KASIH BERSEMI DARI REUNI

KASIH BERSEMI DARI REUNI
Episode 248: JEPANG, TUNGGU KEDATANGAN KAMI


__ADS_3

    Yudi kini jadi sering diam, sering melamun, bahkan selalu kelihatan murung. Pasti itu semua karena Yudi memikirkan nasib Yuna. Lukisan Yunadi yang dipasang di ruang khusus galeri miliknya, berkali-kali ia amati. Ia tatap. Bahkan terkadang ia elus lukisan itu. Lantas, air mata Yudi menetes di pipinya, pertanda ia sangat sedih menyaksikan lukisan wajah istrinya itu. Ya, lukisan yang sangat menyedihkan, yang dituangkan oleh anaknya sendiri. Lukisan yang bertolak belakang dengan lukisan raksasa milik Yudi. Jika dalam lukisan raksasa itu Yuna selalu dalam keadaan ceria dan bahagia, tetapi lukisan yang dibuat oleh anaknya, sosok Yuna hanyalah wanita miskin dengan pakaian compang-camping, tubuhnya kurus kering, rambut dan wajahnya tidak terawat, masih ditambah ada air mata yang menempel di pipi.


    "Yuna ..., mengapa dirimu menderita seperti ini ...?" gumam Yudi sendirian dalam ruang koleksi pribadinya itu.


    Sementara itu, di ruang makan, Rini, Yuni, Yunadi serta Silvy dan Yayan sedang makan pagi. Mereka sarapan. Namun sosok Yudi sebagai Papah, tidak ada di ruang itu. Sudah di panggil dan dicari, tetapi tidak ketemu.


    "Mah ..., Papah kelihatan sedih terus ...." kata Silvy pada ibunya.


    "Iya, Mah .... Apa Mamah tidak kasihan pada Papah ...?" timpal Yayan.


    "Katanya mikirin Mamah Yuna ...." tiba-tiba Yuni menyahut.


    Tentu, saat mendengar kata-kata Mamah Yuna, Yunadi menjadi melongong. Pasti Yunadi juga ingat dengan ibunya. Ia langsung menghentikan sarapannya. Tidak menghabiskan makanan yang sudah disediakan oleh ibu tirinya. Yunadi berdiri, dan melangkah pergi.


    "Yunadi ...! Habiskan dahulu sarapannya ...." Rini berteriak, meminta Yunadi untuk menghabiskan sarapan itu.


    Anak itu hanya menoleh sambil menggelengkan kepalanya. Pertanda ia sudah tidah mau makan lagi. Lantas ia bablas meninggalkan rumah.


    Rini berusaha berdiri untuk mencegah anak tirinya itu. Tetapi Yayan menghentikan ibunya.


    "Sudah, Mah .... Biarkan saja dia pergi. Hatinya masih kacau .... Pasti dia akan menyusul Papah Yudi di ruangannya." kata Yayan memberi pengertian pada ibu mertuanya.


    "Ya .... Mamah tahu ...." kata Rini lirih. Lalu bilang pada anaknya, "Tolong nanti diberesin. Saya menyusul Papah. Biar nanti Yunadi sarapan lagi sama Papah ...."


    "Ya, Mah ...." sahut Silvy yang tentu juga sedih menyaksikan keadaan ini.


    Rini pun pergi meninggalkan ruang makan. Ia akan menemui Yudi di ruang koleksi khusus miliknya.

__ADS_1


    Dan benar, Yudi duduk menekuk kakinya, tangannya memeluk lututnya sendiri. Ia memandangi lukisan raksasa itu. Tentu menatap wajah-wajah Yuna yang ada di lukisan itu. Yudi diam tanpa ada kata-kata. Hanya wajahnya yang menunjukkan raut sedih. Sedih memikirkan nasib istrinya yang tidak diketahui keberadaannya ada di mana.


    Di samping kiri Yudi, duduk juga Yunadi. Sama seperti yang dilakukan oleh ayahmya, ia juga duduk dengan menekuk lututnya, dengan kedua tangannya juga memeluk lutut itu. Persis seperti ayahnya. Ia pun ikut memandangi wajah ibunya yang terpampang di lukisan itu.


    Rini berhenti di pintu. Sedih memandangi dua laki-laki ayah dan anak yang termenung larut dalam dunia masing-masing. Tentu dunia mereka saat bersama Yuna. Namun Rini langsung kembali melangkah, mendekati ayah dan anak itu.


    "Yudi .... Kamu belum sarapan. Yunadi juga tidak mau sarapan. Kalau Yudi penginnya begini terus, tolong kasihani anakmu .... Kasihani Yunadi .... Ayolah ..., ajak Yunadi sarapan dahulu. Aku temani, sambil mencari solusi ...." kata Rini yang sudah menarik tangan Yudi yang memeluk lututnya.


    Yudi yang ditarik oleh Rini, akhirnya menurut dan bangkit berdiri.


    "Yunadi, chōshoku o tabeyou ...." Yudi meraih lengan anaknya, mengajak sarapan Yunadi.


    Yunadi juga mengikut ajakan ayahnya. Mereka melangkah, meninggalkan ruangan milik Yudi itu, akan sarapan.


    Di meja sarapan, Rini kembali meladeni Yunadi. Tentu dengan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Maklum, Rini yang penuh rasa belas kasihan itu, tidak tega melihat Yunadi menderita. Apalagi setelah Rini tahu bahwa Yunadi adalah anak Yudi, anak yang tidak pernah melihat orang tuanya sejak kecil hingga ia sudah berumur sepuluh tahun, itu sangat menggunggah hatinya. Apalagi anak itu sudah akrab dengan adiknya, Yuni, sering kali menambah rasa tidak tega dalam hati Rini. Belum lagi kalau melihat sifat dan logat perilaku anak itu yang benar-benar mirip ayahnya, Rini benar-benar menemukan Yudi kecil yang harus dirawat dan disayang. Jika teringat dirinya pernah menyakiti Yudi, kala Rini harus meninggalkan Yudi dan menikah dengan laki-laki lain, Rini merasa inilah saatnya untuk menebus kesalahan itu. Ia tidak ingin menyakiti Yudi kecil yang terrenkarnasi pada diri Yunadi.


    "Aku masih trauma dengan peristiwa itu, Rini ...." kata Yudi yang tentu masih merasa ketakutan saat ia harus disembunyikan di kuil sampai enam bulan.


    "Itu kan sudah sebelas tahun yang lalu .... Apa orang-orang jahat itu masih mencari Yudi? Masak sudah sekian lama peristiwa itu masih berlanjut .... Toh seandainya mereka sangat ingin menangkapmu, pasti sudah mencari dirimu ke Jogja dari dulu-dulu .... Iya, kan ...?!" kata Rini yang mencoba menggugah keberanian suaminya.


    "Benar juga .... Mungkin mereka sudah melupakan diriku." jawab Yudi.


    "Setidaknya juga, kamu bisa ajak Yunadi menemui kakek dan neneknya, siapa tahu masih ada .... Untuk menguatkan rasa sayang dan kepercayaan Yunadi pada kita .... Setidaknya ia yakin punya keluarga." tambah Rini mengusulkan.


    "Iya, benar .... Besok kita ke Jepang, ya ...." kata Yudi yang langsung bersemangat.


    "Ya, kita siapkan dahulu segala sesuatunya. Yuni kita ajak sekalian ..., ya sebut saja kita berpiknik." kata Rini yang tentu senang bisa pergi ke Jepang bersama anak dan suaminya. Dan Kini, anak Rini bertambah satu lagi, yaitu Yunadi.

__ADS_1


    "Yunadi ..., Ashita, anata o Nihon ni tsurete ikimasu .... Ojīchan, o bāchan ni ai ni tsureteitte ageru, Hoshīdesu ka?" Yudi menyampaikan kepada anaknya akan mengajak ke Jepang, untuk menemui kakek dan neneknya.


    "O shitai arigatōgozaimashita ...." tentu Yunadi sangat mau. Rasa ingin tahu keberadaan keluarganya, mulai muncul dalam hatinya.


    Ya, memang selama ini, Yunadi tidak kenal siapa-siapa. Tidak kenal ayah, kakek, serta neneknya. Bahkan saat melihat ibunya pun hanya sepintas, seperti layaknya melihat orang yang berdoa di kuil. Itu saja jauh kala Yunadi masih anak-anak. Yang ia paham tentang kehidupan, hanyalah hidup bersama dengan para pendeta dan para pekerja kuil yang rata-rata tidak punya keluarga. Keluarga mereka hanyalah orang-orang yang tinggal di kuil. Kehidupan mereka hanyalah untuk mengabdi kepada Sang Pencipta, agar mereka bisa mencapai nirwana kelanggengan.


    "Mah ..., ajak Yuni, dan siapkan pakaian yang akan kita bawa ke Jepang. Bilang sama Silvy dan Yayan kalau kita akan mengantar Yunadi menemui kakek dan neneknya. Minta Yayan besok untuk mengantar kita ke bandara." kata Yudi yang memesan pada istrinya.


    "Papah mau ke mana?" tanya Rini, saat melihat suaminya berdiri.


    "Saya mau pesan tiket." sahut Yudi yang terus meninggalkan ruang makan.


    Sebenarnya, saat Rini mengajak Yudi untuk ke Jepang, Yudi ingat pada orang kaya dari Jepang yang pernah menolong dirinya sehingga bisa pulang ke Jogja. Dahulu saat orang Jepang yang bersama ayah dan ibunya itu akan pulang, ia menemui Yudi dan mengatakan jika ada sesuatu kesulitan, orang kaya itu siap membantu. Ya, besok saat di Jepang, Yudi ingin mencoba untuk meminta bantuan kepada orang kaya yang dianggap punya pengaruh besar tersebut. Pastinya, ia ingin meminta bantuan untuk mencari keberadaan Yuna.


*******


    Pagi itu, Yudi bersama Rini, Yuni dan Yunadi, sudah bersiap untuk berangkat ke Jepang. Mereka berangkat dari Bandara Internasional Yogyakarta, menuju Jakarta, naik penerbangan pertama. Tentu semuanya penuh harap, agar bisa menemukan Yuna.


    "Mah ..., seandainya nanti kita sampai di Jepang, dan kita bisa menemukan Yuna ..., terus bagaimana?" tanya Yudi pada istrinya yang duduk berdampingan di dalam pesawat.


    "Pah ..., tujuan kita ke Jepang kan memang mencari Yuna ...." sahut Rini.


    "Masalahnya ..., kalau sudah ketemu kita bagaimana?" tanya Yudi yang tentu bingung jika harus ada dua wanita yang sama-sama ia cintai.


    "Kita ajak ke Indonesia .... Biar bisa kumpul bersama kita. Hidup tenteram dan nyaman di Kampung Nirwana." sahut Rini.


    "Mamah tidak cemburu ...?" tanya Yudi yang tentu tidak ingin ada keributan dalam rumah tangganya.

__ADS_1


    Rini diam tidak menjawab. Ia menoleh ke jendela pesawat, melempar pandangannya ke awan-awan yang terbentang indah di bawah pesawat yang ia tumpangi.


__ADS_2