
Yuna sudah menyelesaikan semua pekerjaannya. Kini tinggal menyampaikan kepada Yudi, untuk mendapat persetujuan dari Kepala Desa dan orang-orang yang terlibat dalam pengelolaan wisata Kampung Nirwana. Tentu dalam waktu dekat, jika rancangan yang diusulkan oleh Yuna disetujui, maka Yuna akan balik ke Jepang, untuk kesepakatan dengan pihak donatur dalam pendanaan proyeknya.
Di negara-negara maju, penyandang dana semacam itu sangat banyak. Dananya pun besar. Biasanya lembaga-lembaga CSR yang rela menyumbangkan dana ini benar-benar untuk kegiatan sosial semata, demi memajukan dan menyejahterakan kehidupan masyarakat. Termasuk rancangan proyek yang akan diajukan oleh Yuna, tentang pembangunan masyarakat di Kampung Nirwana. Namanya bukan pengembangan obyek wisata, melainkan pemberdayaan masyarakat melalui gerakan sadar wisata. Walau nantinya untuk memberdayakan masyarakat ini melalui pembangunan sarana prasarana wisata, termasuk membangun obyek wisata.
Yudi sudah menerima pekerjaan Yuna. Kini ia hanya tinggal menyesuaikan rancangan yang disusun oleh Yuna untuk dibawa ke Jepang, dengan rancangan yang akan disampaikan kepada masyarakat, para pengelola, serta perangkat desa di Kampung Nirwana. Malam itu Yudi mereview rancanganya di pendopo depan. Laptop sudah terbuka. Print out pekerjaan Yuna juga sudah dibuka. Satu persatu rencana usulan proyek mulai dikoreksi. Tentu harus cermat dan teliti. Hingga larut malam, Yudi masih mengoreksi pekerjaannya. Sebelum Yuna pulang ke Jepang, Yudi harus sudah membuat kesepakatan dengan seluruh orang yang terlibat dalam rancangan pembangunan.
Yuna keluar dari kamarnya, hanya mengenakan pakaian sweater rajut lengan panjang warna biru muda, serasi dengan kulitnya yang putih mulus. Tanpa mengenakan rok maupun celana panjang. Walau sweater itu panjang hingga sampai setengah paha, tetap saja Yuna terlihat seksi. Lantas gadis itu melangkah, menuju pendopo depan, untuk menemani Yudi yang sedang menyelesaikan pekerjaannya. Tak lupa, gadis itu membawakan secangkir minuman jahe plus ginseng yang masih hangat.
"Yudi, ini saya bawakan minuman hangat. Please drink." kata Yuna yang sudah duduk di samping Yudi.
"Thank you, Yuna." sahut Yudi.
Lantas Yuna yang memegang cangkir berisi minuman itu mendekatkan ke bibir Yudi. Yudi menyeruput minuman jahe ginseng itu, terlihat enak sekali.
"Again. Let's drink again." kata Yuna yang masih menempelkan cangkir di bibir Yudi.
"Nanti lagi ...." kata Yudi yang ingin berhenti minumnya.
"Aah, Yudi .... Come on ...." Yuna memaksa Yudi untuk minum.
Karena Yudi sudah berhenti meminum, dan Yuna memaksa meminumkan, akhirnya minuman itu tumpah dan mengenai celana Yudi. Celana Yudi basah pada bagian paha.
"Oh, Yudi .... Yuna minta maaf .... I am sorry, Yudi. This is an accidentally." Yuna merasa bersalah.
Setelah menaruh cangkir di meja, Yuna langsung berusaha mengelap dengan telapak tangannya pada bagian celana Yudi yang basah. Demikian juga Yudi. Tangan dua orang itu bertemu di celana yang basah. Jemari Yudi yang perkasa menyentuh jemari Yuna yang lentik. Yudi memandang Yuna. Yuna menatap wajah Yudi. Empat mata bertemu pandang. Lama mereka hanya berpandangan. Ada yang ingin dikatakan, tetapi mulut mereka terkatup, tidak sanggup mengucap apapun. Hanya tatapan mata yang mengisyaratkan ada getar-getar cinta yang merasuk dalam perasaan mereka berdua. Tanpa sadar, tangan Yudi sudah meremas tangan Yuna.
"Auch ...!" Yuna menjerit.
Yudi sadar, sudah meremas tangan Yuna terlalu keras. Lantas Yudi melepaskan jari-jari lentik yang semula digenggamnya. Lantas lengan perkasa itu sudah mendekap tubuh lembut yang terbalut rajutan sweater.
__ADS_1
"Maaf, Yuna .... I am sorry." kata Yudi lembut membisik di telinga Yuna.
Yuna pasrah. Justru kini gadis cantik itu sudah merebahkan kepalanya di bahu Yudi. Kedua kakinya sudah diangkat di atas bangku. Kedua tangannya sudah memeluk erat tubuh Yudi. Mata gadis itu terpejam.
Yudi menghentikan pekerjaannya. Ia menyandarkan tubuhnya di bangku. Tangannya mengelus rambut Yuna yang terurai, menatanya helai demi helai hingga wajah cantik itu benar-benar terlihat sempurna.
Gadis yang dibelai itu diam saja. Matanya masih terpejam. Seakan ada rasa pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh Yudi.
"Yudi ..., please make me happy." desah Yuna yang mulai menurunkan kepalanya di paha Yudi.
Yudi terdiam. Bingung mau berbuat apa. Takut pada sesuatu yang akan terjadi. Dua orang berlainan jenis, berada di tempat sunyi, hanya desir angin dingin yang menyebabkan dua manusia itu saling ingin memberikan kehangatan. Namun Yudi, takut untuk menyakiti Yuna. Hanya tangannya yang sanggup membelai rambut halus yang terurai.
Tangan Yuna menarik jemari Yudi yang asyik memainkan helai rambut. Lantas memegang tangan perkasa itu, menuntunnya untuk menyentuh pipinya. Perlahan jemari Yudi digerakkan bergeser naik turun, mengelus pipi Yuna.
Yudi merasakan kehalusan pipi Yuna. Lembut bagai pipi bayi. Padahal Yudi tahu persis kalau Yuna ini tidak pernah memakai make up. Tetapi pipi gadis empat puluh tahun ini betul-betul halus dan lembut. Tentu Yudi terkagum dengan kecantikan Yuna.
Selanjutnya, tangan Yuna kembali menyeret tangan Yudi, dari pipinya menuju hidung. Sama, tangan Yudi digerak-gerakkan untuk mempermainkan hidung Yuna. Hidung yang mungil, tetapi juga halus dan lembut. Seperti hidung barbie.
"Ach .... Yudi ...." Yuna mendesah.
Yudi menarik tangannya, lantas memegang bahu Yuna, memandangi wajah gadis ayu itu.
"Yuna, boleh saya bertanya padamu? I want to ask, Yuna. Are there still remnants of love in Yuna's heart?" tanya Yudi pada Yuna.
"I don't know, Yudi .... Is the love in my heart still there, or does God not give me love? Love for me is lonely. Maybe, I can leave love here, in your heart, Yudi." kata Yuna yang menggenggam erat tangan Yudi.
"Really?" tanya Yudi yang ingin meyakinkan apa yang dikatakan gadis itu.
"Surely." jawab Yuna tegas.
__ADS_1
Lantas Yuna bangun dari rebahannya. Memegang kepala Yudi. Mulut mungil itu sudah mencium Yudi.
"I love You, Yudi. Make me happy." kata gadis cantik itu, meyakinkan cintanya.
Yudi terdiam. Merasakan nikmatnya ciuman gadis cantik itu. Angannya sudah melayang, merubah segala perasaan. Tentu, membuyarkan keteguhan hatinya, menyirnakan kesetiaan cintanya.
"Sudah jam kosong-kosong. It's late, Yuna. Ayo kita tidur." kata Yudi mengajak istirahat.
Yudi mematikan laptopnya. Menata berkasnya. Memasukkan dalam tas kerja. Lantas bersiap untuk tidur.
Yuna masih terduduk di bangku besar itu, menunggu Yudi menata berkasnya. Setelah Yudi selesai, bersiap untuk kembali ke kamar, Yuna mengangkat dua tangannya, memberikan ke Yudi, memanja minta digendong.
"Ih, Yuna .... Tubuhmu berat, sayang ...." kata Yudi yang berusaha menolak.
"Aah .... Dulu waktu Yuna tertidur, siapa yang memindah ke kamar? Yudi, kan?" kata Yuna sambil tersenyum menggoda.
"Iya ..., iya ...." Yudi kalah berdebat. Pasrah.
Akhirnya Yudi mengangkat tubuh gadis cantik itu. Dua tangan Yudi sudah mengangkat. Satu tangannya memegang bagian punggung, dan satu tangannya lagi mendekap di bagian paha. Saat tubuh Yuna dibopong, tentu pakaian yang dikenakan oleh Yuna sebagian tertarik ke atas. Sedangkan bagian bawahnya tersingkap. Sehingga terlihatlah bagian bawah tubuh Yuna. Tangan perkasa Yudi menyentuh paha Yuna yang tidak tertutup sweater. Paha yang halus dan mulus.
"Ach ...." Yudi mendesah. Ada gairah yang bergejolak.
Perlahan Yudi melangkahkan kaki. Pandangannya terpecah, antara konsentrasi melihat jalan dan tergoda menyaksikan paha mulus yang dipegangnya.
Yuna yang dibopong tersenyum bahagia. Tangannya memeluk leher Yudi, dan tentu, beberapa kali mulut mungil itu maju mencium laki-laki yang membopongnya.
Dengan langkah yang lumayan berat, akhirnya Yudi sampai juga di kamar Yuna. Merebahkan tubuh cantik itu di atas kasur tempat tidurnya. Namun, tangan lembut itu tidak mau lepas dari leher laki-laki yang membopongnya. Yuna justru menarik leher Yudi. Sehingga wajah Yudi bertemu dengan wajah Yuna. Ujung hidung Yudi bersentuhan dengan ujung hidung Yuna.
"Good night, Yudi. Have a good night's sleep. Take me in your dreams." kata Yuna, yang tentu dengan mencium Yudi terlebih dulu.
__ADS_1
"Selamat malam Yuna, selamat tidur, semoga mimpi indah." kata Yudi. Ia pun mencium kening Yuna.
Malam itu, Yudi dan Yuna sudah mencoba untuk mengutarakan cinta. Cinta lokasi, di mana mereka berdua berada, bekerja bersama-sama. Apakah cinta lokasi ini akan berlanjut?