
Rini bersama Silvy dan Yayan, sudah sampai di Jogja. Sengaja tidak ke rumah penginapannya terlebih dahulu, tetapi akan langsung menuju rumah Yudi. Tentu ingin segera menemui Yudi dan Yuna yang esok pagi akan melangsungkan acara pernikahan.
Namun ternyata, di lapangan yang biasa digunakan sebagai tempat parkir mobil-mobil wisata, tempat itu sudah penuh sesak orang-orang, warga Kampung Nirwana. Mobil wisata sudah tidak ada yang parkir. Lapangan itu sudah dipenuhi tenda deklit. Yayan terhambat melintaskan mobilnya lewat lapangan, karena jalan sudah ditutup.
Di lapangan para pemuda menghias tempat itu dengan berbagai dekorasi. Ada yang dari kertas hias warna-warni, ada yang dari janur daun kelapa muda, ada pula dari daun palem yang dibuat aneka bentuk. Lapangan itu sudah disulap menjadi tempat yang meriah.
Beberapa remaja menata kursi lipat dan meja tamu. Ada banyak kursi dan meja. Pak Lurah sudah menyewa sekitar tiga ribu kursi. Tentu tamu Yudi nanti akan lebih dari tiga ribu orang, walau yang diundang hanya dua ribu orang. Semua kursi diberi penutup kain putih, yang bagian sandarannya diberi kain pita berwarna merah jambon. Warna lambang cinta. Terlihat sangat indah. Sedangkan meja-meja tamu, diberi taplak warna biru muda, sebagai warna lambang kasih sayang.
Di bagian ujung lapangan terdapat panggung, tentu itu nanti sebagai tempat duduk mempelai. Ada tiga remaja yang sedang menata kursi pengantin dan dekorasi. Di sisi kanan kiri dan bagian belakang tenda, terdapat salon besar-besar. Sedangkan di sisi bagian timur, terlepas dari tenda pernikahan, sudah ditata panggung untuk pertunjukan. Rencananya, besok pagi hingga sore, akan ada pertunjukan wayang orang dan kethoprak. Sedangkan pada malam harinya, akan ada pertunjukan wayang kulit.
"Maaf, Bapak, Ibu ..., wisata hari ini dan besok ditutup, karena ada acara pernikahan." kata seorang pemuda yang mencegat mobil Yayan.
"Kok, acara pernikahan sampai menutup obyek wisata ...?" tanya Rini dari dalam mobil.
"Iya, Ibu .... Maaf, karena ini yang menikah yang punya tempat wisata ...." jawab pemuda itu.
"Oo ..., jadi obyek wisata yang ada di Kampung Nirwana ini punyanya Mas Yudi, ya ...." sahut Rini.
"Iya, Ibu ...." jawab pemuda itu.
"Maaf, Mas ..., saya mau ke rumah Mas Yudi .... Ini mau kondangan ...." kata Yayan yang ada di balik setir.
"Oo ..., mau ke rumahnya Mas Yudi, to .... Monggo-monggo, silakan lewat sini. Belok kiri terus nanti ke kanan." kata pemuda itu, yang langsung mengizinkan ketika tahu mobil itu akan ke rumah Yudi.
"Tidak lewat yang lurus?" tanya Yayan yang sudah pernah menyetir ke rumah Yudi, ingatnya jalan yang lurus.
"Maaf, untuk jalan lewat depan rumah Mas Yudi sudah ditutup. Besok untuk acara kirab. Bapak dan Ibu lewat belakang saja."
"Ya ..., terima kasih ...." kata Yayan yang langsung membelokkan mobilnya ke kiri.
Tidak susah untuk mengikuti jalan yang ditunjukkan oleh pemuda yang kebagian menghadang jalan. Sebentar saja Yayan sudah sampai di jalan belakang rumah Yudi, yang biasanya untuk memasukkan mobil ke garasi. Yayan parkir di tepi pintu garasi.
Rini dan Silvy langsung turun dari mobil. Selanjutnya berjalan menuju bagian belakang rumah Yudi. Jalan yang biasa dilewati Rini. Silvy mencangking tas kertas warna hijau muda, di dalamnya ada bungkusan kado. Walau kecil, tidak terlalu besar, tapi harganya pasti lumayan. Itu kado dari anak angkat untuk papah angkatnya.
Yayan membuka bagasi belakang. Lantas mengangkat kado yang cukup besar, terbungkus kertas kado warna ungu. Kelihatan agak berat. Entah apa isinya, yang tahu hanya Rini. Yayan pun masuk mengikuti langkah ibu mertua dan istrinya.
Di ruang belakang, di gazebo, dapur, di seluruh ruangan, sudah penuh orang. Terutama ibu-ibu. Mereka sibuk membantu persiapan acara nanti malam, yaitu acara midodareni, serta untuk persiapan besok. Ada yang memasak, ada yang meronce bunga, ada yang membungkusi makanan, semuanya sibuk.
Rini bingung mau menemui siapa. Tentu tidak ada yang kenal. Demikian juga Silvy dan Yayan.
__ADS_1
"Ee ..., ada tamu ...." kata seorang wanita setengah baya, yang berada dekat dengan pintu masuk.
"Iya, Ibu .... Kami dari Jakarta ...." kata Rini yang disambut wanita itu.
"Walah ..., ada tamu dari Jakarta .... Monggo-monggo, pinarak dulu .... Mbok ...! Ada tamu dari Jakarta ...!" kata wanita itu mempersilakan tamunya duduk, dan langsung berteriak memanggil Simbok.
Simbok, ibunya Yudi, langsung menemui tamu yang sudah disuruh duduk dekat gazebo. Tentu di gazebo sudah penuh orang yang membantu membungkusi jajanan.
"Wee ..., ada Neng Rini, to ini ...?" tanya Simbok yang langsung menemui Rini dengan senyum lebar.
Rini langsung menyalami dan mencium tangan Simbok, lantas memeluk Simbok.
Simbok yang dipeluk oleh Rini, langsung mencium wanita yang pernah diidolakan oleh anaknya itu.
Silvy dan Yayan, ikut menyalami Simbok, dan pasti juga mencium tangan wanita tua itu.
"Kapan datangnya, Neng Rini ...?" tanya Simbok.
"Baru saja sampai, Mbok ...." jawab Rini.
"Ayo, temui Yudi sama Non Yuna .... Dia ada di pendopo depan. Menata acara untuk nanti malam ...." Kata Simbok yang langsung menggandeng tangan Rini, mengajak ke pendopo depan.
"Yudi ..., Non Yuna ..., ada tamu ...!" kata Simbok memberi tahu anaknya yang berbaur dengan orang-orang yang membantu menghias rumahnya.
"Yuna ...." kata Rini membalas.
Dua perempuan cantik itu, yang dua-duanya mengidolakan dan jatuh cinta pada orang yang sama, yaitu Yudi, langsung berpelukan. Cukup lama. Seakan ada sesuatu yang tidak ingin dilepaskan. Maklum, Rini tentu merasa, Yuna yang beruntung bisa mendapatkan Yudi, sementara dirinya hanya akan menyaksikan kebahagiaan mereka berdua. Demikian Juga Yuna, menyaksikan kehadiran Rini adalah sesuatu yang tidak terduga. Karena menurut Yuna, Rini akan sakit dan merasa kehilangan saat Yudi harus menikah dengannya. Tetapi kenyataan, hari ini Rini datang, ingin menyaksikan kebahagiaannya.
Yuna memeluk erat tubuh Rini.
"Thank you, Rini .... Saya bahagia Rini mau datang di hari pernikahan kami. " bisik Yuna yang belum mau melepas pelukannya.
"Congratulations ..., enjoy your marriage, Yuna." balas Rini yang juga semakin erat dalam memeluk Yuna. Cukup lama.
Pelukan dua perempuan cantik itu baru berakhir, saat Yudi menghampiri mereka.
"Rini ..., terima kasih sudi datang di acara pernikahan kami." kata Yudi yang membuyarkan pelukan Rini dan Yuna.
"Selamat, Yudi ...." kata Rini berusaha memberi ucapan selamat.
__ADS_1
"Eit ..., jangan sekarang. Belum saatnya. Acaranya besok pagi. Ucapan selamatnya diberikan besok pagi, di panggung pelaminan .... Hehehe ...." kata Yudi yang tersenyum bahagia, belum mau diberi ucapan selamat oleh Rini.
Akhirnya, Rini hanya menyalami Yudi. Demikian juga Silvy dan Yayan. hanya baru bersalaman dengan Yudi, belum mengucapkan selamat. Yuna memeluk Silvy, saat Silvy mengajak bersalaman.
"Rini ..., kamu mesti bersyukur punya anak yang cantik dan pintar." kata Yuna memuji Silvy.
"Terima kasih, Mis Yuna ...." kata Silvy, yang tentu tersenyum lebar saat dipuji oleh perempuan Jepang yang dia idolakan itu.
"Thank you, Yuna ...." sahut Rini.
"Papah Yudi ..., ini kadonya mau di taruh di mana?" tanya Yayan yang sudah capai membawa kado.
"Ah, bawa kado segala .... Ayo, ditaruh di kamar saja." kata Yudi yang mengajak Yayan menuju kamarnya.
Silvy tentu mengikuti Yudi dan suaminya yang menuju kamar. Karena Silvy juga membawa kado khusus untuk papah angkatnya tercinta.
"Rini ..., nanti malam kamu mesti kemari. Ada acara di sini, kata orang-orang kampung, namanya upacara midodaren. Rini mesti lihat, Rini mesti tunggui Yudi dan saya." kata Yuna kepada Rini, yang memaksa untuk menunggui.
"Iya, Yuna .... Saya akan menunggui pesta pernikahan kalian sampai selesai." jawab Rini yang siap menunggui. Walau sebenarnya, hati Rini terasa remuk, karena menyaksikan pernikahan orang yang dicintainya.
"Saya baru kali ini menyaksikan acara pernikahan yang sangat panjang. Persiapannya cukup lama, acaranya macam-macam. Betul-betul sakral, adat pernikahan orang Jogja." kata Yuna yang tentu heran dengan upacara adat pernikahan di Jogja.
"Memang di Jepang tidak seperti ini? Maksud saya tidak serumit di sini?" tanya Rini.
"Tidak .... Di Jepang menikah ada adatnya, tetapi sangat sederhana. Tidak serumit dan sebanyak di Jogja." jawab Yuna.
"Ya, kalau di Jawa memang seperti ini. Acaranya sangat sakral. Masih kuat dengan adat istiadat.
Nanti pakaiannya juga ganti-ganti ...." tutur Rini.
"Iya, katanya begitu. Tetapi besok ada pakaian adat yang saya pakai lebih dahulu. Saya pakai kimono, pakaian adat Jepang. Yudi pakai pakaian adat Jawa. Jadi, kami ingin mencampur dua budaya, agar kami benar-benar bisa saling menerima. Besok, pendamping saya dari Jepang, semua pakai kimono. Pendamping Yudi, semua pakai pakaian adat Jawa." jelas Yuna untuk memberi gambaran kepada Rini.
"Wah ..., perpaduan yang menarik, itu .... Aku jadi pengin menonton." kata Rini.
"Iya .... Besok kami diarak, diiring dari depan gerbang itu, sampai di tempat pesta yang ada di lapangan. Makanya, sepanjang jalan dari depan rumah Yudi sampai lapangan, sudah diberi hiasan umbul-umbul dan berbagai hiasan dari daun janur. Katanya, semua warga di kampung ini ikut mengiring pernikahan kami. Itu, coba Rini lihat, ada banyak kembang manggar, besok untuk mengiring kami. Oleh Yudi, di setiap untai kembang manggar, ada hadiahnya, diberi doorprize. Nanti di perjalanan mengiring kami, kembang manggar itu akan diperebutkan oleh orang-orang yang mengiring. Yudi sengaja ingin membahagiakan warga kampung. Kami berdua naik kereta kuda, itu keretanya sudah dihias. Nanti perjalanan kami diiringi terbangan, musik khas kampung sini. Jadi, Rini sama anak-anak mesti ikut mengiring kami dari sini. Iya kan, Rini ...?!" kata Yuna yang menjelaskan acaranya untuk besok.
"Iya, Yuna .... Saya akan ikut mengiring kebahagiaan kalian." jawab Rini, yang tentu dalam hatinya sebenarnya sangat sakit.
Mengapa yang bisa berbahagia seperti itu harus Yuna ...? Mengapa bukan Rini ...? Mengapa yang diiring orang-orang itu Yuna, mengapa Rini tidak diiring seperti itu?
__ADS_1
Ya, itulah takdir, yang oleh Yuna dianggap tidak ada takdir, tetapi bagi Rini, inilah suratan takdir yang sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa. Rini hanya bisa mengembangkan bibir yang terlihat tersenyum. Padahal hatinya remuk redam dipaksa untuk menyaksikan orang yang dicintai berbahagia bersama orang lain.
Meski demikian, Rini mengikuti Yuna, menyaksikan orang-orang yang bergotong royong, sambatan, menghias rumah Yudi, menata persiapan pernikahan Yudi dan Yuna.