
Pagi itu, Yuna bangun sebelum terbit fajar. Langsung mandi keramas, membersihkan sekujur tubuhnya, mulai dari ujung rambut hingga telapak kaki. Segar sekali ....
Rasa senangnya semalam, saat ada acara lamaran, bahkan dilanjutkan dengan tukar cincin, masih terbawa hingga pagi itu. Yuna benar-benar merasa tersanjung bisa diterima oleh keluarga Yudi, bisa diterima oleh orang-orang sekampung. Bahkan dari rasa senang itu, Yuna jadi ingin cepat-cepat menikah.
Namun sebenarnya, bukan sekadar rasa senang itu yang membuat Yuna bangun di pagi buta. Ada hal lain yang terjadi semalam, yang ingin segera ia ceritakan kepada Yudi, yaitu mimpinya yang aneh. Mimpi tentang cincin pertunangan yang di kenakan oleh Yudi semalam.
Di pagi yang belum sempurna itu, Yudi pun sudah bangun. Memang, Yudi selalu bangun pagi. Tentu untuk bersih-bersih dan menyiapkan sarapan pagi. Maka, saat Yuna melihat Yudi sudah sibuk di dapur, segera ia menghampiri, ikut membantu pekerjaan Yudi. Syukur di dapur masih ada banyak persediaan makanan dari semalam. Tentu tidak perlu memasak lagi untuk sarapan, hanya tinggal memanasi saja. Mereka berdua pun tinggal menyiapkan sarapan di meja makan.
"Yuna, ada hadiah yang ingin aku perlihatkan padamu ...." kata Yudi yang sudah selesai menata sarapan pagi.
"Hehem .... Apa itu?" tanya Yuna.
"Ayo, aku tunjukkan padamu. Ada di dalam kamar." kata Yudi.
"Di kamar?!" Yuna agak khawatir, takut jika di kamar Yudi ia akan melihat lagi lukisan Rini yang sudah menyakitkan hatinya.
"Iya ..., ayo, lihat sebentar ...." kata Yudi yang langsung memegang tangan Yuna dan mengajak ke kamarnya.
Lantas Yudi membuka pintu kamar, dan menunjukkan hadiah untuk Yuna.
"Itu .... Lihatlah, Yuna .... Ini hadiah untuk Yuna, hadiah untuk cinta kita ...." kata Yudi yang menunjukkan hadiahnya untuk Yuna.
"Yudi ...?! Ini untukku ...?! Untuk cinta kita ...?!" Yuna terkagum menyaksikan hadiahnya.
"Ya ..., benar Yuna .... Selama menantikan kedatanganmu, aku menuangkan segala budi daya yang aku miliki, untuk membuat lukisan raksasa ini, demi cintaku, Yuna .... Lukisaan cinta kita. Siang malam aku mengungkapkan cinta kita, dalam kanvas raksasa ini. Ini isi hatiku, Yuna ...." kata Yudi meyakinkan cintanya pada Yuna.
"Waow .... Dirimu benar-benar hebat, Yudi .... Aku terkagum padamu." Yuna terkesima menyaksikan lukisan besar yang membentang di tembok kamar Yudi itu.
"Lihat, Yuna .... Lukisan ini adalah potret perjalanan cinta kita. Seperti kisah cinta Ratu Kinari yang terpahat di relief Candi Borobudur, aku melukiskan kisah cinta kita di lukisan ini, Yuna ...." kata Yudi sambil mengajak Yuna mengamati lukisan itu, segmen demi segmen.
__ADS_1
"Yudi, kamu sangat detail dalam menuangkan cerita. Coba lihat yang ini, aku sendiri tidak pernah sadar jika Yudi pernah mengamati diriku berdoa di kuil. Bahkan kamu juga sempat menggambarkan kimono-kimono indah yang dikenakan perempuan-perempuan di kotaku. Waduh, yang ini benar-benar luar biasa, Yudi ..., kamu melukis diriku saat melintasi jembatan surga .... Terima kasih, Yudi, dirimu bisa menuangkan memori saya ...." kata Yuna yang senang melihat lukisan dirinya saat berada di Kyoto.
"Coba lihat yang bagian ini, Yuna ...." Yudi menunjukkan segmen ke dua.
"Ini kita sudah berada di Jogja, kan? Kita sudah bersama, kan? Iya, ini Yudi, ini saat kita bergandengan tangan menaiki puncak bukit, lantas aku dikerjai sama bakul-bakul yang ada di sana .... Ih, ini kok ada lukisan yang diriku digendong ..., aku malu, Yud ...." kata Yuna saat melihat lukisan yang memajang dirinya digendong oleh Yudi.
"Lhah, kan memang begitu ceritanya." sahut Yudi mengingatkan Yuna.
"Aku tertidur, ya ...? Eh, Yudi ..., itu kok ada wanita cantik berpakaian serba hijau dan bermahkota seperti ratu, itu siapa?" tanya Yuna.
"Itu Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul. Yang pernah merestui permintaan Yuna, dan memberikan cincin kepada kita ini." jawab Yudi sambil menunjukkan gambar Kanjeng Ratu.
"Oo .... Jadi seperti itu ya, Kanjeng Ratu .... Cantik sekali, anggun dan berwibawa. Pasti dia itu orang hebat." kata Yuna.
"Iya, Yuna .... Kanjeng Ratu Laut Selatan dipercaya oleh mayarakat Jogja sebagai Ratu Adil yang memberikan berkah bagi kehidupan rakyat Jogja. Memberikan rezeki lewat lautan yang ia jaga. Bukan hanya ikan-ikan yang ditangkap oleh para nelayan, tetapi juga keindahan alamnya yang mengundang banyak para wisatawan. Tetapi jika ada yang melanggar atau berbuat serong, maka Kanjeng Ratu akan murka dan tidak segan-segan untuk menghancurkan orang-orang itu." jelas Yudi.
"Kok sama?! Saya juga bermimpi tentang cincin yang kita kenakan .... Dalam mimpiku, seakan Kanjeng Ratu datang menghampiri kita berdua, memberikan pesan kepada kita, agar menjaga cincin yang kita kenakan ini." kata Yudi menceritakan mimpinya.
"Iya, Yudi .... Aku didatangi Kanjeng Ratu, persis seperti yang ada di lukisanmu ini, Yudi. Aku terkejut, dia bilang kalau cincin yang kita kenakan ini bukanlah cincin sembarangan, tetapi Kanjeng Ratu berkata jika cincin ini adalah cincin wasiat. Apa itu artinya, Yudi?" tanya Yuna yang belum memahami makna cincin wasiat.
"Yuna, cincin wasiat itu bukan cincin sembarangan, melainkan cincin yang mempunyai pesan atau kekuatan tertentu. Kita harus hati-hati mengenakan cincin ini, jangan sampai melakukan hal-hal yang Kanjeng Ratu tidak berkenan. Kita harus bisa menjaga tingkah laku kita. Jangan sombong dan jangan takabur. Kita harus berbuat baik kepada setiap orang. Kita harus membantu masyarakat untuk memberdayakan kehidupannya." jelas Yudi.
"Yudi ..., aku takut ...." kata Yuna, yang tentu langsung mendekap Yudi.
"Jangan risau, Yuna .... Asal kita berbuat baik dan benar, pasti Kanjeng Ratu akan memberi rezeki kepada kita." sahut Yudi yang memeluk Yuna dengan penuh kasih sayang.
Lantas Yuna melanjutkan mengamati lukisan raksasa itu kembali.
"Yudi ..., kok aku merasa belum pernah ke tempat ini? Lukisan ini sangat aneh bagiku?" tanya Yuna sambil menunjuk lukisan di segmen tiga.
__ADS_1
"Iya, Yuna .... Kita belum pernah ke sini. Itu adalah gambaran kita di masa mendatang. Harapan-harapan yang saya tuangkan dalam lukisan. Kita akan menikah, dan membangun rumah tangga, membangun kampung halaman, membangun Taman Awang-awang, untuk menyejahterakan masyarakat. Dan, lihat yang ini, Yuna .... Saya ingin membangun istana untuk kita berdua. Bagaimana?" jelas Yudi pada Yuna.
"Wao .... Luar biasa, Yudi ..., kamu benar-benar hebat. Kamu pelukis handal, maestroku tersayang .... Terima kasih untuk hadiahnya, sayang .... Ini adalah lukisan raksasa terhebat yang pernah aku lihat. Sebuah karya seni yang mengungkap berjuta peristiwa, penuh ikonografi dalam dekonstruksi kritis dari berbagai segmen cerita. Aku cinta padamu, Sayang ...." kata Yuna yang langsung mencium Yudi.
"Yuna, lukisan ini hadiah untukmu. Mau dipasang di mana, di tempat yang Yuna suka, akan aku pasangkan." kata Yudi sambil memeluk pundak Yuna.
"Yudi, besok kalau kita sudah menikah, apakah kamar kita tetap terpisah?" tanya Yuna.
"Ih, ya tidak lah .... Lhah, kalau menikah kok kamarnya terpisah, terus bagaimana? Kita jadi satu kamar, Sayang ...." sahut Yudi yang tentu gemas, maka ia langsung mencubit dagu Yuna.
"Kalau satu kamar, saya memilih tinggal di kamar ini, rasanya lebih enak. Kalau begitu, biarlah lukisan ini berada dan terpasang di kamar ini, untuk sementara waktu. Besok jika kita jadi membangun istana seperti yang terpampang dalam lukisan ini, kita buatkan tempat khusus yang lebih representatif." kata Yuna yang penuh harap ingin membangun istana.
"Iya, Sayang .... Semoga Tuhan mendengar dan mengabulkan permintaan kita." sahut Yudi yang penuh optimisme.
"Eh, Yudi ..., boleh saya tanya, lukisan-lukisan yang ada di dinding kamarmu kemarin, mana?!" tanya Yuna, yang tentu ingin tahu lukisan Rini yang pernah terpajang di dinding kamar Yudi.
"Maafkan saya, Sayang .... Semuanya sudah aku kirimkan ke pemiliknya. Saya tidak berhak lagi. Dan yang berhak mengisi kamar ini hanya satu perempuan, yaitu gadis tercantik dari Negeri Sakura ..., Yuna ...." jawab Yudi.
"Hmmm .... Aku tresno sliramu, Yudi ...." sahut Yuna yang semakin memanja kepada Yudi.
"Hmmm .... Ai shi teru, Yuna ...." kata Yudi yang mendekap Yuna semakin mesra.
Akhirnya dua orang itu saling berpelukan, saling berkasih-kasihan, saling sayang, dan selanjutnya saling cium. Berikutnya, dua orang itu sudah roboh di atas kasur.
"Yudi ...!! Yuna ...!! Ayo sarapan ...!!" Simbok berteriak memanggil Yudi dan Yuna, mengajak sarapan bersama.
"Iya, Simbok ..., sebentar ...!" sahut Yudi.
Dua orang itu, langsung turun dari tempat tidur. Tentu dengan senyum lucu. Yudi dan Yuna langsung menyisir rambutnya, menata pakaiannya, bergegas keluar menuju meja makan, untuk sarapan bersama.
__ADS_1