KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 19: CELOTEH WA YANG MENGGODA


__ADS_3

    Sehabis reuni di Jogja kemarin, Kini Rini mempunyai kesibukan baru, yaitu menyereti layar HP. Ya, apalagi kalau bukan WA-WA nan sama teman-temannya. Rini yang dulu jarang memegang HP, kini hampir setiap detik selalu membuka layar HP-nya.


    "Selamat pagi teman-teman .... Bagaimana kabarnya, sehat selalu ya, jangan lupa merenges, biar kelihatan bahagia." satu chat di WA grup alumnus muncul di layar HP.


    "Aamiin .... Alhamdilillah, sehat." jawab chat selanjutnya.


    "Bagaimana kabar di Nusa Tenggara?"


    "Baik. Cuaca cerah berawan."


    "Halo Pekalongan .... Bagaimana kabarnya?"


    "Oleh-olehnya sudah dibuka apa belum?"


    "Aku gak beli oleh-oleh."


    "Bakpia ..., bakpia ..., bakpia ...."


    "Aku beli kaos di Malioboro seratus ribu dapat enam potong. Murah banget."


    "Aku beli peyek ubur-ubur di Pantai Prangtritis .... Rasanya sensasional."


    "Tolong yang kemarin ambil gambar-gambar, di share, ya ...."


    "Siaap ...."


    "Videonya juga."


    "Terutama yang lucu-lucu .... Hahaha ...."


    "Semua saja, yang punya foto maupun video acara di Jogja kemarin, mohon di share."


    Obrolan di WA grup terus mengalir deras bagai gerimis. Saling balas, saling tanya, saling jawab. Saling meminta, saling memberi. Tentu anggota grup alumnus ini masih terbawa meriahnya reuni di Jogja kemarin. Tentu rasa senang, bahagia, dan ceria yang membasuh rasa kangen dan kerinduan yang lama terpendam, membuat acara reuni menjadi benar-benar meriah dan menyenangkan. Kebersamaan dan kemesraan setelah tiga puluh tahun berlalu, kini tertuang dalam pertemuan yang indah. Reuni sudah kembali menyatukan mereka, menikmati masa-masa muda saat SMA yang terulang di masa tua para alumnus. Maka tidak heran, jika hari-hari pertama, minggu hingga bulan pertama, mereka terus berkomunikasi, terus mengobrol, walau hanya sekedar lewat chat di WA grup. Tidak ketinggalan, teman-temannya yang ada di luar negeri.


    "Halo, @Yudi .... Bagaimana kabarnya Jogja?"


    Yayuk menulis obrolan di WA grup. Menanyakan kabar Yudi.


    Rini membaca tulisan Yayuk. Hatinya berdebar. Ada tanda tanya, mengapa Yayuk nge-chat Yudi? Harusnya dirinya dulu. Tapi bagi Rini, malu untuk menanyakan Yudi di grup WA. Takut rahasianya diketahui teman-temannya.


    "@Yayuk. Baik, Mis Yayuk .... Bagaimana kabar Mis Yayuk di Palembang?"


    Yudi membalas obrolan Yayuk. Tentu sudah sewajarnya jika bertanya balik. Obrolan yang biasa terjadi di grup WA.


    "So happy .... I miss you, Yudi .... Aku pengin ke Jogja lagi .... Kemarin belum sempat ke rumah Yudi ...." balasan dari Yayuk.


    Dada Rini berdegup kencang saat membaca obrolan Yayuk yang menulis I miss you kepada Yudi. Apakah ini yang namanya cemburu?


    Ya, tidak bisa dipungkiri oleh Rini jika banyak teman wanitanya yang tertarik pada Yudi. Wajah tampan dan otak yang cerdas, serta sikapnya yang baik budi, tentu banyak wanita yang jatuh hati pada Yudi. Namun saat SMA Yudi yang pendiam, seolah cuek dan tidak pernah mau menganggap teman-teman wanitanya sebagai teman yang spesial. Hanya Rini yang selalu mengajak Yudi ke rumahnya untuk mengerjakan PR dan tugas-tugas. Itu pun Yudi tidak pernah mengatakan suka maupun menampakkan kedekatannya dengan Rini. Nah, sekarang, setelah tahu Yudi memiliki rumah seperti istana, Yudi mengelola usaha pariwisata di kampung yang dia bangun, Yudi menjadi orang sukses yang baik sebagai tokoh masyarakat, sanggup menggerakkan masyarakat menjadi berdaya, tentu teman-temannya menjadi terkagum. Apalagi posisi Yudi yang masih bujang, belum menikah, walaupun sudah tua .... Jangankan gadis atau janda, teman-temannya yang sudah punya suami pun, pasti akan senang jika bisa berdekatan dengan Yudi. Itulah yang membuat dada Rini berdebar. Tetapi tentu, Rini tidak ingin teman-temannya tahu. Terlalu vulgar untuk menyampaikan kata-kata itu di WA grup. Apalagi posisinya adalah seorang ibu rumah tangga yang sudah punya suami.


    Namun satu hal yang diyakini dalam hati Rini, Yudi hanya mencintai dirinya, dan Yudi tidak mungkin tergoda oleh teman-teman perempuannya.


    Rini penasaran, ingin tahu apa yang akan ditulis oleh Yudi untuk membalas chat dari Yayuk.


    "Halo, @Yudi .... Ini lho, sudah ada yang kangen!"

__ADS_1


    "@Yudi .... Kapan-kapan aku ke Jogja, minta diantar keliling Jogja, ya ...."


    "@Yudi .... Rumahmu keren, kayak istana kerajaan Majapahit."


    "Ah, kemarin aku kok gak diajak mampir rumah Yudi, ya ...."


    "Aku juga nggak ...."


    "@Yudi .... Yud, kapan aku bisa ke rumahmu? Mau berswafoto di rumah kamu yang mirip kerajaan jaman kuno."


    "Yudi sayang ..., ajak aku ke rumahmu, dong ...!"


    "Yudi, aku mau jadi pembantu rumah tanggamu ...."


    "Ngapain jadi pembantu rumah tangga? Enakan jadi permaisurinya .... Hahaha ...."


    "Iya, ya ..., kenapa kemarin kita tidak mampir ke rumah Yudi?"


    "Kita terlalu asyik membatik, sih."


    "Yang ke rumah Yudi siapa, sih? Kok nggak ngajak-ngajak?"


    "Handoyo sama Alex."


    "Eh, Rini kan malah pingsan di rumah Yudi ...."


    "@Rini .... Rini, gimana kabarmu? Katanya kamu pingsan di rumah Yudi, ya? Kenapa?"


    "Kaget lihat rumah Yudi, ya?"


    "Rini, kamu sehat, ya ...."


    Rini hanya mengintip obrolan di WA grup alumnus yang sudah sangat panjang. Tetapi tidak memberikan komen. Obrolan eman-teman wanitanya itu sudah cukup membuat emosi batinnya. Ia hanya ingin tahu jawaban Yudi di obrolan itu. Ia ingin tahu komen apa yang akan diberikan oleh Yudi.


    Cukup panjang menunggu obrolan. Tetapi Yudi belum juga komen. Apakah Yudi menjawab secara pribadi? Ataukah teman-teman wanitanya yang menghubungi secara japri?


    Ada rasa ingin menghubungi Yudi dalam pikiran Rini. Tetapi ia juga ingin menjaga harga dirinya. Sebagai wanita tidak ingin mendahului bertanya. Apalagi posisi dirinya adalah istri dari orang lain.


    "Yudi ...,kenapa kamu tidak menghubungiku? Ayo hubungi aku, Yud .... Telpon atau WA, biar aku lega." gumam Rini yang menggelora dalam kalbu.


    Berkali-kali Rini membuka nomor Yudi. Ingin menelepon, tidak jadi. Buka lagi, ingin menulis chat, diurungkan. Rini gelisah. Antara akan menghubungi Yudi dan tidak usah. Gelisah menunggu orang yang dirindu, tetapi tidak juga nongol, tidak menelepon, tidak menulis WA, tidak kirim pesan sama sekali. Ach .... Yudi memang payah, tidak tahu dirindukan orang. Begitu gerutu Rini.


    "Maaf, teman-teman, saya sedang ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Maaf low respon."


    Akhirnya Yudi menulis WA, membalas obrolan teman-teman di grupnya.


    Rini, walau tidak ikut menulis obrolan, begitu membaca tulisan Yudi, sudah lega. Hatinya plong. Berarti Yudi tidak japrian dengan teman-teman perempuannya. Syukurlah.


    "Hai, Yudi ...."


    "Yudi ...!"


    "Yudi, aku sudah kangen sama kamu."


    "Yudi, kapan bisa ngantar aku jalan-jalan?"

__ADS_1


    "Iya, Yud ..., kenapa kemarin kita gak dibawa ke rumah kamu?"


    "Yudi .... Aku pengin ke rumah kamu!"


    "Yud, kamu ada waktu senggang hari apa? Aku pengin menginap di rumahmu."


    "Iya, pengin tinggal di rumahmu, Yud ...."


    Obrolan WA para perempuan kembali mengusik pikiran Rini. Berulang kali teman-teman perempuannya ingin datang ke rumah Yudi. Kenapa? Yudi itu milikku .... Bukan milik orang lain. Harusnya aku yang berkata begitu, bukan kalian ..., karena Yudi itu milikku. Begitu kecamuk pikiran Rini. Ia betul-betul cemburu.


    "Kenapa sih, aku kok cemburu banget ya? Aku kok takut kalau Yudi didekati orang lain, didekati teman-teman perempuanku. Aku takut kehilangan Yudi. Tapi aku tidak berdaya. Aku sudah berkeluarga, aku sudah punya suami. Tidak etis bagi seorang seperti diriku berkata begitu. Tapi aku takut, takut kehilangan kamu, Yud." kecamuk kata hati Rini.


    Berkali-kali Rini membuka HP, melihat obrolan WA yang membikin rasa cemburu semakin menggelora.


    "Aku harus kuat. Aku tidak boleh memberikan komentar dalam WA grup. Aku harus bisa menjaga diri. Jaim. Aku bukan wanita murahan. Aku punya harga diri." itu kata hati Rini.


    Ya, walaupun berkali-kali Rini menyeret layar HP-nya, ia hanya mengintip. Sama sekali tidak menulis obrolan. Dan sengaja, tidak akan menulis. Harus jaim. Toh Yudi juga tidak memberikan komentar yang bersifat pribadi. Yudi tidak merespon kesediaannya untuk melayani teman-temannya. Yudi tidak menjawab kesanggupan pada permintaan teman-temannya. Yah, itu sudah membuat hati Rini tenteram.


    "Tuliliiing tuloliliiiing .... Tuliliiing tuloliliiiing ...." HP Rini berdering.


    Rini mengamati panggilan. Yudi yang memanggil. Rini segera mengangkat telepon yang ditunggu-tunggu.


    "Halo, Yudi .... Iih ..., jahat banget sih kamu, gak telpon-telpon. Aku kangen, tahu!" kata Rini saat mengangkat telepon.


    "Maaf, Rini .... Pekerjaanku lumayan banyak. Mau telepon malam hari, takut mengganggu privasi Mas Hamdan." balas Yudi dalam telepon.


    "Yud, aku jengkel." kata Rini yang mengeluh.


    "Kenapa?" tanya Yudi.


    "Tuh, temen-temen kok obrolannya kayak gitu." kata Rini.


    "Kayak gitu bagimana?" tanya Yudi.


    "Tuh, semua pada nge-chat kamu. Ada yang rindu, ada yang kangen, ada yang pakai miss-miss-an segala, ada yang pengin tidur di rumah kamu. Ufct ..., dasar!" desah Rini.


    "Ih ..., ih ..., ih .... Cemburu, ya?!" jawab Yudi mengejek.


    "Iiih .... Ge-er amat, sih ...!" sahut Rini.


    "Ya, udah ..., kalau tidak cemburu, besok aku mau suruh teman-teman perempuan kita datang ke rumahku, biar menginap di sana semua." goda Yudi pada Rini.


    "Ya ..., ya ..., ya .... Sana cepetan panggil semua, buruan .... Cepat!" Rini marah.


    "Lah, kok marah ...? Cemburu berat, ya ...?!" kata Yudi lagi.


    "Ya, iya lah .... Masak gak tahu perasaan wanita!" kata Rini yang sewot.


    "Lah, aku kok dicemburuin, memangnya aku ngapain?" tanya Yudi.


    "Ya, iya lah .... perempuan-perempuan pada nge-chat kamu, bagaimana aku tidak cemburu?!" sahut Rini.


    "Ya, udah .... Mohon maaf." kata Yudi yang selalu mengalah.


    "Pokoknya mulai sekarang tidak ada obrolan di WA yang bikin hatiku panas, bikin cemburu. Kalau ada chat dari teman cewek, gak usah dibalas!" kata Rini tegas.

__ADS_1


    "Iya, mohon maaf, ya .... " kata Yudi meminta maaf.


    Ya, kalau dibaca, sebenarnya obrolan dalam WA grup itu juga wajar-wajar saja. Memang seperti itu umumnya.  Tetapi yang namanya cemburu, terkadang tidak bisa diredam. Walau hanya sekedar kata-kata yang muncul sebagai gurauan, tetapi bagi Rini yang sensitif, gurauan itu membuat cemburu yang keterlaluan. Itulah obrolan di WA grup, yang selalu menggoda.


__ADS_2