KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 63: MEMBANGUN MIMPI


__ADS_3

    Setelah Yuna beristirahat dua hari, setelah tubuhnya dirasa segar dan nyaman, setelah dirasa cukup kangen-kangenan dengan ibu dan bapaknya Yudi, bahkan juga minta diantar Bagas naik sepeda motor keliling kampung menyapa para tetangga yang sering memberi jajanan khas Jogja, Yuna kembali bersiap untuk kerja. Melaksanakan tugas yang diemban dari yayasan sosial yang telah memberikan kepercayaan kepadanya.


    "Yudi, kita mesti bekerja cepat. Banyak pekerjaan yang harus kita selesaikan, sebelum nanti orang-orang dari yayasan penyandang dana sosial ini datang ke Indonesia untuk melakukan monitoring dan evaluasi. This is a very tough job." kata Yuna kepada Yudi, di sela makan malamnya bersama ayah dan ibunya.


    "Iya, Yuna .... I know. Nanti setelah kita selesai makan, kita bahas bersama." sahut Yudi.


    "Okey ...." Yuna setuju.


    "Makannya jangan tergesa, nanti tersedak. Pelan-pelan, dinikmati ...." ibunya Yudi menyela, meminta anaknya tidak tergesa-gesa dalam makan.


    "Iya, Mbok ...." jawab Yudi.


    "Non Yuna santai saja .... Nikmati hidup di desa yang nyaman dan tenteram." kata Simbok.


    "Mbok ..., Yuna itu ke Jogja untuk kerja, bukan untuk piknik." Yudi berusaha memberi pengertian pada ibunya.


    "Kerjanya besok siang saja .... Di Jogja itu beda dengan Jepang .... Hehe ...." kilah Simbok.


    "Yuna itu orang Jepang, Mbok .... Jangan disamakan dengan orang-orang kampung sini." jelas Yudi lagi.


    Yuna yang mendengar perdebatan ibu dan anak itu jadi geli. Tersenyum sendiri.


    "Mbok, yang namanya orang kerja itu ada targetnya. Non Yuna ini datang ke Jogja, dibatasi waktu. Kalau sampai batas waktunya tidak selesai, Non Yuna bisa didenda. Batas waktunya sampai kapan, Non Yuna?" bapaknya ikut nimbrung, menengahi perdebatan anak dengan ibunya.


    "Tiga bulan, Pak ...." jawab Yudi mewakili Yuna.


    "Iya, tiga bulan .... Starting tomorrow Monday." sahut Yuna menambahi.


    "Mulai besok Senin ...." Yudi menerjemahkan kata-kata Yuna.


    "Oo .... Berarti hanya tiga bulan, Non Yuna di sini?" tanya Simbok.


    "Iya, Mbok ...." jawab Yudi.


    "Lhah, terus ...?" Simbok bingung.


    "Ya terus selesai ...." sahut Yudi.


    "Terus mantenannya kapan ...?" lanjut Simbok menekankan pertanyaannya.


    "Siapa yang mau mantenan?" tanya Yudi pura-pura tidak tahu yang dimaksud oleh ibunya.


    "Ya nikahan ..., kamu sama Non Yuna to, Yud .... Dasar bocah gemblung." ibunya menggerutu.


    Tentu Yuna yang tahu maksudnya, jadi geli melihat Simbok. Bahkan tertawa. Demikian juga Yudi.


    "Non Yuna .... Boleh Bapak bertanya?" kata bapaknya Yudi kepada Yuna.


    "Iya, Bapak .... Tanya apa, Bapak?" Yuna memandang sang bapak.


    "Non Yuna kan belum bersuami, masih gadis .... Apa Non Yuna sudah punya pacar? Maksud Bapak, calon suami?" tanya bapaknya Yudi.


    Yuna yang tahu maksudnya, walau belum semua sanggup diterjemahkan, tapi paham inti tujuan pertanyaan sang bapak. Yuna tersenyum. Dengan senyum itu, gadis ini benar-benar terlihat sangat cantik. Cantik sekali.


    "Maksudnya teman pria untuk diajak menikah?" tanya Yuna.


    "Betul. Maksud Bapak ..., itu!" sang bapak langsung tegas menjawab.


    Yuna kembali tersenyum. Sang bapak semakin penasaran. Diam-diam Yudi juga ikut menunggu jawaban Yuna.


    "Hehe .... Sudah, Bapak." jawab Yuna sangat jelas terdengar di telinga sang Bapak, Simbok maupun Yudi.


    "Hah, sudah ...?! Sudah punya pacar?!" bapaknya Yudi kembali bertanya, untuk mendapat jawaban yang lebih tegas.


    "Iya, Bapak .... Yuna sudah punya calon suami." kembali Yuna tersenyum manis.


    Tetapi lemas bagi Simbok mendengar jawaban itu. Demikian juga Bapak. Yudi hanya diam mengamati Yuna, bingung dengan kata-kata perempuan itu.


    "Orang Jepang, Ya ...?" tanya sang bapak yang penasaran.

__ADS_1


    Yuna menggelengkan kepalanya. Tanda kalau tebakan laki-laki tua itu salah. Keliru.


    "Simbok, mau tahu laki-laki calon suami Yuna?" tanya Yuna yang duduk dekat dengan Simbok.


    "Iya ..., ya ..., ya ...." sahut Simbok sambil mengangguk.


    Yuna mengambil HP. Lantas membuka galeri foto. Memilih gambar, lantas menunjukkan foto yang ada di HP-nya kepada simbok.


    "Ini ..., Simbok, lihat .... Hehe ...." Yuna tertawa.


    Simbok mengamati foto yang ditunjukkan Yuna di layar HP. Terlihat berkali-kali memusatkakan pandangannya. Ingin mengamati foto secara benar. Sampai cukup lama mengamatinya.


    "Ganteng kan, Simbok?! Handsome man." kata Yuna yang sudah menarik HP-nya dari hadapan Simbok.


    "Siapa, Mbok?" tanya Yudi yang sangat penasaran.


    Yuna mengamati Yudi sambil tersenyum mengejek. Tentu Yudi semakin penasaran.


    "Tidak tahu .... Le .... Lha wong gambarnya tidak kelihatan wajahnya, kok disuruh ngamati. Yo saya bingung, siapa dua orang laki-laki dan perempuan yang bergandengan itu? Lha wong yang difoto belakangnya ...." kata Simbok yang protes sama Yuna.


    "Hehehe ...." Yuna masih mengejek Yudi yang duduk di hadapannya.


    "Coba, mana HP-nya? Sini aku yang lihat ...!" Yudi berusaha minta HP Yuna, penasaran ingin tahu.


    "Nih ...." kata Yuna sambil memberikan HP kepada Yudi.


    "Yang mana?" tanya Yudi.


    "Di lihat semua saja .... Itu khusus foto-fotoku bersama calon suamiku." kata Yuna dengan senyum manja.


    Lantas Yudi membuka galeri. Melihat foto-foto yang tersimpan. Ternyata ....


    "Ya ampun ..., Yuna ...." Yudi kaget melihat foto-foto yang disimpan Yuna.


    "Ono opo, Le ...?" tanya Simbok yang ganti penasaran.


    "Tidak apa-apa, Mbok." sahut Yudi, yang lantas mengembalikan HP Yuna.


    "He is, my future husband. Lihat Mbok ...." kata Yuna menunjukkan foto-foto itu kepada Simbok.


    "Hehehe ...." Simbok yang tahu foto-foto itu langsung tertawa.


    "Mana, Mbok ...? Saya jadi ikut penasaran ...." kata bapaknya yang langsung ikut nimbrung melihat.


    "We alah, Nduk-nduk .... Wong tuwo kok dikerjani." ucap Simbok sambil menepuk pundak Yuna.


    Yuna memandang Yudi. Yudi menatap Yuna. Dua orang itu tersenyum. Senyum cinta yang penuh harapan.


*******


    Setelah selesai makan malam, dan setelah Yudi yang dibantu Yuna memberesi meja makan, kedua orang tua Yudi langsung menuju ruang tidur. Tentu untuk beristirahat.


    Yuna bersiap diskusi dengan Yudi. Membawa berkas yang dibawanya dari Jepang, termasuk copy dari berkas kesepahaman yang diberikan oleh yayasan penyandang dana, untuk ditunjukkan kepada Yudi dan didiskusikan bersama. Lantas Yudi dan Yuna berpindah ke pendopo depan. Tempat yang ada meja besarnya, sehingga memudahkan untuk menggelar berkas-berkasnya.


    Yudi membuka laptop kerjanya. Yuna memilah berkas-berkas yang dibawa.


    "Yudi, saya butuh banyak bantuan dari Yudi." kata Yuna.


    "Don't worry. Saya siap membantu segalanya." sahut Yudi.


    "Tolong Yudi catat, semua kebutuhan yang harus kita siapkan." kata Yuna lagi.


    "Siap. Saya buat perencanaannya." sahut Yudi.


    "Yang pertama kita butuh rekening bank penerima dana bantuan. Saya harap Yudi membuka rekening baru, khusus untuk keluar masuk dana kita." kata Yuna.


    "Akan saya siapkan besok pagi. Apa ada ketentuan bank yang ditunjuk?" tanya Yudi.


    "Tidak ada. Tapi Yudi harus pilih bank yang kredibel." sahut Yuna.

__ADS_1


    "Okey ...." kata Yudi.


    "Yang kedua, kita butuh tukang ahli untuk konstruksi bangunan, ditambah tenaga-tenaga yang bekerja." kata Yuna.


    "Berapa banyak tukang yang dibutuhkan?" tanya Yudi.


    "Catatannya sudah saya hitung. Kita butuh tukang besi untuk konstruksi, tukang batu dan tukang kayu. Termasuk tenaga-tenaga pembantu tukang (kuli). Ini catatannya." kata Yuna yang menyerahkan berkas catatan.


    "Ya, yang ini nanti saya akan minta bantuan warga kampung. Yang jelas saya ingin memberdayakan seluruh masyarakat di Kampung Nirwana ini. Jadi nanti pekerja semua dari warga sini, kecuali yang tidak ada. Seperti tukang kronstruksi besi, kita harus cari dari luar. Di kampung ini tidak ada yang bisa. Tapi kalau hanya sekadar tenaga pembantu, semua dari warga sini." jelas Yudi.


     "Selanjutnya kita butuh tukang belanja, untuk keperluan material kita." kata Yuna melanjutkan kebutuhan.


    "Itu nanti Bagas saja, yang sudah biasa membantu kita." jawab Yudi.


    "Okey .... Satu lagi, kita butuh logistik makanan. Untuk memberi makan minum kepada pekerja." kata Yuna.


    "Jangan khawatir, untuk urusan makan biar dikelola oleh ibu-ibu pedagang yang berjualan di puncak." sahut Yudi.


    "Tetapi harus bergizi. For the strength and health of employees." sahut Yuna.


    "Itu bisa dibuat sesuai pesanan. Nanti kita yang menetapkan jenis menu makanannya." Jawab Yudi.


    "Okey, saya percaya sama Yudi. Yang harus ditegaskan kepada mereka, disiplin, jujur, kerja keras." tegas Yuna.


    "Saya akan libatkan Pak Lurah untuk memantau." kata Yudi.


    "Saya setuju. Setidaknya ada orang yang dijadikan contoh dan memimpin. Begitu, Yudi." timpal Yuna.


    Yudi langsung membuat rancangan di laptop. Mencermati kebutuhan-kebutuhan yang disampaikan oleh Yuna, termasuk membagi orang-orang yang dipandang bisa menjadi penggerak dalam pekerjaan. Orang-orang ini yang nanti akan diminta bantuannya untuk menjadi koordinator pekerja. Dan tentu, dalam waktu sesegera mungkin, Yudi harus mengumpulkan orang-orang yang dipilih tersebut. Termasuk untuk menemui Pak Lurah untuk membantu mengawasi pembangunan di kampungnya.


    Yuna yang sudah selesai memberikan penjelasan kerja pada Yudi, kini tinggal menemani Yudi bekerja. Kembali gadis cantik itu menaikkan kakinya di bangku, lantas memanja, dengan merebahkan kepalanya di bahu Yudi. Kedua tangannya sudah memeluk pinggang laki-laki yang ada dalam foto-foto di HP-nya.


    Yudi senang. Baru kali ini dirinya bekerja sambil dipeluk wanita. Apalagi yang memeluk pinggangnya adalah gadis yang sudah menaklukkan hatinya. Tentu, pelukan ini bisa menjadi penyemangat kerjanya, tetapi juga bisa menjadi penggoda untuk yang lain.


    Tangan Yuna perlahan mulai bergerak. Tidak sekadar memeluk pinggang. Tetapi sudah mulai bergeser. Jari lentik itu mulai menelusup ke dalam kaos Yudi. Lantas meraba-raba.


    "Iih, geli ..., Yuna ...." Yudi yang diraba merasa geli.


    Tapi wanita itu tidak menghentikan tangannya. Justru seperti diminta, Yuna semakin jauh meraba tubuh Yudi.


    "Yuna .... Jangan begitu, sayang .... Aku geli." kata Yudi meminta agar Yuna melepas tangannya.


    Lagi-lagi .... Yuna tidak mau mendengar kata-kata Yudi. Tapi justru semakin nakal.


    Yudi langsung menutup laptopnya. Tidak konsentrasi dalam bekerja. Terganggu oleh godaan. Berkas-berkas langsung dimasukkan ke dalam stofmap. Yudi menyudahi pekerjaannya. Tergoda oleh wanita cantik yang memerintah dirinya bekerja.


    "Ini benar-benar keterlaluan, Yuna .... Kamu nyuruh kerja, tapi kamu justru menggoda orang yang sedang bekerja. Payah ...." kata Yudi yang sudah memeluk perempuan itu dan mencubit-cubit hidung Yuna dengan gemas.


    "Hehehe .... Tidak kuat, ya ...?!" Yuna meledek pada Yudi.


    "Yuna, sih .... Masak godain terus ...?!" kata Yudi.


    "Biarin .... Yuna baru pengin dimanja .... Hehe ...." sahut Yuna.


    "Tadi bilang suruh disiplin, kerja keras .... Lhah, ini baru bekerja malah diajak bermanja .... Gimana, sih?!" ledek Yudi.


    "Hehe .... Mumpung bisa bermanja. Kalau Yudi tergoda, berarti Yudi tidak konsentrasi dalam bekerja. Hehe ...." sahut Yuna.


    "Ah .... Dasar ...!" kata Yudi.


    "Yudi .... Sepulangku dari Jogja sebulan lalu, setelah saya banyak kenal masyarakat Kampung Nirwana yang akrab, di Kyoto aku menjadi hampa. Sepi dan sunyi. Seakan hidupku tidak berarti. Ada yang kurang pada diriku. Berkali-kali aku bertanya, apa sebenarnya yang kurang pada diriku ini? Setelah aku cermati satu persatu, ternyata yang kurang itu adalah dirimu, Yudi ...." cerita Yuna.


    "Kok bisa diriku?" tanya Yudi.


    "Iya. Stiap saya tidur, selalu mimpi bersama Yudi .... Tetapi begitu terjaga, dirimu tidak ada di sampingku. Begitu terulang berkali-kali. Saya sedih, Yudi .... Makanya waktu pihak yayasan bertanya siapa yang di rekomendasikan untuk melaksanakan proyek ini, saya langsung mengusulkan diri saya sendiri. Saya berharap bisa membangun mimpi-mimpi Yudi menjadi kenyataan, dan tentu saya juga berharap Yudi bisa mewujudkan mimpi-mimpi saya dalam tidur itu menjadi kenyataan." lanjut Yuna.


    "Jadi ...?!" tanya Yudi yang bingung.


    "Jika nanti proyek ini sudah selesai, saya tidak ingin pulang ke Jepang. Saya ingin Yudi mau menerima saya di rumah ini. Kita bersama membangun mimpi-mimpi kita, Yudi ...." kata Yuna.

__ADS_1


    "Terima kasih, Yuna ...." Yudi memeluk erat tubuh Yuna, tidak ingin melepas lagi. Lantas Yudi mengecup pipi Yuna dengan penuh kemesraan.


__ADS_2