KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 142: LUKISAN KAMPUNG KARANG


__ADS_3

    Tiga buah mobil melintas masuk ke Kampung Karang. Yang paling depan mobil Avanza hitam, dinaiki oleh Yudi dan Yuna. Selanjutnya diikuti mobil jip bukaan, ada tiga perempuan yang naik di dalamnya, tentu dengan dandanan yang tidak karu-karuan, mereka adalah Ana bersama teman-temannya, pelukis lulusan ASRI teman kuliah Yudi. Dan yang paling belakang sendiri mobil colt brondol, di depan ada dua orang bersama sopir, sedangkan di bak belakang ada tiga orang laki-laki dan perlengkapan lukis yang cukup banyak.


    Seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya kepada remaja-remaja di Kampung Karang, hari minggu pagi, Yudi bersama Yuna kembali datang ke Kampung Karang, untuk mengajari anak-anak melukis keindahan alam. Tetapi mereka tidak hanya datang berdua, Yudi mengajak serombongan teman-teman seniman, para pelukis Jogja yang diajak untuk mengabadikan keindahan alam Kampung Karang.


    Yudi menghentikan mobil sejenak di depan rumah Pak Kadus, tentu memberi tahu kalau dia mengajak teman-temannya ke Kampung Karang untuk melukis.


    "Maaf, Pak Kadus, saya mengajak teman-teman untuk melukis keindahan pemandangan di sini." kata Yudi pada Pak Kadus.


    "Oh ..., nggih, Den Mas Yudi .... Monggo ...." Pak Kadus, pasti langsung mengijinkan.


    "Maturnuwun, Pak Kadus ...." kata Yudi.


    "Lha, ini ..., si Kenang anak saya tidak ikut pulang ke sini, Den Mas ...?" kata Pak Kadus menanyakan anaknya yang beberapa hari lalu ikut Yudi untuk bekerja.


    "Tidak usah khawatir, Pak Kadus .... Kenang sedang belajar bersama teman-temannya. Semoga dia betah." jawab Yudi.


    "Nggih, maturnuwun ..., Den Mas Yudi ...." sahut Pak Kadus.


    "Oh iya, Pak Kadus, kalau bisa saya minta tolong, apakah Ibu bisa memasak makan kami bersama teman-teman? Ada sepuluh orang." kata Yudi meminta tolong untuk dimasakkan.


    "Bisa, De Mas Yudi .... Tapi nanti lauknya apa, Den Mas?" Pak Kadus menanggapi.


    "Seperti kemarin itu saja, Pak Kadus, dibelikan ikan tangkapan nelayan." kata Yudi, yang kemudian merogoh kantong mengambil uang dari dompet dan diberikan kepada Pak Kadus. Tentu untuk membeli bahan masakan.


    "Nggih, Den .... Siap ...." sahut Pak Kadus.


    Selanjutnya, Yudi kembali menjalankan mobilnya, melintas di jalan kampung, di antara rumah-rumah nelayan, hingga habis jalannya. Yudi terus bablas melintas pasir, hingga roda mobil mulai sulit untuk berputar. Yudi menghentikan mobilnya di tempat yang teduh, di sekitar pohon-pohon kelapa. Demikian juga teman-temannya, yang langsung berloncatan dari atas mobil.


    "Wao .... "


    "Keren ...."


    "Luar biasa ...."


    Mereka semua takjub, terkagum menyaksikan keindahan Pantai Kampung Karang.


    Yudi dan Yuna keluar dari mobilnya. Lalu mendekati teman-temannya, yang semuanya memandangi pantai.


    "Bagaimana ...?!" tanya Yudi pada teman-temannya.


    "Sangat menakjubkan ...." jawab teman-temannya.


    "Nah ..., silakan memilih lokasi sesuka kalian masing-masing, mana yang nyaman, yang enak dan cocok. Makan siang kita, nanti di sini. Kita menikmati masakan khas Kampung Karang." kata Yudi pada teman-temannya yang akan melukis Kampung Karang.


    "Asyik ...." sahut teman-temannya yang gembira karena dapat makan ditraktir Yudi.


    Mereka pun, teman-teman Yudi para pelukis itu, menyebar mencari lokasi sesuai pilihannya masing-masing, dengan membawa peralatan lukis sendiri-sendiri.


    Yudi masih di bawah pohon kelapa bersama Yuna, tentu menunggu kedatangan anak-anak para remaja yang akan diajak melukis. Dan tidak lama, mereka sudah pada datang menemui Yudi. Tidak hanya Dulah dan Atmo, tetapi ada beberapa temannya yang juga ikut, termasuk ada remaja putri yang juga datang ke situ. Yudi senang melihat mereka datang.


    "Pernah melihat orang melukis seperti itu?" tanya Yudi sambil menunjuk ke teman-temannya yang sudah mulai melukis.


    "Belum ...." jawab Dulah, remaja Kampung Karang yang bertubuh kurus.


    "Mereka semua itu para pelukis di Jogja. Mereka teman-teman saya. Lukisannya bagus-bagus, dan banyak yang terjual." kata Bagas sambil menunjukkan para pelukis yang sudah mulai beraksi.


    Tentu anak-anak itu melongo, karena memang benar-benar tidak tahu tentang profesi melukis. Baru kali ini mereka melihat orang yang melukis. Demikian juga dengan peralatan dan bahan-bahan lukis. Kalau di sekolah, mereka hanya mengerti pelajaran menggambar. Itu hanya di lembaran kertas di taruh di atas meja, lantas digambar dengan pensil atau pulas, dan yang agak lebih maju menggunakan water verb. Mereka belum mengenal kanvas, belum mengenal cat minyak, belum mengenal easel atau tiang penyangga lukisan. Makanya mereka diam, hanya memandangi dengan penuh keheranan. Baru kali ini mereka melihat itu semua.


    Yudi mengeluarkan peralatan lukis dari bagasi belakang mobilnya. Ia mengangkat tiga buah easel, disuruh membawa Dulah dan Atmo. Lantas Yudi juga mengambil tiga buah kanvas, juga disuruh membawa Dulah dan Atmo. Lantas Yudi mengambil dua buah palet cat masih baru, dua set kuas yang masih baru, dua set cat oil juga masih bari. Palet cat, kuas dan cat oil yang masih baru tersebut diberikan satu set untuk Dulah dan satu set lagi untuk Atmo. Sedangkan Yudi membawa palet cat dan kuas yang sudah terpakai, milik Yudi yang biasa digunakan.


    "Ayo, kita ke bawah pohon kelapa itu, yang dekat dengan sandaran perahu. Kita akan belajar melukis di sana." Ajak Yudi pada Dulah dan Atmo.

__ADS_1


    Dua remaja itu mengikuti Yudi. Lantas mereka diajari caranya memasang easel, diajari caranya menempatkan kanvas pada tiang penyangga. Kemudian Yudi mengajarkan cara menatap obyek lukisan. Untuk pertama kali mereka belajar melukis, Yudi ingin dua anak itu melukis perahu-perahu nelayan yang bersandar di pantai. Ya, Yudi memilih ini karena obyek ini diam, tidak bergerak, sehingga lebih mudah untuk diamati. Maka pemasangan kanvas sudah diarahkan ke perahu-perahu itu. Dua remaja itu berdiri berjejer, siap melukis.


    "Nah, kalian lihat perahu-perahu itu. Perahu itu adalah objek lukisan kalian. Caranya, tarik napas lebih dahulu. Beberapa kali hingga dirimu tenang. Selanjutnya, lihat perahu itu. Fokus pada objek yang akan kamu lukis. Jangan melihat kanan kirinya, hanya melihat objek kalian. Pindahkan objek itu dalam pikiranmu, lantas keluarkan pada kanvas dengan cat-cat ini. Pilih cat yang sesuai warnanya dengan objek lukisan, tuangkan sedikit saja pada palet, kemudian tetesi sedikit minyak, lantas dioles-oles pakai kuas. Jika cat itu sudah basah dengan minyak dan menempel di kuas, selanjutnya goreskan ke kanvas. Silakan dicoba." begitu kata-kata Yudi mengajari Dulah dan Atmo melukis.


    Setelah mengajari Atmo dan Dulah,Yudi memasang easelnya sendiri. Memasang kanvas untuk melukis.


    "Cantik ..., coba kemari, Sayang ...." Yudi memanggil tiga anak perempuan yang masih berdekatan dengan Yuna.


    "Eh, itu ..., kalian dipanggil Mas Yudi ...." kata Yuna pada remaja-remaja putri itu.


    Tentu mereka langsung menghampiri Yudi. Yuna pun ikut melangkah mengikuti tiga dara menghampiri Yudi.


    Lantas Yudi meminta tiga anak gadis itu duduk di atas perahu yang ditarik ke daratan. Mungkin perahu itu sudah bocor, tetapi masih terlihat bagus. Selanjutnya Yudi mengatur tiga gadis itu, untuk duduk di bibir perahu. Tiga gadis itu akan dijadikan objek lukisan Yudi.


    "Cantik sekali ...." kata Yuna memuji anak-anak itu. Bahkan Yuna juga ikut mengatur kaki, tangan dan rambut gadis-gadis itu.


    "Tenang dahulu, ya .... Saya ingin melukis kalian ...." kata Yudi yang sudah memulai mengoleskan cat pada paletnya.


    Tangan Yudi yang sudah terbiasa melukis, dengan cekatan mengoles-oleskan warna-warni cat pada kanvasnya. Sebentar melihat modelnya, kemudian menuangkan dalam lukisan. Sebentar lagi melihat model yang masih duduk di perahu, kemudian mengoleskan lagi cat-cat ke dalam kanvasnya. Tidak butuh waktu lama, sketsa dasar lukisan itu sudah terlihat.


    Yuna sengaja melihat dari belakang Yudi, agak jauh sedikit, agar tidak mengganggu konsentrasi kekasihnya. Yuna yang mendampingi Yudi, terkagum dengan hasil kerja kekasihnya. Hanya dalam waktu sekejap, wajah tiga dara dari Kampung Karang itu sudah terpampang di kanvas.


    "Sebentar lagi ya, Sayang ...." kata Yudi kepada tiga dara model itu.


    Gadis-gadis remaja yang duduk di perahu itu, menurut kepada permintaan Yudi. Mereka masih sabar duduk tenang dengan gaya santai di pantai.


    Sebentar kemudian, Yudi berdiri tegak, memandangi lukisannya. Kemudian melihat gadis-gadis modelnya itu, yang masih senang menjadi model lukisan Yudi. Kemudian kembali mengoles-oleskan kuasnya. Lantas memandangi lukisan, membandingkan dengan modelnya, mengoles sedikit lagi. Dan ....


    "Oke, lukisan sudah jadi ...." kata Yudi kepada tiga remaja putri yang menjadi model tersebut.


    Tentu tiga dara itu pengin menyaksikan hasil lukisannya. Maka mereka langsung berlari menghampiri lukisannya.


    "Wao .... Bagus banget ...." kata gadis-gadis yang dilukis itu.


    "Iya ..., sangat persis."


    "Aku suka ...."


    Yuna ikut mendekati lukisan, berbaur dengan tiga remaja putri tersebut. Dan tentu, ia mengagumi hasil karya kekasihnya yang luar biasa. Lukisan yang benar-benar hidup.


    "Yudi ..., ini benar-benar luar biasa. Amazing ...." kata Yuna yang sudah memeluk lengan kekasihnya, tentu minta dicium.


    Tanpa ragu-ragu, Yudi langsung mencium bibir mungil Yuna. Yuna yang dikecup bibirnya, langsung melompat kegirangan dan memeluk leher kekasihnya dan membalas ciuman Yudi.


    Setelah dilepas pelukan Yuna, Yudi melangkah ke tempat Dulah dan Atmo melukis. Tentu ingin tahu hasilnya.


    "Dulah ..., yang ini cat kamu kurang olesan minyak. Coba kuasnya dibasahi minyak, kemudian diusapkan ke bagian ini .... Nah, begitu .... Warnanya tidak mati, kan .... Ya, oke ..., silakan dilanjutkan." kata Yudi saat mengoreksi hasil karya Dulah.


    "Iya, Den Mas .... Terima kasih." kata Dulah yang langsung melanjutkan lukisannya.


    "Atmo ..., kamu kurang berani menuangkan cat. Ini kebanyakan minyak, sehingga warnanya cenderung pudar. Jangan terlalu pelit ngasih cat .... Gitu, ya .... Yuk dilanjutkan." Yudi memberi masukan kepada Atmo.


    "Nggih, Den Mas .... Maturnuwun." jawab Atmo.


    Meskipun dikritisi seperti itu, Dulah dan Atmo tidak patah hati. Mereka justru bersemangat untuk memperbaiki lukisannya. Tentu dua remaja ini ingin bisa menghasilkan lukisan yang bagus. Maka mereka berbincang, ingin menyaksikan hasil lukisan Den Mas Yudi, yang melukis teman-temannya. Dan dua remaja laki-laki itu pun melangkah menuju lukisan yang masih dikelilingi tiga teman perempuannya. Dan begitu sampai pada lukisan itu ....


    "Wao .... benar-benar persis seperti foto. Wuah, hebat sekali Den Mas Yudi ...." tentu mereka berdua terkagum menyaksikan lukisan Yudi yang benar-benar mirip foto.


    "Bagus, kan ...?!" kata teman perempuan yang dilukis kepada Atmo dan Dulah.


    "Iya .... Benar-benar mirip foto .... Berarti Den Mas Yudi itu pelukis hebat." jawab Dulah.

__ADS_1


    "Aku pengin belajar melukis pada Den Mas Yudi .... Aku pengin jadi pelukis seperti Den Mas Yudi ...." sahut Atmo yang bilang pada teman-temannya.


    "Nha ..., kalau kalian memang pengin jadi pelukis, latihan terus, belajar terus, jangan pernah berhenti melukis. Pasti nanti lukisanmu akan bagus." kata Yudi yang sudah memegang pundak dua remaja tersebut.


    "Nggih, Den Mas .... Tapi kami tidak punya peralatannya." kata Atmo.


    "Itu semua peralatan, untuk kalian berdua. Jadi, tidak perlu ragu untuk melukis. Nanti akan saya tinggalkan kanvas, untuk latihan melukis. Oke ...." kata Yudi yang memberi motivasi pada anak itu.


    "Nggih, Den Mas .... Maturnuwun ...." jawab dua anak remaja tersebut.


    "Oke .... Silakan kalian lanjutkan melukis. Pastikan pandangan dan pikiranmu fokus. Gambar objek lukisanmu sedetil mungkin. Jangan ragu untuk menuangkan cat, jangan takut untuk mengoleskan kuas. Jangan takut salah." kata Yudi pada dua remaja itu.


    Tentu dua remaja itu lebih semangat dan bersungguh-sungguh.


    Selanjutnya, Yudi berpindah tempat, untuk melukis objek-objek yang lain. Sementara Yuna, sudah akrab dengan gadis-gadis kampung yang menemaninya, berkeliling menyaksikan keindahan Kampung Karang.


    Jarum jam terus berputar. Hari sudah tidak pagi lagi, tetapi siang sudah menggantikannya. Pak Kadus dibantu dua orang laki-laki membawa tikar dan peralatan makan, yang kemudian digelar dan ditata dekat dengan tempat parkir tiga mobil yang ada di tengah pohon-pohon kelapa. Di belakang Pak Kadus ada istri Pak Kadus yang dibantu dua ibu, membawa nasi, sayur dan lauk pauk. Semua makanan ditata di atas tikar.


    "Den Mas Yudi ...!! Ayo, sini ..., makan siang sudah siap ...!!" teriak Pak Kadus memberi tahu Yudi bahwa makan siang sudah siap.


    "Nggih, Pak Kadus ...." Yudi yang diberi tahu langsung mengiyakan. Dan tentu langsung memanggil teman-temannya yang masih asyik melukis, "Teman-teman .... Ayo kita makan ...!!" begitu teriak Yudi.


    Tanpa diulangi, semua temannya sudah pada datang. Tentu ingin segera menyantap makan siang. Maklum, perut mereka sudah keroncongan. Semua langsung berkumpul di gelaran tikar. Termasuk Dulah dan Atmo yang diundang Yudi, serta gadis-gadis yang bersama Yuna. Semua sudah duduk melingkar di tikar, siap menyantap hidangan lezat.


    "Pak Kadus, mohon maaf sudah merepotkan ...." kata Yudi berbasa-basi.


    "Tidak, Den Mas Yudi .... Ini sudah biasa, kok .... Pekerjaan ibu-ibu ...." kata Pak Kadus.


    "Maaf juga, ini teman-teman saya, mungkin Pak Kadus kurang berkenan, tapi seperti inilah kehidupan seniman, gaya berpakaiannya nyentrik. Mereka ini semua seniman Jogja, saya ajak kemari untuk melukis keindahan alam Kampung Karang, nanti akan kami tawarkan di galeri, biar Kampung Karang menjadi terkenal." kata Yudi.


    "Walah .... Terima kasih, Den Mas Yudi .... Kami senang .... Kami sudah menduga sebelumnya, pasti teman-teman Den Mas Yudi ini para seniman. Ayo ..., monggo ..., silakan dimakan ...." kata Pak Kadus yang langsung mempersilakan orang-orang untuk makan.


    "Hayoo .... Makan ..., bro ...."


    Mereka semuanya makan, menikmati masakan Bu Kadus. Lahap semua, karena lapar yang sudah memuncak.


    "Enak ...."


    "Nikmat ...."


    "Lezat ...."


    Perut mereka pun kekenyangan. Lantas mereka pada merebahkan tubuhnya, karena kebanyakan makan.


    "Pak Kadus ..., ini saya mau berikan kenang-kenangan, sebuah lukisan untuk Pak Kadus. Ini, Pak .... Nanti tolong dipajang di ruang tamu Pak Kadus, biar setiap orang yang bertamu bisa menyaksikan lukisan ini. Untuk promosi .... Hehe ...." Kata Yudi yang menyerahkan lukisan kepada Pak Kadus.


    "Walah .... Bagus banget, Den Mas Yudi .... Ini kan gambar tentang kampung kami .... Lha kok bisa persis, rumah-rumahnya, jalannya, lorong-lorongnya, bahkan pohon kelapa dan pantainya .... Kok seperti dipotret dari atas, Den Mas .... Ya ..., ya ..., akan saya pasang di ruang tamu. Terima kasih, Den Mas ...." kata Pak Kadus yang menerima lukisan dari Yudi.


    "Wao .... Keren banget, Yud ...." decak kagum teman-temannya.


    "Pak Kadus, lukisan itu, kalau ada yang mau beli, jangan dikasih .... Itu lukisan bersejarah, lukisan sangat istimewa, tidak ternilai harganya ...." kata Ana yang dari dahulu selalu mengagumi lukisan naturalis Yudi.


    "Nggih, nggih ..., Den Ayu ...." jawab Pak Kadus, meski dia tidak tahu harga lukiasan.


    "Pokoknya siapa pun yang menginginkan lukisan itu, jangan diberikan ya, Pak .... Walau mau dibeli satu miliar pun, jangan diberikan .... Lukisan ini tak ternilai harganya. Ini pesan para pelukis Jogja." Imah teman Yudi yang berpakaian nyentrik, ikut nimbrung.


    Mendengar perkataan para pelukis itu, tentu Dulah dan Atmo tercengang. Melongo .... Kaget mendengar harga lukisan Den Mas Yudi hingga miliaran. Wao .... Lukisan yang benar-benar sangat hebat.


    "Apa nama lukisan ini, Yud?" tanya teman Yudi yang lain.


    "Ini, sudah saya tulis di pojok .... Lukisan Kampung Karang." jawab Yudi sambil tersenyum.

__ADS_1


    "Sama, dong .... Kami juga membuat lukisan Kampung Karang ...." sahut teman-teman Yudi yang lainnya.


    "Walah .... Maturnuwun, Den Mas Yudi .... Kampung kami sudah menjadi nama lukisan para seniman. Maturnuwun semuanya ...." kembali Pak Kadus berterima kasih, karena kampungnya sudah jadi nama sebuah lukiasan.


__ADS_2