
Wawan, sang pengembang sudah membangun kebun anggrek yang dipesan oleh Rini. Lahan yang cukup luas untuk membuat sebuah kebun anggrek. Namun Wawan tidak hanya membuat greenhouse untuk tempat bunga anggrek saja, ia justru membuat bangunan yang unik, bangunan yang menarik, bangunan yang indah. Ya, tanah bagian depan diratakan, kemudian dipasang batu alam warna-warni yang ditata secara mozaik, membentuk gambar-gambar aneka bunga. Rencananya pelataran ini nantinya sebagai tempat parkir bagi para tamu atau pembeli anggrek. Cukup luas pelataran tersebut. Setidaknya bisa digunakan parkir sepuluh mobil sekaligus.
Dari pelataran itu, di sisi kiri ada tangga dua trap. Lantas berdiri megah bangunan pendopo terbuka. Bukan dari kayu, tetapi dibangun menggunakan tiang pilar terbuat dari dinding batu. Lantainya juga dari batu. Bahkan pada bagian dinding dalam juga dari batu. Sedangkan pada pintu masuk ke ruang dalam, juga dibuat dari batu berundak, semacam relung gapura. Seperti layaknya bangunan zaman Hindu-Budha kuno. Mirip pelataran candi. Di tengah pendopo itu terdapat meja besar serta kursi kayu tradisional. Tentu memberi kesan tempat itu sebagai bangunan kuno.
Sedangkan di sisi kanan, berbatasan dengan pendopo itu, terdapat bangunan gedung dengan bahan bata super. Bangunan itu menghadap ke dalam, menghadap ke kebun anggrek. Pintu dan jendelanya terbuat dari kayu ukiran, seperti rumah antik. Bangunan merah bata super yang cukup megah dan menawan. Bangunan ini untuk tempat tinggal. Bangunan gedung itu ada dua kamar tidur lengkap dengan kamar mandi. Tentu bangunan ini untuk menginap atau tidur. Jika nanti Rini kemalaman saat mengurus anggrek, atau badan terasa lelah, dia bisa merebahkan diri untuk tidur di ruangan itu.
Di depan bangunan itu, hingga di balik pendopo, ada pelataran sekitar dua meter memanjang, terbuat dari teracota. Motif dari tanah liat yang dipasang di pelataran. Tujuannya adalah untuk menyerap panas. Kemudian pada batas antara teracota dengan kebun anggrek, ada kolam satu meter memanjang sepanjang pelataran dalam. Di dalam kolah ada ikan kecil-kecil. Ya, ikan untuk terapi. Terapi ikan. Pasti ini nanti akan menjadi daya tarik bagi pengunjung.
Selanjutnya, berjarak sekitar dua meter dari kolam terapi ikan, baru terdapat rak-rak anggrek. Hanya di sisi kiri hingga sampai belakang. Sepanjang rak anggrek tersebut dibangun semacam green house, dengan atapnya diberi fiber. Tentu untuk menahan air hujan agar tidak mengenai tanaman anggrek. Maklum, tanaman anggrek tidak tahan asam dari air hujan. Bangunan rak dan atapnya terbuat dari baja ringan. Namun pilar-pilarnya dibuat dari bata merah super dengan tatanan berpilin memutar.
Green house itu sangat besar. Lebarnya mencapai dua puluh meter, sedangkan panjangnya mencapai lima puluh meter. Dalam green house tersebut berjajar lima rak yang memanjang sejauh sepuluh meter, kemudian berjeda satu meter, menyambung lagi. Begitu seterusnya, sehingga barisan rak tersebut ada sebanyak dua puluh lima buah. Antara rak yang satu dengan sebelahnya, terdapat jalan setapak satu meter, yang dibuat dari pecahan bata. Tujuannya untuk meresapkan air, agar kelembabannya terjaga. Sedangkan di bawah rak, diplester miring agar air siraman bisa mengalir.
Namun bunga anggrek Rini hanya ada dua ratus pot saja. Terlalu sedikit untuk ditata pada green house seluas seribu meter tersebut. Begitu anggrek milik Rini di tempatkan di ruang itu, seakan Rini hanya memiliki anggrek sangat sedikit sekali. Tentu rak-rak anggrek yang sangat luas itu masih kosong melompong.
Sisa tanah yang ada masih sangat luas. Rini meminta kepada Wawan yang memborong bangunannya, untuk diratakan lebih dahulu. Rumputnya dipotong rapi. Besok kalau punya rezeki bisa dikembangkan.
Sedangkan jalan dari halaman kebun anggrek menuju jalan raya tersebut, mulai dari tanah Rini hingga rencana pasar rakyat sudah dicor pasir semen. Namun dari tempat rencana pasar rakyat hingga jalan raya, masih berupa jalan tanah yang diberi krakal. Sudah rata, hanya belum ada aspalnya. Namun sudah nyaman untuk dilalui kendaraan.
Satu setengah bulan Wawan mampu menyelesaikan pembangunan pesanan Rini. Tentu dengan banyak tukang. Wawan sudah merampungkan kebun anggrek milik Rini. Bukan hanya sekadar tempat menaruh anggrek, tepatnya taman anggrek. Karena wujudnya yang indah dan menawan. Orang datang ke tempat itu, tentu ibarat berada di taman bunga. Penuh artistik nilai karya seni yang tidak kalah dengan desain bangunan yang dibuat oleh Yudi.
"Ibu Rini ..., bangunan kebun anggrek sudah jadi. Monggo, silakan di lihat." kata Mas Wawan kepada Rini, yang meminta agar pemilik menyaksikan hasil bangunannya.
Siang itu sengaja Wawan mengajak Rini ke kebun anggreknya. Wawan yang memarkirkan mobil kijang supernya, langsung menunjukkan bangunannya kepada yang punya.
"Waah .... Bagus banget, Mas Wawan ...." Rini tersenyum lebar, bahagia melihat bangunan yang sudah jadi.
"Ini halaman parkirnya, sengaja kami buat mozaik bunga-bunga. Agar memberi kesan, ini benar-benar tempat bunga." kata Wawan yang mulai memamerkan tempat parkirnya.
"Ini kok ada bangunan batu-batu, seperti di candi?" tanya Rini yang mulai menaiki tangga ke pendopo.
__ADS_1
"Ini pendopo, Ibu Rini .... Nanti para pembeli bisa istirahat di sini. Duduk-duduk dan ngobrol di kursi besar ini. Konsepnya bangunan zaman kuno. Mirip pendoponya Mas Yudi. Biar menambah kesan indah pada karakter anggrek." kata Wawan menjelaskan.
"Cuman pendopo ini lebih angkuh, karena lantai dan dindingnya dari batu." kata Rini yang membandingkan.
"Betul, Ibu Rini. Ini pintunya juga sama dengan pintu gerbang gapura Mas Yudi. Cuman ini lebih kecil." kata Wawan yang menunjukkan pintu kayu model Kerajaan Majapahit.
"Wao .... Bagus ini, Mas Wawan." kata Rini yang pasti tersenyum senang.
"Ini kuncinya. Silakan Ibu Rini yang membuka pintunya." kata Wawan sambil memberikan kunci pintu kepada pemilik.
Rini menerima kunci itu, lantas membukanya. Tentu ada rasa gemetar. Pasti ada kejutan yang lebih bagus lagi.
"Wao .... Ini benar-benar keren, Mas Wawan ...." Rini benar-benar terpesona dengan hasil pembangunan laki-laki muda yang jadi pengembang itu.
"Ini kolah ikan untuk terapi. Ibu Rini bisa masukkan kaki ke dalam kolam, nanti akan dikeroyok ikan-ikan. Namanya terapi ikan. Pasti nanti banyak orang datang untuk mencoba terapi ikan." kata Wawan yang menunjukkan kolam ikan terapi.
Lagi-lagi, Rini terkesima dengan yang ditunjukkan Wawan.
"Wah .... Ini rumah, ya ...? Bagus ini, Mas Wawan .... Wah ..., nanti saya bisa betah di sini." kata Rini yang lagi-lagi memuji karya Wawan.
"Iya, Ibu Rini .... Nanti kalau putranya ke Jogja, ajak saja menginap di sini. Lebih asri dan lebih tenang." kata Wawan.
"Tahu begini, kemarin saya bawa tempat tidur. Tidak punya rencana, sih .... Yah, harus beli lagi ini ...." kata Rini yang tentu kecewa karena tidak membawa tempat tidur sama sekali dari rumah Jakarta yang diberikan kepada saudara-saudara iparnya.
"Memang rumah yang di Jakarta sudah tidak ditempati, Bu ...?" tanya Wawan.
"Aah ..., sudahlah .... Sudah saya ikhlaskan, kok. Tidak usah dibicarakan lagi." kata Rini yang jelas terlihat perubahan raut mukanya menjadi sedih.
"Maaf jika menyinggung, Ibu Rini." kata Wawan yang menyesal menanyakan rumah Jakarta.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Mas Wawan. Berarti ini saya tinggal mengisi kamar sama perlengkapan lainnya, ya?" tanya Rini pada Wawan.
"Iya, Ibu .... Cuma beli kasur, meja kursi sama peralatan dapur." jawab Wawan.
"Ah ..., itu urusan nanti. Sambil jalan, sambil menunggu rezeki." sahut Rini.
"Yang penting justru ini, Ibu Rini .... Rak anggrek sudah siap, tapi bunga anggrek Ibu Rini yang dibawa dari Jakarta masih sangat kurang. Ibu Rini harus beli anggrek lagi. Kulakan, Bu ...." kata Wawan yang menunjukkan green house dengan rak-rak tanamannya.
"Waduh .... seperti ini ya, Mas Wawan ...? Anggrek-anggrek saya yang di Jakarta memenuhi tempat, ternyata ditaruh di sini hanya segitu saja ...? Wah ..., kalau ini tidak hanya kurang ..., tapi harus belanja total, Mas Wawan ...." kata Rini yang langsung merasa sangat-sangat menyesal karena anggrek yang dikiranya banyak, ternyata setelah ditata, hanya satu deret rak saja.
"Sambil jalan, Ibu Rini. Kalau Ibu Rini ingin memenuhi anggrek seluruh rak, bisa saya pesankan ke teman saya yang ada di Malang. Dia punya pembibitan anggrek. Justru yang penting sekarang, Ibu Rini cari orang yang merawat anggrek. Untuk menyiram tiap hari." kata
"Iya, Mas Wawan .... Saya minta tolong dipesankan bibit-bibit anggrek ke kenalan Mas Wawan. Setidaknya bisa untuk mengisi sebagian rak-rak yang sudah dibuat. Terus, kira-kira siapa ya, yang bisa bantu menyirami anggrek?" kata Rini yang tentu sangat berniat untuk menambah angreknya.
"Nanti akan saya hubungkan ke teman saya yang di Malang. Nanti Ibu Rini berembug sendiri, minta saja pokoknya diantar sampai di tempat. Tapi kalau orang yang mau menyiram anggrek, Ibu Rini minta tolong ke Mas Bagas. Dia yang tahu persis karakter anak-anak di sini. Nanti biar dipilihkan anak yang rajin." kata Wawan yang langsung menanggapi keluhan Rini.
"Terima kasih, Mas Wawan. Pokoknya kalau ada apa-apa, saya ngrepoti Mas Wawan, lho ya ...." ucap Rini berterima kasih.
"Iya, Ibu Rini .... Sisa lahan yang luas itu, mungkin besok bisa untuk pengembangan jika usaha Ibu Rini sukses." sahut Wawam.
"Aamiin ...." kata Rini yang penuh harap.
"Oh, iya ..., Ibu Rini. Soal nama, rencana di dinding depan tadi akan saya beri nama. Agak besar menempel di dinding. Kira-kira namanya apa ya, Bu ...?" Wawan menanyakan nama yang akan dipakai untuk tempat itu.
"Waduh .... Saya malah bingung ini, Mas Wawan ...." sahut Rini yang tidak pernah memikirkan itu.
"Kalau misalnya saya beri nama 'Taman Anggrek Nirwana', bagaimana?" tanya Wawan pada Rini, tentu minta pertimbangan.
"Waah ..., bagus itu, Mas. Cocok. Saya setuju." sahut Rini yang menyetujui usulan Wawan.
__ADS_1
Rini merasa lega. Meski harus keluar banyak uang, tapi ia merasa senang dan puas. Punya tanah yang sangat luas, yang kini dibangun menjadi "Taman Anggrek Nirwana", bagus dan mempesona. Jika nanti bibit-bibit anggrek yang lain datang, pasti tempat itu akan lebih terlihat indah dan asri. Benar-benar seperti taman anggrek. Penuh bunga warna-warni, yang tentu akan menggoda kepada setiap pembeli.
Taman Anggrek Nirwana, akan dikelola Rini menjadi sebuah taman indah "Puspa Hati" untuk menyambut kedatangan Yudi. Puspa Hati, bunga-bunga yang bermekaran dalam hati. Seperti halnya hati Rini saat ini, yang sedang mekar bersama anggrek-anggrek di Taman Anggrek Nirwana. Rini yakin, Yudi akan heran jika di kampungnya ada "Dewi" yang sanggup menambah kecantikan Kampung Nirwana.