
Sejak keberangkatan istri dan anak-anaknya, setelah bisa bertelepon dengan Lina, wanita yang sedang digandrungi itu, sungguh senangnya Hamdan. Seakan ia terlepas dari belenggu yang dipasang oleh anak dan istrinya. Dan kini, saat anak dan istrinya pergi, tentu ia merasa sangat terbebas. Maka Hamdan bersikukuh untuk bertemu dengan Lina. Tentu karena rindunya yang sudah menggebu, namun rindu itu terhalang kawat duri yang memagari cintanya, tembok tinggi yang membentengi hasratnya. Hamdan sudah dipensiunkan secara mendadak dari perusahaan, HP miliknya sudah disita oleh istrinya dan dicari ke seluruh sudut rumah tidak juga diketemukan. Kini, ketika telepon rumah itu bisa digunakan untuk memesan cintanya, maka Hamdan tidak mau melewatkan kesempatan yang pasti akan menyenangkan.
"Sayang ..., bisakah dirimu menemaniku barang semalam?" kata Hamdan yang memanja kepada dewi peneluh asmara itu.
"Qikikiki ...." wanita yang bernama Lina itu tertawa mengejek dalam teleponnya.
"Lho ..., kok begitu ...?" kata Hamdan yang sedang limbung.
"Ya jelas mau, lah, Om .... Kan diriku juga sangat rindu ...." jawab si wanita.
"Kok manggilnya, Om .... Mas atau Abang saja, lah .... Kan lebih mesra ...." Hamdan protes saat dipanggil Om, karena waktu di Jerman, dua orang itu sudah saling memanggil papah mamah.
"Iya, Pah ..., aku panggil Mas saja .... Tadi khawatir kalau didengar orang lain ...." jawab wanita yang masih manja dalam telepon.
"Gak usah khawatir .... Masak kemarin panggil Papah, sekarang panggil Om .... Lucu. Mau kan ke rumahku?" kata Hamdan.
"Iya, Mas ..., tentu. Masak Mas Hamdan tidak tahu ..., sudah sedut senut nih, Mas .... Memang yang kangen berat cuman Mas Hamdan ...?! Tapi kita ketemuan di mana? " tanya wanita itu, yang tentu menggoda Hamdan.
"Apanya yang sedut senut ...?! Kok kayak apa aja ...." sahut Hamdan yang tentu sudah tergoda.
"Qikikik .... Masak Mas Hamdan gak tauk .... Memang Mas Hamdan gak pengin membelah durian?" jawab si wanita itu, yang tentu terus menggoda.
"Ya ayo, kemari .... ke rumahku .... Kita belah durian bersama." kata Hamdan yang sudah tidak bisa menahan hasrat nafsunya.
"Nanti istri Mas Hamdan marah ...." kata perempuan itu, yang tentu dengan kata-kata genit.
"Mumpung saya di rumah sendirian .... Ayo ..., cepatlah kemari .... Aku juga sudah sedut senut menahan gejolak rindu, lho ...." kata Hamdan pada wanita itu.
"Beneran, Mas ...?"
"Bener ...." sahut Hamdan.
"Tapi nanti aku dikasih lho, ya ...." kata si wanita.
"Iya, lah ...." jawab Hamdan.
"Beneran dikasih ...?!" tegas si wanita itu lagi.
"Pasti aku kasih, apa yang kamu mau .... Sampai pagi saya sudah siap ...!" kata Hamdan bersemangat.
Hamdan menunggu kedatangan Lina, wanita si pujaan hati. Ia berjalan mondar-mandir, keluar masuk rumah. Berkali-kali menengok pagar rumah. Berkali-kali pula melihat jam. Tentu berharap si wanita itu segera datang.
Setelah sore hari, menjelang matahari terbenam, ada taksi berhenti di depan rumahnya. Seorang wanita masih lumayan muda, tentu masih seksi, dengan bodi bahenol, turun dari taksi. Tentu dengan dandanan menor.
Hamdan langsung menuju depan rumah, membuka gerbang, lantas tergopoh membuka dompet, membayar taksi yang ditumpangi Lina.
"Ndak usah repot, Mas .... Sudah saya bayar, kalau mau bayar nanti dikirim ke rekeningku .... Qikikik ...." kata wanita bahenol itu, yang tidak lain adalah Lina, wanita selingkuhan Hamdan.
"Ayo masuk ...." kata Hamdan yang langsung menuntun tangan wanita itu.
Hamdan langsung menutup pintu gerbang dan menguncinya. Kebetulan Mang Udel sudah pulang. Dan tentu agar aman. Selanjutnya Hamdan mengajak masuk Lina, lewat ruang tamu, yang tentu juga langsung mengunci pintu rumah depan. Dan ..., mulut Hamdan sudah nyosor ke bibir Lina.
"Iiih .... Mas ..., sabar dong ...." Lina berusaha mengelak.
__ADS_1
"Aku sudah nggak tahan ...." bisik Hamdan di telinga Lina.
"Dilihat orang .... Tuh ...!" kata Lina yang kepalanya langsung bergerak menunjukkan ada wanita yang mengamati.
"Oo .... Heh, Mak Mun ..., masuk ke kamarmu!!" bentak Hamdan pada Mak Mun.
Tentu Mak Mun ketakutan, dan langsung masuk ke kamarnya. Sebelum merapatkan pintu kamarnya, sekali lagi Mak Mun meningtip, melihat wanita yang diajak masuk ke rumah majikannya. Tentu perasaan Mak Mun tidak karuan, saat melihat majikan laki-lakinya bermesraan dengan wanita yang tidak dikenalnya.
"Mak Mun ...!! Kunci pintu kamarmu ...!!" teriak Hamdan memerintah Mak Mun untuk mengunci pintu kamarnya yang dekat dengan dapur tersebut.
Mak Mun terkejut. Ia ketakutan. Jantungnya berdebar tidak karuan. Ia langsung mengunci pintunya. Lantas duduk di kasur, matanya langsung menatap atap, bingung tidak berani apa-apa. Ada rasa takut yang teramat sangat, tetapi ia juga menyaksikan kalau majikan laki-lakinya sudah berbuat salah, sudah berlaku dosa. Namun, Mak Mun tidak berdaya.
"Hahaha .... Kita nikmati malam ini berdua ...." kata Hamdan yang sudah membawa masuk Lina ke dalam kamarnya.
"Kok ..., kamarnya acak-acakan?" tanya Lina saat melihat kamar Hamdan yang acak-acakan.
"Hahaha .... Nanti juga akan acak-acakan, kan .... Ayolah .... Hahaha ...." kata Hamdan yang sudah tidak bisa menahan gejolak asmaranya.
Akhirnya, dua orang itu sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur yang biasa dipakai tidur oleh Rini.
"Benar kata pepatah ...." kata Hamdan.
"Pepatah apa, Mas ...?" tanya Lina yang tentu tidak paham.
"Ternyata, rumput tetangga memang lebih hijau .... Dan rumput kamu ..., memang benar-benar lebih lebat .... Hehe ...." kata Hamdan yang tangannya sudah geluyuran.
"Iih .... Geli, Mas ...." kata Lina.
Hamdan tergoda oleh gerak erotik dewi Rati. Maka panah yang digenggam oleh dewa Eros itu pun melesat, menusuk relung cinta dewi Rati. Dewi Rati yang sudah tertusuk panah asmara dari dewa Eros, langsung menggeliat, meronta-ronta, mengejai, menggeliang, mengulet, menikmati panah asmara yang memuaskan nafsunya.
Waktu terus bergulir. Malam kian merambat, hingga terasa hari sudah berganti. Pagi sudah menjelang. Dua orang itu pun akhirnya menggelepar tanpa daya. Diam tak berkutik. Lama, saling melamunkan kenikmatan yang dirasakan. Hingga akhirnya ....
"Mas Hamdan ..., aku hamil ...." kata Lina yang sudah meletakkan kepalanya di atas dada Hamdan.
Seketika itu Hamdan kaget. Ia bangkit dari rebahannya. Wajahnya berubah. Matanya terbelalak.
"Apa ...?!" Hamdan tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Kita harus segera menikah, Mas ...." kata Lina lagi.
"Tidak mungkin!!" Hamdan berkata keras. Tentu tidak percaya dengan kata-kata Lina.
"Benar ..., Mas .... Demi anak kita ...." kata Lina yang sudah membelai wajah Hamdan.
"Saya tidak mungkin menikahi kamu, Lin .... Saya masih punya istri, saya masih punya keluarga. Itu tidak mungkin! Istriku dan anak-anakku pasti tidak memberi izin. Mereka pasti menolak!" kata Hamdan yang berusaha menolak ajakan gila si Lina.
"Tapi anak kita nanti bagaimana?!" Lina kembali beralasan.
"Pokoknya saya tidak mungkin menikah dengan kamu ...!" jawab Hamdan.
"Tetapi kita harus bersama, Mas Hamdan .... Anak yang ada dalam kandungan saya ini harus ditunggui bapaknya ...." kata Lina beralasan.
"Iya ..., tapi itu tidak mungkin, Lina .... Di sini ada keluargaku. Ada istriku, ada anak-anakku ...." bantah Hamdan.
__ADS_1
"Kalau begitu, saya minta dibuatkan rumah sendiri. Untuk kita dan anak kita nanti." pinta Lina lagi.
"Ya ampun ..., Lina .... Saya sudah dipecat dari perusahaan, sudah tidak punya uang .... Bagaimana saya mau membangunkan rumah lagi ...?!" kilah Hamdan.
"Pokoknya saya mau bersama Mas Hamdan terus .... Saya mau merasakan kenikmatan-kenikmatan dari Mas Hamdan selamanya." kata Lina yang tetap memaksa untuk bersama Hamdan.
"Lhah ..., kalau bersama saya, terus mau di mana ...?" Hamdan mulai bingung.
"Di sini juga tidak apa-apa ...." kata Lina semakin membuat Hamdan bingung.
"Lhah, di sini kan ada istri saya .... Ini kamar istri saya .... Tidak mungkin, Lina ...." jawab Hamdan.
"Di depan kan masih ada kamar .... Istri tua di belakang, istri muda di depan." kata Lina semakin nekat.
Ya ampun, Lina .... Tidak mungkin satu rumah ada dua istri .... Nanti terus saya bagaimana? Tidur di mana?" kata Hamdan.
"Terserah .... Kalau mau yang muda, ya ke depan .... Kalau mau yang sudah kisut, ya ke belakang .... Tinggal Mas Hamdan mau milih yang mana .... Enak, kan ...." kata Lina enteng saja.
"Masalahnya ..., nanti pasti geger ..., ribut ..., bertengkar ...!" bantah Hamdan.
"Nah, kalau tidak mau satu rumah dua istri, ya bikinkan rumah lagi untuk istri yang muda!" Lina kembali menuntut.
Ketegangan terus terjadi. Bantahan antara Hamdan dan Lina terus berlangsung. Tentu semakin lama semakin keras dan saling ingin menang. Keributan itu pun akhirnya pecah menjadi pertengkaran. Dua orang dalam kamar Hamdan itu saling mengumpat, saling menuduh, saling menyalahkan. Bahkan bantal dan guling sudah mulai melayang. Tangan Lina sudah mulai memukul Hamdan. Lina sudah mengamuk, memukul dan menghantam tubuh Hamdan.
Hamdan yang dari tadi hanya berusaha menghindar, dan tidak membalas, hanya mengalah, akhirnya tidak tahan juga. Hamdan tidak sekadar diam, tetapi sudah mulai menghindar, menangkis, dan bahkan mendorong tangan Lina yang memukul dirinya. Berkali-kali Lina terdorong, bahkan terpental. Tentu hal ini membuat Lina semakin menjadi mengamuknya. Ia semakin marah. Amukannya tidak karuan, membabi buta, menghantam ke sana kemari.
Hamdan mulai bingung. Mulai terpojok. Dan tentu mulai merasa kesakitan. Sebenarnya ia tidak ingin membalas. Tetapi amukan kemarahan Lina sudah keterlaluan. Dan tiba-tiba, Hamdan mengangkat tangannya, menampar wajah Lina.
"Plak ...!!"
Lina yang ditampar wajahnya, tidak menghentikan amukannya. Lina justru semakin liar. Dan ketika mata Lina menatap meja rias Rini, yang ada di dalam kamar itu, di atas meja rias tersebut ada alat-alat rias dalam kotak, diantaranya adalah gunting. Sesaat mata Lina yang melihat gunting, tangannya langsung meraih, mengambil gunting dan langsung menghunjamkan gunting itu ke tubuh Hamdan.
Hamdan yang tahu kalau tangan Lina sudah memegang gunting untuk menyerang dirinya, ia berusaha mengjindar. Hamdan melompat ke belakang. Namun kaki Hamdan menginjak bantal yang berserakan di lantai. Hamdan terpeleset, jatuh terjengkang.
Lina yang sudah kesetanan, menubruk tubuh Hamdan yang sudah jatuh terjengkang. Tangan kanan Lina yang memegang gunting sudah maju lebih dulu. Gunting itu menusuk perut Hamdan.
"Haduuuh ...!!!" Hamdan menjerit kesakitan.
Lina yang melihat tubuh Hamdan terkulai dan bersimbah darah, ia melepas gunting dari tangannya, pergi keluar. Meninggalkan Hamdan. Pergi melarikan diri.
"Haduuuh ...!!! "Haduuuh ...!!! "Haduuuh ...!!!" Hamdan terus mengaduh kesakitan.
Mau tidak mau, meski diselimuti rasa takut, Mak Mun yang bersembunyi di dapur, langsung berlari menuju kamar majikannya. Ingin tahu apa yang terjadi.
"Ya ampun ..., Bapak ...!!!" Mak Mun menjerit saat melihat majikannya roboh bersimbah darah.
"Mang Udel ...!!! Mang Udel ...!!! Tolong Mang Udel ...!!!" teriak Mak Mun memanggil Mang Udel.
Mang Udel yang ada di kebun, mendengar panggilan Mak Mun, langsung berlari. Menuju asal suara Mak Mun. Dan, di kamar majikannya, Mang Udel kaget melihat darah yang membasahi lantai kamar majikannya.
"Jangan di sentuh ...! Kita telepon polisi." kata Mang Udel pada Mak Mun, untuk menjaga keamanan, agar tidak ada sidik jari mereka.
Mak Mun dan Mang Udel, berlari ke tempat telepon. Mereka menelepon pihak berwajib.
__ADS_1