KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 97: KEBAHAGIAANMU KEBANGGAANKU


__ADS_3

    Taman Awang-awang sudah jadi. Setidaknya sudah sembilan puluh sembilan persen. Hanya tinggal pembersihan sisa-sisa material. Seharian dibereskan, pasti selesai. Tentu para pekerja yang seluruhnya adalah warga Kampung Nirwana, merasa senang dan bangga dengan terselesaikannya pembangunan obyek wisata yang megah tersebut.


    Hari itu, hari Sabtu. Hari yang ditunggu oleh para pekerja untuk menerima uang bayaran. Upah tetesan keringat yang mereka kucurkan. Namun hari Sabtu itu tidak seperti biasanya. Jika biasanya para pekerja yang mau menerima bayaran, harus menunggu hingga sore hari. Tetapi hari Sabtu itu, sejak pagi hari, beberapa karyawan diperintah menata meja dan kursi makan di bangunan yang nantinya akan dijadikan tempat food hall. Ibu-ibu para pedagang makanan, terutama penjual makanan tradisional, ada bakso, bakmi, gendar pecel, jenang candil, nasi pecel, es dawet ireng, serta berbagai makanan lainnya, sudah menempati tempat penjualan. Para pedagang ini mulai mencoba memasak dan menyiapkan dagangannya menggunakan tempat baru yang disediakan. Tentu mereka ada yang merasa bingung, canggung, bahkan belum bisa menyalakan kompor gas.


    "Eee ...! Saya tidak bisa menyalakan kompor gas ..., ini bagaimana caranya, ya ...?!" kata salah seorang pedagang. Maklum, ibu ini masih sangat tradisional, bahkan di rumahnya ia masih masak dengan menggunakan kayu bakar.


    "Hahaha .... Wong ndeso ...! Bisanya masak pakai angklo .... Haha ...." sahut yang lain sambil tertawa, karena melihat kelucuan temannya.


    "Makanya, latihan dulu nyetetke kompor .... Haha ...." sahut yang lain.


    Suasana jadi lucu. Canda tawa para pedagang tradisional itu meramaikan suasana di food hall. Tetapi mereka tidak khawatir, karena langsung diajari oleh yang ahli di bidang masak-memasak dengan menggunakan kompor gas.


    Tidak hanya para pedagang yang melakukan uji coba tempat baru, tetapi juga bagian administrasi, kasir dan para pelayan. Pegawai kasir pun sama, masih bingung cara mengoperasikan komputer.


    "Waduh, ini bagaimana caranya membuka kotak kasir, ya?!" tanya petugas kasir yang belum paham caranya.


    "Weleh ..., tarik saja ...." sahut temannya.


    "Tidak bisa ...." jawab yang mencoba jadi kasir.


    Tidak khawatir, ada petugas yang mengajari, "Begini, Mbak caranya ...." kata orang yang melatih kasir tersebut. Dan akhirnya, lama kelamaan bisa juga.


    Hari itu adalah hari uji coba food hall. Yuna yang meminta uji coba itu, dan Bagas yang menginformasikan ke seluruh pedagang serta karyawan yang sudah direkrut.


    Tidak hanya di area food hall, tetapi juga pegawai yang nantinya bekerja di tempat arena bermain. Arena bermain ini merupakan tempat yang penuh dengan barang elektronik. Semua permainannya memnggunakan mesin. Mereka sudah berada di ruang piramid sejak pagi. Ada ahli yang sedang mentraining mereka. Mengajari bagaimana cara mengoperasikan mesin-mesin itu. Tentu agar para karyawan ini nantinya tidak bingung untuk mengoperasikan permainan dan bisa mengatasi jika ada masalah.


    "Kami boleh nyoba dulu, agar tahu caranya?" kata salah seorang calon karyawan arena permainan.


    "Boleh. Nanti semuanya mencoba, agar tahu secara pasti cara memainkannya." kata petugas yang mengajari.


    Akhirnya, satu persatu karyawan mencoba sesuai dengan permainan yang nanti akan ditunggui. Pelan tapi pasti. Semua bisa mengoperasikan. Gampang. Apalagi karyawannya rata-rata remaja, sudah pernah main game di tempat permainan.


    Begitu juga pegawai yang direkrut untuk menjadi tenaga kebersihan, baik yang bertugas di kamar mandi, petugas kebersihan ruang, maupun yang bertugas di luar ruangan. Semuanya mengenakan seragam kebersihan yang sama, yaitu baju wearpack warna hijau muda. Mereka sudah dilatih dan diajari berbagai teknis serta kepribadian dalam menyambut wisatawan. Tentu para pekerja ini bangga dengan profesinya. Setelah menerima pelatihan, tahu pentingnya keberadaannya, maka mereka tahu bahwa pekerjaannya sangat berperan penting dalam sebuah obyek wisata yang harus selalu dijaga kebersihan dan keindahannya.

__ADS_1


    "Semoga tempat ini tetap indah dan asri terus, ya ...." kata salah seorang pegawai kebersihan.


    "Iya, agar kita bisa mendapatkan rezeki yang lancar dan barokah." sahut temannya.


    "Kalau kamar mandinya itu bersih seperti ini terus, bau wangi dan tidak pesing, pasti para wisatawannya betah, ya ...." kata petugas penjaga kamar mandi.


    "Makanya, kita harus menjaga dan merawat sebaik mungkin." sahut teman satunya.


    "Iya, saya jadi ingat kata-kata mutiara, begini; 'pipismu adalah rejekiku'. Hehehe ...." kata orang itu yang langsung tertawa. Tentu temannya ikut tertawa.


    Jam sebelas siang, para pekerja sudah disuruh berhenti kerja. Tentu, ini juga permintaan Yuna. Lantas para pekerja itu diminta untuk membersihkan tubuhnya, bila perlu mandi dan berganti pakaian. Semua pekerja menuruti perintah Yuna. Ya, Yuna yang membayar mereka, tentu mereka menurut kepada orang yang memberi rezeki. Hari itu adalah hari terakhir para tukang bekerja di puncak bukit. Proyek Taman Awang-awang sudah selesai.


    Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, mereka terlihat rapi dan gagah-gagah. Mereka antri menemui Bagas. Menerima bayaran. Namun mereka belum boleh pulang, karena ada makan siang bersama, sekaligus uji coba makan di food hall. Tentu mereka senang. Kalau biasanya mereka makan nasi bungkus yang dikirim oleh ibu-ibu bagian konsumsi, hari ini mereka akan menikmati makan siang seolah makan di restoran.


    Jam dua belas siang. Taman Awang-awang diserbu oleh warga Kampung Nirwana. Tua, muda, laki-laki, perempuan, maupun anak-anak, semua berdatangan ke puncak bukit. Suasana Taman Awang-awang menjadi sangat ramai. Mereka ingin menyaksikan Taman Awang-awang yang banyak diceritakan oleh para pekerja, entah itu bapaknya, suaminya atau kakeknya, maupun tetangganya. Yang jelas, warga Kampung Nirwana sudah sangat ingin menyaksikan Taman Awang-awang yang diceritakan hebat tersebut. Tentu mereka langsung berhamburan ke berbagai obyek yang disajikan di taman puncak bukit tersebut. Mereka menikmati pemandangan yang indah, menyaksikan bangunan-bangunan yang megah, mencoba berbagai fasilitas yang disediakan.


    Bagi remaja dan anak-anak, yang tahu kalau di bangunan piramid kaca terdapat berbagai permainan yang unik, seperti tempat bermain di Time Zone, mereka langsung menyerbu ruang tersebut. Ramai dan penuh sesak. Di ruang itu sudah ada beberapa petugas yang mengatur dan memberi tahu cara bermain, yaitu dengan membeli coin untuk dimasukkan ke dalam kotak mesin. Namun hari itu, anak-anak dan remaja yang masuk akan mencoba bermain, semua diberi sepuluh keping koin gratis oleh petugas. Itu artinya mereka bisa mencoba sepuluh jenis permainan. Anak-anak langsung berebut permainan.


    "Aku main yang ini ...." kata seorang anak yang langsung mamesukkan koin untuk bermain.


    "Aku ini duluan .... Kamu sana ...." ada anak yang berebut permainan.


    Suasana sangat ramai. Anak-anak berebut permainan. Tentu mereka bisa bermain dengan puas. Anak-anak gembira, senang dan bangga di kampunya ada obyek wisata yang menarik dan luar biasa.


    Berbeda dengan anak-anak, orang-orang tua lebih ingin menikmati keindahan bangunan dan alam. Maka para orang tua ini berkeliling ke berbagai tempat yang ada di puncak bukit kampungnya itu. Ada yang menyaksikan bangunan pendopo, ada yang sekadar duduk-duduk di gazebo sambil menikmati indahnya pemandangan alam, ada yang menonton anak-anaknya yang bermain game, ada yang mengamat-amati bangunan yang mirip rumah orang Jepang, ada pula yang sekedar duduk-duduk di tangga berundak sambil menyaksikan deburan ombak Laut Selatan. Tidak ketinggalan, emak-emak menuju spot-spot foto, mereka berselfi ria.


    Di food hall, para pekerja disuruh pesan makanan sesukanya. Buku daftar menu sudah ada di meja. Mereka boleh memilih apa saja. Yuna yang mentraktir. Tentu para pekerja tersebut senang dan gembira. Seorang pelayan pesanan menemui orang-orang yang sudah duduk di ruang itu, lantas menanyai pesanan makanan. Seolah orang-orang ini sedang mau makan di restoran. Tawa riang kembali terdengar. Tentu para pekerja pada bingung untuk memilih pesanan makanan.


    "He ..., kamu pesen makanan apa? Aku bingung?!" kata salah seorang pekerja yang bingung memilih makanan.


    "Halah, biasanya nasi pecel, lho ya .... Haha ...." sahut temannya yang menertawai.


    "Pilih apa saja, tidak harus sama dengan temannya." sahut yang lain lagi.

__ADS_1


    "Aku pesan bakmi, minumnya jeruk hangat." pesan salah seorang.


    "Cocok .... Saya sama, ditambah gorengan." temannya mengikuti.


    "Lhoh, boleh nambah, to ...?" tanya yang lain.


    "Boleh .... Hari ini kita ditraktir Mbak Yuna, silakan makan sesukanya, asal perutmu kuat. Hehe ...." yang lain berkomentar.


    Suasana pemesanan makanan semakin ramai. Tetapi para pelayan sudah dilatih beberapa hari. Dengan sabar para pelayan ini meladeni para bembeli. Ini adalah latihan, gladi kotor, uji coba. Besok setelah Taman Awang-awang diresmikan, mereka harus benar-benar siap.


    Pak Lurah dan Pak Carik datang terlambat. Dua orang tokoh Kampung Nirwana ini langsung nimbrung di kerumunan para pekerja yang sedang menikmati makan siang di food hall.


    "Maaf, saya terlambat ..., tadi barusan rapat dikecamatan." kata Pak Lurah yang masuk ke food hall.


    "Tidak apa-apa, Pak Lurah .... Monggo, Pak Lurah, Pak Carik ..., makan dulu." sahut salah seorang yang dekat di jalan masuk.


    "Iya, oke, siap ...." sahut Pak Lurah yang langsung menuju tempat para bakul.


    "Caranya tidak begitu, Pak Lurah .... Pak Lurah duduk saja, nanti ada pelayan yang datang menghampiri menanyai pesanan Pak Lurah sama Pak Carik." kata salah seorang pekerja yang menegur Pak Lurah.


    "Walah, pakai cara kayak gitu to .... Seperti di restoran itu, ya ...?! Hehehe ...." sahut Pak Lurah yang agak malu, lantas duduk semeja bersama Pak Carik.


    Seorang perempuan pelayan yang mengenakan seragam kaos kuning bawahan hijau, menghampiri Pak Lurah dan Pak Carik. Lantas memberikan buku daftar menu. Selanjutnya mencatat pesanan Pak Lurah dan Pak Carik.


    "Bayarnya di mana, Mbak?" tanya Pak Carik.


    "Bayarnya di kasir itu, Pak .... Tapi untuk hari ini semuanya gratis, karena ditraktir oleh Mbak Yuna." kata pelayan itu.


    "Waah .... Ini benar-benar keren, Pak Carik .... Kampung kita mengalami kemajuan yang pesat, Rik ...." kata Pak Lurah yang bangga melihat kemajuan Taman Awang-awang, sambil menepuk pundak Pak Carik.


    Hari itu, semua warga Kampung Nirwana bergembira bersama di puncak bukit, yaitu di Taman Awang-awang. Mulai dari anak-anak, para remaja, ibu-ibu, bapak-bapak, bahkan kakek dan nenek, sampai pemimpin desanya, Pak Carik dan Pak Lurah, semuanya bergembira menikmati taman wisata yang ditunggu-tunggu. Mereka bahagia, senang punya obyek wisata kembanggaan, yaitu Taman Awang-awang yang megah dan modern.


    Sementara itu, Yudi menemani Yuna yang melakukan meditasi di Gua Jepang. Tentu Yuna ingin mengucapkan syukur karena pekerjaannya telah selesai. Yuna berdoa menurut kepercayaan nenek moyang orang Jepang. Yuna memilih berdoa di Gua Jepang, karena ia ingin lebih konsentrasi, dan sekaligus mengenang para pahlawannya.

__ADS_1


    Yudi melihat kekusukan Yuna, sebagai pertanda bahwa tunangannya itu adalah wanita baik yang selalu mendekatkan diri kepada Sang Maha Kuasa. Ia bersyukur punya calon istri yang tidak cuma cantik, tetapi juga baik dan taat. Yudi sangat bangga. Bangga dengan kecantikan Yuna, bangga dengan hasil karyanya,  bangga sudah membangun Taman Awang-awang yang sangat megah. Yudi bangga memilki Yuna sebagai wanita yang hebat.


__ADS_2