KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 229: PUPUTAN


__ADS_3

    Betapa senangnya Rini dan Yudi mempunyai seorang anak. Apalagi bagi Rini, yang sudah menikah bersama Hamdan selama tiiga puluh tahun, belum punya keturunan. Dulu pernah mengambil Silvy sebagai anaknya dengan harapan bisa memancing agar punya keturunan, namun sampai Silvy dewasa, bahkan Silvy sudah menikah, Rini belum juga punya anak. Hingga Hamdan meninggal, ternyata tidak juga punya keturunan. Makanya ketika suaminya meninggal dunia, terus para saudara, kakak dan adik-adik suaminya meminta warisan suaminya, Rini pasrah. Tentu karena Hamdan tidak punya keturunan bersama Rini.


    Maka ketika baru menikah dengan Yudi, dan Rini langsung hamil, ia sangat senang. Rini merasa menjadi wanita yang sempurna. Wanita yang bisa memberikan keturunan bagi suami sebagai penerus harkat dan martabat sebuah keluarga.


    Demikian juga Yudi, dengan kehadiran seorang bayi dalam keluarganya, tentu gairah hidupnya bertambah semangat. Bayi itu memberi motivasi yang luar biasa. Rasa kasih sayangnya menjadi sempurna. Tidak sekadar mencintai seorang istri yang cantik, tidak hanya menyayangi anak dan menantunya Rini, yaitu Silvy dan Yayan. Tetapi Yudi juga mencurahkan cinta dan kasih sayangnya kepada anak kandungnya yang baru saja lahir.


    Tidak ketinggalan, Silvy dan Yayan, merasa senang meski sudah dewasa harus punya adik yang baru saja dilahirkan oleh mamahnya. Setidaknya, lahirnya bayi kecil itu bisa menggembirakan Silvy. Kini setiap hari, Silvy maupun Yayan punya mainan baru, yaitu seorang bayi kecil yang mungil. Pantasnya bayi ini menjadi anak mereka berdua. Paling tidak, Silvy sudah mulai berlatih untuk memomong bayi.


    Ya, memang bagi Silvy dan Yayan untuk penya anak itu masih ditunda lebih dahulu. Kala itu Yayan berpikir ingin menata hidupnya dahulu, setidaknya menunggu rumah tangganya lebih sejahtera ekonominya. Namun setelah dua tahun lebih Silvy dan Yayan menikah, memang belum dikaruniai seorang bayi. Tidak apa-apa. Kini ada adik kecil yang tentu juga menggembirakan hidupnya. Maka setiap hari, Silvy bersama Yayan, pasti menengok bayi mungil anak ibunya itu.


    Hari Minggu pagi, rumah Yudi sudah ramai oleh ibu-ibu para tetangga yang membabtu masak-masak, untuk upacara adat selapanan atau puputan.bayi perempuannya. Suasana rumah Yudi pun sangat ramai, riuh oleh orang-orang yang menyiapkan acara puputan tersebut. Tentu, mereka juga mengobrol membicarakan berbagai hal.


    "Mbakyu ..., anakmu yang di Jakarta itu sudah punya anak apa belum?" tanya salah seorang ibu kepada ibu yang lain.


    "Belum .... Ndak tahu itu, kenapa kok lama belum punya keturunan." jawab si ibu yang ditanyai.


    "Waah .... Tidak tokcer kayak Mas Yudi." sahut ibu-ibu yang lain.


    "Ya iya, lah .... Mas Yudi itu kan sudah tua, ibarat pepatah seperti kelapa .... Semakin tua, maka santannya semakin kental dan bagus." sahut ibu yang lain lagi.

__ADS_1


    "Oo ..., gitu, ya .... Pantesan Ibu Rini langsung hamil .... Berarti kalau makin tua seperti Mas Yudi itu, malah santannya makin kental, ya ..., makin jos begitu ...." sahut yang lain lagi.


    "Eeh .... Disuruh masak kok malah pada ribut ini ..., pada ngomongin apa, to ...?" kata yang lain menegur.


    "Kiqiqik ...." tentu ibu-ibu yang ditegur itu pada tertawa kecil sambil menutup mulutnya.


    Walau sambil cerita, sambil ngobrol, atau boleh dikatakan sambil bergunjing, namun pekerjaan mereka tetap terselesaikan. Memang asyiknya ibu-ibu kalau bekerja itu pasti dengan bincang-bincang. Kalau bekerja kok diam saja, katanya malah lama tidak selesai-selesai dan malah mengantuk dan cepat lelah.


    Maka, belum sampai sore, semua masakan untuk persiapan acara puputan bayinya Yudi dan Rini sudah siap. Ada nasi tumpeng dua buah. Ada pisang raja dan buah-buah lain serta jajanan pasar yang sangat banyak. Tentu ini semua akan digunakan sebagai suguhan dalam acara selamatan, yang rencananya akan diadakan seltelah mahrib.


    Sedangkan di atas tempat duduk gazebo, sudah ada tumpukan sekitar dua ratus dus. Dus itu berisi nasi serta lauk pauknya. Dan di dalamnya terdapat selembar kertas tercetak sebuah nama sang bayi. Nantinya dus-dus ini akan diberikan kepada tamu-tamu yang datang ke rumah Yudi. Ya, seperti biasanya, adat masyarakat di Kampung Nirwana, setiap ada orang yang mengadakan acara puputan, biasanya ibu-ibu pada datang menengok bayi, yang saat itu didoakan selamatan untuk diberi nama. Nah, saat para tetangga ini datang, biasanya ibu-ibu nyumbang, memberi amplop berisi uang kepada ibu yang melahirkan, yaitu Rini. Para tamu yang menengok bayi itu disuguhi berbagai makanan, lantas saat pulang mereka diberi dos berisi makanan tersebut.


    Tentu Rini yang duduk di ruangnya sambil memangku bayinya, heran dan kaget dengan tradisi di kampungnya. Ia harus menyalami setiap tetangga yang datang, dan memperlihatkan bayinya. Beruntung Simbok membantu menunggui Rini, mesti duduk di kursi di ruang Rini, yang tentu bisa menjelaskan adat itu.


    Rini mengikuti saja apa yang menjadi tradisi di kampung itu. Yang penting bagi Rini, ketika Yudi bilang baik, mengatakan tidak apa-apa, maka Rini menurut saja pada kata-kata suaminya. Maklum, Yudi pernah cerita bahwa dirinya membangun Kampung Nirwana dengan dasar kebersamaan dan keakraban. Istilah kerennya Yudi menyebut sebagai paguyuban atau gemeinschaft, yaitu kelompok masyarakat yang didasarkan dengan ikatan batin yang sangat kuat.


    Maka, ketika para tamu, para tetangga berdatangan menengok bayi sambil memberi sumbangan, Rini menerima semuanya. Itulah adat yang harus dia ikuti sebagai bagian dalam kehidupannya. Itulah tradisi yang menjadi bagian dalam budaya masyarakat perkampungan. Itulah kebiasaan yang tidak boleh ditentang, meski Rini bukan penduduk asli Kampung Nirwana.


    Di belakang, dekat dengan gazebo, Silvy ikut membantu membagikan snack makanan kecil dan minuman, serta dus makanan yang dibawa pulang oleh para tamu. Sangat ramai sekali. Banyak tamu yang datang menengok bayi. Namun tentu Silvy tidak sendirian. Ada beberapa remaja putri yang ikut membantu.

__ADS_1


    Di pendopo luar, Yayan bersama beberapa pemuda mengatur tempat yang nanti akan dipakai untuk selamatan. Yayan sudah mengelar tikar di lantai pendopo. Nanti malam, para tetangga laki-laki atau bapak-bapak, akan datang mengikuti acara selamatan puputan anaknya Yudi. Beberapa pemuda sudah menambah lampu di luar pendopo. Tentu biar suasana rumah Yudi nanti malam lebih terang. Karena biasanya, adat orang Kampung Nirwana, setelah acara selamatan, dilanjutkan dengan acara lek-lekan, yaitu acara melek-melek, tidak tidur semalaman untuk menjaga keamanan dan keselamatan sang bayi.


    Sementara itu, di bagian belakang pendopo, Yudi sudah menulis nama anaknya pada sebuah karton besar. Karton yang ditulisi nama sang bayi, nantinya akan ditempel pada tiang agar bisa terbaca oleh setiap orang yang datang. Sedangkan di dinding rumah, di depan kamar tempat Rini bersama bayinya berada, juga sudah ditempeli tulisan nama pada kertas yang juga cukup besar. "Yuni Kartika", itu nama bayi Yudi dan Rini yang hari ini skan diselamati pada acara puputan. Konon, Yuni itu gabungan dari nama Yudi dan Rini, diambil bagian depan dan belakang, jadilah panggilan nama Yuni. Sedangkan Kartika maknanya adalah bintang, Yudi berharap anaknya kelak akan bersinar seperti bintang, berkelip di angkasa raya menjadi bagian dari keindahan alam.


    Di lantai pendopo yang sudah digelari tikar, para pemuda sudah menata dua buah tumpeng, yang berada di tengah-tengah. Tumpeng ini berisi nasi dengan berbagai lauk-pauk. Di tengahnya ada bucu yang terbuat dari nasi dengan bentuk kerucut. Lauk utamanya adalah ingkung ayam. Tumpeng ini melambangkan kemakmuran, yaitu ditunjukkan dengan melimpahnya makanan yang ada dalam tumpeng tersebut.


    Kemudian juga ditata buah dan jajanan pasar yang ditempatkan dalam tampah, nyiru yang terbuat dari anyaman bambu. Jumlahnya juga dua nyiru. Buah-buahan yang beraneka ragam ini melambangkan kesuburan tanah yang mampu menghasilkan berbagai buah-buahan segar. Sedangkan jajanan pasar ini melambangkan kemakmuran masyarakat sehingga sanggup membeli berbagai macam barang dagangan yang ada di pasar.


    Selanjutnya juga ditata dua buah piring berisi bubur, yang satu berwarna merah dan yang satu lagi berwarna putih. Orang Kampung Nirwana menyebutnya dengan istilah bubur abang putih. Konon bubur ini merupakan perlambang bersatunya darah dan tulang. Bubur putih melambangkan tulang dan daging, sedangkan bubur merah melambangkan darah. Kehidupan manusia tidak bisa terlepas dari bersatunya darah dan tulang tersebut. Dalam acara puputan atau pemberian nama, bubur abang putih inilah yang dijadikan sebagai perlambang awal kehidupan sang bocah.


    Malam itu tamu yang datang ke rumah Yudi sangat ramai. Hampir semua bapak-bapak warga Kampung Nirwana, bahkan ada beberapa remaja, ikut hadir untuk acara selamatan puputan dan pemberian nama bayinya Yudi. Tentu yang memimpin adalah Pak Modin.


    "Bapak-bapak semuanya ..., malam ini kita diundang ke rumah Mas Yudi, untuk acara selamatan. Menyelamati lahirnya sang jabang bayi putri dari Mas Yudi dan Ibu Rini, yang sudah lahir beberapa hari yang lalu, lahir dengan sehat, selamat tidak ada halangan apapun. Malam ini adalah puputan. Mas Yudi akan memberi nama bayinya yang cantik. Makanya Bapak-bapak semua diundang di rumah Mas Yudi ini, untuk menyaksikan pemberian nama tersebut. Namanya siapa, Mas Yudi ...?" kata-kata Pak Modin yang mulai memimpin doa selamatan puputan.


    "Yuni Kartika, Pak Modin ...." sahut Yudi.


    "Ya ..., bahwa bayi Mas Yudi hari ini sudah puput, maka Mas Yudi mengadakan syukuran yang sekaligus akan memberi nama bayinya. Puputan berarti Dengan disaksikan Bapak-bapak semua, Mas Yudi memberi nama putrinya, yaitu Yuni Kartika. Tentu dengan berbagai macam persembahan .... Ada tumpeng sego golong ingkung ayam, jajanan pasar, hasil bumi aneka rupa, serta bubur abang putih sebagai sarana syukuran pemberian nama Yuni Kartika tersebut ..., semoga mendapatkah berkah yang melimpah dari Yang Maha Kuasa. Semoga Yuni Kartika sehat, bagas, waras, dan bersinar di masyarakat, dapat menjadi anak yang saleh, berbakti kepada orang tua, berguna bagi masyarakat, bangsa dan negara, serta terhadap agamanya." kata Pak Modin.


    "Aamiiiiin ...." seru semua yang hadir di rumah Yudi.

__ADS_1


    "Mari kita memanjatkan doa bersama-sama, yang tentunya akan saya pimpin, dan mohon untuk diamini ...." kata Pak Modin yang langsung memimpin acara selamatan.


    "Yuni Kartika" sebuah nama bagi anak yang cantik dari hasil pernikahan Yudi dan Rini, semoga menjadi anak yang cantik, anak yang akan memancarkan sinarnya, gemerlap bagai bintang di langit.


__ADS_2