KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 111: YUDI HILANG


__ADS_3

    Setelah selesai penandatanganan berkas-berkas di notaris, Rini mencoba menghubungi Yudi. Berkali-kali telepon, tetapi masih sama seperti tadi pagi. HP Yudi tidak aktif. Tentu Rini sangat penasaran. Ada apa sebenarnya.


    "Mas Wawan punya nomor HP Mas Yudi?" tanya Rini pada pegawai pengembang Nirwana Homestay.


    "Punya, Ibu Rini ...." jawab Mas Wawan.


    "Boleh saya ditolong, Mas Wawan teleponkan Mas Yudi ...." pinta Rini agar Wawan menelepon Yudi.


    "Baik, Ibu .... Sebentar ...." jawab Mas Wawan si pengembang itu.


    Lantas laki-laki itu langsung mengambil HP, menggeser layarnya, lantas melakukan panggilan. Beberapa saat, tidak ada tanda-tanda telepon yang dituju aktif. Telepon Yudi tidak ada respon.


    "Maaf, Ibu .... HP Mas Yudi kelihatannya tidak aktif." kata Wawan yang dimintai tolong untuk menelepon Yudi.


    "Coba saya yang telepon, Mah ...." kata Silvy yang langsung mengangkat teleponnya.


    Hasilnya, sama. Telepon Yudi tidak aktif.


    "Tidak aktif, Mah ...." kata Silvy pada ibunya.


    "Waduh, bagaimana sih Yudi? Kok dari pagi hingga sudah hampir siang HP tidak diaktifkan. Kalau telepon Mas Bagas, apakah Mas Wawan punya?" tanya Rini ingin mencoba menghubungi Bagas.


    "Ada, Ibu .... Coba saya telepon Mas Bagas. Siapa tahu dia melihat Mas Yudi." kata Mas Wawan yang langsung mengambil HP dan menelepon Bagas.


    "Halo ...." Bagas menerima panggilan telepon.


    "Halo, Gas .... Ini Wawan dari Nirwana Homestay. Bagas lihat Mas Yudi?" tanya Wawan.


    "Dari kemarin tidak melihat. Tapi mobilnya ada di Taman Awang-awang." jawab Bagas.


    "Ini ada Ibu Rini yang mencari dan menelepon berkali-kali tapi HP-nya tidak aktif." kata Wawan lagi.


    "Di rumah juga tidak ada. Mbak Yuna juga tidak pulang ke rumah. Apa mungkin pergi sama Mbak Yuna, ya ...?!" jawab Bagas.


    "Ya, sudah .... Saya coba cari ke Taman Awang-awang. Minta tolong kalau Bagas lihat, ya ...." kata Wawan, laki-laki dari pengembang Nirwana Homestay itu.


    "Iya, Mas Wawan .... Nanti kalau ketemu akan saya sampaikan." jawab Bagas yang langsung mengakhiri teleponnya.


    "Tidak ada, Bu .... Bagas sudah tidak ketemu dari kemarin. Tapi kata Bagas, mobil Mas Yudi ada di puncak bukit, di Taman Awang-awang. Berarti kemungkinan besar Mas Yudi ada di sana." kata Wawan pada Rini.


    "O ..., ya sudah, kalau begitu biar kami ke Taman Awang-awang." kata Rini yang akan menyusul ke Taman Awang-awang.


    "Tapi Ibu tidak boleh naik ke Taman Awang-awang pakai mobil ini. Setelah peresmian, mobil pribadi tidak boleh masuk, hanya mobil antik wisata yang boleh naik." jelas Wawan pada Rini.


    "Kok begitu ...?! Lha terus kami kalau ke Taman Awang-awang bagaimana?" tanya Rini.


    "Kita balik dulu ke penginapan Nirwana Homestay, nanti dari penginapan Ibu bisa naik mobil wisata. Sudah ada yang standby di dipan penginapan." jelas Wawan.


    "O, seperti itu, ya ...." sahut Silvy dan Yayan berbarengan.

__ADS_1


    "Iya .... Untuk bagi-bagi rejeki .... Hehe ...." kata Wawan.


    "Ya, sudah .... Kalau begitu kita balik ke penginapan dahulu." kata Rini yang langsung naik ke mobil. Demikian pula Silvy dan Yayan. Mas Wawan dari pengembang juga naik duduk di depan untuk menunjukkan arah pulang.


    Dalam sekejap, mobil itu sudah sampai di Nirwana Homestay. Saat siang hari, penginapan itu sungguh terlihat anggun dan sangat indah. Bangunan model klasik yang betul-betul artistik. Luar biasa.


    Setelah parkir di halaman rumahnya, Rini dan Silvy langsung turun. Demikian juga Mas Wawan dan Yayan. Mas Wawan bergegas keluar jalan, lantas memanggil Pak Min, sang penjaga Nirwana Homestay yang berada di pos jaga.


    "Pak Min ...! Bawakan kunci Unit 3 ...!" teriak Mas Wawan memanggil Pak Min.


    Bergegas Pak Min berlari menuju orang yang memanggil.


    "Ini, Mas ..., kuncinya." Pak Min menyerahkan kunci kepada Mas Wawan.


    "Maturnuwun, Pak Min ...." ucap Mas Wawan tadi.


    Dan tentu, Mas Wawan langsung mengajak Rini, Silvy dan Yayan untuk menuju bangunan penginapan Unit 3. Tentu agar pemilik menyaksikan dan meneliti semua yang ada dalam penginapan tersebut.


    "Ibu Rini, sesuai kesepakatan dalam penandatanganan akta tadi, bangunan Unit 3 ini menjadi hak milik atas nama Ibu Rini Handayani. Ini kuncinya, monggo silakan dicek kelengkapannya. Jika ada masalah, jangan segan lapor ke kami. Sedangkan untuk bangunan Unit 4 sesuai dengan penandatanganan akta menjadi hak milik atas nama Silvyana Hamdan Ananda Putri." begitu jelas Mas Wawan yang sudah menyerahkan semua kunci untuk dilihat oleh pemiliknya.


    "Baik, Mas Wawan .... Kami sudah menerima. Terus untuk kelanjutannya, tempat ini jadi homestay yang disewakan bagaimana?" tanya Silvy dan Yayan.


    "Itu nanti pihak manajemen yang mengatur. Serahkan saja kuncinya ke Pak Min, nanti Pak Min yang akan menyampaikan ke manajemen. Jadi kalau misalnya nanti ada wisatawan yang akan menginap di sini, biasanya langsung ditunjukkan atau disuruh memilih unit berapa yang akan mereka pakai. Keuangannya langsung masuk ke sistem, karena Pak Hamdan tempo sebulan untuk pelunasannya, maka nanti selama satu bulan jika ada yang menyewa, keuangannya sementara masuk ke rekening pengelola. Itu diatur oleh manajemen. Tetapi begitu sudah dilunasi, maka uang sewa nanti akan langsung masuk ke rekening pemilik. Maka nanti kalau sudah lunas, Ibu Rini dan Ibu Silvy akan diminta untuk membuat rekening khusus dari hasil penyewaan homestay." jelas Wawan dari pihak pengembang.


    "O, begitu ya ...?!" sahut Silvy.


    "Kebetulan ini sepuluh unit belum ada yang lunas. Jadi keuangannya masih masuk ke pihak pengelola semua. Eh, ada satu yang sudah lunas, milik Mbak Yuna. Tetapi bangunannya belum selesai, ini masih finishing." jelas Wawan.


    "Oh, njih ..., Ibu Rini. Pak Min, panggilkan mobil wisata, untuk ke Taman Awag-awang." kata Wawan menyuruh Pak Min.


    "Siap, Mas Wawan ...." sahut Pak Min, yang langsung mengangkat telepon, menghubungi Paguyuban Sopir Mobil Wisata.


    Hanya sekejap, sebuah mobil VW kuno yang dihias, sudah sampai di halaman parkir Unit 4.


    "Monggo, silakan .... Ini mobilnya sudah siap." kata Pak Min.


    Yayan langsung duduk di depan di sebelah sopir. Sedangkan Silvy dan ibunya duduk di belakang. Mobil wisata itu langsung berangkat menuju Taman Awang-awang. Hanya sebentar, mobil itu sudah sampai puncak, berhenti di halaman atas, kebetulan di dekat tempat mobil Yudi terparkir.


    "Nah, ini mobil Papah Yudi ...." kata Silvy yang hafal dengan mobil papah angkatnya.


    "Iya, mobilnya ada di sini. Kemungkinan besar orangnya ada di sekitar sini." sahut Yayan.


    "Memang Ibu, Neng dan Mas ini mencari Mas Yudi?" tanya sopir mobil wisata.


    "Iya, betul .... Apa Pak Sopir melihatnya?" tanya Rini balik.


    "Dari kemarin tidak kelihatan, Bu .... Mungkin pergi sama Mbak Yuna. Karena kemarin Mbak Yuna baru saja mendapat hadiah dari pemerintah Jepang." kata sang sopir.


    "Hadiah? Hadiah apa, Pak?" tanya Rini yang penasaran.

__ADS_1


    "Dapat kiriman bunga sakura seratus batang, dikirim langsung dari Jepang. Kemarin saat peresmian ada orang-orang Jepang pada berdatangan, Bu .... Ramai sekali di sini." jelas sang sopir wisata.


    "Waah ..., sayang kami tidak bisa ikut acara peresmiannya." sesal Rini, yang sudah datang duluan sebelum peresmian.


    Lantas tiga orang, ibu bersama anaknya itu turun dari mobil wisata. Akan mencari Yudi.


    "Ongkosnya lima puluh ribu saja, Bu .... Doakan usaha kami lancar." kata sang sopir wisata yang menerima ongkos dari Rini.


    "Nanti kami pulangnya bagaimana, Pak?" taya Yayan.


    "Tidak usah khawatir, nanti bilang saja ke petugas parkir itu, mereka yang menghubungi kami. Kami akan jemput kemari. Dua puluh empat jam. Tapi kalau malam ongkosnya dua kali lipat, maklum untuk jaga tidur." kata sang sopir wisata tersebut, yang kemudian memutar mobilnya turun, kembali ke pangkalan.


    Silvy langsung mengintip jendela mobil Yudi. Siapa tahu ada orangnya. Berkali-kali Silvy menempelkan wajahnya ke kaca mobil, bahkan berpindah dari depan, belakang, samping kanan maupun samping kiri. Tetapi nihil. Mobil itu kosong, tidak ada orangnya.


    Yayan melangkah menuju balai pertemuan, bangunan yang mirip rumah orang Jepang. Ia berusaha menengok dari jendela. Bahkan juga mencoba membuka pintu. Tetapi juga tidak ada siapa-siapa. Lantas yayan melihat laki-laki agak tua yang sedang membersihkan halaman. Yayan bergegas menemui laki-laki itu dan menanyakan apakah ia melihat Yudi, papah angkatnya itu. Tatapi laki-laki yang mengurusi taman itu juga tidak tahu.


    Rini yang lebih sibuk. Ia ke sana kemari, bertanya ke setiap orang yang ditemui. Tentu Rini adalah orang yang paling khawatir, takut kehilangan Yudi. Seluruh pegawai yang ada di food hall ditanyai. Tidak hanya pelayan, tetapi juga ibu-ibu yang berjualan dan tukang masak. Namun tak satu pun yang tahu keberadaan Yudi. Jawabannya hampir sama, mereka mengatakan jika Mas Yudi kemarin bersama Mbak Yuna. Tetapi setelah itu tidak tahu lagi.


    Bagas yang tadi ditelepon Wawan, menanyakan keberadaan Yudi, langsung menuju Taman Awang-awang. Pertama kali yang dilakukan oleh Bagas, sama dengan Silvy, yaitu mengintip mobilnya. Lantas bagas berlari menuju ke para pegawai kebersihan. Menanyakan saat terakhir bertemu Mas Yudi.


    "Terakhir kamu ketemu Mas Yudi atau Mbak Yuna, kapan?" tanya Bagas kepada petugas kebersihan kamar mandi.


    "Kemarin siang, Mas Yudi masuk kamar mandi sini. Setelah keluar, saya tidak tahu ke mana perginya." jawab petugas kebersihan kamar mandi.


    Lantas Bagas menuju karyawan yang masih memotong rumput, tanyanya, "Kamu lihat Mas Yudi terakhir kapan?"


    "Kemarin siang, bersama Mbak Yuna di pagar pinggir bukit itu, mereka menyaksikan ombak laut." jawab pegawai tersebut.


    Lantas Bagas berlari menuju pinggir tebing, meyakinkan lokasi terakhir yang dilihat oleh karyawan penata taman. Lagi-lagi nihil. Bagas tidak melihat Yudi maupun Yuna di tempat-tempat swafoto tersebut.


    "Eh, Mas Bagas .... Bagaimana, Mas ..., apa sudah ada kabar berita tentang Mas Yudi?" tanya Rini yang bertemu Bagas di pinggir tebing.


    "Belum, Ibu Rini .... Mas Yudi dan Mbak Yuna menghilang begitu saja." jawab Bagas.


    Kemudian Yayan datang, juga tanpa harapan. Tidak menemukan kejelasan jawaban yang bisa memberi petunjuk. Demikian juga Silvy, yang sudah mencari ke mana-mana, menanyakan kepada semua orang, tetapi juga tidak ketemu.


    Lagi-lagi, Rini mencoba menghubungi telepon Yudi. Berkali-kali menghubungi, tetapi tidak juga aktif. Telepon Yudi sudah mati.


    Bagas melakukan hal yang sama. Mencoba menghubungi telepon Yudi. Hasilnya sama, tidak juga aktif. Demikian juga Silvy. Sia-sia. Telepon Yudi memang benar-benar tidak aktif.


    "Mas Bagas tidak punya nomor telepon Mbak Yuna?" tanya Rini.


    "Tidak, Ibu .... Saya tidak berani minta nomor telepon Mbak Yuna, wong Mbak Yuna itu kalau kerja tidak mau diganggu telepon kok." jawab Bagas.


    Rini membalikkan badan, menghindari pandangannya dengan Bagas dan anak-anaknya. Ia memandangi samudera biru, hanya dengan pandangan kosong. Pikirannya mengkhawatirkan Yudi. Tanpa terasa, Rini kembali meneteskan air mata. Ia menangis. Awalnya hanya linangan air mata. Tetapi lama kelamaan, isak tangis itu terdengar oleh anaknya. Rini langsung dipeluk oleh Silvy.


    "Mamah ..., Mamah jangan menangis .... Mamah jangan bersedih. Papah Yudi pasti kembali. Dia orang baik, pasti Tuhan akan menyelamatkan Papah Yudi." kata Silvy yang mencoba menenangkan mamahnya.


    Yayan, menantunya, tentu juga ikut sedih. Apalagi Bagas yang tahu dari pengakuan Yudi tentang Rini, ia maklum kalau wanita itu bersedih, karena diam-diam wanita itu memang mencintai Yudi.

__ADS_1


    "Ibu, lebih baik kita berdoa, agar Tuhan memberikan keselamatan kepada Mas Yudi maupun Mbak Yuna." ajak Bagas yang hanya bisa menundukkan kepala.


    Ya, mereka tentu bersedih, kehilangan Yudi, yang tidak diketahui keberadaannya. Yudi hilang.


__ADS_2