KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 178: KEMALANGAN BERTUBI


__ADS_3

    Teman-teman SMA Rini banyak yang berdatangan ke rumah, melayat dan paling tidak bisa menghibur Rini.  Terutama mereka yang tinggal dekat dengan Jakarta. Rencananya mereka ada yang akan bermalam di rumah Rini. Nanti malam akan ikut acara pemanjatan doa bersama. Tentu untuk mendoakan arwah almarhum Hamdan, suami Rini.


    Anik datang sudah hampir sore. Demikian juga Jojon, yang datang hampir beriringan. Anik dan Jojon langsung masuk ke ruang tamu, menemui Rini dan memeluk erat teman dekatnya itu.


    "Saya ikut berduka cita ya, Rin ...." kata Anik pada Rini.


    "Terima kasih sudah datang kemari, Nik ...." jawab Rini.


    "Saya juga ikut berbela sungkawa, Rini .... Semoga almarhum mendapat tempat di surga-Nya." kata Jojon yang menyalami Rini.


    "Terima kasih, Jon ...." jawab Rini.


    Setelah menyalami orang-orang yang ada di ruangan itu, Jojon dan Anik ikut duduk, berkumpul dengan teman-temannya yang sudah datang lebih dahulu.


    "Memang kenapa Mas Hamdan, Rin?" tanya Anik pada Rini, setelah duduk bersama di ruang tamu dengan teman-temannya.


    "Tidak sadar sudah lebih dari seminggu. Ya sejak pesta pernikahan Yudi itu .... Makanya saya pulang duluan, karena ditelepon pembantu saya yang memberi tahu kalau suami saya masuk rumah sakit. Maaf ya, waktu itu tidak sempat pamitan." kata Rini yang tentu tidak hanya kepada Anik, tetapi kepada semua temannya.


    "Kami semua, mewakili teman-teman alumni seangkatan kita, ikut prihatin dan turut berbela sungkawa ya, Rini .... Semoga almarhum Mas Hamdan, suami Rini diberikan tempat yang terang di surga Allah. Dan kami juga berharap Rini beserta Mbak Silvy, serta seluruh keluarga, ikhlas dalam menerima musibah ini, tetap tabah dan diberikan kekuatan oleh Yang Kuasa." kata Alex mewakili teman-temannya.


    "Terima kasih, Alex dan teman-teman .... Mohon sampaikan ucapan terima kasih saya kepada teman-teman semua, terima kasih untuk doanya, mohon ampunkan kesalahan suami saya. Terima kasih sudah pada sampai di rumah saya. Maafkan saya, ya ..., teman-teman ...." kata Rini kepada teman-temannya.


    "Lhoh, berarti kamu pulang itu, Mas Hamdan sudah dibawa ke rumah sakit? Sudah tidak sadarkan diri?" tanya Anik yang penasaran.


    "Iya .... Itu saya sudah ditelepon oleh Mak Mun duluan, terus kami malah menikmati makan hidangannya Yudi. Habis makan saya langsung pulang .... Sampai mau masuk Jakarta, saya ditelepon lagi, dan suami saya sudah dibawa ke rumah sakit." jawab Rini.


    "Oo .... Saya kirain ...." sahut Anik yang tidak melanjutkan kata-katanya.


    "Dikirain apa?" tanya Rini yang penasaran.


    "Dikira cemburu melihat Yudi jadi manten ...." sahut Jojon yang polos.


    "Ih ..., enggak lah .... Yudi nikah dengan Yuna itu justru kami sekeluarga yang memintanya ...." sahut Rini agar tidak diomong cemburu. Padahal, dalam hatinya sebenarnya memang cemburu.


    "Oo .... Iya, to ...?!" Anik berpura-pura tidak tahu.


    "Wah, sayang waktu pernikahan Yudi, Rini pulang duluan. Pestanya sangat meriah. Baru kali ini saya kondangan, pengantin tidak mau disumbang, malah bagi-bagi doorprize. Ramai sekali. Pengantinnya mesra banget lho, Rin ...." seloroh Jojon, teman yang paling celelekan itu.


    "Eh, doorprize aku dapat nggak?" tanya Rini pada Jojon.


    "Dapat setrika listrik, yang menerima Anik. Orang kembang manggarnya direbut Anik ...." jawab Jojon yang terlihat kecewa.

__ADS_1


    "Enggak, Ya .... Aku minta yang punyanya Rini. Terus kamu kasih satu ke aku .... Alhamdulillah dapat setrika. Makasih ya, Rin ...." kata Anik yang senang dengan doorprizenya.


    "Iya, Nik .... Maaf, teman-teman, mohon doakan juga Yudi, ya ...." kata Rini tiba-tiba, yang akan memberi kabar penting juga.


    "Memang Yudi kenapa?" tanya Jojon.


    "Yuna, istri Yudi ..., hilang .... Kata Mas Bagas ..., istri Yudi didatangi beberapa orang Jepang, diajak paksa dibawa ke Jepang. Mas Bagas bilangnya diculik. Mohon doakan agar cepat ketemu, ya ...." kata Rini pada teman-temannya.


    "Iya, tadi saya mendengar sendiri teleponnya. Kasihan Yudi ...." tambah Alex.


    "Lha terus, Yudi bagaimana? Apa tidak melawan?" tanya teman-teman yang lain.


    "Waktu orang-orang Jepang itu datang, Yudi sedang kerja, sudah berangkat ke kantor. Di rumah, Yuna sendirian. Itu kata Mas Bagas." tutur Rini.


    "Lha sekarang, Yudi bagaimana?" tanya yang lain.


    "Yudi menyusul ke Jepang, mencari ke kampung halamannya. Tolong doakan Yudi, agar bisa berhasil menemukan istrinya lagi." kata Alex menambahkan.


    "Kalau begitu kita share ke WA grup. Biar teman-teman semua ikut mendoakan." kata Anik yang sudah langsung menulis chat di WA grup alumni SMA.


    "Ya ampun, Yudi .... Malang nian nasib dirimu. Dahulu, baru mau jatuh cinta, ceweknya diambil orang .... Sekarang sudah menikah, istrinya diambil orang .... Kasihan betul, Yudi ...." kata Anik.


    "Memang dulu Yudi pernah jatuh cinta, ceweknya diambil orang ...?!" tanya salah satu temannya.


    "Waktu masih SMA ...?" temannya tanya lagi.


    "Betul ...." sahut Anik lagi.


    "Sama siapa ...?!" tanya temannya lagi.


    "Ada ..., deh ...." Anik tidak menyebut orang.


    Rini memerah pipinya. Ia tahu, yang dimaksud Anik adalah dirinya. Maka tentu Rini jadi tersipu. Namun ia tetap diam dan berusaha tenang, agar yang lain tidak tahu.


    "Betul, Lex ...? Memang dulu Yudi pacaran sama siapa, Lex ...?" tanya temannya.


    "Waah .... Saya malah tidak tahu ...." jawab Alex pura-pura tidak tahu.


    "Sudah .... Yang penting sekarang kita doakan Yudi, agar istrinya cepat ketemu ...." potong Jojon menghentikan pembicaraan teman-temannya.


    Rini ayem. Temannya sudah tidak membahas masalah pacar Yudi yang dahulu. Setidaknya, Rini tidak bertambah sedih. Hari ini ia sedang berduka, masak sudah harus ditambahi cerita masa lalu yang menyakitkan.

__ADS_1


    "Eh, kemarin waktu kita ke pernikahan Yudi, kok tidak pergi menyaksikan Taman Awang-awang yang baru, ya ...?!" kata Anik yang agak kecewa tidak bisa piknik.


    "Yang punya Taman Awang-awang jadi manten .... Semua karyawannya ikut laden, sibuk mengurusi pesta. Makanya semua obyek wisatanya ditutup." jawab Alex.


    "Oo .... Itu obyek wisatanya punya Yudi, to ...?"


    "Iya .... Bukitnya itu, tempat wisatanya, milik Yudi .... Yang membangun Taman Awang-awang Yuna, yang jadi istri Yudi. Jadi Taman Awang-awang itu milik Yudi dan Yuna .... Tetapi oleh Yudi, itu semua diserahkan kepada warga, dikelola bersama-sama. " jelas Alex.


    "Wah, hebat banget Yudi ...." kata yang lain.


    "Oo .... Pantesan ...." sahut yang lain lagi.


    "Kemarin itu, orang se kampung, semuanya membantu dan ikut berpesta di acara pernikahan Yudi. Semua acara, yang menyiapkan warga kampung. Bahkan tontonan, hiburan, hiasan, itu semua yang menyiapkan warga. Itu hadiah-hadiah doorprize, yang belanja juga warga .... Mau apa saja, Yudi tinggal bilang. Orang kampung sudah siap membantu. Itulah hebatnya Yudi." tambah Alex yang menceritakan Yudi.


    "Betul, Lex .... Itu kemarin waktu di pernikahan Yudi, saya sampai selesai. Malam hari saya ikut nonton wayang. Ramai sekali. Semua orang se kampung datang menyaksikan wayang kulit. Makanan lengkap, semua tersedia. Semua orang bebas makan. Tidak hanya orang kampung, teman-teman Yudi yang seniman-seniman itu, malam harinya berdatangan lebih banyak. Turis-turis manca negara juga berdatangan lagi. Lebih ramai dan lebih penuh penontonya. Dan mereka semua bebas menikmati hidangan yang disajikan. Bahkan sampai pagi, masih ada makanan. Betul-betul luar biasa." kata Jojon yang menggebu-gebu. Tentu, diantara teman-temannya yang ada di situ, hanya Jojon yang menunggui pernikahan Yudi hingga selesai.


    "Tapi aneh, ya .... Masak jadi manten disumbang tidak mau." kata Anik menyelah.


    "Uang kita tidak ada apa-apanya dengan punya Yudi, Nik ...." sahut Jojon.


    "Tapi kan umumnya, kalau orang mantu itu mesti di sumbang ...." sergah Anik.


    "Yudi beda .... Dia itu orang baik. Maunya menyumbang .... Kalau sudah merasa mampu, jangan minta sumbangan, tapi justru kita yang harus nyumbang." kata Alex.


    "Saya ingat waktu itu, kita mau nyumbang, malah dinasehati Yudi, kalau mau nyumbang berikan saja pada fakir miskin .... Ih, saya jadi malu ...." kata teman yang lain.


    "Malam hari itu, waktu bersama-sama nonton wayang, Yudi juga bilang, teman-teman datang itu sudah mengeluarkan ongkos, untuk transport, untuk menginap, untuk lain-lain ..., masih harus membolos kerja, meninggalkan keluarga, masak masih dimintai sumbangan, kasihan katanya. Diundang ke pesta itu ya untuk senang-senang .... Begitu kata Yudi pada teman-teman." kenang Jojon.


    "Pantesan teman Yudi banyak sekali ...." sahut teman yang lain.


    "Iya .... Makanya, kita doakan agar Yudi bisa segera menemukan istrinya, dan mengajak kembali ke Jogja, bahagia selamanya." kata Alex.


    "Betul .... Biar Yudi bahagia dunia akhirat ...." sahut Anik.


    "Iya, ya .... Kenapa juga kesedihan ini datang silih berganti. Di sini Rini berduka kehilangan suami .... Di Jogja, Yudi bersedih kehilangan istri. Ya Allah ..., mudahkanlah kehidupan teman-teman kami. Ya, Allah .... Singkirkan cobaan-cobaan yang datang silih berganti, jauhkan teman-teman kami dari kemalangan yang datang bertubi-tubi." Anik memohon kepada Allah.


    "Aamiin ...." sahut teman-temannya.


*******


    Di WA grup alumni, postingan teman-teman SMA yang berfoto selfie di rumah Rini, sudah bermunculan. Semua teman sudah memberi komentar. Terutama ucapan berbela sungkawa kepada Rini. Banyak juga yang komen postingan-postingan foto temannya. Tentu ada yang bercanda, ada pula yang serius.

__ADS_1


    Selanjutnya, setelah muncul chat tentang permintaan doa untuk Yudi yang istrinya dipaksa dibawa ke Jepang, tentu rasa sedih dan prihatin terucap dari semua teman.


    "Semoga Yudi bisa segera mengajak pulang istrinya."


__ADS_2