
Hari Sabtu pagi, Hamdan sudah siap memanasi mobil. Barang-barang yang akan dibawa ke Jogja sudah dimasukkan ke dalam bagasi. Hanya dua koper kecil. Satu koper berisi pakaian ganti milik Hamdan dan Rini, satu koper lagi milik Silvy dan suaminya.
Rini dan Silvy sudah masuk ke jok tengah. Tentu ditemani oleh jajanan-jajanan aneka macam. Sementara Hamdan duduk di jok depan sebelah sopir.Yayan, suami Silvy yang menyetir mobil itu. Perlahan fortuner putih itu keluar dari pintu gerbang rumah Hamdan, melaju menuju jalan tol Jakarta - Solo.
Silvy menelepon Yudi, mengabari.
"Halo, Papah Yudi .... Ini kami sudah berangkat dari Jakarta." kabar Silvy kepada Yudi.
"O, ya .... Kami tunggu kedatangannya. Nanti langsung saja menuju Nirwana Homestay. Saya tunggu di sana." jawab Yudi yang ada di Jogja.
"Oke, Pah .... Jangan lupa sediain makanan yang enak-enak, ya .... Hehe ...." kata Silvy.
"Siaap ...." sahut Yudi.
Sementara itu, di Tangerang, Alex bersama keluarganya juga sudah menyiapkan diri. Menata barang-barang bawaan di mobil alphard warna hitam. Alex mengajak istri dan anak bungsunya perempuan, yang baru saja naik kelas dua SMA. Tentu anak dan istrinya senang akan diajak berwisata ke Jogja. Alex menyetir sendiri. Jika capai, nanti akan diganti istri atau anaknya. Ya, istrinya Alex orangnya mandiri. Maklum, sering ditinggal oleh suaminya, maka harus bisa menyetir sendiri untuk pergi-pergi. Demikian juga anak perempuannya, meski masih SMA sudah diajari menyetir agar bisa pergi-pergi sendiri. Itulah resiko keluarga yang kepala rumah tangganya sibuk. Sehingga, Alex tidak pernah khawatir jika bepergian ke mana-mana. Apalagi hanya sekadar pergi ke Jogja yang perjalanannya lewat tol terus.
"Halo, Yudi ...." Alex menelepon Yudi.
"Iya, Lex? Bagaimana?" balas Yudi yang ditelepon.
"Ini saya sudah meluncur dari Tangerang ...." sahut Alex yang sudah menjalankan mobilnya.
"Oke, langsung menuju Nirwana Homestay. Nanti kita ketemu di sana. Rini bersama keluarganya juga barusan telepon sudah berangkat." jawab Yudi.
"Siap ..., Bos ...." jawab Alex, yang selanjutnya mematikan telepon, konsen untuk menyetir.
Di Lombok, di Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, dokter Handoyo bersama istrinya sudah siap menunggu penerbangan menuju Jogja. Di ruang tunggu, dokter Handoyo mengangkat HP-nya, menelepon Yudi.
"Halo, Yudi .... Bagaimana kabar?" suara dokter Handoyo dalam telepon.
"Selamat Pagi, dokter Handoyo .... Kabar baik. Apakah sudah berangkat ke Jogja?" balas Yudi yang langsung menanyakan keberangkatannya.
"Tentu, Yudi, sahabatku yang baik hati .... Ini saya sudah di ruang tunggu Bandara Internasional Lombok. Pesawat nanti berangkat jam 10. 50. Transit di Denpasar, dan perkiraan sampai di Jogja YIA, sekitar pukul 12.45." jawab dokter Handoyo.
"Pakai transit segala?" tanya Yudi.
"Maklum, Lombok bandara kecil, tidak ada yang langsung ke Jogja. Tapi hanya transit sebentar kok." sahut dokter Handoyo lagi.
"Oh, iya .... Ini teman-teman yang dari Jakarta dan Tangerang juga baru berangkat tadi pagi-pagi. Pada nyetir sendiri." sahut Yudi.
"Ya, mereka lewat darat ada jalan tol, enak .... Bisa cepat dan nyaman." kata dokter Handoyo.
"Iya, memang jalan tol trans Jawa banyak menguntungkan. Tentu sangat memangkas waktu perjalanan. Dari Jakarta ke Jogja, paling-paling hanya tujuh jam. Perkiraan, selambat-lambatnya mereka sampai Jogja jam dua siang. Ya, hampir bersamaan denganmu Pak dokter." jelas Yudi.
"Oh iya, Yud ..., nanti kami dari bandara YIA kalau ke tempat Yudi, dengan naik taksi bagaimana rutenya?" tanya dokter Handoyo.
"Nanti langsung saja, pesan taksi bandara ke Kampung Nirwana, langsung menuju Nirwana Homestay. Nanti menginapnya di Nirwana Homestay. Saya menunggu di sana." jelas Yudi.
"Oke, siap, Bos .... Ini pesawat saya sudah siap boarding. Sampai jumpa nanti di Jogja." kata dokter Handoyo yang langsung mematikan HP-nya, siap naik pesawat.
*******
Jam satu siang, Yudi bersama Yuna sudah berada di Nirwana Homestay. Yudi sudah memarkirkan mobilnya di homestay Unit 1, yaitu milik paguyuban sopir wisata, yang sudah jadi dan tertata rapi. Nanti rencananya keluarga Alex dan dokter Handoyo akan menginap di homestay Unit 1 tersebut, sudah dipesankan oleh Yudi. Penamaan nomor homestay menggunakan sebutan Unit. Unit 1, Unit 2, Unit 3 dan seterusnya. Diberi nama unit, karena di setiap penginapan ada empat buah kamar yang menjadi satu unit bangunan.
Di homestay Unit 1 sudah ada seorang pengurus yang berada di situ, tentu juga mau menyambut tamu pertamanya yang akan datang menginap. Ya, penginapan sahabat-sahabat Yudi ini adalah tamu pertama yang akan menempati dan menginap di Nirwana Homestay. Maka petugas homestay beserta pengelolanya, diminta oleh Yudi agar benar-benar bisa melakukan penyambutan dan pelayanan sebaik mungkin, untuk memberikan kesan yang bisa membuat para penginap betah, kerasan dan ketagihan. Tentu itu merupakan cara promosi yang paling akurat.
Saat pegawai itu melihat ada mobil avanza hitam yang sudah diketahui milik Yudi, ia langsung berlari menuju halaman parkir. Menyambut kedatangan Yudi bersama Yuna.
"Selamat datang di penginapan Nirwana Homestay, Mas Yudi dan Mbak Yuna." sambut pegawai penginapan tersebut dengan membungkukkan badan dan mengacungkan jempol. Cara penghormatan ala Jogja.
__ADS_1
"Bagus ...!" kata Yudi sambil mengacungkan jempol.
"Hehe ..., Mas Yudi." pegawai itu tersenyum lebar pada Yudi.
"Nah, caranya begitu. Sudah bagus. Untuk menyambut tamu harus ramah dan penuh senyum ..., meski tidak punya uang .... Hehehe ...." Yudi memuji sambil menasehati, tetapi dikemas dengan cara lucu, maka pegawai itu merasa senang.
"Sambutan saya tadi, masih kurang apa, Mas?" tanya pegawai penginapan itu minta masukan.
"Sudah bagus, tapi perlu ditambah, misalnya menanyakan; ada yang bisa kami bantu, boleh saya bawakan kopernya, atau dengan penawaran lain yang sesuai dengan kondisi tamu." Yudi tetap selalu memberikan masukan kepada siapa saja yang terlibat dalam pengembangan wisata di Kampung Nirwana.
"Baik, Mas Yudi .... Terima kasih selalu memberi pengetahuan kepada kami." kata pegawai penginapan tersebut.
"O, ya .... Tadi saya masuk gerbang, belum ada satpam yang jaga. Tolong nanti temannya yang bertugas di pintu gerbang dan administrasi di pos depan, harus selalu siap. Kemungkinan setelah teman-teman saya menginap di sini, mereka akan menyampaikan ke teman-teman yang lain. Apalagi sebentar lagi Taman Awang-awang akan diresmikan, tentu para tamu akan segera berdatangan. Jadi bagian pengelola penginapan juga harus siap." Yudi tetap memberikan kritikan untuk memperbaiki teknik pengelolaan penginapan.
"Iya, Mas Yudi .... Nanti akan saya sampaikan ke teman-teman." sahut pegawai tersebut.
"Bagus .... Pokoknya, jangan berhenti untuk selalu maju dan menjadi yang terbaik." tambah Yudi.
"Terima kasih, Mas Yudi ...." jawab pegawai itu.
"Lhah, yang jaga di Unit 3 siapa? Nanti kan juga akan ditempati oleh yang punya, Pak Hamdan ...?" tanya Yudi.
"Sudah ada pegawai yang di sana, Mas Yudi. Modelnya nanti satu pegawai bertanggung jawab untuk satu unit penginapan. Mungkin masih mengepel lantainya." sahut pegawai itu.
"Ya, sudah ..., bagus itu. Tunggu tamunya datang, ya .... Saya mau melihat bangunan milik Mbak Yuna." kata Yudi yang selanjutnya berjalan bersama Yuna menuju ke homstay Unit 8, pesanan Yuna.
Sambil menunggu kedatangan sahabat-sahabatnya, untuk mengisi waktu, Yudi bersama Yuna menyaksikan para tukang yang sedang mengerjakan bangunan di Unit 8, milik Yuna. Pembangunan masih lima puluh persen. Atap dan genteng belum terpasang. Rencananya bangunan itu akan rampung bulan Agustus. Masih ada sisa waktu satu bulan lebih.
Ada lima tukang yang melakukan pekerjaan bangunan di Unit 8. Yudi menyapa dan tentu melihat konstruksi bangunannya. Seperti yang dipesankan oleh Yudi kepada pengembang, pembangunan Nirwana Homestay mengutamakan artistik bangunannya. Karena Yudi ingin memadukan nilai-nilai seni bangunan penginapan dengan obyek-obyek wisata serta bangunan lain di Kampung Nirwana yang didesain dengan arsitek gaya kuno.
Lantas Yudi dan Yuna berjalan-jalan menyaksikan bangunan yang lain juga. Sudah ada lima unit bangunan yang berdiri. Yang sudah jadi seratus persen baru Unit 1 dan Unit 2. Penginapan milik Rini, yaitu Unit 3, bagian penginapannya sudah selesai, tinggal halaman parkir dan taman serta pagar batas dengan Unit 5 yang belum dibangun. Tetapi untuk sementara pekerjaan dihentikan, karena kamarnya akan dipakai oleh pemiliknya.
Penginapan Unit 4, milik Silvy, hampir sama dengan milik ibunya. Hanya tinggal penyelesaian bangunan luar. Penginapan Unit 6 dan 7 masih berupa fondasi.
Yudi merogoh HP-nya, mengangkat telepon.
"Halo, Alex .... Sudah sampai mana?" kat Yudi menjawab telepon Alex.
"Hehe .... Ini saya sudah masuk di gerbang Nirwana Homestay .... Di mana dirimu, Yud?" balas Alex.
"Ya, langsung masuk saja ke penginapan Unit 1. Saya sudah di sini. Oke, saya langsung ke depan." jawab Yudi, yang langsung mematikan teleponnya, dan mengajak Yuna menuju penginapan Unit 1.
Mobil alphard warna hitam masuk ke halaman parkir penginapan Unit 1. Parkir berdekatan dengan mobil avanza warna hitam milik Yudi. Seorang pegawai penginapan, yang tadi sudah bertemu Yudi, kini ia menyambut kedatangan tamunya, yaitu Alex bersama istri dan anak perempuannya.
Yudi langsung menemui Alex yang baru saja turun dari mobilnya.
"Hai ..., Alex .... Bagaimana kabarnya?" kata Yudi yang langsung berpelukan dengan sahabatnya itu.
"Baik ..., baik ..., baik ...." sambut Alexander.
"Hai, Lina .... Gimana kabarnya?" kata Yudi lagi saat menyalami istri Alex. Yudi kenal dan pernah akrab, karena istri Alex dulu adik kelasnya waktu SMA.
"Baik, Mas Yudi .... Oh, ya ..., ini putri kami yang ragil." sahut istri Alex, tentu sambil menyuruh anaknya menyalami Yudi.
"Oh, ya ..., kenalkan, ini tunangan saya sekaligus bos saya yang membangun Taman Awang-awang." Yudi mengenalkan Yuna pada sahatnya.
"Wow .... Undangannya jangan lupa ...." kata Alex, sambil menyalami Yuna. Demikian juga istri dan anaknya.
Sesaat Yudi dan Alex bercakap-cakap, di pintu gerbang terlihat mobil fortuner warna putih yang masuk. Yudi sudah hafal mobil itu. Yayan yang menyetir.
__ADS_1
"Nah, itu Rini dan keluarganya." Kata Yudi menunjuk mobil fortuner putih tersebut.
"Kok kamu tahu, Yud?" tanya Alex.
"Sudah pernah kemari dua kali. Dan penginapan Unit 3 itu milik Rini." jelas Yudi pada Alex.
"Wao .... Ternyata para bos menyimpan uangnya di Kampung Nirwana ini." sahut Alex.
Yudi berlari keluar, menghampiri fortuner putih yang baru masuk itu, dan memberi aba-aba untuk masuk ke penginapan Unit 3. Yayan, sang sopir menantu Rini, langsung mengikuti aba-aba Yudi.
Seorang pegawai penginapan keluar ke halaman parkir yang belum dipasang paving block, lantas menyambut tamunya, serta membawakan koper masuk ke kamar penginapan. Dua kamar, yaitu satu kamar untuk Hamdan dan Rini, dan satu kamar lagi untuk Silvy dan suaminya.
Alex ikut beranjak menuju penginapan Unit 3, menyambut kedatangan Rini bersama keluarganya. Sementara istri dan anaknya sudah dibantu oleh pegawai penginapan masuk ke kamar. Dua kamar berdampingan, satu kamar untuk anaknya, dan satu kamar lagi untuk Alex dan istrinya.
"Hai, Rini .... Bapak Hamdan .... Bagaimana kabarnya?" sambut Alex pada Rini dan keluarganya. Mereka saling bersalaman.
"Hai, Alex .... Baik, Lex .... Kapan nyampai?" tanya Rini.
"Baru sekitar lima belas menit yang lalu. Berarti tadi kita beriringan ...." jawab Alex.
"Yuna mana, Yud?" tanya Rini.
"Lhah, itu .... Sudah gojegan dengan Silvy." sahut Yudi.
"Eh, iya .... Yuna, I miss you ...." kata Rini yang langsung berpelukan dengan Yuna.
"I miss you, too ..., Rini ...." jawab Yuna yang memeluk erat tubuh Rini. Maklum, Yuna sudah tahu permasalahan Rini, maka ia ingin berempati.
Yudi memandang lekat dua perempuan yang saling berpelukan itu. Jantungnya berdebar. Dua cinta yang menggetarkan hatinya, saling merindu di depan matanya.
"Memang kalian sudah saling kenal?" tanya Alex pada Rini.
"Kami sudah bertemu berkali-kali, Lex ...." jawab Rini.
Tidak berselang lama, ada taxi bandara yang masuk ke penginapan. Pasti itu mobil yang ditumpangi dokter Handoyo. Dan benar. Saat kaca jendela di buka, terlihat dokter Handoyo.
Yudi berlari, mengarahkan taxi untuk berbelok masuk ke penginapan Unit 1. Sopir taxi itu pun membelokkan mobilnya ke Unit 1, lantas keluar membuka pintu. Dua orang penumpang turun, dokter Handoyo dan istrinya.
Petugas penginapan langsung berlari, menyambut dan memberi salam kepada tamunya. Lantas membantu membawakan koper tamunya. Istri dokter Handoyo mengikuti pegawai penginapan itu, masuk ke kamar.
Yudi langsung menyambut kedatangan dokter Handoyo. Demikian juga Alex dan Rini yang langsung menyalami.
Sementara Yuna, sudah asyik bersama Silvy dan Yayan. Tentu Pak Hamdan juga ikut asyik mengobrol di ruang terbuka depan kamar penginapan.
"Wao ..., wao ..., wao .... Ini benar-benar luar biasa, Yudi .... Kamu memang manusia dewa. Aku sangat terkagum dengan nilai senimu, Yudi ...." Handoyo menepuk-tepuk pundak Yudi.
"Aah ..., kalian terlalu memuji. Ini bukan pekerjaan saya, ada pengembang yang mengelola. Rini sudah beli dua. Ayo kalian pada beli. Pas, itu tinggal dua unit. Ayo dipesan, Alex sama Pak dokter. Jadi nanti kita bisa reunian terus di Nirwana Homestay ini." kata Yudi yang tentu sambil promosi.
"Uangnya siapa, Yud ...?!" sahut Alex dan dokter Handoyo bersamaan.
"Murah, kok .... Yang penting punya dana tiga ratus dulu, pesan jadi, langsung dibangun. Soal angsuran, nanti kalau sudah dipakai penginapan, uang sewanya langsung masuk sebagai angsuran hingga lunas. Enak, kan ...?!" jelas Yudi.
"Berat di ongkos, Yud ...." sahut Alex.
"Halah, kamu itu merendah. Mobilnya saja alphard kok bilang berat di ongkos .... Kecil, Bos ...." ejek Yudi.
"Yah, itu kita bahas nanti. Yang penting kita acarakan dulu reunian persahabatan kita." kata Handoyo yang mulai mengarah pada rencananya.
Ya, pertemuan empat sahabat di halaman parkir penginapan itu benar-benar sesuatu yang sangat menyenangkan. Walau baru awal bertemu, mereka berempat sudah kelihatan sangat hangat dan mesra. Sama akrabnya saat mereka SMA dulu. Tentu saling menghormati satu sama lainnya.
__ADS_1
Yudi merasa senang saat melihat teman-temannya gembira. terutama Rini, yang seakan sudah pulih kesehatannya. Tinggal nanti malam, dan besok, untuk bersenang-senang bersama.
Akankah Rini pulih seperti sedia kala? Akankah Rini menyadari bahwa Yudi bukanlah miliknya yang harus dipertahankan? Akankah Rini sadar bahwa nilai persahabatan lebih penting jika dibandingkan dengan percintaan?