
Yuna tersenyum geli mengingat malam pertamanya hanya tidur di kursi pelaminan, saat menyaksikan pertunjukan wayang kulit. Hingga ia terbangun, dan ternyata hari sudah terang. Matahari sudah menyembul dari ufuk timur. Tidak menyesal. Tetapi itulah kehidupan yang memang biasa terjadi. Apalah artinya malam pertama. Apa bedanya dengan malam kedua?
Siang itu, di rumah Yudi masih ramai orang yang beres-beres. Tentu menata dan membersihkan semua barang yang kemarin digunakan untuk memasak, untuk menata makanan, serta barang-barang lain keperluan pesta pernikahan. Termasuk ada yang menghangatkan makanan-makanan, agar tidak basi. Nanti untuk sarapan orang-orang yang rewang membantu membereskan tempat pesta. Termasuk yang ada di lapangan.
Tentu, Yudi tidak bisa tinggal diam. Ia ikut sibuk membantu. Demikian juga Yuna, walau orang Jepang yang di daerah asalnya tidak ada acara seperti itu, tetapi menyaksikan kebersamaan orang-orang kampung, Yuna langsung ikut menimbrung. Tentu agar bisa srawung.
Kini, setelah beres-beres rumah selesai, rasa lelah itu pun baru terasa. Yudi yang sudah berhari-hari kurang tidur, begitu mencium bau bantal di kamarnya, ia langsung mendengkur. Yuna yang juga kurang tidur, ia pun masuk ke kamar dan tidur. Namun, Yudi tidur di kamar Yudi sendirian, dan Yuna tidur di kamar yang setiap hari ia gunakan. Kamar yang bersebelahan.
"Lhoh ..., lhoh ..., lhoh .... Ini bagaimana, to ...? Manten kok ora nggenah .... yang satu tidur di sana, yang satu tidur di sini .... Iki ki jan-jane bojo opo konco ...?" kata salah seorang ibu yang sedang ikut membantu di rumah Yudi.
"Mbok .... Simbok .... Iki piye to putrane, nganten anyar kok turu dewe-dewe ...?!" teriak yang lain.
"Walah ..., lha opo do ora mudeng, to ...?" tanya yang lain.
Simbok keluar. Lantas menemui orang-orang yang sedang ribut.
"Ada apa?" tanya Simbok.
"Ini lho, Mbok, tak kandani .... Anakmu sama menantumu, pengantin baru kok tidurnya sendiri-sendiri. La apa gunanya jadi manten?" kata salah seorang ibu.
"Apa iya ...?" tanya Simbok.
"Iya ...! Itu, lho .... Yang satu di kamar sana, yang satu di kamar sini. Masak pengantin baru kok kamarnya pisahan. Nanti sampeyan tidak punya cucu, lho ...." kata si ibu tadi.
"Coba saya tengok dahulu ...." kata Simbok.
Akhirnya, Simbok membuka pintu ruangan kamar Yudi. Tentu, ibu-ibu lain yang sedang berada di situ, dan ikut penasaran, ikut-ikutan menengok kamar Yudi. Benar juga, ternyata Yudi mendengkur sendirian di kamarnya.
Lantas Simbok berpindah menengok ruang yang ditempati Yuna. Sejak pertama kali datang ke Jogja, Yuna menempati ruangan yang dekat dengan gazebo belakang. Ibu-ibu yang membantu pun mengikuti langkah Simbok. Tentu ingin tahu kalau Yuna juga tidur sendirian di kamarnya. Dan setelah Simbok membuka pintu ruangan itu, ternyata benar. Yuna juga tertidur di kamarnya seorang diri.
"Nah ..., benar kan, Mbok ...." kata ibu-ibu yang membelalakkan mata paling depan.
"Lhah, kok iya ...?!" yang lain ikut melongok.
"Ih ..., ya ampun .... Tubuhnya mulus banget ...." kata wanita yang lain, saat melihat pakaian Yuna yang tersingkap.
"Heh, matanya dijaga .... Lihat-lihat tubuh orang .... Itu tidak sopan, tahu ...!!" perempuan yang satunya menegur.
"Hehehe .... Bocah koclok kabeh .... Wis, nanti kalau Yudi sama Yuna sudah bangun, saya marahi ...." kata Simbok.
Sore pun tiba. Matahari sudah akan meninggalkan langit. Ibu-ibu yang membantu di rumah Yudi sudah selesai memberesi semua pekerjaan. Kini mereka sudah pada pulang. Tentu, Simbok memberikan berkat, yaitu makanan untuk dibawa pulang buat dimakan bersama keluarganya. Dan rumah Yudi, kembali sepi.
Yudi terbangun dari tidurnya. Sudah sangat menikmati mimpi. Lantas ke luar dari ruangannya. Perutnya yang lapar serta tenggorokannya yang kering, menuntut Yudi untuk pergi ke meja makan, mencari minuman dan makanan.
"Wee ..., anakku sudah bangun ...." kata Simbok saat melihat Yudi berada di ruang makan.
"Iya, Mbok .... Perutku lapar." sahut Yudi datar.
"Non Yuna sudah bangun apa belum?" tanya Simbok kepada Yudi.
__ADS_1
"Yuna juga tidur, to?" Yudi bertanya balik.
"Lhoh ...?! Kamu itu bagaimana, to? Yang namanya istri ya harus sekamar, kok kamarnya pisah-pisah, tidur sendiri-sendiri .... Itu tidak baik, Le .... Ayo, sana ..., istrimu dibangunkan. Ajak makan bersama. Nanti diajak masuk ke kamarmu. Tidur bersama kamu. Biar Simbokmu ini segera punya cucu .... Hehe ...." kata Simbok menyuruh anaknya.
"Iya, Mbok ...." Yudi menuruti kata ibunya. Ia langsung melangkah, menuju kamar Yuna. Lantas membangunkan istrinya.
Cukup lama Yudi berada di ruangan Yuna. Ada berbagai cara untuk membangunkan istrinya. Di samping ada hal yang tentu diobrolkan berdua. Tetapi yang jelas, Yuna langsung masuk kamar mandi, membersihkan seluruh tubuhnya yang sudah lengket dengan keringat. Lantas berganti pakaian.
Yuna sudah terlihat sangat cantik, saat keluar bersama Yudi, dan duduk di ruang makan. Di situ sudah ada ayah dan ibunya Yudi serta ayah dan ibunya Yuna serta pamannya. Tidak ketinggalan, Bagas yang menjemput dan mengantar keluarga Yuna dari Nirwana Homestay. Mereka bersiap untuk makan malam.
Acara makan malam pun sangat meriah. Canda tawa dan tanya jawab yang asyik. Meski orang tua Yuna tidak bisa berbahasa Indonesia, demikian juga keluarga Yudi yang tidak paham bahasa Jepang, namun setelah Yudi dan Yuna menerjemahkan, setiap kali ada yang lucu, pasti menjadi bahan tertawaan.
Apalagi saat keluarga Yuna menceritakan kembali wayang yang mereka tonton semalam, terutama pada adegan Limbuk - Cangik dan goro-goro, semua pada tertawa. Di Jepang tidak ada kesenian semacam itu. Makanya, keluarga Yuna dan orang tua Yudi, menonton wayang kulit sampai selesai.
Setelah acara makan malam, keluarga Yuna sekalian berpamitan. Karena esok hari, pagi-pagi sekali, mereka akan pulang ke Jepang.
"Minasama, Nihon ni kaerimasu, watashitachi no machigai de gomen'nasai ..." kata ayah Yuna.
"Simbok, Bapak ..., ini ayah dan ibu serta paman, besok akan pulang ke Jepang. Mohon maaf jika ada salah." kata Yuna yang menerjemahkan kata-kata ayahnya.
"Iya ..., Bapak dan Simbok mengucapkan terima kasih atas kunjungannya. Semoga selamat sampai di rumah, tidak ada halangan di perjalanan, dan lain waktu bisa bertemu kembali." sambut ayahnya Yudi.
Yuna menerjemahkan kata-kata yang disampaikan ayah Yudi. Sehingga ayah, ibu dan pamannya mengerti.
"Kikai ga areba Nihon ni kite kudasai ..." kata ayah Yuna.
"Ayah mengatakan, jika ada waktu Simbok dan Bapak silakan datang ke Jepang, menyaksikan indahnya negeri matahari terbit." Yuna menerjemahkan kata-kata ayahnya lagi.
"Saya ikut, Pak ...." Bagas menyahut. Tentu Bagas ingin pergi ke luar negeri. Ia teringat, waktu itu dijanjikan oleh Yuna mau diajak ke Jepang.
"Iya .... Besok ikut semua .... Kita ke Jepang bersama." sahut Yudi enteng.
"Asyik .... Kapan, Mas Yudi ...?" tanya Bagas.
"Ya besok, kalau uangnya sudah terkumpul .... Kan pergi ke Jepang itu butuh biaya yang tidak sedikit ...." jawab Yudi.
"Walah .... Bakalan gak jadi lagi, deh ...." gerutu Bagas.
"Iya ..., iya .... Gitu saja ngambek ...." sahut Yudi menggoda Bagas.
Yuna tertawa menyaksikan polah Bagas yang seperti anak kecil.
"Jangan lupa, besok bangun pagi-pagi, mengantar Chichioya ke bandara. Jangan sampai terlambat!" tambah Yudi.
"Iya, Mas ..., siaap ...." jawab Bagas.
Makan malam telah selesai. Bagas mengantarkan mertua Yudi kembali ke penginapan. Tentu homestay yang ditempati adalah penginapan milik Yuna, di Nirwana Homestay.
"Yudi, Non Yuna .... Kalian sudah menjadi suami istri ..., maka kalau tidur ya jadi satu kamar .... Jangan tidur sendiri-sendiri. Nanti tidak bisa hamil .... Hehe ...." kata Simbok sambil melucu.
__ADS_1
"Iya, Mbok .... Tenang saja ..., besok pagi Yuna langsung hamil. Hehe ...." jawab anaknya yang juga melawak.
Selanjutnya, Yudi dan Yuna bersama melangkah, menuju kamar. Tentu sambil bergandengan yang dipamerkan kepada ibunya.
Ini adalah malam pertama Yudi dan Yuna, yang akan tidur bersama dalam satu kamar. Walau sudah berbulan-bulan Yuna tinggal di rumah Yudi, sudah lebih dari sembilan bulan, namun baru malam ini, baru pertama kali ini Yuna akan merasakan tidur di kamar Yudi. Tentu tidur sebagai suami istri. Itulah bukti bahwa Yudi maupun Yuna adalah laki-laki dan wanita yang baik, tidak mau tidur bersama sebelum menikah.
Dua orang pasangan suami istri itu sudah masuk di kamar. Yudi dan Yuna sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tentu dengan perasaan yang diselimuti kasih sayang, pikiran yang dibantali kemesraan, serta hamparan kasur empuk tempat memadu cinta.
"Yudi ..., apakah kita akan menikmati malam pertama?" tanya Yuna pada Yudi di atas pembaringan.
"Lhoh ..., ini kan sudah malam ke dua .... Malam pertamanya kan sudah berlalu. Yuna sih, nonton wayang malah tidur .... Makanya nggak bisa menikmati malam pertama ...." kata Yudi menggoda istrinya.
"Iiih .... Ih ..., ih ...." Yuna gemas, langsung mencubit Yudi.
"Auh ..., au ...! Sakit, Sayang ...." teriak Yudi yang dicubit.
"Ya, sudah ..., sekarang kita menikmati malam ke dua. Di malam ke dua, kita mau ngapain ...?" tanya Yuna yang tentu ingin menggoda Yudi.
"Bagaimana kalau kita tidur lagi ...? Masih ngantuk, nih ...." goda Yudi.
"Uch .... Apa gunanya menikah kalau cuma mau tidur terus?" tanya Yuna yang gemas, tentu sambil kembali mencubit Yudi.
"Auh ...! Sakit, Sayang ...." teriak Yudi lagi.
Yuna sudah merebah di atas dada Yudi. Tentu sambil menarik jemari tangan Yudi untuk dibuat mainan.
"Yudi ..., kenapa kamu suka sama aku?" tiba-tiba Yuna bertanya.
"Aku tidak suka sama Yuna .... Tapi cinta. Aku mencintai Yuna." jawab Yudi menegaskan.
"Memang suka dengan cinta itu berbeda?" tanya Yuna.
"Berbeda, Sayang .... Kalau suka, itu hanya sebatas mata memandang. Tapi kalau cinta, itu sampai ke lubuk hati yang paling dalam, dan tidak mungkin untuk tergantikan." jelas Yudi.
"Apa yang Yudi cintai dari diriku?" kembali Yuna bertanya.
"Semuanya, Sayang .... Dari sini ..., ini ..., kemudian yang ini ..., yang ini juga .... Dan ..., tentu yang ini .... Hehehe ...." kata Yudi yang tangannya sambil menyentuh bagian-bagian tubuh Yuna. Satu persatu ia sentuh, diraba, bahkan juga dipencet-pencet.
"Iih .... Geli, tahu ...." Yuna yang disentuh pada bagian-bagian tertentu, menggelinjang karena geli.
"Kalau Yuna ..., suka apa mencintai saya?" Yudi berbalik tanya.
"Totemo aisuru .... Aku sangat-sangat mencintaimu." jawab Yuna yang membalas mencolek hidung, bibir, mengelus dada, serta menyentuh bagian tubuh Yudi yang lain.
"Iih .... Geli, Sayang ...." kata Yudi.
Lantas, mereka berdua saling menggoda. Tentu saling mengelus, meraba, mencolek, mencubit, bahkan juga saling tarik dan saling dorong. Terus, terus dan terus. Hingga menghabiskan waktu malam. Tanpa mengantuk.
Dua orang sepasang kekasih itu pun menikmati malam yang panjang dengan saling bercengkerama. Baru malam itu, Yudi maupun Yuna, yang bisa menikmati hidup bersama dalam satu kamar, tentu ingin menyampaikan perasaan masing-masing, selain ingin tahu isi hati dari kekasihnya. Banyak yang diobrolkan, banyak yang diungkap. Banyak yang diceritakan, banyak yang ditanyakan. Keduanya saling melepas rasa hati masing-masing. Seperti hikayat Seribu Satu Malam, cerita Yudi kepada Yuna tidak ada habis-habisnya. Demikian pula cerita Yuna kepada Yudi, seakan tidak mau kalah bersaing dalam bercerita. Ibarat seperti lomba bercerita yang dilakukan oleh guru-guru PAUD, cerita-cerita itu silih berganti dan terus mengalir. Apa saja yang dibicarakan, langsung menjadi sebuah cerita.
__ADS_1
Malam itu, keduanya saling melampiaskan angan masing-masing. Malam yang panjang untuk saling mengungkap perasaan. Hingga pagi sudah menjelang. Pasangan pengantin baru itu menikmati malam dengan cinta.
Walau demikian, Yudi senang mendengar cerita-cerita Yuna. Sebaliknya, Yuna juga senang mendengar cerita-cerita yang disampaikan oleh Yudi. Tentu dengan rasa penuh kasih sayang. Hingga akhirnya, Yuna sudah tertidur di atas tubuh Yudi. Yudi pun akhirnya tertidur dengan memeluk istrinya yang ada di dadanya.