
Hamdan menerima kabar dari pengembang Nirwana Homestay, yang mengatakan bahwa bangunan homestay yang dipesan oleh Hamdan untuk atas nama Rini dan Silvy, sudah selesai dan harus ada penyelesaian administrasi, serta penandatanganan akta jual beli maupun surat-surat kepemilikan. Termasuk yang harus ditanda tangani adalah perjanjian pengelolaan. Ada banyak hal yang harus ditanda tangani dalam nota kesepakatan antara penjual, pembeli dan pengelola Nirwana Homestay. Setelah hampir tiga bulan dibangun, akhirnya selesai semua.
Di ruang makan, sambil makan malam Hamdan membicarakan masalah penandatanganan akad rumah, bersama Rini dan Silvy. Dan tentu di situ juga ada Yayan, suami Silvy. Silvy sudah dihubungi oleh papahnya, jika pulang kerja langsung mampir ke rumah, akan membahas masalah penting.
"Ini bangunan homestay yang ada di Nirwana Homestay milik kita, sudah jadi. Tadi siang Papah dihubungi oleh pengembang. Kita harus menyelesaikan administrasi." kata Hamdan pada keluarganya.
"Berarti kita ke Jogja lagi, Pah?" tanya Silvy.
"Ini yang harus saya sampaikan. Saat-saat ini Papah tidak bisa bepergian, karena harus menyiapkan rancangan pekerjaan ke Jerman. Papah diundang ke Jerman, untuk melihat hasil pekerjaan yang ada di sana. Jadi, Papah harus konsentrasi ke pekerjaan kantor lebih dahulu." kata Hamdan pada keluarganya.
"Kapan Papah berangkat ke Jerman?" tanya Rini.
"Mungkin minggu depan, Mah .... Nunggu berkas-berkas selesai disiapkan." jawab Hamdan.
"Apa harus Papah yang berangkat?" tanya Rini lagi.
"Perusahaan menghendaki begitu, katanya sekalian sebagai hadiah sebelum pensiun. Tidak sendirian, kok ..., nanti bersama dua orang staf." jawab Hamdan.
"Mamah tidak diajak, Pah?" tanya Silvy.
"Ini kan kerja, Sayang .... Bukan piknik." jawab papahnya.
"Terus, berapa lama di Jerman, Pah?" tanya Rini lagi.
"Paling sekitar dua minggu. Kalau misalnya belum sampai dua minggu sudah selesai, ya saya segera pulang." jawab Hamdan.
"Lha, terus ..., ini ke Jogja bagaimana?" tanya Rini lagi.
"Itulah, Mah .... Saya tidak bisa ikut. Itu yang harus tanda tangan akad kan Mamah sama Silvy, karena homestay itu kan sudah atas nama Mamah dan Silvy. Maka yang harus tanda tangan ya, kalian berdua. Cuman waktunya tidak bisa hari Minggu, karena notaris dan banknya kalau hari Minggu libur. Jadi harus akad pada hari kerja." jelas Hamdan.
"Kalau begitu berangkat hari Jumat saja, nanti hari Sabtu tanda tangan akad, hari Minggu kita piknik ya, Mah .... Hehe ...." kata Silvy yang inginnya selalu piknik.
"Eh, iya .... Enak seperti itu .... Aku setuju." sahut mamahnya.
"Kalau bisa jangan berangkat hari Jumat, nanti kalau ada kekurangan malah bolak-balik. Enakan berangkat hari Kamis sore. Jumat pagi sudah mengurus segala administrasinya, hari Sabtu sudah beres. Seandainya ada kekurangan, maka bisa diselesaikan hari Sabtu. Toh di sana kalian bisa tidur di rumah sendiri, tidak mikir biaya menginap, tidak repot cari hotel. Enak, kan ...." timpal Hamdan yang memberi saran.
"Eh ..., iya, ya .... KIta kan sudah menginap di rumah sendiri ..., kenapa pusing?!" sahut Rini yang baru ingat kalau ke homestay itu adalah rumahnya sendiri.
"Waah ..., asyik ya, Mah .... Sekarang kalau kita mau piknik ke Jogja sudah tidak repot-repot cari penginapan." sahut Silvy.
__ADS_1
"Lha, terus berangkat ke Jogjanya bagaimana? Mas Yayan bisa ikut apa tidak?" tanya Rini pada menantunya.
"Maaf, Mah ..., kebetulan pekerjaan kantor sedang ramai. Saya kemungkinan besar tidak boleh izin keluar." jawab Yayan.
"Izin sehari, Jumat saja, gak boleh, Mas?" tanya Silvy, istrinya.
"Kerjaan sedang ramai, Sayang .... Kalau berangkat Jumat malam sih, gak masalah. Tapi kalau berangkat Kamis, saya pasti tidak diizinkan oleh pimpinan." jawab Yayan.
"Besok biar diantar Mas Jo, saja .... Toh Papah tidak ke mana-mana, Mas Jo tidak sibuk." jawab papahnya memberi solusi.
"Ee ..., tapi bilang dulu ke Mas Jo .... Hari Minggu dia ada acara dengan istrinya apa tidak ...." sahut Rini yang mengingatkan suaminya.
"Ya, besok kita tanyakan ke Mas Jo." jawab Hamdan.
"Berarti, kita berangkat dari Jakarta Kamis sore kan, Mah ...? Ijin saya cuman hari Jumat." tanya Silvy.
"Iya, Sayang .... Ijin sehari saja." jawab mamahnya.
"Pah, kalau boleh usul ..., mohon Papah telepon ke pengembang, bisa tidak kalau memastikan hari Sabtu saja akadnya. Seandainya bisa, biar kita berangkat Jumat siang. Saya yang nyetir, tidak apa-apa. Nanti bisa gantian dengan Silvy. Jadi, kita tidak merepotkan Mas Jo." usul Yayan pada mertuanya.
"Oo, begitu, ya .... Coba saya hubungi dulu pengembangnya." jawab Hamdan yang langsung mengambil HP, mengubungi pengembang yang ada di Jogja.
"Halo, Mas .... Selamat malam .... Mas, ini saya mau tanya, kalau misal besok untuk acara akad itu hari Sabtu, apakah bisa dipastikan akan beres? Hanya sehari, hari Sabtu saja ...." kata Hamdan menanyakan kepada pengembang.
"Akan kami usahakan, Bapak Hamdan ...." jawab pengembang yang ada di Jogja.
"Untuk perjanjian dengan pihak bank, bagaimana?" tanya Hamdan lagi.
"Begini, Bapak ...., yang penting untuk akad besok itu antara notaris, pembeli dengan pengembang, untuk balik nama kepemilikan tanah dan bangunan. Karena itu nanti terkait dengan perubahan nama pemilik. Kalau tidak keliru kemarin, dalam pemesanan atas nama Ibu Rini dan Ibu Silvy. Sehingga nanti sertifikat kepemilikan tanah dan bangunan yang sudah jadi, atas nama Ibu Rini dan Ibu Silvy. Termasuk untuk perubahan nama wajib pajak dalam PBB." jelas pengembang dalam telepon.
"O, begitu ya .... Lha terus untuk urusan bank, bagaimana?" tanya Hamdan.
"Berkas permohonan pengajuan kredit ke bank sudah kami siapkan. Itu jika pembayarannya masih kurang. Dan itu nanti yang menutup kekurangan adalah pihak pengelola. Jadi pemilik Nirwana Homestay ini tidak punya usrusan dengan bank, tidak punya utang dengan bank. Tetapi jika Bapak Hamdan akan melunasi seluruh kekurangan, maka nanti jika sertifikat kepemilikan tanah dan bangunan sudah jadi, akan langsung diberikan kepada pemilik yang syah. Namun jika pemesan belum melunasi pembayarannya, maka sertifikat akan ditahan oleh pihak pengelola. Itu sudah tertuang pada perjanjian awal kita, Bapak .... Tapi saya yakin, Pak Hamdan akan membayar tunai pesanan homestay itu. Uang segitu bagi Pak Hamdan kan kecil ...." kata si pengembang.
"Hehe .... Maaf, Mas ..., saya lupa dengan perjanjiannya dulu. Maklum sudah tua ...." sahut Hamdan.
"Lupa apa belum dibaca ...." ejek Rini yang mendengarkan.
"Iya, Bapak Hamdan .... Saya maklum karena Pak Hamdan sibuk. Lantas untuk pembayarannya kira-kira bagaimana, Bapak?" tanya pengembang itu.
__ADS_1
"Kalau misalnya yang satu saya lunasi, tetapi yang satu lagi menyusul, bagaimana?" tanya Hamdan balik.
"Kalau bisa dilunasi, sebaiknya dilunasi saja, Bapak. Nanti bagi hasilnya bisa full. Jadi Bapak bisa langsung menikmati uang hasil penyewaan homestay. Kalau belum lunas, kita punya homestay, tetapi tidak menikmati hasilnya, karena pemasukan masuk pada pengelola semua sampai lunas." jelas pengembang.
"O begitu, ya .... Wah, ini namanya usaha dengan modal besar ...." kata Hamdan.
"Namanya juga investasi, Pak Hamdan. Tetapi setidaknya Bapak sudah punya rumah dan lahan yang luas." jawab sang pengembang.
"Baik, Mas .... Itu berarti yang satu sudah lunas, lha yang satu lagi, saya minta tempo sekitar dua minggu sampai satu bulan, karena ini saya harus berangkat ke Jerman dahulu. Nanti sepulang saya dari Jerman, baru saya lunasi." kata Hamdan pada sang pengembang.
"Terima kasih, Pak Hamdan .... Dengan senang hati kami akan menunggu." jawab sang pengembang.
"Baik, Mas .... Besok Sabtu anak dan istri saya yang akan ke Nirwana Homestay. Berangkat Jumat sore dari Jakarta. Mungkin akan sampai di Nirwana Homestay hari Jumat tengah malam, saya mohon izin agar ada penjaga yang menunggu kedatangan anak dan istri saya, untuk menginap di rumah barunya." kata Hamdan memberitahu.
"Siap, Bapak .... Akan kami siapkan. Rumah sudah siap untuk ditempati. Bahkan ini sudah mulai ramai turis-turis pada menginap di Nirwana Homestay, Bapak. Sejak peresmian minggu yang lalu, penginapan langsung ramai. Makanya, punya Pak Hamdan segera akad, sehingga nanti pihak pengelola langsung bisa menyewakan." kata sang pengembang.
"Oh, begitu ya .... Memang antara pengembang dengan pengelola Nirwana Homestay itu berbeda?" tanya Hamdan.
"Beda, Bapak Hamdan .... Kalau pengembang hanya sebatas membangun fasilitas, tetapi kalau pengelola penginapan, itu dari Kampung Nirwana. Ada petugasnya sendiri." jelas sang pengembang.
"Ya sudah, Mas ..., terima kasih penjelasannya. Mohon besok Sabtu, anak dan istri saya dibantu." sahut Hamdan yang mengakhiri teleponnya.
"Gimana, Pah ...?" tanya Yayan, menantunya yang akan ikut berangkat ke Jogja.
"Ya ..., bisa Mas Yayan. Besok berangkatnya Jumat siang sepulang kerja. Nyetirnya pelan-pelan saja. Nanti sampai Jogja malam pun tidak apa-apa. Sudah ada yang jaga penginapan. Nanti langsung tidur di rumah kita sendiri. Sudah siap untuk ditempati, bahkan sudah siap untuk disewakan. Katanya sudah ramai wisatawan yang menginap." jelas Hamdan pada menantu, anak dan istrinya.
"Asyik .... Berarti kita sudah enak kalau ke Jogja, bisa tidur di rumah sendiri." sahut Silvy yang tentu penuh rasa senang.
"Tapi perlu bawa kebutuhan untuk menginap di sana. Itu kan kita harus masak sendiri." kata Rini yang mengingatkan.
"Tidak usah masak, Mah .... Di sana banyak yang jual makanan." sahut Silvy protes.
"Iya, ya .... Ngapain repot ...." kata Rini yang salah pikir.
"Nah, kalian bertiga besok Jumat berangkat ke Jogja .... Papah mau menyiapkan keperluan yang akan dibawa ke Jerman." kata Hamdan.
"Siap, Pah ...." sahut anak dan istrinya.
Senang rasanya hati Silvy bisa memiliki rumah di Jogja. Tentu nanti akan sering berpiknik ke Jogja. Demikian juga Rini. Hatinya yang sejak ketemu Yudi saat reuni, ia selalu ingin berdekatan dengan lelaki yang pernah singgah di hatinya. Dan kini, setelah dibelikan homestay di Jogja, malah di Kampung Nirwana, kampung tempat tinggal Yudi, tentu hatinya merasa gembira. Setidaknya ia akan sering bertemu dengan Yudi.
__ADS_1
Rini tersenyum. Senyum yang penuh harapan, saat nanti akan sering tinggal di Jogja, berdekatan dengan laki-laki yang pandai melukis. Dekat dengan laki-laki yang sudah pernah memberikan kenyamanan, meski hanya sekejap.