KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 135: SEMUDAH ITUKAH?


__ADS_3

    Pagi masih terlalu dini, saat Mak Mun sudah selesai mencuci di ruang teras yang berada di belakang dapur. Ruang itu memang merupakan tempat untuk mencuci, menyetrika dan menjemur cucian. Ya, mesin cuci dan meja setrika berada di ruang terbuka bagian belakang, bersebelahan dengan dapur. Tentu untuk memudahkan kerja pembantu, yang bisa memasak sambil mencuci atau menyetrika.


    Pagi itu, seingat Mak Mun ia hanya mencuci pakaian kotor Pak Hamdan, yang dibawa pulang dari Jerman. Ya, ada satu koper besar pakaian kotor. Rini memang menyuruh Mak Mun untuk mencuci pakaian Hamdan lebih dahulu, agar jika ada virus atau kuman dari luar negeri. Tidak boleh dicampur dengan pakaian rumah. Bahkan Rini juga memesan agar saat mencuci diberi deterjen atau sabun lebih banyak. Tentu Mak Mun menuruti perintah Rini.


    Tetapi saat menjemur cucian itu, Mak Mun jadi ragu-ragu. Ada yang aneh dari pakaian-pakaian yang ia jemur. Maka Mak Mun langsung mencari Ibu Rini, untuk menyampaikan hal ini.


    "Tok ..., tok ..., tok ...." Suara pintu kamar Silvy di ketuk oleh Mak Mun. Mak Mun tahu kalau majikan perempuannya tidur bersama anaknya.


    "Ibu ...." Mak Mun bersuara lirih memanggil Rini.


    "Iya, Mak Mun ...." suara Rini dari dalam kamar Silvy. Tentu Rini baru bangun, karena semalaman ia ngobrol dengan anaknya.


    "Iya, Mak Mun .... Sebentar ...." sahut Rini yang langsung turun dari tempat tidur dan membuka pintu menemui Mak Mun. "Ada apa ....?" tanya Rini setelah melihat Mak Mun.


    "Ibu ..., sini sebentar, ada yang ingin saya sampaikan." kata Mak Mun yang mengajak majikan perempuannya itu ke tempat jemuran.


    "Ada apa, sih ...?!" kata Rini yang tentu masih belum sempurna membuka matanya. Masih mengantuk.


    "Ini lhoo, Bu .... Saya mau tanya tentang ini ...." kata Mak Mun yang menunjukkan cucian yang sudah dijemur.


    "Haah ...??!!" mata Rini langsung terbelalak. Kantuknya langsung hilang. Pandangannya langsung terang. Ia kaget melihat jemuran yang ditunjukkan oleh Mak Mun.


    Ya, Rini melihat ada pakaian dalam wanita yang dijemur oleh Mak Mun. Ada CD, BH dan daster mini super tipis yang menerawang.


    "Mak Mun ..., benar pakaian ini ada di dalam koper Pak Hamdan?" tanya Rini lirih di telinga Mak Mun.


    "Benar, Ibu .... Ini semua pakaian dari dalam koper Bapak. Ini bukan punya Ibu?" sahut Mak Mun.


    "Sstt .... Dah, diam saja. Nanti kalau kering, tolong disembunyikan dahulu. Dan Mak Mun jangan bilang sama Bapak. Itu nanti akan saya jadikan bukti kalau dia mengelak." kata Rini memesan Mak Mun. Tentu Rini sudah menduga, pasti ini pakaian wanita pelakor itu.


    "Iya, Ibu .... Saya akan merahasiakan. Ibu jangan sedih ..., saya tetap membantu Ibu .... Semoga keluarga Ibu tetap harmonis." kata Mak Mun yang khawatir jika majikan perempuannya itu sok lagi gara-gara tahu pakaian wanita yang ada dalam koper suaminya itu.


    Mak Mun dan Rini, menyimpan rahasia yang nanti pasti akan menjadi kunci jawaban sebuah persoalan.


    Pagi itu, sekitar pukul tujuh, Mas Jo sudah datang di rumah Hamdan, tidak mengendarai sepeda motor seperti biasanya kalau mau mengantar Hamdan ke kantor, tetapi Mas Jo datang sudah membawa mobil kantor, sedan Camry. Tentu untuk menjemput bosnya. Sehingga Mas Jo tidak perlu membuka garasi, membersihkan serta memanasi mobil Hamdan, melainkan sudah siap memakai mobil kantor.


    "Mas Jo ..., sarapan dahulu ...." kata Mak Mun yang sudah membawakan kopi untuk Mas Jo dan menaruh di meja teras dekat garasi.


    "Ya, terima kasih, Mak Mun .... Saya sudah sarapan. Ini kopinya saja saya minum." kata Mas Jo yang langsung menyeruput kopi hitam.


    "O, ya sudah .... Lha kok dengaren to, bojomu sudah bikin sarapan?" sahut Mak Mun yang tidak jadi mengambilkan sarapan.


    "Tadi dibelikan di warteg. Eh ..., Bapak sudah siap belum? Tolong kasih tahu Bapak." kata Mas Jo meminta tolong Mak Mun.


    "Ya ..., ya .... Sebentar." sahut Mak Mun yang langsung masuk, tentu memberi tahu tuannya.

__ADS_1


    Dan sebentar kemudian, Hamdan sudah siap, sudah keluar.


    "Lho, kok pakai mobil kantor, Mas Jo ...? Tidak pakai mobil saya saja?" kata Hamdan pada Mas Jo.


    "Maaf, Pak Hamdan ..., kemarin sehabis mengantar pulang Bapak, saya dipanggil Mbak Sarah, dan berpesan agar pagi ini saya menjemput Bapak membawa mobil kantor. Saya nurut saja, Pak .... Maaf jika kurang berkenan." kata Mas Jo pada bosnya.


    Hamdan sejenak terdiam. Tentu agak bingung, kenapa perusahaan menyuruh Mas Jo menjemput pakai mobil kantor? Biasanya pakai mobil pribadi tidak masalah. Walau agak canggung, akhirnya Hamdan masuk juga ke mobil sedan mewah itu.


    "Ya, sudah ..., tidak apa-apa. Ayo jalan, Mas Jo ...." kata Hamdan menyuruh sopirnya.


    "Siap, Bapak ...." sahut Mas Jo yang tolah-toleh, tentu bingung karena Ibu Rini tidak kelihatan melepas kepergian suaminya. Walau demikian, Mas Jo tetap melajukan mobilnya, menyusuri kepadatan jalan-jalan Jakarta di pagi hari.


    Rini dan Mak Mun mengintip kepergian Hamdan dari balik gorden jendela. Setelah Mang Udel menutup gerbang, Rini dan Mak Mun menoleh, saling berpandangan, tentu dengan seribu tanya di benak mereka.


    "Mah ..., ayo sarapan ...!" teriak Silvy yang sudah duduk di ruang makan.


    Rini dan Mak Mun kaget. Lamunannya buyar. Langsung bergegas menuju ruang makan. Tentu menemani Silvy makan pagi, yang akan segera berangkat kerja.


*******


    Jam dua belas siang, Hamdan sudah pulang. Ia langsung masuk ke rumah. Mukanya ditekuk. Diam tanpa suara. Jalnnya terlihat gontai. Pasti ia sedang menghadapi masalah.


    "Mamah ...! Mamah ...!" sesampai di dalam rumah, ia berteriak memanggil istrinya.


    Hamdan yang tahu jika istrinya ada di ruang keluarga, langsung menuju tempat Rini berada.


    "Mah ...! Kenapa sih Mamah dari kemarin diam saja?! Kenapa Mamah tidak menghiraukan saya pulang?! Kenapa Mamah tidak mau menyambut kedatanganku?!" kata Hamdan setelah duduk berhadapan dengan istrinya di depan TV.


    "Hhhhsss ...." Rini tidak menjawab, hanya menghela nafas panjang.


    "Mah ..., ada apa sih?!" tanya Hamdan lagi, sambil mendekatkan mukanya ke hadapan istrinya.


    "Kenapa Papah jam segini sudah pulang? Biasanya kalau pulang larut malam, kan?!" kata Rini menelisik.


    "Karena ...." Hamdan bingung akan menjawab pertanyaan istrinya.


    "Karena apa?!" tanya Rini mendesak suaminya yang berhenti menjawab.


    "Yah ..., karena saya harus pulang ...." jawab Hamdan yang belum bisa mengatakan alasannya.


    "Lha iya, kenapa pulang?!" tegas Rini lagi.


    "Anu ..., Mah .... Papah mau minta tolong sama Mamah ...." kata Hamdan yang mulai mengiba.


    "Minta tolong ...?! Setelah kamu menyakiti istrimu ..., setelah kamu menyakiti anakmu ...., sekarang mau minta tolong ...?! Enak saja ...." kata Rini yang ketus, tanpa memandang suaminya.

__ADS_1


    "Mah ..., ini persoalan penting, Mah .... Demi suamimu, saya mohon Mamah mau membantu saya ...."  kata Hamdan yang kembali merajuk ke istrinya.


    Namun Rini yang sudah tersakiti, saat tahu suaminya disuapi perempuan yang diajak foya-foya, tersakiti saat anaknya menunjukkan foto-foto mensra suaminya bersama wanita lain, tersakit saat Mak Mun pembantunya yang memerlihatkan pakaian wanita yang dibawa suaminya dalam kopornya. Itu betul-betul perlakuan yang menyakitkan hati wanita, melukai hati seorang istri. Tentu Rini tidak sudi untuk membantu masalah suaminya. Ia pun cuek saat suaminya merengek mita tolong.


    "Mah .... Ada apa sih, Mah ...? Kok begitu tega sama suami sendiri?!" kata Hamdan yang sudah menempel istrinya.


    "Ada apa ..., ada apa .... Sana minta tolong sama wanita pelakor itu!!" bentak Rini yang tidak mau didekati suaminya.


    "Mamah kok gitu, sih! Wanita siapa?! Pelakor apa?!" Hamdan mulai emosi, karena istrinya sudah mulai mengusik wanita pelakor.


    Ya, tentu Hamdan emosi. Karena yang disampaikan oleh istrinya itu, adalah masalah yang sama saat ia disidang oleh Dewan Komisaris di perusahaannya. Kenapa istrinya berkata begitu? Apakah ini ada sangkut pautnya dengan masalah yang disampaikan oleh Dewan Komisaris? Atau, jangan-jangan ....


    "Mamah menuduh saya selingkuh, ya? Ya ampun, Mah .... Jangan picik begitu, Mah .... Ini suamimu sedang dalam masalah ..., tolong jangan ditambahi yang nggak-nggak ...." kata Hamdan yang mengelak.


    "Tidak ada yang menuduh, Pah .... Papah sendiri yang sudah pamer selingkuh. Tentu perusahaan tidak bisa menerima perbuatan direktur yang bejat moralnya. Itu resiko Papah dengan tingkah lakumu yang amoral bersama wanita pelakor itu!" balas Rini yang berkata keras pada suaminya, tentu karena sudah muak dengan perlakuan suaminya.


    "Ya ampun, Mah .... Tingkah laku apa? Saya tidak ngapa-ngapain, Mah ...." Hamdan masih berusaha membela diri.


    "Tidak ngapa-ngapain ...?! Terus yang pamer suap-suapan dengan wanita pelakor dalam video call itu siapa?!" bentak Rini.


    "Maaf, Mah .... Itu tidak sengaja .... Itu hanya ingin menunjukkan makanan ...." Hamdan mulai mencari alasan.


    "Terus kenapa HP langsung dimatikan?! Terus kenapa setiap ditelepon tidak diangkat?! Terus kenapa setiap pesan WA juga tidak dijawab?! Terus kenapa juga tidak pernah telepon?! Memang di Jerman sudah punya istri baru?! Selingkuha yang lebih bahenol?! Pelakor yang lebih seksi?!" Rini mulai meluapkan kemarahannya kepada suaminya.


    "Maaf, Mah .... Saya betul-betul tidak sempat .... Saya sibuk kerja, Mah ....." Hamdan masih mencari alasan.


    "Tidak sempat ....?! Sibuk ...?! Sibuk mesra-mesraan sama pelakor!!" bentak Rini lagi.


    "Tidak, Mah .... Saya tidak ngapa-ngapain di Jerman .... Betul, Mah .... Sumpah ...." bantah Hamdan.


    "Terus ..., ini foto siapa yang peluk-pelukan?! Ini ....! Ini ...! Ini lagi ...! Hah ..., foto siapa ini semua?!" kata Rini sambil menunjukkan foto-foto suaminya yang sedang bermesraan di HP-nya.


    Hamdan tertunduk. Diam seribu bahasa. Tak berkutik lagi, tidak punya alasan yang bisa menutupi kesalahannya.


    "Tapi, Mah .... percayalah, saya tidak ngapa-ngapain ...." kata Hamdan yang masih berusaha membela diri.


    "Mak Mun ..., tolong ambilkan itunya, Mak ...!" teriak Rini meminta Mak Mun mengambilkan sesuatu.


    "Iya, Ibu ...." Mak Mun tahu yang dimaksud majikan putrinya. Ia langsung memberikan kepada Rini.


    "Ini ...!!! Lihat ini ...! Ingat-ingat ini ....! Ini, BH siapa?! Ini celana siapa?! Ini lengerie siapa? Ini semua ada di dalam kopermu, Mas!!!" kata Rini sambil melemparkan pakaian-pakaian seksi itu kepada suaminya.


    Setelah itu, Rini berlari ke kamar sambil menangis sejadi-jadinya. Sesak dadanya, sakit hatinya. Suaminya sangat keterlaluan.


    Hamdan hanya bisa diam. Tidak bisa apa-apa lagi. Semuanya adalah nyata. Semuanya adalah fakta. Kini Hamdan hanya bisa menyesali kesalahannya. Dan tentu, harus menerima resiko yang akan diberikan kepadanya. Bermain api, pasti akan terbakar.

__ADS_1


__ADS_2