rasa cemburu.

__ADS_1


__ADS_2