KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 32: RELIEF CINTA DI CANDI BOROBUDUR


__ADS_3

    "Non Yuna ..., besok ikut ke Magelang, ya. Mumpung sampai Indonesia, harus ke Borobudur." kata ibunya Yudi pada gadis Jepang yang digadang-gadang jadi menantunya itu.


    "Borobudur? I want to go to Borobudur Temple. Borobudur Temple is very famous. Many Japanese people talk about Borobudur. Watashi wa shitaidesu. Saya ingin ke Borobudur, Mbok." kata Yuna yang jadi tertarik dengan tawaran ibunya Yudi. Ia langsung melendot ke wanita tua yang ada di sampingnya itu.


    "Ngomong apa bocah ini? Yud, iki apa artinya?" tanya ibunya Yudi.


    "Mbuh, Mbok .... Dia pengin ke Borobudur. Tadi kan yang ngiming-ngimingi Simbok." sahut Yudi.


    "Ya, wis .... Besok Minggu di ajak. Sekalian ngantar Simbok pulang, ya Le." kata ibunya.


    "Ya ...." jawab Yudi santai, mengiyani semua yang diucapkan ibunya. Maklum, Yudi memang tidak mau membuat ibunya kecewa.


    "Asyiiik .... Are we going to Borobudur, Yudi?" tanya Yuna pada Yudi.


    "Yes .... Wis pokoknya, yes lah ...." sahut ibunya Yudi yang sok tahu bahasa Inggris.


    Yuna tertawa, Yudi juga tertawa. Orang-orang pada tertawa mendengar kata-kata yang diucapkan Simbok.


*******


    Hari Minggu, Yudi bersama ayah, ibu dan Yuna, serta Bagas pergi ke Borobudur. Piknik menyaksikan keindahan peninggalan sejarah yang pernah masuk dalam salah satu keajaiban dunia. Mereka berlima terlihat gembira bisa piknik bersama. Terlebih, yang paling gembira adalah ibunya Yudi. Bagaimana tidak, mulai turun dari mobil, berjalan menuju taman, hingga naik kereta menuju candi, ia digandeng oleh Yuna. Wajahnya berbinar, senyumnya mengembang, bisa berjalan bergandengan dengan calon menantu yang sangat cantik, nonik dari Jepang. Bahkan menurut cerita Bagas, Yuna ini yang akan membiayai pengembangan obyek wisata yang dikelola masyarakat Kampung Nirwana. Berarti Yuna adalah orang kaya, uangnya banyak. Berfikir demikian, ibu Yudi semakin bangga.


    Demikian juga bapaknya Yudi. Sudah lama laki-laki tua ini kepengin punya menantu yang mau mendampingi hidup Yudi. Dan kini, ketika ia melihat kemesraan Yudi saat disuapi bakmi oleh Yuna, baiknya Yuna pada ibu calon mertuanya, gadis yang periang dan murah senyum, bahkan Yuna sudah ikut-ikutan menyebut ibunya Yudi dengan panggilan Simbok. Apalagi Yudi pernah mengatakan kepada bapaknya, kalau Yuna adalah seorang seniman yang terkenal di Jepang. Tentu darah senimannya kembali bergairah. Keturunan seniman, punya anak seniman, dan kini akan punya menantu seniman. Wah .... Kelak orang tua ini akan punya cucu yang menjadi seniman hebat.


    "Gas, Ibumu kamu dampingi, kamu yang nuntun. Kita bertiga keliling bareng. Mbak Yuna biar berkeliling sama Mas Yudi, yang bisa menjelaskan. Kalau kamu kan tahunya cuma yes no yes no saja. Haha ...." kata bapaknya Yudi pada Bagas.


    "Iya, Pak. Ku tahu yang kau mau .... Hahaha ...." sahut Bagas sambil tertawa, yang kemudian lari menghampiri sang ibu yang masih berjalan sama Yuna.


    "Ada apa, Gas?" tanya wanita tua itu.


    "Simbok bareng saya dan bapak. Mbak Yuna biar bareng Mas Yudi." bisik Bagas pada wanita itu.


    "Wealah, cerdas kamu, Le. Oke ..., oke ...." sahut ibunya Yudi sambil mengacungkan jempol.


    Lantas wanita itu berhenti, menunggu suaminya. Setelah bersama, taktik mereka bertiga, ibu, bapak dan Bagas, langsung dijalankan. Ibunya bagas berpura-pura minta diantar ke kamar kecil. Bagas mengantar ke kamar kecil. Demikian juga sang suami, ikut menemani. Mereka bertiga berjalan bersama. Sedangkan Yudi dan Yuna yang ditinggalkan, terpaksa berjalan berdua. Walaupun sudah tua-tua, bapak dan ibunya Yudi punya logika yang jalan. Cerdik untuk mengerjai anaknya sendiri. Tentu demi bisa merekatkan Yudi dan Yuna agar lebih mesra.


    Sudah biasa bagi Yudi maupun Yuna, pekerja seni tidak pernah merasa dikerjai. Tetapi saat melihat karya seni yang luar biasa, mereka akan terfokus menikmati karya seni tersebut. Bagi Yudi, mungkin melihat Candi Borobudur sudah tidak kehitung lagi. Tetapi bagi Yuna, ini adalah pertama kali ia menyaksikan keajaiban dunia. Maka akan banyak pertanyaan yang bakal diajukan. Dan Yudi, harus siap untuk menjelaskannya.

__ADS_1


    "Wao, amazing .... Ini sungguh luar biasa, Yudi." kata Yuna pada Yudi saat mengelilingi Candi Borobudur.


    "Candi Borobudur, dibangun pada abad ke delapan. Jaman yang belum mengenal teknologi moderen. Namun mereka sanggup membuat bangunan dengan arsitek yang luar biasa. Look at the background, it's so unbelievably beautiful. Ornamen, pahatan patung-patung Budha, serta relief yang terpampang pada dinding rupadatu." kata Yudi yang menunjukkan keindahan Candi Borobudur kepada Yuna.


    "I was amazed by the architecture. Arsitektur yang luar biasa." Yuna yang berdecak kagum, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


    "Look at, Candi Borobudur memiliki tiga tingkatan yang melambangkan kosmologi Buddha Mahayana, yaitu paling bawah, tempat kita ini, dinamakan kamadhatu atau kaki candi, kemudian yang di tengah itu dinamakan rupadhatu atau tubuh candi, dan yang paling atas itu dinamakan arupadhatu." kata Yudi menjelaskan.


    "What does it mean? How's the history? Sungguh, saya ingin mengerti." kata Yuna yang sudah menggandeng lengan Yudi.


    "Tingkatan kamadatu menggambarkan kehidupan manusia di dunia yang penuh dengan keburukan, nafsu, dan bergelimang dosa. Sifat buruk manusia itu dipaparkan dalam relief paling bawah ini. Maknanya, ketika manusia bergelimang dengan nafsu keburukan, maka ia tidak akan mencapai nirwana." Yudi menjelaskan relief kamadatu kepada Yuna, sambil mengelilingi ornamen paling bawah.


    "Hemm, jadi kita harus berbuat baik, can't indulge, supaya kita bisa masuk nirwana." sahut Yuna.


    "Righ. Untuk mencapai nirwana, kita harus melintasi rupadhatu, yang melambangkan kehidupan manusia yang telah terbebas dari hawa nafsu, walau masih terikat dengan hal-hal yang bersifat duniawi. Kita masih punya keluarga, butuh rumah, butuh makan minum, butuh pakaian dan butuh yang lainnya untuk memenuhi kehidupan." jelas Yudi.


    "Hemm, berarti kita harus berbuat baik. Do right, don't wrong." sahut Yuna.


    "Betul. Sedangkan, tingkatan teratas adalah arupadhatu, yang melambangkan kehidupan religius. Tingkatan ini menggambarkan kehidupan manusia yang telah mencapai kesempurnaan karena berani meninggalkan kehidupan


duniawi. Pada bagian ini tidak dihiasi relief, karena manusia yang sudah memiliki sifat religius, mereka tidak menghendaki hal-hal yang bersifat duniawi lagi. Kehidupannya semata-mata untuk berbakti dan mengabdi kepada Yang Maha Esa. Tidak memikirkan duniawi lagi. Sangat jarang orang yang mencapai tingkatan ini, apalagi jaman sekarang, baru jadi pejabat langsung korupsi." jelas Yudi lagi.


    "Jangankan untuk mencapai arupadhatu, bisa sampai rupadhatu saja sudah hebat. Many people are concerned with worldly life." sahut Yudi.


    "Yudi, adakah relief cinta yang terpahat di dinding Borobudur? Is there a love relief?" tanya Yuna dengan senyum yang menggoda.


    "Of course .... Tentu ada. Namun harus kita pilah, cinta yang didasari nafsu, tergambar pada reliaf kamadhatu. It's forbidden. Lihatlah relief-relief yang terdapat pada kamadhatu ini. Perlakuan percintaan yang tergambar ini semua merupakan perbuatan yang tidak baik. Jangan kita tiru. But for true love, it's okey. Cinta yang dilandasi kasih sayang, cinta yang dilandasi kebaikan, cinta yang bukan karena nafsu semata. Coba lihat relief cinta yang tergambar pada dinding rupadhatu ini. This relief depicts the love story between Queen Kinari and Prince Sudhana. Kisah cinta yang suci akan melahirkan kebaikan bagi umat manusia. Sacred Love." jelas Yudi, sambil menunjukkan reliaf percintaan Ratu Kinari dengan Pangeran Sudhana pada dinding batu itu.


    "Hehem .... Saya sungguh terkesan. I'm very impressed. Yudi ..., adakah relief cinta untukku yang terpahat di hatimu, Yudi? True love." tanya Yuna yang langsung menusuk hati Yudi.


    Yudi terdiam, tidak bisa menjawab. Takut keliru untuk menyampaikan kata-kata. Antara ya dan tidak. Benarkah Yuna bertanya sungguh-sungguh, ataukah hanya bergurau.


    "Bagaimana, Yudi? Why are you silent?" tanya Yuna.


    "Yuna ..., sekarang saya balik bertanya, apakah ada relief cinta yang terpahat dalam hatimu? Is there a relief of love in your heart? Love for me." Yudi membalik pertanyaan Yuna.


    Kini Yuna juga terdiam. Pasti perasaannya sama dengan Yudi. Takut untuk mengutarakan kebenaran hatinya. Lantas jemari Yuna meraba relief dinding Candi Borobudur. Dinding rupadhatu. Jemari lentik yang halus dan putih itu, terus mengelus relief yang menggambarkan kisah cinta Ratu Kinari dan Pangeran Sudhana.

__ADS_1


    Yudi memperhatikan tangan Yuna yang mengelus relief percintaan Ratu Kinari dan Pangeran Sudhana itu. Mengelus setiap lekuk relief. Yudi sadar, jika Yuna ingin mengungkapkan perasaannya seperti halnya perasaan yang dimiliki Ratu Kinari terhadap Pangeran Sudhana. Lantas Yudi mengajak Yuna melangkah ke tangga terakhir. Ruang arupadhatu.


    "Yuna ..., look at this. Inilah area arupadhatu. Kosong, hampa, tidak ada apa-apa. Tidak ada relief sama sekali. Jika kita sanggup mengosongkan ruang hati kita, pasti cinta kita akan lebih abadi, karena tidak terikat oleh hasrat duniawi." kata Yudi menunjukkan stupa besar yang kosong, tanpa ada patung di dalamnya. Lantas menuju stupa yang berpatung, kemudian meletakkan tangan Yuna ke dalam stupa tersebut.


    "What is it?" tanya Yuna yang menurut saja saat tangannya dimasukkan ke dalam stupa oleh Yudi.


    Lantas Yudi juga memasukkan tangannya ke dalam stupa. Mereka bersama memasukkan tangan ke dalam stupa.


    "Ada kepercayaan masyarakat di Borobudur, jika sanggup memasukkan tangannya ke dalam stupa yang terdapat patung Budha, dan dapat menyentuh tangan Sang Budha yang sedang bermeditasi, maka permintaannya akan terkabulkan. Cobalah Yuna, sentuh tangan patung Sang Budha itu, yang oleh masyarakat disebut Kunto Bimo, lalu jika sudah tergapai, mintalah apa yang Yuna inginkan. Believe it or not. This is people's belief." kata Yudi yang juga sudah memasukkan lengannya.


    "Okey, I believe." sahut Yuna, lantas memasukkan tangannya sedalam mungkin, untuk menggapai Sang Budha.


    Setelah beberapa saat berusaha, mereka berdua berhasil memegang Kunto Bimo.


    "Bagaimana, Yuna?" tanya Yudi.


    "I can. Yes, I can. Saya berhasil. Saya bisa menggapai." sahut Yuna yang gembira.


    "Apa yang Yuna pinta?" tanya Yudi.


    "Saya minta dibangunkan relief cinta di relung hati Yudi. Hmm, boleh kan ...?" jawab Yuna.


    "Benarkah?" tanya Yudi ingin meyakinkan.


    "Sure. Bagaimana denganmu? Yudi meminta apa?" Yuna balik bertanya.


    Yudi mendekati Yuna. Lantas memeluk pundak Yuna. Sebagai wanita perawan yang sudah kelewat umur, begitu merasakan pelukan yang penuh kasih sayang, Yuna merasa sangat nyaman. Akhirnya Yuna pun merebahkan kepalanya di dada Yudi. Menyaksikan kenyamanan Yuna dalam dekapannya, Yudi merasa ada getaran yang sama dalam hati mereka berdua, yaitu getaran cinta yang ingin dipadukan bersama.


    "Yuna, banyak hal yang tidak kita ketahui. Relief di Candi Borobudur adalah tatanan kehidupan bagi umat manusia. Kita hanyalah manusia biasa yang tidak punya kuasa. Kita hanya bisa meminta. Semoga saja relief-relief cinta yang digambarkan oleh Ratu Kinari dan Pangeran Sudhana, bisa menjadi teladan bagi cinta kita berdua." jawab Yudi dengan penuh kelembutan.


    "Apakah itu berarti Yudi sudah mengukir relief cinta bagi saya?" tanya Yuna yang semakin memanja dalam pelukan Yudi.


    "Saya berharap, relief-relief cinta yang terpahat di Candi Borobudur ini, yang ada di dinding rupadhatu ini, terpahat di relung hati kita berdua, dengan tujuan untuk mennggapai dinding arupadhatu, agar kita bisa mencapai surga." kata Yudi dengan belaian kasih sayangnya pada Yuna.


    Tentu, Yuna semakin pasrah tentang cerita cintanya.


    "Yudi ...! Ayo pulang ...! Simbok sudah lapar, Le ...!" teriak ibunya memanggil Yudi.

__ADS_1


    "Ya ..., Mbok ...." sahut Yudi yang bergegas turun menuntun Yuna.


__ADS_2