
Malam itu, Yudi dan Yuna bekerja di pendopo depan. Memilih meja yang besar, agar leluasa dalam menggelar kertas kerjanya. Dari hasil cek lapangan rancangan pengembangan Taman Awang-awang yang dilakukan oleh Yudi dan Yuna, tentu banyak ditemukan kekurangan data dari survei awal. Itulah manfaat dari kroscek lapangan. Dengan pengamatan secara langsung, apalagi dilakukan bersama antara pengambil data dan orang yang punya kepentingan, maka gambar awal rancangan proyek, banyak coret-coretan, mengalami banyak perubahan. Tidak sekedar membenarkan data yang keliru, tetapi juga memberikan penambahan-penambahan rancang bangun, guna memperindah dan membuat desain lebih artistik. Ya, mereka berdua memiliki jiwa seni yang sama. Maka keindahan adalah kunci utama. Jika Taman Awang-awang jadi, maka obyek wisata ini bukan sekedar menawarkan keindahan alam, tetapi juga menyajikan nilai seni yang artistik.
Di pendopo depan, Yudi dan Yuna menggelar kertas-kertas kerjanya pada meja besar. Dua unit laptop milik Yuna dan Yudi sudah menyala, Mereka mencocokkan gambar-gambar yang sudah dicoret-coret, kemudian memperbaiki desain yang ada di komputernya. Yuna mulai memperbaiki desain. Sementara di samping Yuna, Yudi memperbaiki proposol, tentunya terkait dengan perubahan macam obyek yang akan disajikan. Tidak hanya menambahkan area parkir, tetapi juga menambahkan obyek-obyek permainan tradisional yang dikemas menjadi spot moderen. Dua orang itu pun asyik dengan laptopnya masing-masing.
Tanpa tersa, malam semakin larut. Yuna mulai menguap berkali-kali. Tanda sudah sangat mengantuk.
"YUdi, saya sudah mengantuk. I'm sleepy. I'm tired." kata Yuna.
Ya, tentu Yuna sudah kelelahan, seharian sibuk dengan pekerjaannya di lapangan.
"Silakan tidur dulu. Please sleep, I finished my work." sahut Yudi yang masih menghadapi laptopnya.
Yuna yang sudah sangat mengantuk, menyandarkan kepalanya di pundak kiri Yudi. Yuna langsung memejamkan mata. Perlahan tubuh Yuna merosot turun, dan akhirnya Yuna meletakkan kepalanya di paha kiri Yudi, untuk dijadikan bantalan kepalanya. Tubuhnya miring menghadap ke perut Yudi. Kakinya menekuk di bangku besar yang bisa dijadikan tempat tidur. Tangannya juga dilipat di dadanya, karena kedinginan. Yuna langsung terlelap.
Yudi membiarkan Yuna yang tertidur di pahanya. Bahkan Yudi melepas jaketnya untuk diselimutkan pada tubuh Yuna, agar tidak terlalu kedinginan. Yudi terdiam sejanak. Memandangi wajah Yuna.
"Betapa cantiknya gadis ini, kenapa tidak juga mau menikah." gumam Yudi.
Lantas Yudi membenarkan geraian rambut Yuna yang menutupi wajahnya. Ia singkap agar tidak mengganggu tidurnya, biar nyaman.
Namun saat jemari Yudi menyibak rambu-rambut halus itu, tiba-taba tangan Yuna meraih tangan Yudi, lantas dipeluk erat, seperti memeluk guling. Lengan kiri Yudi sudah menjadi alat nina bobo bagi Yuna.
Yudi membiarkan tangannya dipeluk Yuna untuk sementara waktu. Takut membangunkan gadis yang sedang terlelap tidur itu. Ia pun menghentikan pekerjaannya. Kini Yudi hanya mampu memandangi wajah ayu yang tidur di pangkuannya. Yudi menyandarkan kepalanya di bagian belakang bangku. Sedangkan tangan kanannya ditaruh pada kepala Yuna, sambil mengelus-elus rambutnya.
Setelah yakin kalau Yuna sudah tertidur pulas, perlahan-lahan Yudi menarik tangan yang dipeluk Yuna, lantas dua tangan Yudi mengangkat kepala gadis itu. Lantas Yudi bangkit berdiri, membopong tubuh gadis yang tertidur itu, membawanya ke kamar tidurnya. Yudi membujurkan tubuh cantik itu di atas kasur.
"Uh .... Berat juga tubuh Yuna." gumam Yudi sambil membopong Yuna.
Setelah itu, Yudi kembali ke pendopo depan, untuk memberesi berkas-berkas pekerjaannya. Setelah selesai, Yudi pun beranjak tidur.
*******
Hari belum terlalu panas, saat ibu dan bapaknya Yudi sampai di rumah belakang, di garasi. Turun dari mobil yang disopiri Bagas, dua orang tua itu langsung masuk ke bangunan induk.
"Yudi ...!" wanita tua itu berteriak memanggil anaknya.
"Iya, Mbok ...!" Yudi yang berada di pendopo depan, berteriak menjawab.
Yudi berlari ke belakang, kaget mendengar suara panggilan dari ibunya. Lantas menemui ibu dan bapaknya yang sudah duduk di ruang makan, lantas mencium tangan kedua orang tuanya.
"Mana gadis yang dari Jepang itu? Simbok mau lihat. Pengin ketemu. Katanya cantik, ya?!" tanya ibunya.
"Ya ampun, Simbok .... Kata siapa? Pasti ini semua isunya Bagas." sahut Yudi.
Tiba-tiba, pintu ruang tempat tidur Yuna terbuka, dan Yuna keluar. Tentu mendengar ada suara ribut-ribut, Yuna ingi tahu. Ia pun mendekat ke tempat Yudi yang sedang bersama ibu dan bapaknya.
"Oo ..., ini to, anaknya ...." ibunya Yudi yang tahu kehadiran Yuna, langsung memperhatikan dari ujung rambut hingga telapak kaki.
__ADS_1
"Yuna ..., she is my mother, and he is my father." Yudi mengenalkan orang tuanya pada Yuna.
"O, ya .... My name is Yuna." dengan senyum cantiknya, Yuna menyalami ibu dan bapaknya Yudi.
Ibunya Yudi tersenyum lebar. Nampak senang bisa bersalaman dengan gadis Jepang yang cantik itu. Demikian juga bapaknya Yudi. Lantas Yuna disuruh duduk dekat dengan ibunya Yudi.
"Tidak bisa bahasa Jawa to, Le?" tanya bapaknya.
"Sedikit saya bisa .... Aku ..., teresno ...., seliramu .... Haha ...." kata Yuna yang kemudian tertawa.
"We, ladalah .... Yang ngajari siapa ini? Kamu ya, Yud?" tanya ibunya yang kaget, tapi juga geli.
"Yang ngajari Bagas. Anak kurang ajar itu." sahut Yudi.
"Wis, ndang ..., kapan dinikahkan?!" tanya bapaknya.
"Lah, nanti kalau lamaran bagaimana? Aku takut naik pesawat, je ...." timpal ibunya.
"Ya ampun, Pak ..., Bu .... Yuna itu di sini kerja. Kok malah pada setres, to ini?!" kata Yudi sambil mecucu.
"Wis, to .... Cepetan dinikah. Bapakmu sudah kepengin nggendong cucu." kata ibunya.
"Bapak setuju banget, Le ...." sahut bapaknya.
"Aku ya setuju. Cantik banget, he ...." ibunya menimpal.
"What hapen?" tanya Yuna yang tidak tahu apa yang dibicarakan.
"It is okay. Just kidding. Tidak ada apa-apa, cuman bergurau kok." jelas Yudi pada Yuna.
"Oh, really? Tadi saya mendengar ..., ada yang mau menikah? Want to marry?" tanya Yuna lagi.
"Iya, Nonik Yuna .... Bagaimana kalau Nonik Yuna menikah dengan Yudi? sahut bapaknya Yudi.
"Saya? Saya menikah dengan Yudi? Haha .... I am very happy." kata Yuna yang tersenyum lebar.
"Lho ..., Yud ..., kamu dengar sendiri kan, Non Yuna senang menikah sama kamu." kata ibunya.
"Simbok ..., dia bercanda." kata Yudi pada ibunya.
"Sudah, gak usah nunggu-nunggu lagi .... Nonik Yuna ini sudah sangat cantik sekali, mau cari bidadari yang seperti apa lagi, kamu itu, Yud?" kata bapaknya yang memuji kecantikan Yuna.
"Iya, Le .... Biar rumahmu ini ramai, tidak sepi kayak kemarin." sahut ibunya.
"Ya ..., ya ..., ya .... Wis, tidak usah ribut lagi. Berharap ndog blorok." sahut Yudi yang capai berdebat dengan orang tuanya.
Bersamaan dengan itu, Bagas datang membawa dua tas kresek yang berisi berbagai macam makanan. Lalu menaruhnya di meja makan, tempat orang-orang berkumpul.
__ADS_1
"Ini lotek, kesukaan Simbok.Ini lontong sayur, kesukaan Bapak." kata Bagas yang membagikan bungkusan makanan.
"Wah, kamu tahu saja kesukaanku, Gas. Terimakasih ya, Gas." kata bapaknya Yudi, yang sudah dianggap sebagai bapaknya Bagas sendiri.
"Iya, Pak. Yang ini saya dititipi bakmi Mbok Yati. Bakmi Gunung Kidul, khusus untuk Mbak Yuna. Katanya bakmi spesial untuk calon istri Mas Yudi." kata Bagas yang memberikan bungkusan bakmi kepada Yuna.
"Haha .... Thank you, Bagas." kata Yuna yang menerima bungkusan bakmi.
"Lah, kok, Mbok Yati sudah ngerti to, Gas?" tanya Simbok.
"Walah, Mbok ..., orang se kampung sudah tahu semua. Meeka senang, minta Mas Yudi cepat-cepat nikah." sahut Bagas.
"Dasar, kamu itu, Gas .... Penyebar gosip yang gak bener!" kata Yudi.
"Hahaha .... Bukan saya, Mas Yudi .... Itu ibu-ibu di warung kuliner yang cerita." bantah Bagas.
Sementara Yuna, gadis Jepang yang digosipkan itu, malah senyam-senyum. Tampak bahagia, bisa bercengrama bersama keluarganya Yudi.
"Heh, lha aku mana, Gas?" tanya Yudi yang belum dapat bagian.
"O ya, lupa. Ini, Mas .... Pecel sama peyek kacang." kata Bagas.
"Lha punyamu mana?" tanya Yudi pada Bagas.
"Ini, Mas Yudi, bakmi Mbok Yati Gunung Kidul. Sama punyanya Mbak Yuna." jawab Bagas sambil menunjukkan bakminya.
Mereka berlima pun makan bersama dengan suasana yang meriah.
"Yudi, this noodle is too much. I can't eat it all." kata Yuna.
Lantas Yuna menyuapkan bakmi itu kepada Yudi. Yudi yang tahu bakmi Yuna memang porsinya besar, pasti tidak habis dimakan sindiri. Maka Yudi menurut saja ketika Yuna menyuapinya.
"Hmm ..., enak. Delicious." kata Yudi yang disuapi bakmi.
"Lagi. Again." kata Yuna yang menyuapkan bakmi lagi.
Yudi senang disuapi Yuna, karena bakminya enak.
Bapak dan ibunya Yudi, diam-diam memperhatikan anaknya. Hatinya gembira ketika anak laki-lakinya terlihat mesra dengan gadis Jepang itu. Apalagi saat menyaksikan Yuna menyuapi bakmi kepada Yudi, sungguh mesra banget. Maka tak pelak, ibu dan bapaknya menikmati makanan sambil senyum-senyum. Dan, makanan yang dinikmati, tanpa terasa sudah habis. Ya, kalau hati senang, makan pun jadi nikmat.
"Coba ini, try to eat this. Pecel. Come on ...." kata Yudi yang kemudian menyuapi Yuna.
"Hemmm .... Hah ..., ah .... Spicy. Pedas." kata Yuna yang merasa pecelnya terlalu pedas.
Yudi tertawa melihat Yuna kepedasan. Yuna juga tertawa. Bagas ikut tertawa. Bapak ibunya Yudi juga tertawa. Semua tertawa. Semua bahagia.
Yuna dan Yudi saling menyuapi makanan. Asyik sekali. Sangat mesra. Kemesraan mereka sungguh menyenangkan ayah ibunya. Kemesraan itu, jelas melambangkan kasih sayang. Semakin dan semakin mesra. Apakah ini tanda-tanda getaran cinta mulai berkembang?
__ADS_1