KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 241: PARIS, J'ARRIVE


__ADS_3

    Rini berkali-kali mengubungi Albert, teman waktu SMA yang kini tinggal di Perancis. Tentu Rini ingin memeberi tahu Albert kalau dirinya akan ke Perancis mengantar anaknya sekolah. Betapa senangnya Albert yang menerima kabar dari Rini dan Yudi. Pasti nanti akan ditemui saat sampai di Perancis. Langsung Albert menyiapkan diri untuk membantu dua temannya saat SMA itu.


    "Jangan khawatir, Rini .... Katakan pada Yudi, nanti akan saya jemput saat sudah sampai di bandara. Berikan jadwal penerbangan kamu ke saya." begitu kata Albert saat ditelepon Rini.


    Tentu hati Rini lebih tenang, karena ada teman yang pastinya bisa dimintai tolong jika nanti di Perancis mengalami kesulitan. Demikian juga Yudi, teman waktu SMA itu pasti akan senang saat ketemu secara langsung.


    Yudi sudah mengambil paspor dari kantor imigrasi. Rini sudah rampung packing semua pakaian yang akan dibawa ke Perancis. Selain barang kecil-kecil yang nanti akan dimasukkan dalam tas cangklong. Demikian juga Yuni, yang sudah membereskan peralatan lukisnya yang akan dibawa untuk unjuk kebolehan di depan para dosen penilai. Ayahnya membelikan cat minyak baru, merek Rembrandt, yang biasa dipakai sehari-hari oleh Yudi dan juga sering dipilih oleh Yuni sebagai cat lukisnya. Yudi membawakan cat minyak ini agar nanti saat melukis di depan para penguji, Yuni tidak bingung lagi dengan warna-warna cat yang dibawanya. Tentu agar anaknya nanti tidak usah coba-coba warna lagi, karena sudah terbiasa.


    Persiapan benar-benar sudah matang. Yuni pasti senang, karena keinginannya untuk bisa sekolah seperti teman-temannya kini akan terwujud. Maklum saat mau sekolah dahulu, baru senang-senangnya bersekolah, ia justru dikeluarkan oleh pihak sekolah. Tentu Yuni sangat kecewa saat itu. Beruntunglah ayahnya punya wawasan yang luas dan tidak marah pada pihak sekolah. Yudi memaklumi alasan gurunya yang sudah tidak sanggup mengajar Yuni, karena Yuni memang punya kelebihan. Sayangnya di Indonesia belum ada lembaga pendidikan yang bisa menerima anak-anak dengan kecerdasan dan bakat istimewa seperti Yuni tersebut.


    Jam lima pagi, Yayan sudah memanasi mobil. Yudi, Rini dan Yuni sudah bersiap untuk berangkat. Dua koper besar sudah dimasukkan dalam bagasi bagian belakang. Yudi sudah mengenakan jaket dan mencangklong tas punggung. Demikian juga Rini, yang mengenakan sweter warna merah jambu, mencangklong tas yang tentu di dalamnya ada makanan kecil untuk persiapan di pesawat nanti. Yuni yang mengenakan jelana jean dan kaos oblong, dilengkapi jaket jean. Rambunya dikucir belakang. Yuni juga membawa tas punggung. Isinya juga jajan dan berbagai kebutuhan mendadak lainnya, termasuk perlengkapan mandi sederhana.


    Semuanya sudah masuk dalam mobil. Yayan menjalankan fortuner putih itu, perlahan meninggalkan Taman Anggrek Nirwana, menuruni jalan di depan galeri dan Pasar Rakyat, menuju jalan raya. Lantas Yayan melajukan mobilnya di jalur selatan, menuju Bandara. Mereka akan naik pesawat penerbangan pertama menuju Jakarta.


    Tidak ada satu jam, Yayan sudah sampai di bandara. Setelah menepi di tempat penurunan penumpang, Yudi, Rini dan Yuni langsung turun. Yayan membantu menurunkan koper. Yuni memeluk kakaknya, tentu akan sedih harus berpisah di tempat yang jauh. Setelah menyalami Yayan, yang tentunya menyampaikan beberapa pesan dari Yudi kepada anaknya itu, mereka bertiga masuk ke ruang bandara. Melakukan chek in.


    Perjalanan Yudi, Rini dan Yuni, dimulai dari Bandar Udara Internasional Yogyakarta, dilanjutkan ke Bandara Internasional Sukarno Hata di Jakarta. Setelah itu, perjalanan dari Jakarta menuju Paris. Yudi bersama istri dan anaknya, dari Jakarta menuju Paris, berangkat sekitar jam sepuluh pagi, hingga sampai di Dubai malam hari. Mereka transit di Dubai cukup lama. Hampir semalam penuh. Rini dan Yuni yang lelah dan mengantuk, tertidur lelap. Tentu Yudi yang memeluk anak dan istrinya yang tidur itu di ruang tunggu. Yudi berjaga, sambil menunggu waktu penerbangan dari Dubai menuju Paris. Hingga sekitar jam satu dini hari, pesawat yang ditunggu pun tiba. Penumpang dengan tujuan Paris dipanggil untuk boarding. Sebentar kemudian, pesawat Air France itu sudah meninggalkan Bandara Internasional Dubai menuju Charles de Gaulle Airport Paris. Perjalanan dini hari. Tentu sekarang gantian Yudi yang tertidur pulas. Hingga sekitar jam enam pagi Waktu Paris, pesawat itu sudah mendarat di Charles de Gaulle Airport, Paris.


*******


    "Bonjour ...."


    "Bonjour ...."


    "Bonjour ...."


    "Bonjour ...."


    Saat Albert, teman SMA Yudi maupun Rini, yang menunggu di pintu keluar bandara, bertemu dengan teman-teman lamanya tersebut. Mereka saling berpelukan. Terutama Yudi, yang sangat lama memeluk Albert.


    "Bagaimana kabar kalian ...?" tanya Albert kepada Yudi dan Rini.


    "Masih bisa bahasa Indonesia?" tanya Yudi pada teman lamanya itu.


    "Masih, lah ...." jawab Albert.


    "Kabar baik, Albert .... Bagaimana dengan dirimu ...?" kata Yudi yang balik bertanya kepada Albert.


    "Baik dan sehat ...." jawab Albert.


    "Yang pasti tambah makmur ya, Al ...." timpal Rini.


    "Kita ngobrol sambil jalan .... Ayo masuk ke mobil." kata Albert yang sudah membantu menyeret koper Rini.


    Lumayan berjalan dari pintu keluar bandara hingga sampai tempat parkir mobil Albert. Ya, Bandara Charles de Gaulle memang bandara terbesar di Perancis. Makanya halaman parkirnya juga sangat luas.


    Sesampai di tempat parkir, Albert membuka mobil Peugeot 3008 warna coklat. Mobil khas pabrik Perancis. Lantas membuka bagasi dan memasukkan koper temannya itu.


    "Silakan naik ...." kata Albert kepada teman lamanya. Yang pasti kangen untuk bertemu.

__ADS_1


    Yudi duduk di depan, menemani Albert yang menyetir. Sedangkan Rini dan Yuni duduk di belakang. Mereka langsung mengobrol untuk melepas rindu.


    "Kita selfi dahulu .... Akan saya kirim ke grup alumni." kata Albert yang langsung cepret-cepret memotret dirinya bersama Yudi, Rini dan Yuni. Albert langsung memposting di grup alumni.


    "Pasti teman-teman langsung ribut ...." kata Rini yang menebak.


    "Ceritanya bagaimana, kok kalian bisa jadi suami istri?" tanya Albert yang tentu penasaran. Walau ia sudah tahu dari chat-chat yang ada di WA grup alumni.


    "Ceritanya panjang dan lama ...." sahut Yudi.


    "Memang waktu SMA kalian sudah pacaran?" tanya Albert lagi.


    "Tanya saja sama Rini .... Waktu SMA pacara apa enggak ...." jawab Yudi lagi.


    "Hahaha .... Yudi itu pendiam, tapi ternyata .... Air tenang menghanyutkan ...." sahut Albert sambil tertawa.


    "Betul, Al .... Diam-diam menghanyutkan ...." sahut Rini.


    "Anak kamu berapa, Rin?" tanya Albert.


    "Dua .... Perempuan semua. Yang pertama sudah menikah. Ini ngurusi usahanya di rumah bersama suaminya." jawab Rini.


    "Ini anak bungsu? Yang mau kuliah di Paris?" tanya Albert.


    "Iya ...." jawab Rini.


    "Usia berapa?" tanya Albert lagi.


    "Lhoh, kok sudah mau kuliah di Beaux-Arts?" tanya Albert yang tentu bingung.


    "Dapat beasiswa bidang seni lukis .... Tapi ini baru mau ikut seleksi ...." jawab Yudi.


    "Oo .... Semoga berhasil ya, Sayang ...." sahut Albert yang mendoakan Yuni.


    "Terima kasih, Om Albert ...." balas Yuni.


    "Terus, yang besar usaha apa?" tanya Albert yang tentu hanya bisal lihat wajah Rini dari spion dalam, karena ia harus konsentrasi melihat jalan raya.


    "Jualan anggrek .... Lumayan untuk makan sehari-hari ...." sahut Rini.


    "Waah .... Keren itu .... Di sini anggrek harganya mahal ...." sahut Albert.


    "Beda kelas ekonominya, Albert .... Masak Jogja kok disamakan Perancis." kata Yudi yang memprotes.


    "Lhoh, kalian tinggal di Jogja ...? Tidak di Jakarta?" tanya Albert.


    "Saya ikut Yudi di Jogja .... Rumah yang di Jakarta sudah dijual. Tinggal punya anak yang dikontrakkan." jawab Rini.


    "Oh, ya .... Ini kalian mau langsung ke Beaux-Arts de Paris atau ke mana dahulu? Atau ke rumah saya dahulu?" tanya Albert.

__ADS_1


    "Rencana saya mau ke kampus Beaux-Arts de Paris, agar kami bisa mendaftarkan anak terlebih dahulu. Baru setelah itu saya mau cari apartemen." jawab Yudi yang tentu mementingkan anaknya lebih dahulu agar Yuni mantap lebih dahulu.


    "Di Paris berapa hari?" tanya Albert.


    "Yang jelas sampai anak saya urusannya beres. Seleksinya besok, pengumumannya lusa. Sebenarnya pihak kampus menyediakan penginapan, tapi hanya untuk calon mahasiswa yang ikut seleksi. Lha ayah sama ibunya kan tidak ada tempat. Makanya saya berencana mau menginap di apartemen." jelas Yudi pada temannya yang sudah menjadi warga Perancis itu.


    "Lhah, kalau cuman dua tiga hari, mendingan menginap di rumah saya saja .... Sekalian reunian dengan teman lama. Saya kangen lho ...." kata Albert menawarkan inapan di rumahnya.


    "Apa tidak mengganggu?" tanya Rini.


    "Ndak .... Sekalian kenalan sama istri saya. Di rumah, kami cuman tinggal berdua. Anak saya ikut suaminya. Jadi, malah bisa buat ramai-ramai di rumah kami." kata Albert yang tentu senang kalau teman-teman SMA-nya itu mau menginap di rumahnya.


    "Oke, lah ..., kalau memang tidak mengganggu saya setuju." jawab Yudi yang tentu juga senang.


    Mobil Peugeot yang ditumpangi Yudi bersama anak istrinya, yang disetir oleh teman lamanya itu, sudah sampai di depan kampus Beaux-Arts de Paris. Tempat di mana Yuni akan ikut seleksi beasiswa kuliah di kampus megah tersebut. Albert menghentikan mobil di halaman parkir.


    "Ini kampusnya." kata Albert yang kemudian turun.


    "Wao .... Megah banget ...." decak kagum Rini saat menyaksikan kampus yang besar itu.


    Yudi langsung menuju depan kampus, menemui petugas yang ada di sana, tentu menanyakan tempat pendaftaran seleksi beasiswa rekognisi. Tak lupa, Yudi menunjukkan surat undangan yang diberikan oleh kampus Beaux-Arts.


    Pegawai itu membaca sebentar, lantas menunjukkan ruangan pendaftaran kepada Yudi. Yudi membalik ke mobil, tentu untuk mengajak Yuni mendaftar.


    "Bagaimana, Yud?" tanya Albert.


    "Ya, benar .... Ini mau ajak Yuni ke ruang pendaftaran." jawab Yudi.


    "Ayo ke sana semua .... Bareng-bareng saja. Nanti kalau ada yang bingung, setidaknya saya bisa membantu komunikasi." kata Albert yang langsung mengikut ke tempat pendaftaran.


    "Maaf ..., ini kamu tidak kerja, Al ...?" tanya Rini.


    "Aku sudah pensiun .... Tinggal menikmati masa tua ..., hehe ...." jawab Albert yang tentu sambil tertawa.


    "Salle d'inscription"


    Tulisan itu terpapang di dinding, dekat pintu kaca. Artinya "Ruang Pendaftaran".


    Yudi menggandeng Yuni masuk ke ruang itu. Albert dan Rini berada di belakangnya. Kemudian Yudi bersama Yuni duduk berhadapan dengan petugas pendaftar seleksi mahasiswa dengan prestasi. Menunjukkan berkas-berkasnya. Sang petugas mengecek data. Hanya sebentar mengamati layar komputer, dari printer keluar hasil cetak biodata Yuni. Di hasil cetak itu juga tercantum ketentuan seleksi yang lengkap dengan nomor seleksi. Kemudian petugas itu memberikan print out ketentuan atau aturan seleksi beserta nomor seleksi itu kepada Yuni.


    "Yuni Kartika, d'Indonésie?" kata petugas itu memanggil nama Yuni Kartika dari Indonesia, sambil menyodorkan map berisi hasil cetak tadi.


    "Oui, je suis Yuni Kartika, d'Indonésie." jawab Yuni yang juga menyebut namanya sambil menerima map itu.


    "Demain la sélection commence à neuf heures, veuillez être prêt dans le hall à huit heures." kata petugas tersebut yang menjelaskan kalau seleksi akan dimulai jam sembilan, tetapi peserta harus sudah masuk jam delapan pagi.


    "Merci Monsieur ...." jawab Yuni yang sudah lumayan berbahasa Perancis, tentu masih bahasa dasar, yang penting-penting dalam percakapan, terutama mengucapkan terima kasih.


    "Si vous n'avez pas de logement, vous pouvez rester sur le campus." kata petugas itu lagi, yang menyampaikan jika belum dapat tempat menginap, bisa tidur di kampus.

__ADS_1


    "Nous avons séjourné chez un ami. Merci pour l'offre." Yudi yang menjawab, kalau mereka menginap di rumah temannya. Tentu Yudi berterima kasih atas tawarannya.


    Yuni sudah selesai mendaftar seleksi. Ia mendapat nomor seleksi seratus satu. Artinya, sudah ada seratus peserta yang ikut seleksi, yang akan menjadi saingan Yuni dalam memperebutkan tiket kuliah di École des Beaux-Arts de Paris.


__ADS_2