KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 151: YANG SALAH DILARANG MARAH


__ADS_3

    Sore itu, sepulang dari kerja, Silvy mampir ke rumah orang tuanya. Tentu sambil menunggu suaminya yang akan pulang agak malam, karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Daripada pulang sendirian, maka lebih enak kalau Silvy menunggu suaminya di rumah orang tuanya, sekalian nengok ibunya.


    "Mamah ...!" teriak Silvy saat masuk rumah, ia lewat pintu samping, yang dekat dengan dapur, dan Mak Mun pasti ada di sana.


    "Ssstt ...." Mak Mun yang tahu kedatangan Silvy, langsung memberi tanda agar diam, dengan cara jarinya ditutupkan ke bibir.


    "Ada apa, Mak Mun ...?" tanya Silvy perlahan, seakan membisik di telinga Mak Mun.


    "Papah dan Mamah sedang ribut .... Ada masalah ...." bisik Mak Mun di telinga Silvy.


    "Mamah di kamar, Neng ..., menangis." kata Mak Mun.


    "Mamah ...!" kembali Silvy berteriak, dan langsung berlari menuju kamar ibunya.


    Silvy tidak bisa membuka pintu kamar ibunya. Pintu itu dikunci. Dan ibunya tidak mau membuka.


    "Tok ..., tok ...,tok ...."


    "Mamah ...! Ini saya, Mah .... Ini Silvy, Mah ...!" kata Silvy sambil mengetuk pintu kamar ibunya.


    Akhirnya, Rini beranjak juga dari tempat tidur. Membukakan pintu kamar untuk anaknya. Tentu, masih dalam keadaan menangis.


    "Mamah, kenapa ...?!" kata Silvy yang langsung memeluk ibunya.


    Rini yang dipeluk anaknya, tidak reda tangisnya, malah semakin menjadi. Silvy pun ikut menangis. Anak dan ibu yang saling berpelukan itu, menangis bersama.


    "Papah kamu keterlaluan, Silvy ...." kata Rini dalam isak tangis.


    "Mamah diapain ...?" tanya Silvy, yang juga dalam isak tangis.


    "Mamah dituduh selingkuh sama Yudi .... Huk ..., huk ..., huk ...." tangis Rini kembali menjadi.


    "Papah memang keterlaluan .... Jelas-jelas dia yang selingkuh, kok malah menuduh orang lain. Dasar ...!" kecam Silvy.


    Silvy langsung melepas pelukan ibunya. Ia keluar dari kamar ibunya. Wajahnya kaku, tangannya mengepal. Melangkah cepat, mencari ayahnya. Silvy emosi. Silvy marah.


    "Papah ...!!!! Mana Papah ...!!!! Papah ...!!!!" Silvy berteriak mencari ayahnya.


    Hamdan yang diteriaki anaknya, diam saja terpaku di sofa ruang keluarga. Tidak menjawab maupun menemui anaknya yang berteriak-teriak.


    "Neng ..., sabar, Neng .... Neng Silvy, sabar .... Nyebut, Neng ...." Mak Mun yang mendengar teriakan Silvy, dan sudah menduga kalau momongannya dahulu itu akan marah kepada ayahnya, ia berusaha mencegah.


    Dari dapur, Mak Mun berlari mencegah Silvy yang sudah emosi itu, dan berlari mencari ayahnya. Mak Mun khawatir akan terjadi apa-apa. Maka lebih baik Neng Silvy yang dihadang dan dicegah. Disabarkan kemarahannya.


    "Lepaskan saya, Mak Mun ...! Akan saya hajar laki-laki biadab itu ...!" kata Silvy yang berusaha melepas pelukan Mak Mun.


    "Jangan, Neng .... Dosa .... Sabar ya, Neng ...." kata Mak Mun sambil mengelus punggung Silvy.


    "Lepaskan saya, Mak Mun ...! Biar kubunuh laki-laki kurang ajar itu ...!" kembali Silvy berusaha melepas pelukan Mak Mun.


    "Jangan, Neng .... Dosa .... tidak boleh begitu, Neng .... Ingat Allah, Neng .... Itu dosa ...." Mak Mun masih mengelus punggung Silvy, tentu sambil meniup telinga dan ubun-ubun, katanya biar sadar, biar setannya pergi.


    Setelah dinasehati Mak Mun berkali-kali, akhirnya Silvy sadar. Tidak baik mengumbar nafsu. Tidak baik marah-marah yang keterlaluan.


    Mak Mun menggandeng Silvy, lantas diajak masuk ke kamar ibunya. Silvy didudukkan di kasur, dekat dengan ibunya. Tentu, dua orang ibu dan anak itu, sesenggukan menangis.


    "Saya buatkan teh hangat, ya .... Biar pikirannya mak byar .... Hatinya terang." kata Mak Mun yang langsung menuju dapur.


    Sebentar kemudian, Mak Mun sudah datang ke kamar, membawa dua gelas teh hangat.


    Rini langsung meminum teh itu, dan langsung habis. Demikian juga Silvy, yang langsung meneguk setengah gelas teh yang disuguhkan oleh Mak Mun.


    "Nah ..., sekarang sudah padang, kan ...." kata Mak Mun yang lantas mengambil gelas untuk dibawa ke dapur.

__ADS_1


    "Terima kasih, Mak Mun ...." kata Rini.


    "Ibu ..., sekarang Ibu dan Neng Silvy makan dahulu .... Biar perutnya tidak kosong, biar tidak masuk angin. Saya siapkan, ya ...." kata Mak Mun yang langsung menawarkan makan.


    "Iya, Mak Mun .... Memang perut saya kosong, lapar ...." jawab Rini.


    "Ya tentu lapar ..., Ibu dari siang tidak makan .... Sarapannya saja cuman makan roti tawar satu .... Ya, saya siapkan makan dahulu .... Mau makan di ruang makan apa di kamar?" kata Mak Mun yang menawarkan makan kepada majikannya.


    "Di ruang makan saja, Mak Mun .... Biar nggak ngotori kamar." jawab Rini.


    "Ok, siap .... Silakan ke ruang makan. Makanan akan kami siapkan ...." sahut Mak Mun yang langsung menyiapkan makanan di meja makan.


    Rini dan Silvy beranjak dari kamar. Berjalan perlahan menuju ruang makan. Silvy memapah ibunya, yang tentu agak lemas setelah setengah hari menangis. Mata Rini terlihat sembab. Bahkan daster yang dikenakan juga basah tertimpa air mata, yang terlalu banyak bercucuran.


    Lantas Rini dan Silvy, duduk di kursi ruang makan, sengaja membelakangi ruang keluarga, agar tidak melihat suami atau papahnya. Rini sangat benci dengan suaminya, setelah Hamdan menuduh dirinya berselingkuh dengan Yudi. Demikian juga Silvy, yang hanya tahu kalau Yudi yang sudah dianggap sebagai papah angkatnya itu adalah orang baik, tentu jengkel sama papahnya sendiri yang menuduh papah angkatnya berbuat jelek.


    "Monggo, Ibu ..., Neng Silvy .... Makan dahulu biar perutnya tidak sakit. Ini, ada telor ceplok setengah matang, baik untuk obat perut yang kosong." kata Mak Mun yang sudah menyiapkan makan untuk majikannya.


    "Terima kasih, Mak Mun ...." kata Rini pada Mak Mun.


    Silvy dan ibunya langsung memakan hidangan yang diberikan oleh Mak Mun. Tentu Rini makan lahap, karena memang perutnya sangat kelaparan. Silvy senang menyaksikan ibunya makan. Paling tidak, ibunya sehat.


    "Makan yang banyak, Mah ..., biar sehat." kata Silvy pada ibunya.


    "Iya .... Ini sudah banyak ..., sampai kenyang ...." sahut ibunya.


    "Suamimu nanti kemari?" tanya Rini pada anaknya.


    "Iya, Mah .... Mungkin agak malam. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan di kantor." jawab Silvy.


    "Nanti Mamah tidur di kamar Silvy, ya ...." kata Rini meminta tidur bersama anaknya.


    "Nggak papa, Mah .... Nanti biar Mas Yayan tidur di kamar tamu depan." jawab Silvy.


    "Tapi, Mah ...." Silvy mencoba usul.


    "Tidak ada tapi-tapian .... Mamah jengkel sama Papah kamu." sahut Rini.


    "Betul, Mah .... Silvy dukung .... Pisah ranjang .... Hehe .... Betul begitu, Mah?" kata Silvy pada ibunya.


    "Betul. Ngapain berbaik dengan orang yang tidak bisa diajak baik. Orang keliru, jelas-jelas salah, kok malah marah-marah dan mencari kambing hitam, menuduh orang lain semaunya, sangat keterlaluan .... Gila itu ...." kata Rini yang kembali emosi.


    "Heran saya itu, Mah ..., kok tega-teganya nuduh Mamah selingkuh dengan Papah Yudi, itu lho .... Kok nggak pakai nalar ...." timpal Silvy.


    "Ya memang begitu kalau orang salah tidak mau disalahkan .... Pasti dia akan mencari-cari alasan untuk menyalahkan orang lain." kata Rini berikutnya.


    "Justru sebenarnya Papah yang seharusnya mencari tahu, siapa sebenarnya wanita pelakor itu, biar tahu baik buruknya ...." timpal Silvy.


    "Memang Silvy tahu ...?" tanya ibunya.


    "Ya tahu lah, Mah .... Gini-gini, saya itu detektif, Mah .... Kalau hanya sekadar mencari info orang-orang kayak pelakor gitu, kecil, Mah ...." kata Silvy yang suaranya mulai mengeras.


    Diam-diam, Hamdan memasang telinga, mendengarkan apa yang diomongkan oleh istri dan anaknya itu. Ya, jarak dari ruang makan ke ruang keluarga memang tidak terlalu jauh, sehingga meskipun suara dua wanita itu tidak terlalu keras, Hamdan bisa mendengarnya. Apalagi ketika Silvy mulai berbicara agak keras, tentu ayahnya akan gampang menguping omongannya.


    "Memang kayak apa wanita yang bisa bikin Papah kamu tergila-gila itu?" tanya ibunya.


    "Dia itu pretty woman yang suka menguras harta laki-laki yang mendekatinya. Yang dia mangsa itu, om om berkantong tebal. Yang penting, dia dapat uangnya, menguras kantongnya om om." kata Silvy meyakinkan ibunya.


    "Memang bener infomu itu ...?!" Rini meragukan cerita anaknya.


    "Iih, Mamah .... Benar lah, Mah .... Itu teman-teman yang cari info." kata Silvy lagi.


    "Silvy tahu, rumah perempuan itu ada di mana?" tanya Rini lagi.

__ADS_1


    "Tahu, lah .... Dia tinggal di apartemen. Pasti yang menyewakan juga laki-laki yang dia gaet. Bahkan kalau ada om-om yang mau datang ke apartemen itu, dijadwal, Mah .... Biar gak datang bersamaan, digilir .... Hahaha ...." jelas Silvy lagi.


    "Ah, masak sih ...?!" Rini tidak yakin.


    "Sumpah, Mah .... Teman-teman Silvy tahu semuanya." kata Silvy meyakinkan ibunya.


    "Berarti Papah kamu sudah kena, dong ...!" kata Rini yang cukup keras.


    "Tidak ...! Lina bukan perempuan seperti itu ...!" Hamdan langsung membentak istri dan anaknya. Ia lkangsung menghampiri Rini dan Silvy yang masih duduk di tempat makan.


    "Iya ...! Dia memang perempuan sundal ...!" bantah Silvy yang langsung membentak ayahnya.


    "Kamu jangan menuduh sembarangan ...!" Hamdan membalas kata-kata Silvy.


    "Papah itu tidak tahu yang sebenarnya ...! Papah itu sudah ditipu ...! Dia itu rampok, Pah ...!" kata Silvy yang marah pada ayahnya.


    "Jangan ngomong sembarangan ...! Mana buktinya ...?!" tantang Hamdan.


    "Papah pengin bukti ...?! Nih ..., lihat buktinya ...!!!" kata Silvy yang langsung membuka HP-nya, menunjukkan foto-foto kepada ayahnya, tentu foto selingkuhan papahnya itu dengan laki-laki lain.


    "Mana ...?!" sahut ayahnya.


    "Nih ...! Nih ...! Nih ...!" kata Silvy menunjukkan foto-foto kepada ayahnya.


    Hamdan diam. Tidak bisa membantah lagi. Jangan-jangan foto-foto tentang Lina, wanita yang sedang ia gandrungi itu adalah benar. Tetapi dasar laki-laki yang sedang mengalami puber ke tiga, racun asmara yang dicekokkan Lina kepada Hamdan, sudah membikin laki-laki tua itu mabuk kepayang. Maka apapun yang dituduhkan Silvy kepada Lina, adalah salah, tidak benar.


    "Tidak mungkin ...!! Lina bukan wanita semacam itu ...!!" bantah Hamdan.


    "Kalau Papah tidak percaya, silakan Papah tunggui kamar apartemennya. Nanti Papah akan tahu yang sebenarnya." suruh Silvy.


    "Silvy ..., kamu jangan menyebar berita yang tidak benar seperti itu .... Nanti saya laporkan ke Polisi, kamu akan ditangkap karena pelanggaran IT." ancam ayahnya.


    "Kalau memang Papah tega melaporkan anaknya sendiri ..., sialakan! Saya tidak takut!" tantang Silvy.


    "Papah itu sudah salah ..., sudah keliru ..., kok masih mengancam anaknya segala macam. Mbok sadar ..., Pah ...." kata Rini mencoba menengahi perdebatan ayah dan anaknya.


    Hamdan terdiam. Tentunya bingung, apa yang mesti dikatakan dan dilakukan. Serba salah. Mengancam anaknya juga keliru. Apalagi mesti marah-marah pada istrinya. Jangan-jangan yang dikatakan oleh anaknya itu benar.


    "Sore, Pah ..., Mah ..., Silvy ...." tiba-tiba Yayan, suami Silvy datang dan langsung masuk ke ruang makan.


    "Ee ..., Mas Yayan .... Baru pulang ...?" tanya Hamdan, ayah mertuanya yang mencoba membalas salam menantunya.


    "Iya, Pah ...." jawab menantunya.


    "Lhoh, katanya Mas Yayan mau pulang malam ..., kok jam segini sudah nyampai sini?" tanya Silvy, istrinya.


    "Iya ..., ini ada berita penting ...." jawab Yayan.


    "Berita penting apa?" tanya Silvy.


    "Tentang Lina ..., wanita yang sudah memajang foto-foto bersama Papah, ternyata korbannya tidak cuman Papah ...." kata Yayan.


    "Hah ...?! Yang benar, Mas?!" tanya Silvy.


    Mendengar kata-kata Yayan, tentu Hamdan kembali geram. Seakan Yayan, menantunya, juga akan ikut menjelek-jelekkan Lina. Maka Hamdan langsung berteriak, "Lagi-lagi membahas Lina ..., menjelek-jelekkan Lina ...! Kalian itu jangan mencari gara-gara ...! Lina itu wanita baik ...! Jangan dijelek-jelekkan ...!" kata Hamdan yang tentu marah kepada anak dan istrinya.


    "Pah ..., mohon beri kesempatan anaknya dulu yang menjelaskan .... Belum apa-apa kok sudah marah ...!" kata Rini yang tentu jengkel dengan sikap suaminya yang selalu membela Lina wanita pelakor itu.


    "Iya, Pah .... Mohon maaf, ini saya mau menyampaikan, kalau ternyata si Lina itu memasang berbagai foto dalam instagram yang berbeda-beda, dan tentu dengan nama yang berbeda pula. Semua dengan laki-laki yang umumnya pejabat. Dan dari informasi yang diperoleh teman-teman, itu foto-foto jebakan. Wanita ini nanti akan memeras para pejabat itu dengan ancaman akan memasang foto-foto syur secara umum. Tentu dia meminta uang sebagai ganti foto yang akan dipasang itu." jelas Yayan, yang kemudian menunjukkan IG dengan gambar wanita selingkuhan mertuanya itu, yang bersama laki-laki lain.


    "Makanya, Pah ..., jangan marah melulu .... Orang salah, diingatkan kok malah marah-marah ...." kata Silvy yang tentu senang mendapat bukti baru.


    Hamdan diam. Tidak bisa berkitik. Walau hatinya memberontak, tetapi ia sudah mati kutu. Tidak bisa berkata apa-apa lagi.

__ADS_1


__ADS_2